Sisa Rasa

Sisa Rasa
Setan berwajah bidadari


__ADS_3

Melihat siapa yang datang, Deva spontan menyuruh agar anak yang mendekapnya itu untuk menjauh darinya. Namun bukannya melakukan perintah Deva, anak itu malah semakin mengeratkan tangannya di pinggul Deva.


"Sayang, itu papa kamu sudah datang. Kakak jamin, dia tidak akan memarahimu. Tidak perlu takut! Laki-laki harus berani. Kalau ada yang bikin kesal, Jason jangan menangis. Nanti yang bikin kesal malah seenaknya," bujuk Deva sembari mengusap rambut anak itu dengan lembut.


"Nggak! Dia bukan papaku!" teriak bocah berumur lima tahunan itu dengan tangis yang bercampur kekesalan.


"Tidak boleh begitu, sayang. Sejelek-jeleknya orangtua kita ... kita harus tetap sopan dan menyayangi mereka."


"Jason! Lepas!" Seseorang yang menutup pintu mobil dengan keras tadi kembali berteriak dengan lantang.


Deva mendengus kesal. Lagi dan lagi, untuk kesekian kalinya, dia harus berhadapan dengan laki-laki yang selalu berselisih paham dengannya karena masalah tabrak menabrak.


Perlahan, Jason melepaskan tangannya. Lalu mengusap air mata yang membuat pipinya begitu basah.


"Terimakasih, Kak ... Kakak wangi sekali. Kapan-kapan, Jason akan memeluk Kakak lebih lama lagi. Wangi kakak, mengingatkan Jason pada oma." Anak laki-laki itu langsung berlari meninggalkan taman, disusul satu anak yang lain tadi. Tanpa ucapan basa-basi, dua baby sister mengejar kedua anak itu.


"Dasar ... kecil-kecil sudah pandai merayu perempuan. Jelas ada yang ditiru di rumahnya," seloroh Deva. Sengaja dengan suara agak keras. Agar Dewa yang belum beranjak dari tempatnya berdiri, bisa mendengar dengan jelas.


"Jangan ge-er kamu. Kamu tahu tidak wangi omanya seperti apa?" Tanya Dewa.


Deva mengacuhkan pertanyaan konyol itu. Karena merasa tidak diindahkan, Dewa pun menjawab sendiri, "Seperti kawula jompo pada umumnya. Semerbak baluran minyak kayu putih yang berkolaborasi sempurna bersama koyo cabe. Bisa dibayangkan kan wanginya seperti apa? Pas seperti wangimu sekarang."


"Dasar nggak jelas! pantes sekali anaknya cengeng, bapaknya lemes gini," ledek Deva.


"Apa kamu bilang? Mulutmu tuh yang lemes. Lagi pula, kenapa bisa kamu bersama Jason? Kamu mau culik anak-anak? Atau kamu bagian dari pedofil?" Dewa memberondong Deva dengan pertanyaan bernada tuduhan.

__ADS_1


"Ck... meski tidak kenal, sudah syukur aku mau peduli. Dua anak tadi berkelahi, sampai Jason menangis. Tidak ada yang melerai, sebagai orang yang baik, aku tidak mungkin membiarkan dua orang anak saling mengancam dan menyakiti. Terlalu sibuk atau memang cuek? Sampai punya babysister tidak becus, masih saja dipercaya menjaga anak." Seloroh Deva. Lalu dengan enteng meninggalkan Dewa.


Moodnya mendadak berantakan. Dari awal mencoba mengabaikan, namun kini Deva pun sama seperti Dewa. Menganggap pertemuan demi pertemuan mereka adalah kesialan.


Dewa menghentakkan kaki dengan gemas, matanya menatap tajam punggung Deva yang semakin menjauhi dirinya.


"Dasar perempuan aneh! Di mana-mana ada dia. Jangan-jangan dia memang setan berwajah bidadari yang sengaja dikirim Tuhan untuk menguji kesabaran dan imanku." Dewa kembali masuk ke dalam mobilnya.


***


Sepanjang perjalanan pulang, Deva sudah membayangkan akan berlama-lama di kamar mandi. Sekedar menyegarkan diri dan memijat pundaknya sendiri dengan hantaman air yang deras dari pancuran shower. Lelah jiwa dan raga sungguh terasa menghimpit seminggu belakangan ini.


Terbesit juga keinginan untuk sejenak memanjakan diri di tempat body spa, apa daya uang menyapanya dengan ramah hanya untuk hal-hal yang penting saja. Bukan pelit pada diri sendiri, namun ada impian besar yang sedang ingin digapai. Bergaya hidup hemat adalah keharusan, bukan pilihan.


Angan tinggallah angan. Baru saja Deva menginjakkan kaki di garasi rumah, sudah disambut dengan genangan air setinggi mata kaki yang dilewatinya. Deva melepas sepatu yang dia pakai, kemudian meletakkannya ke dalam mobil.


Dengan gerakan yang terburu-buru, Deva mengambil kunci di dalam tasnya, lalu membuka pintu rumah dengan tidak sabar.


"Astaga!" Deva sampai membungkam mulutnya sendiri karena terlalu tercengang dengan kondisi rumahnya. Jika di beranda hanya semata kaki, berbeda halnya dengan kondisi di dalam rumah. Air menggenang hampir sejengkal dari lantai.


Deva melepas dan melemparkan tas selempangnya begitu saja. Tangannya lincah menggulung bagian bawah celananya agar tidak terlalu basah.


Kaleng dan gayung, menjadi teman Deva kali ini. Keringat bercucuran, membuat rambutnya terlihat lepek. Pipinya yang putih menjadi kemerah-merahan seperti tomat karena olahraga berat yang tidak sengaja dilakukan. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali dia bolak balik membuang air di dalam kaleng ke kamar mandi.


Sebelum melanjutkan menguras rumah, Deva mengistirahatkan diri sejenak. Segelas air putih yang diteguknya hingga tandas, lumayan memberikan kesegaran.

__ADS_1


"Bee ... kenapa bisa banyak air di sini. Kamu lupa mematikan tandon?" Tanya sebuah suara yang tentu sangat familiar di telinga Deva.


Deva melihat sekilas ke arah Dave. Pria itu sedang melepas sepatunya. Tanpa kata, Deva kembali memulai aktifitasnya menguras air di lantai. Jelas Deva ingin mengacuhkan kehadiran mantan kekasihnya itu begitu saja.


Dengan sigap, Dave membantu pekerjaan Deva. Meski masih tidak ada satu kata pun yang terucap dari Deva, Dave sama sekali tidak peduli. Pria itu berhenti sejenak, mencari sumber air yang mengakibatkan adanya luapan air. Dilihatnya air tandon masih penuh, dia melirik saluran air menuju ke sana yang tadi langsung dimatikan Deva begitu dia tahu rumahnya kebanjiran. Dave mencoba menyalakan saluran air itu, dan benar saja, air tetap mengalir deras meski tandon sudah penuh.


"Pelampung otomatis tandonmu sudah tidak berfungsi dengan baik, Bee. Makanya dia terus terisi dan tumpah-tumpah. Besok aku akan membawa tukang untuk memperbaiki."


Deva tetap konsisten tidak menanggapi penjelasan Dave. Dia terus menyibukkan diri seolah tidak kenal lelah. Bahkan tenaganya seperti berkali lipat lebih kuat dari sebelumnya.


Setelah hampir satu jam lebih berkutat dengan air, akhirnya, tidak ada genangan lagi di lantai. Deva bergegas mengambil kain pel kering untuk membuat lantainya kembali kesat.


"Istirahatlah! Biar aku yang selesaikan. Jangan terlalu keras pada dirimu, Bee. Please, jangan buat aku merasa semakin bersalah!" pinta Dave.


Melihat Deva seperti sekarang, hati siapa tidak sakit. Gadis itu seperti sedang pura-pura mengingkari sakit dan lelah jiwa raganya sendiri.


Deva melempar kain pelnya ke lantai dan sengaja menghentakkan kaki untuk menpertegas kekesalannya. Lalu memberanikan diri membalas tatapan Dave dengan sinis.


"Siapa yang memintamu merasa bersalah? Aku tahu betul kemampuanku, Bang. Jangan berlagak kamulah yang paling memahami kondisiku. Aku tidak selemah dugaanmu. Hatiku memang patah, hancur, sakit, dan terluka parah. Tapi aku sadar, yang tidak bisa dipertahankan, memang layak diikhlaskan dan dilupakan."


Deva hendak masuk ke dalam kamarnya, namun tangan Dave dengan gesit menahan lengan gadis itu. Tidak memedulikan apa yang terjadi sebelumnya, Dave menarik tubuh Deva hingga berada dalam dekapannya.


"Jangan pernah lupakan aku, Bee. Jangan!" Dave mengecup kening Deva dengan lembut.


"Kamu egois, Bang ... egois!" Tangan Deva mengepal dan memukul dada Dave bertubi-tubi.

__ADS_1


"Pukul aku semaumu, Bee. Tapi jangan berhenti mencintaiku."


Deva mematung seperti manekin. Logika dan hatinya sedang saling berkhianat. Pelukan itu bukannya dihempas, tapi malah semakin erat.


__ADS_2