Sisa Rasa

Sisa Rasa
Pagi yang sibuk


__ADS_3

Selesai menerima telepon yang membuatnya seketika berubah 180 derajat. Dira mendudukkan dirinya di kursi makan. Yang terlihat saat ini di wajahnya adalah kecemasan, bingung, dan juga sedih.


"Papa ... aku harus menghubungi papa," ucap Dira sembari mencari nama kontak Rudi di layar ponselnya dengan tangan yang masih gemetaran.


Beberapa kali menghubungi, tidak satu pun panggilan yang tersambung pada Rudi. Nomor pria tersebut, sedang berada di luar jangkuan. "Papa kemana, sih?" Kekesalan kini menambah emosi Dira.


Di tengah perasaan yang carut marut, ponsel Dira kembali berdering. Dari nomor yang sama dengan yang menyampaikan berita sebelumnya. Buru-buru, Dira pun segera menerima panggilan tersebut.


"Iya ...." Jawaban singkat Dira langsung disambut dengan serentetan informasi yang semakin membuat tulang perempuan tersebut semakin melayang.


"Lakukan saja yang terbaik untuk mama, saya akan secepatnya ke sana," lirih Dira.


Sesaat kemudian, sambungan telepon pun terputus. Tanpa berpikir panjang, Dira segera mencari tiket penerbangan pesawat untuk menyusul sang mama. Tentu saja sambil terus mengumpat dalam hati karena sang papa yang begitu sulit dihubungi saat kondisi darurat seperti ini.


Sama paniknya dengan Dira, seseorang yang seharusnya tidak pantas untuk memikirkan dan mengkhawatirkan keadaan Nina sebesar itu, tampak memasukkan beberapa helai bajunya ke dalam koper. Setelah mendapatkan kepastian jadwal penerbangan, pria tersebut langsung bersemangat untuk melihat keadaan besannya dengan mata kepalanya sendiri.


Fira yang menyaksikan ulah suaminya, hanya bisa mengelus dada. Kesabarannya sudah terkuras. Kini luka demi luka yang dulu selalu diabaikan, perlahan berdesakan ingin diluapkan.


"Aku harus menahan diri dulu. Emosi tidak akan membuatku pintar. Biarkan dia pergi, cari bukti---siapa lagi perempuan yang membuat suamimu menjadi lebih kejam dan tega seperti sekarang." Fira berbicara pada dirinya sendiri dalam hati.


Tanpa berpamitan, Agas meninggalkan sang istri yang duduk termangu menatap dirinya di tepian ranjang. Tidak ada kemesraan dan keharmonisan seperti yang ditampilkan selama ini di depan semua orang. Inilah mereka sebenarnya. Sebelum kasus Amar, sikap Agas jauh lebih baik dari ini. Sangat penyayang dan begitu mengutamakan keluarga. Semua berubah begitu Agas menjalin kerjasama dengan Rudi dan Dermawan.


Di tempat yang yang berbeda, Deva sudah berada di antara Debora dan juga Widya. Ketiganya menikmati makan pagi di resto yang ada di lantai dasar rumah sakit di mana Dermawan kini dirawat. Sebuah rumah sakit internasional, yang sebenarnya sangat familiar bagi Deva.


"Dev, tolong rahasiakan keberadaan kami, ya. Dari siapa pun, termasuk dari Dewa. Kondisi papa belum stabil benar, kami hanya ingin memastikan semua berjalan sesuai harapan kami," pinta Debora.


"Kakak bisa percaya sama saya," timpal Deva.


"Maaf, kami belum bisa menceritakan kenapa kami sungguh membutuhkan kamu di sini. Kami pastikan, kami tidak ada niat jahat sedikit pun sama kamu." Widya menatap Deva penuh kelembutan.

__ADS_1


"Iya," jawab Deva, sangat singkat. Perempuan itu tidak terlalu ingin basa basi. Sesungguhnya dia ingin semua terbuka secepatnya. Deva berharap, ada penegasan atau pun sanggahan dari ucapan Agas sebelumnya dari Debora, Widya atau pun Dermawan sendiri.


"Semoga dengan sering melihat kamu, kondisi papa menjadi stabil segera," harap Debora.


"Amiin," ucap Deva sambil melempar senyuman tipis.


"Deb, mama kembali ke ruangan papa dulu, ya. Kalian teruskan saja ngobrolnya." Widya menyudahi makan paginya yang masih menyisakan beberapa sendok suap lagi di atas piring. Debora pun menjawab dengan sebuah anggukan kecil.


"Saya pamit sekalian, karena saya juga harus bekerja." Deva ikut berdiri, karena waktu memang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi lebih sepuluh menit.


Tidak lama, basa-basi saling berpamitan itu pun selesai. Deva bergegas berjalan menuju arah lobby luar untuk mencari taksi yang biasanya ada di luar pagar rumah sakit. Bersamaan dengan itu, mobil Dave yang baru saja melewati gerbang, dengan jelas menangkap sosok Deva. Pria tersebut menghentikan laju kendaraannya untuk memastikan penglihatannya tidak salah.


Menyadari kalau apa yang tampak di depan mata bukan sekedar halusinasi, Dave pun segera turun dari mobil. Dia langsung menghampiri dan menghentikan langkah kaki Deva.


"Dari mana, Bee?" sapa Dave begitu keduanya sudah saling bertatap pandang.


"Dari jenguk temen, Bang."


"Ini mau ke kantor, Bang. Sekalian jalan, kalau malam, malah nggak enak." Deva menangkap tanya dari raut wajah Dave.


"Iya, sih. Ya sudah, hati-hati." Dave menggigit bibir bawahnya sendiri di ujung kalimatnya.


Dalam kondisi normal, Dave tentu dengan senang hati akan mengantar Deva ke kantor. Namun, status pernikahan lagi-lagi mengungkung dirinya untuk menjaga kehormatan Deva. Di mata orang lain, pernikahannya tetaplah seperti pernikahan pada umumnya. Mereka tentu tidak peduli serumit apa hubungannya dan Dira.


"Terimakasih, Bang." Langkah Deva lebih lebar dari sebelumnya. Perempuan itu tidak lagi menoleh ke belakang. Rasa cinta mereka tidak berjarak, hanya logika yang memaksa mereka untuk menahan diri dalam bersikap dan berkomunikasi


Dave meraup wajahnya dengan kasar. "Semoga kamu segera menemukan kebahagiaanmu, Bee. Cukup aku yang terluka," batin Dave.


***

__ADS_1


Dewa tiba di kantor lebih awal dari biasanya, bahkan saat penghuni lantai dua enam belum ada yang datang. Pria tersebut langsung melenggang masuk ke dalam ruangannya. Setelah menyalakan laptop dan melihat jadwal yang harus dilaluinya hari ini, dia malah terlihat melamun.


Dia memijat pelipisnya sedikit lebih kencang. Dua hari ini, Dewa merasakan penglihatannya menjadi berkabut secara tiba-tiba. Padahal, tadi dia merasa semua baik-baik saja. Kini, kembali matanya terasa ada selaput tipis yang menghalangi matanya untuk melihat dengan jelas.


"Kayaknya aku butuh general check-up," gumam Dewa.


Suara Sashi yang membahana, di susul kemudian suara cempreng Hilda mulai terdengar sampai di ruangan Dewa. Pertanda waktu sudah mendekati pukul delapan. Tidak sabar menggunakan sambungan internal, Dewa pun memutuskan untuk keluar ruangan.


"Shi, Deva sudah datang belum?" tanya Dewa, menghentikan obrolan Hilda dengan sekretaris ptibadinya itu.


"Eh, Pak Ewa sudah datang." Tidak langsung menjawab, Sashi malah memberikan senyuman genit dan sedikit memberikan senggolan mesra di lengan Dewa.


Tidak seperti biasanya, Dewa tidak menanggapi senggolan itu sama sekali. Pria tersebut malah memundurkan langkah ke belakang.


"Pak Ewa makin cakep aja. Kapan nih kita hangout bareng lagi? Kangen sama Diana dan Dara. Club kita terlalu lama vakum kayaknya." Hilda tidak kalah genit bertanya pada Dewa.


"Club hiatus dulu. Kalau kalian ada misi lain, ketemu berempat saja dulu.kembali ke topik. Deva sudah datang belum?" Dewa menunjukkan keseriusannya kali ini.


"Sepertinya belum, Pak Ewa. Ada yang bisa saya belai? Eh, maksudnya, ada yang bisa saya bantu?" Lagi-lagi Sashi berusaha menggoda Dewa.


"Aku sedang tidak ingin becanda, Shi. Kalau Deva sudah datang, langsung suruh dia ke ruanganku. Dan tolong kamu cek kapan ada jadwal aku ke Singapura!" Dewa mengatakannya dengan tegas. Tanpa basa-basi, pria tersebut langsung kembali ke dalam ruangannya.


"Tumben, Pak Ewa nggak ngerangkul-ngerangkul. Tangannya lagi kesleo kali ,ya?" sungut Sashi.


"Susukmu mungkin sudah luntur, bestie. Dia sudah sadar, kamu tidak cukup mempesonah," kekeh Hilda sembari melangkah menjauhi Sashi.


Sementara yang lain sudah sibuk dengan urusan masing-masing, tidak demikian halnya dengan Rudi. Pria tersebut masih asik menindih tubuh molek perempuan seusia Dira. Suara dessah kenikmatan terdengar bersahutan dari mulut keduanya secara bergantian.


"Jangan di dalam ya, Pi. Aku lupa minum pilku," lirih si perempuan dengan suara yang begitu manja. Kenikmatan hujaman umbi batang di antara dua paha rudi begitu membuainya.

__ADS_1


"Mana enak, sayang." Rudi memacu pinggulnya lebih cepat dari sebelumnya. Tubuhnya mulai mengejang, pertanda puncak kenikmatan sebentar lagi akan didapatkan.


__ADS_2