Sisa Rasa

Sisa Rasa
Jiwa yang terguncang


__ADS_3

"Aku mencintai Deva tanpa alasan. Sampai sekarang, logikaku masih tidak sanggup menjelaskan kenapa harus Deva yang menjadi pilihanku. Aku sering bertemu dengan perempuan yang lebih cantik, lebih pintar, dan lebih menarik ketimbang Deva. Tapi aku tidak pernah ingin berpaling darinya. Deva yang dulu dan sekarang, di mataku masih sama. Aku selalu merasa dia perempuan yang luar biasa. Setiap perempuan bisa menjadi cantik dan pintar. Tapi tidak semua perempuan bisa sehebat dia dalam menyikapi kesulitan. Dia yang terbaik. Aku tidak yakin akan menemui perempuan seperti itu lagi di dalam hidupku."


Jawaban Dave, membuat Dira menyesal sudah menanyakan hal tadi. Semua kata-kata Dave, sedikit mematahkan semangatnya untuk berusaha menggeser posisi Deva.


"Tidak bisakah Dave jatuh cinta padaku tanpa aku harus menjelaskan siapa aku dan mengapa aku begitu ingin menikah dengannya?" batin Dira.


Tidak lama kemudian, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dave segera menghampiri Deva dan mengajak perempuan tersebut masuk ke dalam pesawat yang akan mereka tumpangi.


Dira yang notabene adalah tunangan Dave, malah berjalan di belakang dua orang yang masih memiliki perasaan cinta yang belum berkurang sedikit pun. Tersiksa? Tidak nyaman? Tentu saja. Tetapi sekali lagi, ini sudah menjadi pilihan Dira. Dave adalah satu-satunya pria yang dia impikan. Mendapatkan Dave adalah sebuah keharusan, bukan pilihan.


****


Setelah melalui perjalanan yang terasa begitu panjang. Akhirnya, Deva, Dave dan Dira, menginjakkan kaki kembali di Ibukota. Seperti yang sudah disepakati sebelumnya, Dira langsung pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Dia ingin mengambil baju dan barang-barang keperluannya selama menginap di rumah Deva.


Sementara itu, Deva dan Dave langsung menuju rumah sakit di mana jenazah Amar berada. Dari sana, Amar akan langsung dimakamkan di samping makam sang istri. Semua sudah diurus oleh Ali atas permintaan Dave. Kondisi psikis Deva yang naik turun, membuat perempuan itu tidak bisa memikirkan detail pemakaman dengan baik.


"Dev, kamu kuat ya. Jangan meneteskan air mata di depan jenazah papa. Bisa, kan?" Mendekati area rumah sakit, Dave memastikan bahwa Deva bisa mengendalikan emosinya sebentar.


"Bisa. Aku tahu papa tidak suka kalau aku cengeng," janji Deva.


Menginjakkan kaki di lobby rumah sakit, Deva menggenggam tangan Dave begitu erat. Keringat di telapak tangan Deva, menegaskan betapa gelisahnya perempuan tersebut. Langkah Deva begitu pelan. Bahkan cenderung gontai.

__ADS_1


"Kuatkan aku, Ya Allah. Cukupkan air mataku sampai di sini." Deva memejamkan matanya sejenak. Berdoa dalam hati dengan penuh kesungguhan.


Begitu menyadari kedatangan Deva dan Dave, Ali menyambut kedua orang yang disangkanya masih menjalin hubungan spesial itu dengan jabat tangan yang hangat.


"Pak Ali.... " Deva langsung memeluk pria yang sudah banyak berbuat kebaikan untuk keluarganya.


"Terima kasih sudah banyak membantu kami selama ini. Maafkan kesalahan papa ya, pak. Saya tidak tahu harus membalas kebaikan Pak Ali seperti apa." Air mata Deva kembali luruh. Ternyata, dia tidak sanggup menahannya.


"Bapak hanya melakukan tugas Bapak, Dev. Kamu yang sabar. Tetap berparasangka baik sama ketetapan Allah. Bapak tahu ini berat. Kalau pun sekarang kamu tidak bisa ikhlas, itu wajar. Siapa orangnya yang bisa ikhlas berada di posisimu sekarang? Tapi jangan melawan takdir. Jalani saja, Sedih---nangis---luapkan emosimu. Merasa berat---lepaskan bebanmu sebentar."


Deva merenggangkan pelukannya, lalu menyeka bulir bening yang terus saja mengalir. Dia melihat sekeliling. Begitu sepi, tidak ada sanak keluarga atau kerabat yang datang untuk menangisi kematian yang sedang terjadi. Sejauh mata memandang, hanya enam petugas kepolisian berseragam dinas lengkap yang ada di sana.


"Ya Allah... Bolehkah aku mempertanyakan keadilanmu? Papaku tidak bersalah. Tidak cukupkah waktu yang sudah dilalui di dalam tahanan? Sehina inikah papaku? Kemana orang-orang yang dulu begitu dekat dengan papa? Kemana keluarga papa yang dulu begitu bangga mengaku sebagai saudara?" Deva mereemas baju atasan yang dikenakannya tepat di bagian dada.


Dave memalingkan wajahnya. Merasakan sesak yang sama. Namun rasanya tidak pantas jika dia ikut menangis bersama Deva.


"Sudah siap ketemu papamu? Jangan lama-lama, kasihan jenazah papamu kalau tidak segera dimakamkan," ucap Ali.


Deva terus mengatur napasnya. Mencoba menguatkan hati dengan sebaik-baiknya. Perlahan kakinya melangkah menuju ruangan dengan pintu yang dijaga ketat oleh empat petugas polisi.


Selangkah sebelum masuk ke dalam sana. Deva kembali menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Pundaknya kini dalam rangkulan Dave yang terus berjaga dan setia di sisinya.

__ADS_1


Tubuh Deva seketika bergetar, kekuatan yang sudah dia kumpulkan ternyata sia-sia. Melihat tubuh Amar terbujur kaku berbalut kain kafan dengan wajah yang sudah membiru, membuat Deva nyaris berteriak dan ambruk.


"Istighfar, Bee... Istighfar... Allah sayang papa. Allah jaga papa dari orang-orang yang sudah menjahatinya. Alalh sudah sembuhkan papa."


Deva berlari memeluk jenazah Amar. Kain kafan memang sengaja belum dipakaikan secara sempurna, tentu saja agar Deva masih bisa melihat wajah sang papa untuk terakhir kalinya.


"Kalau Deva mengatakan Deva tidak ikhlas, apa papa akan marah pada Deva? Bukankah papa janji akan sembuh? Kenapa papa memilih jalan sembuh seperti ini?" Deva mengguncang-guncang jenazah Amar dengan emosional.


Dave segera menghentikan apa yang dilakukan Deva dengan memeluk sang mantan yang masih terkasih dari belakang.


"Cukup, Bee. Istighfar... jika kamu tidak bisa mengendalikan diri, kita keluar saja. Kita makamkan papa secepatnya. Jangan sampai, air matamu jatuh di atas kafan papa. Kasihan papa, Bee. Menangis sepuasnya di pundakku." Dave memutar tubuh Deva hingga membuat perempuan itu saling berhadapan dengannya.


"Jangan tinggalkan aku, Bang. Aku mohon!" Deva memeluk Dave begitu posesif. Entah dia lupa, atau sengaja tidak peduli---pria itu, bukan miliknya lagi.


"Tidak akan, Bee. Aku akan selalu ada untuk kamu. Kita urus papa dulu, ya. Kamu pasti bisa. Ingat kata Pak Ali, pulihkan nama baik papa. Kita akan melakukannya bersama." Dave mengecup kening Deva dengan lembut, lalu mengajak Deva sedikit menepi. Karena Ali membawa dua orang yang lain untuk membantu menyempurnakan kafan Amar.


"Mau keluar, atau tetap di sini?" tanya Dave dengan begitu sabar.


"Aku mau di sini," putus Deva. Perempuan itu melangkah maju, menegarkan diri dan menguatkan hati membantu yang lain mengurus papanya.


"Pa... kalau sudah bertemu mama, jangan lupa ajak Deva sekalian, ya. Lihat sekeling papa, sunyi bukan? Kata orang, kebaikan seseorang semasa hidupnya, bisa dilihat dari berapa banyak orang yang merasa kehilangan di hari kematiannya. Tapi lihat sekarang, pa, lihat! Hanya berapa yang peduli sama papa? Bukan karena papa tidak baik bukan?"

__ADS_1


Melihat Deva kembali emosional, Dave bergegas menarik mundur tubuh perempuan malang itu. Jelas, jiwa Deva sedang sangat terguncang. Emosi yang ditunjukkan, benar-benar labil.


"Ya Allah... Haruskah seberat ini Engkau menguji Deva? Seistimewa apa dia di hadapanMu?" Dave bertanya-tanya dalam hati.


__ADS_2