
Agas berteriak memanggil asisten rumah tangga sembari membuka pintu kamarnya dengan kasar. Pria tersebut belum menyadari keberadaan Dave. Padahal anaknya itu, tengah bersandar di tembok ruang keluarga lantai dua yang berada di seberang kamar Agas dan Fira.
"Kenapa harus teriak-teriak, Pa?" tanya Dave, masih dengan kesopanan yang sangat terjaga.
"Kemana mamamu pergi?" Agas menjawab pertanyaan Dave dengan pertanyaan yang berbeda.
"Mama? Kenapa papa malah bertanya pada Dave? Seharian Dave praktik. Justru Dave datang kemari mau ketemu mama dan papa untuk berpamitan." Dave tidak sepenuhnya berbohong.
Agas menatap Dave dengan tatapan menyelidik. Bukannya gentar, Dave membalas tatapan sang papa tidak kalah berani. Pria berprofesi sebagai dokter kandungan itu, semakin merasakan kemarahan dan kekesalan Agas begitu nyata terlihat melalui sorot mata papa angkatnya tersebut.
"Apa yang terjadi sebenarnya, Pa?" tanya Dave.
"Jangan ikut campur urusan orang tua, Dave. urus rumah tanggamu sendiri," bentak Agas sambil memalingkan muka ke sisi lain.
"Jika memang di antara kita ada batasan, kenapa dari awal Papa tidak membiarkan Dave hidup sendiri saja? Pasti akan lebih baik kalau kita sama-sama tidak ikut campur pada urusan masing-masing." Dave mengucapkannya dengan sangat jelas.
"Berani kamu menentang papa, Dave? Dari kamu bayi merah papa pungut kamu dari panti asuhan. Kamu bisa sesukses sekarang---kalau bukan karena Papa, karena siapa?"
"Andai Dave bisa memilih. Lebih baik Dave menjadi gelandangan daripada hidup seperti sekarang. Menentukan jodoh sendiri saja Dave tidak kuasa. Apa gunanya berkelimpahan, tapi miskin nurani. Dulu Dave bangga menjadi anak papa, tapi setelah pernikahan Dave, kebanggaan itu hilang. Laki-laki sejati tidak lari dan menghindar dari kesalahan. Tapi apa yang papa lakukan? Papa malah menukar kebahagiaan Dave dengan kebebasan Papa."
Mendengar kata-kata Dave yang panjang lebar dan semakin berani, membuat emosi Agas yang sedari tadi memang sudah berkobar-kobar, kini seakan mendapatkan pelampiasan. Dengan satu ayunan tangan yang cukup mantap, tangan Agas dengan ringan menampar pipi Dave begitu keras.
__ADS_1
"Terimakasih, Pa. Terimakasih sudah mengingatkan posisi Dave sebenarnya di keluarga ini. Mungkin Dave tidak bisa menghitung dan mengembalikan semua kebaikan yang papa dan mama berikan. Jika uang bisa dihitung, tentu tidak dengan kasih sayang dan ketulusan yang selama ini Dave rasakan." Dave mengusap pipinya yang terasa perih dan panas akibat tamparan kuat yang dilayangkan oleh papanya.
Agas mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Pria itu lalu menghantam pintu kamarnya dengan sangat brutal. Tidak dipedulikannya delapan buku-buku jemarinya yang seketika mengalami lecet, memerah dan sakit luar biasa. Apa yang terjadi hari ini sungguh bertubi-tubi dan datang di luar kendali.
Nina---sama sekali tidak ada pikiran buruk tentang perempuan tersebut sebelumnya. Namun, kenyataan berbicara lain. Setelah apa yang dikorbankan Agas, yang didapatnya hanyalah pengkhianatan.Padahal apa yang tidak dia perjuangkan demi Nina? Mengkhianati Amar dan Fira, menikahkan Dave dengan Dira dan hal-hal kecil lainnya.
Mungkin benar kata orang bijak. Pengkhianat selalu memiliki tempat terbaik di sisi pengkhianat lainnya. Dan orang baik perlahan akan dijauhkan dari mereka yang berkhianat.
Dave meninggalkan Agas yang berdiri bergeming dalam keadaan yang begitu kacau. Rambut acak-acakan, wajah kusut, kemeja yang dipakainya sudah keluar sebagian dari dalam celananya. Andai mendiang Amar melihat keadaan sahabatnya saat ini, mungkin papa dari Deva itu akan berkata, "Ini belum seberapa, Agas. Lihat aku? Bagaimana aku harus merasakan kehidupan pengap penjara untuk kesalahan yang sama sekali tidak aku buat."
Membayangkan Amar sedang menertawakannya, membuat pikiran Agas semakin kalut. Pria tersebut berteriak tidak jelas. Dave sampai harus menutup kedua daun telinganya, karena umpatan Agas terdengar sangat kotor. Baru sekarang Dave melihat sosok papanya itu sekacau ini. Tentu saja membuat rasa penasarannya semakin bertambah. Selama ini, yang ditampilkan Fira dan Agas di depannya adalah keromantisan dan kehidupan sempurna yang juga dipertontonkan pada orang lain. Keduanya sangat perhatian dan menyayangi Dave layaknya anak sendiri. Namun bagi Dave, semua berubah dalam sekejap setelah perjodohannya dengan Dira.
Sementara banyak orang yang sedang berada dalam kondisi carut marut, tidak demikian dengan Dewa dan Deva. Setelah obrolan dan candaan hangat di resto, kebersamaan mereka masih berlanjut di dalam perjalanan pulang menuju rumah Deswita. Padahal waktu sudah hampir menunjukkan pukul sembilan malam, tetapi Dewa malah semakin memperlambat laju mobilnya. Selain karena ingin berlama-lama berdua, matanya juga kembali tidak fokus. Terkena sorot lampu depan mobil yang melintas dari arah berlawanan, membuat matanya semakin lelah.
"Pak Dewa ngantuk? Sini biar saya saja yang nyetir," tawar Deva begitu menyadari Dewa beberapa kali mengerjap-erjapkan matanya.
"Sebentar, aku menepi dulu. Ngantuk sih sebenarnya enggak. Entah kenapa mataku akhir-akhir ini kayak sering blur lihat sesuatu. Kayak pas lihat acara di televisi. Yang kalau ada dada kelihatan dikit, langsung deh di sensor." Dewa masih sempat-sempatnya bercanda.
"Dasar mesyum. Mungkin mata Bapak sedang ingin pensiun jelalatan," ledek Deva.
"Enak saja. Aku serius Dev."
__ADS_1
"Saya berius-rius, Pak." Deva membuka pintu mobilnya hati-hati untuk keluar dan bertukar posisi dengan Dewa.
"Dev, kamu nggak tanya kenapa aku sampai extend di Singapur?" Dewa bertanya karena baru teringat. Sejauh dia bekerja dengan sekretaris atau asisten pribadi, mereka pasti setidaknya berbasa basi untuk bertanya tentang kepentingan dan segala hal yang menyangkut dirinya. Biasanya hal itu dilakukan untuk jaga-jaga jika ada orang lain yang bertanya.
Deva yang baru duduk di belakang kemudi dan memakai seat belt, memberikan senyuman pada Dewa. "Saya tidak berani. Saya ingat betul batasan kita, Pak. Jika Bapak tidak bercerita atau mengatakan pada saya, itu artinya urusan pribadi. Tentu bukan ranah saya untuk ikut campur."
Dewa menelan ludahnya dengan susah payah. Sebegitu kerasnya Deva menjaga dirinya untuk tidak mencampur adukkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan.
"Sekarang aku yang cerita. Aku percaya sama kamu, dan aku yakin kamu bisa menjaga apa pun yang terjadi padaku dan mamaku sejauh ini. Dev, selama aku di Singapura, kamu tinggal dulu di rumah, ya. Temani mama dulu. Kemana pun kamu pergi, pakai saja mobilku. Kalau mama tanya, katakan saja pekerjaanku memang agak lama kali ini," pinta Dewa.
"Iya, Pak. Akan saya sampaikan." Deva menjawab dengan pandangan yang fokus ke jalan. Dia tidak menoleh sama sekali pada Dewa.
"Makasih ya, Dev. Aku mau general check-up sekalian."
"Semoga Bapak sehat selalu," sahut Deva dengan cepat.
Dewa melemparkan senyuman yang begitu mempesona dan jarang ditunjukkannya pada orang lain. Padahal, apa yang dilakukan pria itu jelas sia-sia. Deva tentu tidak bisa melihatnya karena masih fokus di jalan yang sudah mendekati area perumahan.
Melewati bangunan rumah lamanya, Deva memelankan laju mobil Dewa yang dia kemudikan. Perempuan itu mengajak indera penglihatannya agar lebih fokus pada sesuatu di sana. Deva hapal betul mobil yang berhenti tepat di depan gerbang rumah tersebut.
"Ada apa, Dev?" tanya Dewa.
__ADS_1