Sisa Rasa

Sisa Rasa
Sama-sama karyawan


__ADS_3

"Beristri?" Dewa kembali mengulang pertanyaannya pada Deva.


"Iya, bukankah Bapak sudah punya anak? Jason kan namanya?"


Dewa tertawa lepas mendengar ucapan Deva. "Terserah kamu mikirnya gimana, Dev. Nurut sajalah aku."


"Aneh," umpat Deva sembari keluar ruangan.


Dewa hanya bisa menggelengkan kepala. Hari pertama bekerja di Diamond Corp sungguh penuh warna. Sekretaris dan asisten pribadinya, memiliki perbedaan cara memperlakukannya 180 derajat.


****


Seperti permintaan Dewa sebelumnya, waktu makan siang kali ini, dilewatkan Deva bersama CEO barunya dan juga Sashi. Ketiga orang tersebut berangkat setelah Deva menunaikan ibadah sholat dhuhur.


Sampai di pusat perbelanjaan, mereka langsung menuju store brand ternama khusus pakaian, sepatu, dasi, dan apa pun yang berhubungan dengan aksesoris pria. Sashi begitu aktif mensejajarkan langkahnya dengan Dewa. Sedangkan Deva memilih berada beberapa langkah di belakang keduanya.


Sembari menunggu Dewa yang sedang memilih-milih kemeja, Deva mencoba melihat-lihat beberapa item barang yang menurut perkiraannya masih bisa terjangkau dengan isi dompet di dalam tasnya. Namun sayang, hampir semua harga menunjukkan digit angka yang bisa membuatnya demam.


Mengabaikan Dewa yang sudah dilayani Sashi dengan baik, Deva memilih keluar dari store tersebut. Tidak untuk pergi menjauh, hanya sekedar melihat-lihat toko di sekitar yang bisa dijadikannya tempat untuk mencari cinderamata untuk Tino.


Senyuman lebar menyungging dari bibir Deva. Setelah melihat sebuah store yang menjual pernak pernik atau atribut sepak bola. Kini, Deva hanya berharap, harga barang-barang di sana masih terjangkau oleh budgetnya.


Deva menoleh ke belakang, lalu berdecih tanpa sadar. Bagaimana tidak? Jelas sekali di matanya, Dewa berkali-kali, terlihat merangkul Sashi. Sungguh Deva sama sekali tidak habis pikir, selain menyebalkan, sombong, dan arogan, ternyata, Dewa juga seorang Don Juan.

__ADS_1


Melangkahkan kaki dengan malas ke arah keduanya, Deva sengaja mengeluarkan deheman. Mungkin karena masih mempunyai malu atau sungkan, Sashi agak menjauhkan badannya dari Dewa.


"Maaf, apa masih lama? Kalau masih, saya mau meminta ijin untuk ke toko sport sebentar," Deva bertanya dengan santai.


"Sorry, bukannya di sini aku atasannya? Kenapa kamu yang bertanya lama tidaknya aku di sini? Kebalik, Dev." Dewa menanggapi seenaknya.


"Terlepas dari siapa atasannya, saya rasa urusan di sini juga bukan urusan pekerjaan. Baiklah, tanpa mengurangi rasa hormat. Saya pamit duluan saja. Sampai bertemu di kantor lagi. Dalam urusan pekerjaan tentunya." Deva sedikit membungkukkan badannya, lalu segera berbalik badan dan melangkahkan kaki lebar tanpa menunggu tanggapan sang atasan baru.


Dewa mengumpat dalam hati. Sampai umurnya tiga puluh lima tahun seperti sekarang, baru kali ini ada perempuan yang tidak memandangnya dengan istimewa. Pandangan Deva padanya sungguh biasa, bukan ketus yang dibuat-buat atau pun kesal yang sengaja untuk memancing perhatiannya.


"Beb, apa Deva memang ada hubungan dengan Tino?" Dewa mulai sedikit penasaran. Jika dengannya saja, Deva tidak tertarik, seharusnya Tino lebih tidak masuk perhitungan lagi. Dengan kulit yang terlalu putih, bibir merah tipis, rambut belah tengah rapi, dan kawat yang memagari giginya, Tino lebih pantas disebut cantik ketimbang tampan. Hanya hobi menonton pertandingan sepak bola, yang menegaskan Tino memang seorang pria.


Sashi mengernyitkan keningnya begitu mendengar pertanyaan Dewa. Dia mulai mengingat-ingat sikap dan bahasa tubuh Deva dan Tino selama ini. Sebagai karyawan yang belum terlalu lama bekerja bersama keduanya, tentu Sashi tidak bisa terlalu menilai.


"Sepertinya tidak, Pak. Karena setiap kali lembur, kami selalu bersama. Pak Tino baik sama semua karyawan. Kalau keduanya dekat, tentu sangat wajar. Karena semua urusan Pak Tino, hampir melalui Deva."


Di sisi lain, Deva juga sudah menikmati makan siangnya di food court di dekat parkiran mobil luar. Tempat favorite para karyawan dengan gaji UMR mengisi perutnya. Tentu karena harganya relatif lebih murah dibanding dengan yang ada di dalam pusat perbelanjaan.


****


Deva menarik napas lega, begitu tahu dirinya datang lebih awal ketimbang Sashi dan Dewa. Deva pun segera melanjutkan beberapa pekerjaan.


Dewa datang tiga puluh menit kemudian. Setelah meneguk segelas air putih hingga tandas, pria tersebut langsung mengangkat gagang telepon dan memencet tiga digit nomor yang menghubungkan ke ruangan asisten pribadi. Mendengar suara sapaan dari Deva, Dewa langsung meminta agar perempuan itu segera ke ruangannya. Tidak sampai hitungan menit lima jari, Deva sudah berdiri di hadapan Dewa.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu, pak?" tanya Deva, tanpa basa basi seperti biasa.


"Tahu kesalahanmu apa?" Dewa menatap Deva begitu tajam. Sengaja membalas pertanyaan asistennya itu juga dengan pertanyaan.


"Salah? Saya tidak merasa membuat kesalahan apa pun." Deva memicingkan mata karena merasa heran.


"Benarkah? Apakah dulu waktu sekolah kamu tidak diajari attitude atau sopan santun?" Dewa membiarkan Deva tetap berdiri. Sementara dia malah duduk di tempat biasanya Deva duduk jika berada di ruangan tersebut.


"Tentu saja diajari. Kalau memang ada yang salah, silahkan langsung diberi tahu saja. Saya bukan tipikal orang yang peka akan sindiran," ucap Deva, terdengar seperti sebuah tantangan bagi Dewa.


"Kamu seharusnya tahu, jika kira pergi bersama, maka pulangnya pun harus bersama. Apa yang kamu lakukan tadi, sangatlah tidak sopan," tegas Dewa.


Deva terdiam. Mencerna sembari mengingat ke belakang kejadian siang ini. Dewa tidak salah, namun juga tidak benar sepenuhnya.


"Maaf, Pak. Jika saya menunggu Bapak. Mungkin, saya akan pulang terlambat ke kantor. Bukankah Bapak pernah mengatakan---karyawan yang baik, tidak akan keluyuran di jam kerja. Saya berusaha menjaga tidak melanggar aturan tersebut dalam keadaan sadar," kilah Deva.


"Selama kamu bersamaku, itu adalah tanggung jawabku sebagai pimpinan. Poin penting yang harus kamu ingat dari kejadian hari ini adalah jangan pernah meninggalkan atasanmu seenaknya. Jangan membantah ucapan atasan, atau aku akan me---,"


"Memecat saya? Silahkan, Pak! Saya yakin Diamond Corp adalah perusahaan terbaik dalam pengelolaan tenaga kerja. Bagian kepegawaian tentu memiliki trade record kinerja masing-masing karyawan. Setahu saya, kita masih sama-sama karyawan. Bapak tidak akan semudah itu memecat saya. HRD akan mempertanyakan alasan yang profesional, bukan alasan berdasarkan ketidak sukaan."


Jakun Dewa seketika naik turun, dia menelan ludahnya berkali-kali sepanjang Deva berbicara. Memang selalu ada yang pertama dalam hidup ini. Dan kali ini, adalah kali pertama dia dibantah mentah-mentah oleh seorang perempuan.


"Bapak boleh tidak menyukai saya. Mungkin secara personal, saya memang menyebalkan. Tapi tolong, selama kita bekerja sama, cukup lihat kinerja saya secara profesional. Jika memang saya tidak pantas, dan Bapak tidak nyaman dengan keberadaan saya sebagai asisten pribadi Bapak, silahkan mengajukan pada pihak HRD untuk mencari karyawan lain yang bisa menggantikan posisi saya." Deva mengucapkan dengan intonasi dan suara sama tegasnya.

__ADS_1


"Kenapa jadi panjang sekali? Benar-benar kamu pintar sekali berkilah. Sudah! Lanjutkan pekerjaanmu. Sampai ketemu nanti malam. Dandan cakep, kali aja ada yang naksir kamu. Tentunya bukan aku."


Dewa yang tadinya ingin menekan Deva, malah berbalik tidak bisa berkutik. Pria itu sedikit salah tingkah. Apa yang dikatakan Deva memang benar adanya. Dewa bukan anak pemegang saham, hanya kebetulan dia bisa diterima bekerja sebagai CEO. Aturan yang mengikat mereka sama, dan tidak bisa dibuat semaunya.


__ADS_2