
Dave berbalik badan tanpa menutup pintu kamar. Pria tersebut berdiri santai dengan melipat kedua tangannya di depan dada. "Apa yang mau kamu lakukan? Menanggalkan semua bajumu? Berjalan gemulai seperti perempuan penggoda? Atau mau menari telanjang dengan menggunakan badanku sebagai tiang?"
Mendengar ucapan sinis dari Dave, Dira yang sudah menggerakkan tangan untuk membuka resleting mini dres yang dikenakannya seketika urung. "Kenapa? Kamu takut akan tergoda? Kamu takut tidak sanggup lagi menahan napsumu?"
Dave menarik satu ujung bibirnya ke atas. Begitu sinis dan meremehkan. "Tentu saja tidak, Dir. Aku justru mengkhawatirkan kewarasanmu jika sampai kamu benar-benar melakukannya. Untuk mendapatkan perhatianku, tidak cukup hanya dengan fisikmu, Dir. Pakai hati dan ketulusanmu. Berusahalah memberikan hak dasarku, dan melakukan kewajibanmu sebagai istri dengan benar."
"Apa maksudmu, Dave? Kenapa kamu bicara seolah hanya aku yang punya kewajiban? Bukankah kamu yang mengikrarkan akad? Mau bagaimana pun, sekarang aku adalah tanggungjawabmu, Dave."
"Benar, Dir. Kamu tidak salah. Tapi itu jika pernikahan kita terjadi secara normal. Masalahnya, kita menikah karena apa? Cinta? Sama sekali bukan, Dir. Jangankan cinta, ada keinginan untuk berteman biasa denganmu pun aku tidak ada. Karena apa? Karena sifat dan sikapmu membuat aku risih. Jika kamu memang menginginkan aku menjadi suamimu, cintai aku dengan cara yang benar. Cinta itu tidak memaksa apalagi menyiksa seperti apa yang kamu lakukan."
"Dave, aku melakukan ini karena kamu yang memulai. Kamu sama sekali tidak pernah memandangku sebagai perempuan yang seharusnya sudah kamu anggap sebagai jodohmu. Apa pun jalannya. Aku yang akhirnya menjadi istrimu, bukan Deva. Berhentilah berharap bisa hidup bersama Deva. Jika kamu sudah memutuskan menerima perjodohan kita, jangan setengah-setengah menerimanya," cetus Dira.
"Aku tidak setengah-setengah, Dir? Kita menikah, tapi aku menolak untuk menerimamu tanpa ragu. Apa yang bisa aku lihat darimu? Apa? Haruskah aku menyuruhmu berdiri di depan kaca berjejer bersama Deva? Agar kamu bisa sedikit sadar, apa bedanya berlian dan batu koral." Rahang Dave tampak mengeras, kesabarannya sudah hampir habis.
Dira terdiam, naman tatapannya tajam menghujam penuh kebencian dan dendam, entah pada siapa dia menujukannya. Yang pasti, mata itu tidak mengarah pada Dave. "Aku akan menjadi seperti Deva, Dave. Aku yakin bisa. Aku akan berusaha." Perempuan tersebut menghentakkan kakinya dengan kesal. Lalu dia melangkah keluar meninggalkan Dave sendirian.
__ADS_1
Ayunan kaki lebar Dira, ternyata tertuju pada kamar di mana Deva berada. Dengan tidak sabar, Dira mengetuk daun pintu di depannya berkali-kali. Hingga tidak hanya Deva yang terusik, Dewa yang letak kamarnya berada persis di samping Deva pun merasakan hal serupa. Pria tersebut bergegas membuka pintu. Setelah menoleh ke sisi kiri dan melihat ada sosok sepupunya, Dewa buru-buru melangkahkan kakinya mendekati Dira.
"Dir ... Dira, tahan emosimu. Kamu kenapa jadi seperti ini, sih? Jangan bersikap bodoh. Apa yang kamu lakukan sekarang, malah semakin menunjukkan betapa lemah dan tidak berdayanya kamu." Dewa memegangi lengan Dira dengan sedikit mengeluarkan tenaga.
"Apa bedanya aku sama kamu, Kak? Aku lemah, tapi setidaknya aku tidak berhenti berusaha mencintai. Kamu sendiri bagaimana? Kamu tidak pernah mencintai sebesar apa yang aku rasakan, Kak. Cinta tidak harus memiliki, itu bulsyit. Cinta, haruslah memiliki dan bersama. Kakak tidak akan mengerti sampai suatu saat ada perempuan yang membuat kakak ingin terus berada di sampingnya." Dira menghempaskan tangan Dewa dengan kasar. Lalu dia kembali mengetuk pintu kamar Deva.
Bukannya Deva tidak mendengar, tapi dia baru saja berendam di dalam bath up. Terlalu sayang untuk Deva terburu-buru menyudahi mandinya. "Astagah, apa dia tidak mandi dan sholat dulu. Kenapa semangat sekali. Ah ... biarin nunggu, deh. Salah siapa cepet-cepet. Sudah dibilang nanti saja habis sholat, masih saja ngeyel." Deva terus mengumpat. Tentu saja karena dia mengira yang mengetuk pintu adalah Dewa.
Namun, ketenangan Deva yang sudah kembali terasa---terusik dengan getaran ponsel yang dia letakkan tidak jauh dari bathup. Deva pun buru-buru menyambar benda tersebut setelah dia mengeringkan tangannya dengan handuk kecil yang sudah membungkus rambutnya.
Mengingat hal tersebut, Deva pun segera keluar dari air yang merendam tubuhnya hingga bagian dada. Dia menyambar bathrobe dan mengenakannya dengan cepat. Sejurus kemudian, dia kembali menghubungi si penelepon yang sepertinya sedang menaruh harapan tinggi pada Deva.
"Iya, kak ...," sapa Deva dengan lirih.
Suara Deva yang pelan saat menerima telepon, berbanding terbalik dengan suara di balik pintu kamarnya. Dewa dan Dira masih bersitegang. Keduanya sedang sama-sama tidak ingin mengalah. Dewa yang benar-benar kesal dengan sikap Dira, memilih untuk tidak bersikap acuh.
__ADS_1
"Kembali ke kamarmu, Dira. Apa kamu tidak malu sama Deva? Buat apa kamu menemui orang yang kamu sendiri sudah menganggapnya lebih pantas dibuang dan dilupakan? Kamu tidak perlu menjadi Deva agar dicintai Dave. Buat apa? Harusnya kamu menjadi dirimu sendiri dengan versi yang lebih baik. Lalu buat apa dicintai kalau harus menjadi orang lain? Dave hanya akan menganggapmu sebagai Deva. Jadilah dirimu sendiri. Redam emosimu, Dir. Kamu tidak bisa terus mengandalkan papa dan mamamu dalam semua hal," tutur Dewa.
"Kenapa kakak malah membela Deva? Apa lebihnya dia? Kenapa kalian semua bisa mengagumi dia dengan mudah? Kenapa dari dulu tidak ada yang memandangku? Kenapa?" Dira menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan keras. Bahkan dia berniat mencakar wajahnya. Namun, dengan gesit Dewa menahannya.
"Cukup, Dir. Jangan sakiti dirimu lebih dalam lagi. Dekatkan dirimu dengan Tuhan. Aku memang tidak pernah mencintai orang lain dengan berlebihan. Jika cinta membuatku bisa berubah sepertimu, lebih baik aku tidak merasakan cinta selamanya. Tapi aku yakin, yang kamu rasakan bukanlah cinta. Ini bukan cinta sesungguhnya, Dir. Kecantikan dan kesempurnaanmu tidak akan pernah cukup menarik seseorang, tanpa ketulusan." Dewa merengkuh pundak Dira dan memeluk sepupunya itu dengan erat.
Dira menenggelamkan kepalanya lebih dalam pada dada bidang milik Dewa. Perempuan itu menangis sesenggukan. "Aku mau Dave, kak. Hanya Dave. David harus tahu, aku bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik darinya."
Dewa menarik napas dalam. Dia memang tidak menanggapi ucapan Dira dengan kata-kata. Akan tetapi batin pria tersebut makin tersayat. Obsesi Dira, sudah membuat dua hati yang benar-benar mencintai terpaksa berpisah. Ditambah lagi, kini semakin jelaslah ketidaktulusan Dira. Cinta dan obsesi pada Dave, berawal dari dendam pada pria lain.
Sementara itu, di dalam kamar, Deva masih belum juga menyelesaikan panggilan teleponnya. "Ini bukan masalah tiket pesawat, Kak. Tapi memang saya masih ada kerjaan di sini," tutur Deva pada si penelepon.
Setelah itu, perempuan tersebut kembali terdiam. Mendengarkan suara dari speaker telepon dengan seksama sembari sesekali menggeleng-gelengkan kepala. Deva memang tidak memahami kenapa suara penelepon terdengar begitu memaksa.
"Berikan satu alasan kenapa saya harus menemui papa Kakak secepatnya? Jika alasan itu menurut saya penting dan masuk akal, saya akan usahakan pulang hari ini juga." Suara Deva terdengar sangat tegas dan lugas.
__ADS_1