Sisa Rasa

Sisa Rasa
Nama Amar mulai disebut


__ADS_3

"Tidak bisakah kalian menunggu di luar? Kami sedang ada tamu." Widya tidak gentar membalas tatapan tajam Agas dan juga Rudi.


"Ada urusan sangat penting yang harus kita bicarakan. Bisakah tamumu keluar lebih dulu." Rudi mengucapkannya dengan penuh tekanan. Sementara Agas menundukkan kepala saat menyadari Deva menatapnya penuh selidik.


"Kalian yang tunggu di luar lebih dulu. Sepenting apa urusan kalian---sepertinya kami sudah tahu. Maaf, tamuku ini lebih penting. Jadi tolong, beri kesempatan sebentar pada kami untuk menyelesaikan semuanya," tegas Widya begitu jelas dan lugas.


"Wid ...," Rudi seperti memberikan penegasan yang luar biasa saat menyebutkan nama perempuan tersebut.


"Tolong Mas Rud, hargai keputusan kami." Widya tetap konsisten dengan keinginannya.


Sementara itu, napas Dermawan tampak semakin tidak teratur. Tangan pria tua yang ada di genggaman Deva terasa begitu dingin. Deva berusaha menggosok-gosok punggung tangan Dermawan agar kembali hangat. Lalu dia kembali menoleh tajam ke arah Agas, Rudi, dan juga Widya.


"Apa pun urusan kalian, bisakah kita kesampingkan sebentar? Bapak ini sedang sakit, tidak pantas berdebat di depan beliau. Sepenting apa urusan itu, mana bisa dibicarakan saat seseorang dalam kondisi sakit seperti ini," ucap Deva.


Napas Dermawan semakin terdengar berat, namun dengan gerakan matanya, dia menyuruh Deva untuk mendekatinya. Widya pun bergegas mendekati suaminya dari sisi lain, dia berniat memasangkan alat bantu pernapasan. Namun, Dermawan menolaknya dengan mendorong lemah tangan sang istri.


"Dev ...," lirih Dermawan.


"Iya, Pak." Deva menjawab tidak kalah lirih. Widya memberikan isyarat agar Deva mendekatkan badannya pada Dermawan.


Raut ketegangan tampak jelas pada Agas dan Rudi. Rahang keduanya mengeras---gigi atas dan bawah merapat. Kedua tangan mereka pun mengepal sempurna menahan rasa marah dan ketakutan yang berkecamuk di dalam dada.


"Bapak istirahat saja dulu. Kalau nanti sudah lebih baik, saya janji akan datang lagi," bisik Deva.

__ADS_1


Dermawan menggeleng lemah. Napasnya benar-benar sudah berat. Bahkan terlihat hanya berhenti di tenggorokan saja. Bunyi berisik udara yang terkumpul di kerongkongan mengusik gendang telinga hingga menimbulkan rasa pilu.


"Istighfar, pak. Letakkan semua urusan duniawi. Jangan pikirkan apa pun. Istighfar," lirih Deva, dia merasakan tangan Dermawan kembali meraba-raba mencari tangannya. Dia pun menggenggam erat tangan lemah itu.


Mungkin sebelumnya dia memang tidak pernah bertemu dengan sosok di atas ranjang tersebut. Namun Deva masih manusia, kesakitan dan kesedihan yang terjadi di depan matanya, tentu tidak bisa diabaikan begitu saja. Segala dugaan dan tanya yang tadi banyak terlintas, dihempasnya sementara.


"Ma-ma-af kan, Ba---," ucapapan Dermawan yang terbata pun kembali terjeda.


"Jangan ucapkan hal lain selain memohon ampunan pada Allah. Bapak jangan putus istighfar." Deva pun semakin mendekatkan mulutnya pada daun telinga Dermawan. Dia menuntun pria tersebut melafalkan "Astaghfirullahaladzim" berkali-kali.


Widya tidak bisa berkata-kata lagi. Tubuhnya pun terasa kaku seperti manekin. Jika membunuh tidak dosa dan tidak salah di mata hukum, ingin sekali dia menghujamkan sebuah pisau tepat di dada dua orang yang berdiri seolah mereka mencemaskan suaminya. Agas dan Rudi di mata Widya sudah tidak pantas disebut sebagai manusia. Keduanya hanya seonggok daging yang kebetulan bernyawa, tetapi tidak memiliki hati nurani.


"Sungguh kalian manusia terlaknat yang kami temui. Semoga karma kalian, lebih pedih dari yang sudah kami rasakan. Setiap bulir air mata yang diteteskan Deva, harus kalian bayar dengan tangisan yang lebih menyayat," sumpah Widya dalam hati.


Perempuan itu menggeleng lemah, lalu berkata lirih. "Tidak, Bapak sudah berpesan, apa pun kondisinya, dia sudah tidak mau lagi di bawa ke rumah sakit. Siksaan ini tidak seberapa Deva. Tidak seberapa. Semoga kalian yang melihat ini, terbuka pintu hatinya. Tidak ada kesalahan yang bisa tertutup sempurna. Kita bisa berlari dan menyembunyikan kejahatan yang kita perbuat dari dunia. Tapi tidak dari hati kita dan juga dari keadilan Tuhan."


Agas dan Rudi seolah tidak peduli dengan sindiran Widya. Keduanya tidak tertarik untuk menimpali atau memberikan reaksi yang lain. Bahkan dengan kejam, dalam hati mereka berharap Dermawan menyudahi saja drama ini dengan embusan napas terakhir.


Deva membelai lembut pipi Dermawan yang bersih namun sangat pucat. Tidak terasa bulir bening menetes dari sudut matanya. "Bapak, mengingatkan saya pada papa saya. Tapi sayang, saya tidak bisa berada di sisi papa saat beliau sedang sakit. Bapak jangan berhenti berjuang. Ada istri Bapak, dan ada anak Bapak yang selalu menemani. Begitu banyak hal yang masih bisa disyukuri."


Air mata Widya luruh semakin deras, hingga pundaknya naik turun tidak beraturan. Dia memencet tombol yang terhubung ke seluruh ruangan. Memberikan signal agar Debora datang ke kamar di mana Dermawan berada.


Bulir bening menetes pelan dari mata Dermawan. Andai saat ini dia mempunyai kekuatan, ingin sekali dia bangkit dan berlutut di kaki Deva---seorang anak yang hidup menanggung beban moral sebagai anak seorang koruptor. Semua akibat ulah Dermawan bersama dengan teman-temannya yang lain.

__ADS_1


"Bapak harus semangat. Istighfar, semoga Allah memberikan kesembuhan. Jika Bapak merasa ada urusan dunia yang harus diselesaikan, Bapak tidak boleh berhenti berjuang. kita ke rumah sakit. Kita ikhtiar dulu," bujuk Deva.


Debora muncul sendirian. Meski ada Dewa, tentu dia tidak mengajak mantan kekasihnya itu masuk terlalu dalam mengetahui apa yang terjadi.


"Pa ....," Debora melewati Agas dan Rudi tanpa permisi. Melihat papanya dalam kondisi tidak stabil untuk yang kesekian kalinya---membuat hatinya harus kembali belajar ikhlas.


"Kita ke rumah sakit saja ya, pa," Debora berdiri di samping Deva.


"Silahkan, Kak." deva berniat untuk bertukar tempat dengan Debora. Namun, perempuan itu menolak dengan gelengan kepala yang kuat.


"Kamu di sini saja. Papa memang menunggu kamu." Suara Debora terdengar sangat bergetar.


Widya mendekati anaknya. Dia merengkuh pundak Debora, lalu membawa pundak tersebut ke dalam pelukannya. "Mungkin ini memang sudah saatnya, Deb. Kita harus ikhlas. Kita pasti bisa. Deva saja bisa setegar ini sampai sekarang. Apa yang kita rasakan, tidak ada apa-apanya dibanding dengan yang sudah papamu perbuat," bisik Widya dengan lirih.


Sayup, telinga Deva mendengar apa yang diucapkan oleh Widya. Seketika, dia menegakkan tubuhnya. "Sebenarnya, apa hubungan kalian dengan saya? Kenapa tiba-tiba saya harus berada di sini?"


"Ba-ba-pak, sa-lah." Dermawan kembali berusaha bicara dengan susah payah. Setiap kata yang diucapkan bahkan membutuhkan jeda yang sangat lama.


"A-a-mar ...." Suara terbata Dermawan menyebut nama papa Deva.


Rudi dan Agas yang sedari tadi hanya berdiri di tempat, semakin terusik. Keduanya melangkah maju mendekati sisi ranjang yang kosong, tepatnya di bagian kaki Dermawan.


"Jangan banyak bicara, Wan. Berhenti keras kepala. Yang kamu butuhkan sekarang bukan siapa pun, tapi dokter," ucap Agas---terkesan hanya basa basi semata.

__ADS_1


Deva menatap satu per satu orang yang ada di ruangan itu dengan tajam. "Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa nama papa disebut?"


__ADS_2