
"Kak?" Deva kembali bertanya, karena Debora nampak berusaha mengulur waktu.
"Eh...sebentar, Dev. Aku panggil pembokatku dulu, ya? Biar nunjukin tempat ke mas-mas yang angkut barang buat naruhnya di mana. Kamu di sini sebentar." Debora langsung berdiri dan berjalan ke arah bagian rumahnya lebih dalam.
Deva kembali mengedarkan pandang pada interior rumah Debora, tidak ada satu pun foto keluarga yang terpasang di dalam ruangan itu. Kini tanda tanya besar semakin menghinggapi kepalanya. Dari semua barang yang diunggahnya, langsung satu orang yang membeli tanpa pertanyaan dan tanpa menawar. Sangat tidak masuk akal.
"Sudahlah! Apa pun, aku tidak dirugikan. Aku juga tidak menerima cuma-cuma. Akad jual beli sudah benar. Kebetulan atau disengaja, ini rejeki papa," batin Deva.
"Maaf lama.... " Debora kembali muncul dengan gayanya yang sungguh menawan.
"Nggak apa-apa, Kak. Oh... ya, ini BPKB sama kontak mobil. Ada kartu asuransinya juga. Masih ada waktu pertanggunagan empat bulan." Deva menyerahkan semua benda yang dia sebutkan tadi pada Debora.
"Terimakasih, Dev. Aku mau memberikannya pada adikku. Belum saatnya dia mempunyai mobil baru. Masih sekolah menengah," Debora memerima dan langsung memeriksa keaslian surat tanda kepemilikan kendaraan yang diberikan oleh Deva.
"Saya yang berterimakasih, Kak." Deva melemparkan senyuman yang manis pada Debora.
Perempuan yang duduk di depan Deva itu membalas senyuman Deva tidak kalah manis. Meski dalam hati, ada perih luar biasa yang dia rasakan. "Maafkan aku, Dev. Apa yang aku lakukan, tidak ada seujung kuku dengan apa yang sudah kami rampas darimu," batin Debora.
Deva beringsut berdiri. Dia ingin pamit. Tidak ada lagi keinginannya untuk berharap apalagi memaksa Debora menjelaskan alasan dan asal muasal sampai bisa membeli semua barang-barangnya. Sudah banyak beban pikiran yang dia tanggung. Tidak selayaknya dia menambah lagi dengan mencari-cari urusan baru.
__ADS_1
"Saya permisi dulu, Kak. Sekali lagi terimakasih, ya." Deva mengulurkan tangannya pada Debora.
Perempuan cantik berwajah blasteran Indo- Jerman itu menyambut uluran tangan itu dengan hangat. "Sama-sama, Dev. Kamu pulang naik apa? Biar dianter sama driverku, ya?" tawar Debora.
"Nggak usah, Kak. Saya bisa naik ojek online. Saya permisi. Maaf buru-buru." Deva segera undur diri. Debora mengantar Deva hingga sampai ke pagar luar rumahnya. Sementara dua orang kenek pick up yang membawa barang tadi, belum juga usai menurunkan barang. Hal itu karena Debora sengaja menyuruh mereka melakukan secara perlahan. Karena barang-barang tersebut sebenarnya akan dikirim ke tempat lain yang sudah disiapkan.
Deva menyusuri jalan keluar komplek perumahan Debora dengan berjalan kaki. Perumahan tersebut letaknya tidak jauh dari jalan raya. Dari rumah sakit di mana Amar dirawat, kemungkinan tidak lebih dari tiga kilo meteran. Deva masih sanggup jika harus berjalan kaki ke sana.
Benar saja, bukannya berhenti untuk memesan taksi atau ojek online. Deva malah memilih terus melangkahkan kakinya menyusuri trotoar yang panas. Terik mentari pukul dua siang, masih terasa sangat menyengat kulit. Butiran peluh yang membasahi dahi dan mengalir hingga ke leher, tidak dipedulikan lagi. Pipinya yang merah seperti tomat karena sengatan panas, tidak membuat Deva risau. Dia terus berjalan. Tidak peduli banyak orang yang memperhatikannya sebagai objek penyejuk di tengah polusi suara klakson dan asap kendaraan yang melintas.
Sekitar tiga puluh menitan berjalan, akhirnya sampai juga Deva di depan gerbang utama rumah sakit. Perempuan tersebut melihat pada layar ponselnya. Tidak ada panggilan atau pesan masuk dari Ali atau pihak rumah sakit. Itu artinya, kalau pun dia tiba-tiba datang, tidak akan mungkin bisa menjangkau posisi sang papa.
"Dev ...." Seseorang memanggil dan menepuk pundak Deva.
"Bang Dave?" sapa sekaligus tanya lolos begitu saja dari mulut Deva karena terkejut dengan keberadaan Dave yang tiba-tiba.
"Kenapa bisa di sini? Siapa yang sakit?" Dave langsung duduk di samping sang mantan yang masih terkasih.
Deva tidak menjawab, perempuan tersebut memilih untuk diam. Dia harus membiasakan diri tidak selalu berbagi cerita dengan Dave.
__ADS_1
"Maaf, kemarin aku tidak berpamitan dengan pantas. Maafin aku, Dev. Kalau kamu ingin aku benar-benar menjauh, aku akan lakukan. Aku sudah berusaha menghindar darimu mulai dari kemarin, tapi hari ini, Tuhan kembali mempertemukan kita. Aku baru saja menggantikan tugas Kak Echa. Ada pasien melahirkan darurat. Dan Kak Echa sedang di luar kota." Dave berbicara panjang lebar menyebut nama sepupu jauhnya.
Lagi-lagi, Deva tidak memberikan tanggapan berbentuk apa pun. Perempuan tersebut bergeming. Kepalanya menunduk dengan pandangan fokus pada lantai.
"Sepertinya kamu tidak nyaman. Aku pergi saja kalau begitu. Tapi aku ingin kamu ingat sesuatu, Dev. Tujuh tahun kebersamaan kita, pantaskah kita bersikap seperti musuh seperti sekarang? Kita sama-sama menjadi saksi perjuangan hidup masing-masing. Aku dan kamu tidak pernah sebentar pun saling meninggalkan. Kebencian dan jarak yang sengaja kita buat, tidak sedikit pun membuatku lupa tentang semua hal yang kita lalui." Dave ingin beranjak pergi. Namun siapa menyangka, Deva malah menahan pergelangan tangan Dave.
"Papa sakit, Bang. Komplikasi. Tadi papa menjalani prosedur pengangkatan ginjal. Mungkin sekarang sudah selesai. Aku bahkan tidak bisa melihat kondisi papa sekarang bagaimana." Deva akhirnya bercerita juga pada Dave.
Seperti yang Dave katakan. Tujuh tahun yang mereka jalani bukan sekedar pacaran seperti pada umumnya pasangan yang lain. Hubungan Dave dan Deva adalah hubungan yang sangat dewasa. Dave adalah satu-satunya orang luar yang selalu ada untuk Deva di segala kondisi. Jatuhnya keluarga Deva, Dave lah yang banyak memberi uluran tangan. Keterikatan keduanya sudah sangat luar biasa. Tanpa melanggar batasan fisik, batin keduanya terikat begitu kuat.
"Jadi, kamu jual mobil, dan jual barang-barang, semua untuk biaya pengobatan papa? Kenapa tidak ngomong aku Dev?" raut wajah Dave seketika menampilkan sesal dan kesal bersamaan.
"Aku harus mengatakan berapa kali, Dev? Selama ada aku, kamu tidak akan pernah sendiri. Ikut aku sekarang." Dave menarik tangan Deva dengan paksa. Mengajak perempuan itu berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Terus melangkahkan kaki menuju ruang khusus pasien yang baru dipulihkan pasca tindakan operasi.
"Kamu ingin tahu keadaan papa bukan? Lihat apa yang bisa aku lakukan agar kamu bisa mendapatkan keinginanmu. Tunggu di sini sebentar." Dave mendudukkan Deva dibangku besi dingin, agak jauh dari ruangan yang dituju.
Disaat bersamaan, ponsel Deva mengeluarkan getar dan dering bersamaan. Pertanda ada panggilan masuk di sana.
"Pak Dewa?"
__ADS_1
Mendadak perasaan Deva yang sudah tidak enak, menjadi semakin tidak enak lagi.