Sisa Rasa

Sisa Rasa
Keteguhan hati Dave


__ADS_3

Dave tidak bereaksi apa pun. Pria tersebut bergeming---bersandar pada sandaran brankar dengan raut wajah yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Tatapannya bahkan tidak lagi terarah pada satu titik.


"Mama tidak tahu harus berkata apa lagi, Dav. Selain kata maaf dan terimakasih, adakah kata lain yang pantas mama sampaikan padamu?" Fira memberanikan diri mengusap rambut Dave dengan lembut.


Mantan kekasih Deva itu tidak menolak, namun, juga tidak membalas tatapan mamanya sama sekali. "Lebih cepat lebih baik, bukan? Toh rasanya tetap akan sama. Dave hanya ingin papa dan mama mengingat satu hal. Bisa menikahkan Dave dengan Dira, bukan berarti juga bisa mengatur kehidupan dan perasaan Dave selanjutnya. Campur tangan kalian, cukup sampai di hari pernikahan saja," tegas Dave sambil menekan tombol nurse call.


Fira memalingkan wajah ke sisi lain. Berusaha menyembunyikan air mata yang menetes tanpa aba-aba dari pelupuk matanya. Dave bukannya tidak tahu, tapi dia memilih untuk pura-pura tidak peduli.


Keduanya bertahan saling terdiam. Sampai saatnya, ada seorang perawat datang menghampiri dan menanyakan mengapa Dave menekan tombol panggilan.


"Saya ingin pulang sekarang juga. Kondisi saya sudah memungkinkan untuk rawat jalan," pinta Dave dengan intonasi yang cukup tegas.


"Tapi harus menunggu dokter visit sore nanti, Pak. Ka---,"


"Saya tahu, tapi saya tidak mau menunggu. Hubungi saja Dokter Dharma. Katakan Dokter Dave meminta untuk pulang sekarang." Dengan cepat Dave memotong ucapan sang perawat.


"Baiklah, Pak. Mohon menunggu sebentar." Baru mengetahui kalau Dave juga seorang dokter, membuat perawat tadi tidak ingin berdebat lama-lama. Dia memilih menuruti ucapan Dave untuk menghubungi dokter yang menangani pria tersebut.


"Dave, kamu yakin sudah baik-baik saja?" Fira bertanya dengan hati-hati.

__ADS_1


"Mama tahu persis, Dave pernah lebih baik dari ini," jawab Dave.


Fira menundukkan wajahnya. Perempuan tersebut seperti sudah kehabisan kata-kata untuk membujuk Dave. Kata andai kembali terlintas di kepalanya. Namun semua sudah terlanjur, andai dan andai itu hanya akan menjadi angan semu.


Dave meraih telepon pintar yang tergeletak di atas nakas. Melihat angka digital petunjuk waktu di layar benda pipih tersebut, Dave seketika memandangi pintu ruangan. Seharusnya, Deva sudah datang menjenguknya. Karena khawatir, Dave memutuskan untuk menghubungi mantan yang masih terkasihnya itu.


Sampai hampir empat kali panggilan, tidak ada tanda-tanda Dave menerima teleponnya. Mendadak perasaan pria itu menjadi semakin gelisah dan tidak enak. Di tambah lagi, saat Dave mengirimkan pesan, tanda centang satu abu-abulah yang tampak di ujung kalimat yang dikirimnya.


Dave kembali menekan tombol nurse call dengan lebih agresif. Dia bahkan sudah mematikan aliran impus yang seharusnya masih bisa mengalir melalui selang yang terhubung dengan tancapan jarum di punggung tangannya.


"Dave ... sabar, tunggu perawat dulu." Fira mencoba menahan tangan Dave yang ingin mencabut jarum infusnya sendiri.


"Kalau kamu tidak nyaman mama di sini, mama akan pulang. Maafkan Mama dan Papa, Dave. Kamu boleh kecewa pada kami, tapi tolong jangan menjauh. Haruskah Mama berlutut agar kamu mau menerima keputusan ini tanpa harus membenci?" Fira menjatuhkan badannya ke lantai. Runtuh sudah ketegaran yang dia bangun selama ini.


Dihindari, diabaikan, dan dijauhi Dave adalah siksaan tersendiri bagi Fira dan Agas. "Mama harus bagaimana, Dave. Katakan Mama harus bagaimana? Kalau kamu memang ingin menolak menikahi Dira, lakukan saja. Biarkan papamu sakit-sakitan dan mengakhiri hidupnya di penjara. Lakukan apa yang menjadi maumu. Percuma kamu melakukan semua ini kalau terpaksa. Perlahan-lahan, bukan papamu saja yang mati, tapi mama juga."


Dave memejamkan matanya. Meresapi getar suara Fira yang sudah bercampur isak. Pria itu mencoba merenungi sikapnya akhir-akhir ini. Semua orang sedang berjuang dengan luka dan sedihnya masing-masing. Seharusnya, diam adalah hal terbaik yang bisa dilakukan. Mengeluh seperti yang mamanya lakukan sekarang, semakin menegaskan---Dave lah yang harus mengubah pandangan dan perilakunya.


"Mama dan papa sungguh minta maaf, Dave. Tolong berhenti berpikir seolah kami menuntutmu karena kamu bukanlah anak kandung kami. Selama ini, apakah kami memperlakukanmu seperti anak pungut? Katakan "iya" jika memang itu yang kamu rasakan. Ini bukan tentang balas budi, Dave. Justru karena kita adalah keluarga, kita harus mau berkorban satu sama lain. Dengarkan Mama! Buka hatimu sedikit demi sedikit. Lihat Dira dengan cara yang lebih pantas, maka semua akan terasa lebih mudah. Kalian sangat sepadan. Pelan-pelan, lepaskan perasaanmu pada Deva. Ini bukan hanya untuk kamu, tapi juga untuk kebaikan Deva," tutur Fira. Perempuan itu masih duduk tanpa alas di atas dinginnya keramik lantai rumah sakit.

__ADS_1


Dave beringsut turun dari brankarnya, dia memposisikan diri dengan berjongkok menghadap Fira. "Ma, berhenti meminta Dave membuka hati. Tolong! Berikan Dave waktu untuk memaklumi dan berdamai dengan semua yang terjadi. Dave butuh ruang untuk sendiri. Bukan untuk menjauh dan menyingkirkan papa-mama, Dave masih berusaha menerima semuanya dengan cara Dave. Obrolan seperti sekarang---ujung-ujungnya, selalu mama menyuruh Dave untuk membuka hati."


Fira mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Dave yang tidak lagi pucat. perempuan itu membelai pipi mulus sang anak dengan kasih sayang yang begitu nyata. "Jika tidak bisa mencintai, setidaknya hargai dan jangan menyakiti Dira."


"Jika Mama masih ingin memberikan nasihat tentang bagaimana Dave harus bersikap pada Dira, sungguh Dave akan benar-benar menjauh. Pernikahan ini bukan Dave yang menginginkan. Jangan terlalu tinggi meletakkan harapan. Cinta tidak selalu tumbuh karena kebersamaan," tegas Dave.


Kedatangan kembali sang perawat, menuntaskan ketegangan berlapis sendu antara Fira dan Dave. Map kuning berlogo rumah sakit di mana Dave di rawat, menandakan bahwa Dave diperbolehkan pulang dengan syarat menandatangani surat pulang paksa atas kemauan pasien.


"Mama pulanglah sendiri. Dave masih ada sedikit urusan. Dan sekali lagi Dave mohon, jangan terus mengingatkan Dave bagaimana harus bersikap. Cinta dan perasaan tidak bisa di atur dengan mudah seperti saat kita menyetel alarm. Cukup pernikahan saja yang menjadi permintaan papa dan mama, jangan sampai ada permintaan-permintaan yang lain setelah itu. Jika ini memang bukan tentang balas budi. Tolong, perdebatan bagaimana Dave harus bersikap---berakhir sampai di sini saja. Jangan terus diulang-ulang."


Dave kembali berdiri. Lalu dia duduk di tepian brankar untuk dilepaskan jarum infusnya oleh perawat. Sedangkan Fira sendiri, tanpa mengucapkan salam, langsung keluar dari sana dengan langkah yang gontai.


****


Situasi yang berbeda, justru terjadi di ruangan Dewa. Deswita yang sudah berada di sana sejak sepuluh menit yang lalu, belum juga mengetahui maksud dan tujuan Dewa menyuruhnya datang secara khusus ke kantor sang anak semata wayang.


"Jadi bagaimana, Nyil? Ini mama datang cuman suruh liatin kamu kerja? Atau disuruh ngapain?" Deswita bertanya dengan sewot.


"Sabar, Ma. Jadi begini ...." Dewa membisikan serangkaian kata yang membuat Deswita mengeluarkan beberapa ekspresi saat mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2