Sisa Rasa

Sisa Rasa
Berkas sudah di tangan


__ADS_3

"Bang, harus banget ya aku pakai ini." Deva tampak ragu-ragu menerima barang yang diulurkan oleh Dave.


"Demi kebaikan kamu sendiri, Deva." Dave menunjuk pintu kamar mandi di dalam ruangannya.


Sambil menarik napas sedikit berat, Deva melangkahkan kakinya ke tempat yang di maksud oleh Dave. Sampai di dalam, Deva langsung melepaskan pakaian yang dikenakannya satu per satu. Dan menggantikannya dengan pemberian Dave tadi.


"Ini konyol sekali." Deva mengusap perutnya yang kini tampak berubah ukuran setelah memakai korset perut hamil jadi-jadian.


Meskipun merasa aneh, Deva tetap mengenakannya. Setelan baju hamil pun menyempurnakan penampilannya.Kini, dia benar-benar tampak seperti perempuan hamil tujuh bulan.


Selesai merapikan baju gantinya ke dalam tas, Deva pun memutuskan untuk segera keluar dari sana. Perempuan tersebut berjalan seperti biasa. Tidak ada penjiwaan sama sekali. Deva berjalan tidak selayaknya perempuan dengan kehamilan besar sedang berjalan.


"Sudah?" Dave bertanya sembari menjatuhkan pandangannya pada bagian perut Deva. Pria itu menelan ludahnya dengan kasar.


"Sudah, Bang." Deva menjawab singkat.


"Kita berangkat," ajak Dave, kali ini berjalan mendahului Deva keluar dari ruangannya.


Keduanya pun berjalan berdampingan menyusuri koridor yang berbeda dengan saat Deva berangkat tadi. Dave mengajak Deva, berjalan melewati jalur khusus yang biasanya hanya digunakan untuk rute logistik rumah sakit.


"Kita naik motor, kamu gak keberatan, kan?" Dave menghentikan langkahnya begitu mereka sudah berada di area penurunan barang. Di sana sudah terdapat sepeda motor matic yang siap untuk ditunggangi Dave bersama Deva.

__ADS_1


"Tentu saja tidak masalah, Bang." Deva tersenyum tipis pada Dave yang mengulurkan helm kepadanya.


Dua insan yang masih saling mencintai itu akhirnya berangkat menuju tempat di mana Dermawan sekarang berada. Sepanjang perjalanan, kecanggungan dan keheningan menemani keduanya. Perut buncit memberikan jarak yang lumayan membantu Deva sedikit nyaman. Sesekali tangan Deva reflek memegang pinggul Dave saat motor dikurangi lajunya secara mendadak karena keramaian jalan yang dilintasi.


Empat puluh menit yang terasa begitu panjang. Dave dan Deva sampai di sebuah rumah sakit milik institusi kepolisian di daerah barat ibu kota. Keduanya langsung menuju sisi kanan gedung rumah sakit, tempat Dermawan dirawat.


Saat Deva dan Dave sudah berada di dalam ruangan yang dimaksud, di sana sudah menunggu seperti biasa, Debora, Widya, sesosok pria yang tidak dikenal, dan Dermawan sendiri tentunya.


"Apa kabar, Dev?" Debora menyapa dengan ramah.


"Langsung ke masalahnya saja," sahut Deva dengan lugas dan tegas.


"Kenalkan, ini Pak Caka. Beliau adalah seorang penasihat hukum. Begini, Bapak mempunyai sedikit berkas. Yang bisa kamu jadikan dasar untuk mengajukan peninjauan kembali kasus papamu. Pak Caka akan mendampingi kamu selama prosesnya," tutur Dermawan sembari memberikan satu map coklat bertali dengan ketebalan isi kira-kira empat senti kepada Deva.


Perempuan tersebut menerima tanpa menatap wajah Dermawan yang duduk bersandar di atas brankar. "Saya terima berkasnya. Saya sudah memiliki pengacara sendiri. Kalian tidak perlu repot-repot memikirkan. Apa pun kebaikan yang kalian usahakan, cukup Tuhan yang mencatat. Saya tidak peduli sedikit pun dengan kebaikan itu."


Mendengar ucapan Deva yang tegas namun sangat sinis, membuat Debora dan Widya menundukkan kepala lebih dalam. Berbagai rasa berkecamuk di dalam hati dan pikiran mereka.


Dave yang berdiri tiga langkah dari Deva berada, begitu lekat menatap perempuan yang sangat dicintainya tersebut. Sama sekali bukan salah Deva jika memilih bersikap seperti itu pada keluarga Dermawan. Semua sebenarnya sudah terlambat, keadilan sekali pun, tidak akan mengembalikan kehangatan keluarga Deva.


"Bagaimana jika papaku benar-benar ikut terlibat, Bee? Apakah sikapmu akan berubah juga kepadaku? Apa kamu akan membenciku?" Dave bertanya-tanya dalam hati.

__ADS_1


"Jangan menolak, Deva. Kami tahu ini tidak seberapa, tapi Pak Caka ini sangat berpengalaman dalam penanganan kasus seperti ini," bujuk Dermawan.


"Tidak perlu, Bapak. Saya bisa urus sendiri. Apa ada yang perlu Bapak bicarakan lagi?" Lagi-lagi Deva bertanya tanpa menatap wajah siapa pun yang ada di sana.


"Tidak ada," ucap Dermawan. Pria itu memilih untuk tidak lagi menekan Deva dengan kemauan-kemauannya.


"Baiklah. Permisi." Deva langsung berbalik badan dan melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan diikuti oleh Dave.


Baru bebebapa meter kedua mantan sepasang kekasih itu berjalan, suara panggilan Debora kompak membuat langkah Dave dan Deva berhenti.


"Dev, aku tahu apa yang aku harapkan ini tidak pantas. Aku tahu, aku tidak tahu diri. Bisakah kamu berhenti membenciku? Jangan bersikap seolah aku bangga dengan kelakuan papaku. Aku juga tersiksa selama ini. Cukup hukuman itu buatku. Coba kembalikan posisiku ini pada posisimu. Jika kamu berada di posisiku, apa yang bisa kamu lakukan? Apa?" Debora mengatakannya dengan lirih tepat satu langkah di belakang Deva.


"Banyak. Saya akan melakukan banyak hal jika memang posisi kita berbalik. Yang pasti, saya tidak akan membiarkan papa saya, mengorbankan orang yang tidak bersalah untuk menutupi kesalahannya." Deva berbalik badan, membalas tatapan Debora yang memelas dengan tatapannya yang sinis. "Cukup, Kak. Saya tidak mau berdebat."


Deva melanjutkan perjalanannya. Saat ini, Dave lebih memilih untuk diam dan mengikuti sikap yang diambil Deva. Segala kepahitan yang sudah dilewati, mungkin memang sudah saatnya tidak untuk diungkit lagi. Apalagi jika itu terlalu menyakitkan. Namun, sikap Deva juga tidaklah salah dan berlebihan. Dia pantas marah dan menunjukkan sikapnya pada orang-orang yang sudah bertindak kejam pada sang papa.


Setelah sebelumnya berhenti sejenak di pom bensin untuk mengganti penampilan Deva menjadi normal kembali, motor Dave akhirnya tiba juga di halaman rumah Dewa yang pintu utamanya tampak terbuka lebar.


Karena satu tangan Deva penuh dengan berkas, dia sedikit kesulitan membuka helm yang dikenakannya. Dengan reflek, Dave pun membantu melepaskan pengait tali yang berada tepat di dagu Deva. Tanpa sengaja, mata keduanya saling beradu. Helm sudah terlepas, namun pandangan keduanya tidak beranjak. Keduanya kompak menelan ludah dengan susah payah. Deva pun memejamkan kedua matanya sembari menggigit bibir bawahnya sendiri.Tanpa sadar, tangan kanan Dave dan Deva saling menggenggam.


"Bee ...."

__ADS_1


__ADS_2