
Membuka mata tidak semudah biasanya bagi Nina. Saat ini, perempuan tersebut sedang bersusah payah untuk sekadar memastikan indera penglihatannya masih berfungsi dengan baik. Harapan besar itu tidak hanya terbesit di benak Nina---Dira dan Rudi pun sama.
Setelah beberapa saat menunggu penuh ketegangan, mata Nina pun terbuka dengan sempurna. Dira memajukan langkahnya agar lebih dekat dengan brankar, begitu pun Rudi. Ada yang berbeda dengan bola mata perempuan yang sedang benar-benar terbaring tidak berdaya di atas rajang pesakitan.
"Tolong gerakkan bola mata ibu ke kiri dan ke kanan pelan-pelan. Jika mengerti cukup menjawab dengan anggukan saja," ucap Dokter dengan sabar.
Nina mendengar kata-kata itu dengan jelas, dia pun menganggukkan kepala sesuai arahan dokter. Perempuan tersebut masih mengalami kesulitan berbicara. Walaupun kondisi bibirnya sudah hampir kembali seperti semula, namun Nina seperti mengalami kesulitan saat membuka mulut. Untuk makan saja, tim medis masih menggunakan selang khusus agar makanan, nutrisi, dan obat bisa masuk ke tubuh Nina.
Jantung Dira dan rudi semakin berdebar-debar, ketidak normalan di mata Nina, semakin nyata terlihat oleh keduanya. Hanya saja, Papa dan anak tersebut tidak biasa mengucap doa dan berserah diri pada Sang Pencipta. Hingga dalam kecemasan, tidak ada penyejuk hati yang sedikit meredam rasa yang berkecamuk di dada.
"Baik, sekarang gerakkan ke atas dan ke bawah ya, Bu." Dokter begitu teliti dan telaten saat memeriksa kondisi Nina.
Dokter menarik napas begitu dalam. "Apa Ibu bisa melihat dengan jelas?" tanyanya.
Raut wajah Nina yang sedari tadi menegang, kini semakin menunjukkan ketegangan yang dia rasakan. Bagaimana tidak? Apa yang diperintahkan Dokter sudah dia lakukan dengan maksimal. Namun, entah mengapa tidak ada setitik bayangan manusia yang bisa dilihatnya. Ingin rasanya dia bertanya apakah dia sudah membuka mata dengan benar atau belum. Saat ini, hanya kabut abu-abu tebal yang tampak olehnya.
Melihat gelengan kepala lemah Nina---Dira dan Rudi seketika kompak menatap tajam kepada dokter. Seakan ingin menyalahkan keadaan pada perempuan tersebut.
"Tindakan apa yang kalian lakukan? Bagaimana bisa istri saya sampai tidak bisa melihat? Rumah sakit tidak becus. Sudah lama istri saya dirawat di sini, tapi tidak ada tanda-tanda keadaannya membaik. Yang ada, istri saya malah lebih parah," ucap Rudi, seangkuh biasanya.
"Papa benar, pasti mereka melakukan tindakan secara sembarangan dan tidak sesuai dengan prosedur," timpal Dira, seenaknya.
__ADS_1
"Kami sudah melakukan semua sesuai dengan disiplin ilmu kedokteran yang kami pelajari. Masalah hasil, terlalu dini untuk menilai kami melakukan malpraktik. Dalam kondisi seperti ini, alangkah baiknya kita tidak memperdebatkan hal yang masih berupa dugaan. Bu Nina, butuh dukungan dan semangat lebih. Untuk sementara, diagnosis awal kami benar. Serpihan kaca dan juga benturan keras di kepala menyebabkan syaraf mata mengalami kerusakan yang cukup fatal. Untuk mengetahui hal ini bersifat permanen atau sementara, tentu perlu pemeriksaan lebih lanjut." Dokter masih tetap menjelaskan dengan sabar.
Nina hanya bisa menangis, berteriak, dan marah dalam hati. Berbagai rasa itu, tidak mungkin terlihat di mata orang lain. Keterbatasan fisik membuatnya tidak bisa berbuat banyak. Dari sekedar berkata sampai menggerakkan jemari, dia belum mampu. Sesal? Tentu tidak ada. Perempuan itu justru sedang menyalahkan keadaan. Menyalahkan Hafis---laki-laki yang membuat jiwanya bergejolak beberapa bulan belakangan ini. Akan tetapi, ternyata Hafis hanya memanfaatkan Nina saja. Pria itu sedang mencari jalan dan modal agar bisa bertemu dengan perempuan dambaan hatinya.
****
Di lain tempat, pada waktu yang sama, Deva dan Dewa sedang melakukan perjalanan menuju bandara. Hanya Dewa yang akan pergi. Namun, pria tersebut meminta asisten pribadinyalah yang mengantar ke sana. Bahkan Dewa tidak ingin driver kantor yang mengemudikan mobilnya. Ya, untuk pertama kali, mobil yang konon katanya masih perjaka---akhirnya kini terjamah oleh seorang perempuan. Mobil dinas yang selama ini menjadi andalan ketika bersama Deva, akhirnya dipensiunkan sementara.
"Dev, tunggu aku kalau mau menemui Debora. Kalau dia minta kamu datang, bilang saja, kamu masih dinas. Sementara, jangan terlihat terlalu dekat dengan mereka. Perasaanku tidak enak pada Om Rudi dan juga papanya Dave." Dewa mengatakan sembari menatap Deva yang sedang fokus mengemudikan mobilnya.
"Bapak sudah mengatakannya puluhan kali. Saya masih inget kok," jawab Deva, melirik ke arah Dewa sekilas.
"Kalau cuman diinget, tapi tetep nekat ngelakuin gimana? Makanya aku ulang-ulang. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu," tutur Dewa.
"Apaan, sih? Aku sehat, Dev. Aku cuman peduli sama kamu. Iya peduli---sebagai atasan---hanya itu. Mencari asisten pribadi itu susah. Kalau terjadi apa-apa, aku nggak mau kehilangan asisten seperti kamu. Itu saja. Bukan alasan lain," dengus Dewa, dengan ketegasan yang dibuat semeyakinkan mungkin.
"Tenang, Pak. Saya pun begitu. Memiliki atasan seunik Bapak nggak gampang. Siapa tahu jadi ladang pahala untuk saya. Kesabaran dan keikhlasan saya begitu terlatih saat menghadapi Bapak. Terima kasih untuk itu." Deva kembali memberikan sedikit tekanan pada pedal gas dengan menggunakan telapak kaki kanannya.
Dewa langsung mencebikkan bibir. Di telinganya, apa yang baru saja diucapkan Deva lebih tepat dikatakan sebagai sindiran ketimbang sebagai pujian. Sudah bosen dia mengingatkan hatinya sendiri untuk tidak terlalu dalam tertarik pada Deva dengan segala pesonanya. Dewa pun mulai membebaskan hati untuk berjalan sendiri. Tidak ada lagi campur tangan logika di sana. Bukan karena lelah, dia sedikit khawatir, malah hati yang akan meracuni logikanya.
"Dev ...," panggil Dewa.
__ADS_1
"Saya, Pak."
Jawaban Deva yang begitu formal, membuat Dewa senyum-senyum sendiri. "Rasanya pengen juga manggil kamu Ibu, Dev. Sepertinya cocok. Bapak dan Ibu Dewa," batinnya.
Dewa buru-buru menepuk-nepuk pelipis kanannya sendiri. Seakan ingin mengeluarkan isi kepalanya yang semakin hari semakin tidak benar. "Kan ... kan ... tutur batin bisa salah nggak sih? Terlalu jauh, Wa. Jangan mikir ke sana. Buru-buru jadi Ibu Dewa, di hatinya saja cuman ada Dave." Logika Dewa kembali bangkit untuk beradu dengan hati.
"Sudah sampai, Pak."
Suara Deva membuyarkan lamunan sesaat Dewa. Pria tersebut tampak terperanjat, dan langsung melihat ke sisi luar. Rupanya, mereka sudah sampai di drop zone penumpang keberangkatan internasional.
"Hati-hati, Pak Ewa. Semoga semuanya lancar." Deva sengaja menirukan panggilan Sashi pada atasannya tersebut.
"Jangan panggil aku seperti itu, Dev. Geli telingaku kalau kamu yang ngomong. Sudah cocok kamu panggil Bapak ke aku. Siapa tahu, panggilan itu suatu saat akan menjadi panggilan sebagai imam keluargamu dan Bapak untuk anak-anakmu," ceplos Dewa, meluncur licin tanpa sempat disaring terlebih dahulu oleh logikanya.
"Maksudnya?"
"Aku berangkat, ya. Hati-hati di jalan. Mobilku ini masih mulus banget, jangan tergores bodynya. Dia masih sangat sensitif. Sentuh dia dengan penuh perasaan."
Bukannya menyadari ucapan sebelumnya salah dan menimbulkan sebuah pertanyaan dari Deva, Dewa malah semakin membuat Deva bingung dengan pernyataannya barusan. Tanpa memedulikan asisten pribadinya yang menatapnya keheranan, Dewa bergegas turun dari mobil, dan mengambil koper yang dia letakkan di jok belakang.
****
__ADS_1
Sementara itu, di kediaman Agas, Dave yang tahu papanya sedang tidak ada di rumah, memberanikan diri untuk membuka rekaman CCTV di beberapa titik di rumahnya. Dengan bantuan satpam yang berhasil diajaknya kerjasama, Dave memeriksa jejak peristiwa yang tertangkap di kamera tersebut sejak beberapa hari sebelum hari pertunangannya.
"Pak Dave, sepertinya ini yang Bapak cari," ucap si satpam sembari menunjuk kotak ke delapan pada layar LCD yang ada di depannya.