
Perlahan Deva berdiri, Dewa pun melakukan hal yang sama. Namun, gerakannya itu, membuat pandangan pria tersebut kembali tidak jelas. Mata Dewa seperti diselimuti kabut tipis dengan bintang-bintang yang berputar-putar. Dewa memejamkan matanya sesaat. Mencoba menguasai keadaan.
Deva yang menundukkan kepala, tentu saja tidak menyadari apa yang tengah dirasakan Dewa. Perempuan itu sibuk mengusap air matanya. Tetapi sayang, air mata tak kunjung tuntas. Bulir bening itu malah terus mengalir dengan deras.
Dewa di sela usahanya agar tetap berdiri tegak, merangkul pundak asisten pribadinya tersebut "Jangan di sini, Dev. Tumpahkan nanti di sana. Kita kembali ke mobil ya," lirihnya, sembari menggelengkan dan mengerjapkan mata sekilas karena pandangannya tidak kunjung kembali jelas.
Keduanya lalu berjalan perlahan menuju area parkir. Langkah Deva dan Dewa sama-sama pelan. Kepala Deva bersandar pada lengan sang atasan tanpa sadar. Deva tidak peduli, apa yang dilakukan semakin membuat fokus Dewa tidak terarah. Pria tersebut tengah merasakan beberapa hal secara bersamaan. Debaran jantungnya yang berdetak tak biasa, pandangan mata yang kabur, dan otak yang terus berusaha mengingatkan hati untuk tidak tertembus panah cinta.
"Kita langsung pulang saja, ya. Mainan untuk Nyong bisa lain kali," ucap Dewa begitu mereka sudah berada di dalam mobil.
Deva menggeleng kuat sambil mengusap sisa-sisa air mata. "Tidak, Pak. Kita belikan saja."
Dewa kembali mengerjapkan matanya sebelum menjalankan keempat roda kendaraannya. Berharap, apa yang dialaminya saat ini, tidak berdampak pada perjalanan mereka. Meski agak ragu, kakinya pun mulai menekan pedal gasnya dengan pelan.
Deva menoleh pada sang atasan, merasakan ada sesuatu yang aneh. Keringat yang bercucuran dari pelipis Dewa, menegaskan jika pria itu sedang tidak baik-baik saja. "Bapak kenapa? Bapak sakit?"
Tentu saja Dewa menggelengkan kepala. Dia mengusap peluhnya dengan cepat. "Aku gerah, Dev," ucapnya---bohong. Pendingin mobil Dewa berfungsi sempurna. Udara sore di luar juga sedang sejuk-sejuknya.
Deva memberanikan diri menyentuh leher dan kening Dewa untuk meyakinkan apa yang ada di pikirannya benar. Di penglihatan Deva saat ini, wajah Dewa tampak sangat pucat.
"Tepikan mobilnya, Pak. Biar saya yang mengemudi." Deva mengatakannya dengan kekhawatiran yang tulus.
Dewa pun menurut saja apa kata Deva. Setelah memastikan jalanan di depan sepi, pria tersebut menghentikan mobilnya. Membiarkan Deva menggantikan posisinya.
__ADS_1
"Mungkin aku hanya masuk angin, Dev. Atau juga lambungku kambuh. Waktu di bali aku sedikit minum cooktail, mungkin alkoholnya lumayan tinggi. Aku sudah lama tidak minum, bisa jadi lambungku kaget."
"Bisa jadi sih, Pak. Saya punya obat magh di tas saya. Bapak bisa ambil. Siapa tahu bisa meredakan. Di bagian belakang tas saya pak," Deva melepaskan satu tangannya dari kemudi sejenak untuk menunjuk tasnya yang tergeletak di dekat tuas hand rem.
Dewa menuruti apa kata Deva. Pria tersebut mengunyah begitu saja obat tersebut. Lalu dia sedikit mengubah posisi jok mobil yang didudukinya, hingga membuatnya menjadi setengah berbaring.
"Bapak terlalu kecapekan, masuk angin juga bisa. Kalau papa dulu, selalu minta dikerokin mama. Setelah itu enakan deh." Deva berbicara tanpa menoleh pada Dewa.
"Kerokan? Apa itu?" Dewa bertanya sambil memejamkan matanya.
"Bapak tidak tahu kerokan? Astagah, kemana saja Bapak selama ini? Coba bapak cari di internet," dengus Deva.
Karena ingin segera baikan, apa saja saran orang, selama masih masuk akal, tentu akan dilakukan. Dewa pun mengurungkan niatnya untuk memejamkan mata, dia mengambil ponsel dan benar-benar mencari tahu tentang "kerokan".
"Tentu saja tidak, coba saja nanti di rumah," sahut Deva.
"Kamu yang bakal ngerokin aku? Kamu lihat badanku dong?" Dewa bertanya sembari membayangkan dia setengah telanjang di mata Deva. Mendadak celananya terasa sesak sendiri.
Deva tidak menjawab, karena perempuan itu fokus melihat ke sisi berlawanan. Dia hendak memutar arah mobilnya menuju toko mainan besar yang berada di seberang jalan tempat mobilnya kini berada.
"Dev ... kenapa nggak jawab? Kamu mau kerokin aku nggak? Mama pasti nggak bisa begini-begini. Aku nggak pernah lihat mama kerokan. Aku nggak mau asisten rumah tangga nyentuh punggungku. Bukan aku sok, tapi nggak nyaman aja. Bagaimana pun, badanku ini masih orisinil."
"Memang kalau saya yang sentuh, bisa jamin Bapak bakalan nyaman? Kalau iya, saya sih tidak keberatan. Cuman kerokan ini," seloroh Deva, santai tanpa beban.
__ADS_1
Keduanya menjeda perdebatan tentang "kerokan", Dewa dan Deva turun ke toko mainan dan membelikan masing-masing satu mainan untuk Jason. Tidak berlama-lama, mereka pun segera kembali melanjutkan perjalanan ke rumah.
Di sisi lain, Dave yang merasakan hatinya begitu hancur, memilih tidak langsung ke apartemennya. Pria tersebut sejenak menghabiskan waktu membaca Al'Quran di dalam sebuah masjid. Mencari penyejuk hati sekaligus penguatan pada Sang Pemberi cobaan, adalah jalan terbaik ketika sudah tidak ada lagi manusia yang bisa diandalkan.
Seperti yang terkandung dalam Surat An-Nisa: 125, Allah SWT berfirman: "Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus?..."
Menyerahkan diri, tentu saja adalah bentuk dari keikhlasan. Sejatinya, segala sesuatu yang terjadi di bumi---seturut kehendak Allah. Ikhlas itu sulit, mudah diucapkan dengan lisan. Namun, seringkali ditentang oleh hati dan pikiran.
"Ya Allah Ya Robb, aku percaya Engkau sedang merencanakan sesuatu yang terbaik bagiku. Aku yakin, semua memang terjadi sudah atas izinMu. Kuatkan aku, lapangkan hatiku dengan rasa ikhlas. Aku tidak ingin melupakan Deva. Biarlah dia menetap di hati dan pikiranku. Hanya satu pintaku. Bahagiakan Deva. Aku ikhlas merasakan kehilangan, sakit, dan luka. Aku tidak akan mengeluhkan lagi apa yang aku rasa. Asal bahagiakan Deva." Mata Dave terpejam begitu dalam.
Perih hati saat mengatakannya. Namun, ikhlas seringkali memang perlu dipaksa. Dia tidak datang serta merta bersamaan dengan cobaan dan ujian yang diberikan. Ikhlas, kita sendiri yang menghadirkan. Proses menuju keikhlasan, tidak cukup sebentar. Tidak mudah---seringkali ada tangis dan juga pengorbanan yang menyertai.
Setelah merasa hatinya jauh lebih baik, Dave baru memutuskan kembali ke apartemen. Tempat yang sebenarnya tidak pernah ingin dia huni. Sebenarnya, Dave membelinya hanya sebagai aset.
Menginjakkan kaki di lobby apartemen, suasana hati Dave yang tadinya sudah membaik, seketika seperti diuji kembali dengan kehadiran seseorang yang menunggunya dengan tidak sabar.
"Kamu dari mana saja, Dave? Aku sudah dari rumah sampai mengambil barang, dan kamu baru sampai di sini? Kamu pasti menemui mantanmu yang murahan itu?" dengus Dira dengan asal.
"Jangan pernah menyebut Deva murahan, Dir. Aku mencoba memulai semua dengan baik. Lakukan hal yang sama. Kamu tidak akan menjadi lebih baik, hanya dengan merendahkan orang lain."
"Deva memang murahan, Dave. Dia pura-pura baik di depanmu. Tapi lihat saja, belum terlalu lama, dia sudah bisa menggaet kakakku. Cukup pintar, dia tahu persis siapa mangsanya."
Dave menatap Dira dengan tajam. "Di sini banyak sekali kaca, Dir. Jika kamu menganggap Deva murahan, bagaimana dengan kamu? Kalau kamu memang merasa mahal, kenapa sampai merebut milik seseorang yang kamu anggap murahan?"
__ADS_1