Sisa Rasa

Sisa Rasa
Keterlibatan Dira


__ADS_3

Desta tidak langsung menjawab. Pria tersebut memilih untuk menunjukkan video dari hasil penyelidikan dadakan yang dilakukan tadi malam pada Dewa. Meski empat video berbeda tersebut tidak berdurasi panjang, tetapi cukup menunjukkan siapa yang menjadi otak dari kejahatan yang ditargetkan pada Deva.


Dewa mengepalkan tangannya begitu kuat. Wajahnya merona merah menunjukkan kemarahan bercampur kekecewaan yang tidak biasa.


"Kita lanjutkan, atau bagaimana?" Desta mengusik diamnya Dewa.


"Cukup sampai di sini. Keluarkan aku dari sini besok. Aku tidak akan menuntut balik. Setelah ini, fokuslah pada kasus yang sudah aku jelaskan kemarin. Aku tidak mau ada kekalahan dengan alasan apa pun." Dewa mengatakannya, dengan tatapan kosong ke depan.


"Kenapa dilepas begitu saja, Wa? Kalau kamu mau, kamu bisa lho kejar dua orang ini." Desta mencoba mengubah keputusan Dewa.


"Agas---rugi kalau kita menjerat dia dengan kasus sekecil ini. Dan Dira, dia sepupuku, Des. Aku akan menggunakan caraku sendiri." Dewa memijat pelipisnya yang kembali terasa sedikit pusing.


Desta memanggut-manggutkan kepala tanda mengerti dengan ucapan Dewa. Sebagai penasihat hukum sekaligus teman, dia hanya akan mengupayakan yang terbaik. Urusan yang lain, tetap semua kembali pada Dewa.


"Eh, Wa. Kamu masih bisa bebas hari ini loh kalau kamu mau." Desta melirik jam di pergelangan tangannya.


"Besok saja. Biar ada yang sedih-sedih menggemaskan dulu." Dewa tiba-tiba tersenyum nakal. Terlintas ide gila dibenaknya untuk sedikit mengerjai Deva.


"Aneh, kerasan banget di sini. Jangan bilang kalau ini semua demi meraih perhatian perempuan. Kamu bikin penasaran deh, Wa. Katanya nggak bakalan jatuh cinta."


"Yang bilang aku sedang jatuh cinta juga siapa. Kamu aku bayar buat selesaikan kasus, Des. Bukan buat komentarin hidupku," sambar Dewa dengan cepat.

__ADS_1


"Iya ... Iya ... Suka-suka kamulah. Jadi ini aku meski ketemu siapa untuk bisa diskusi kasus selanjutnya? Biar lebih detail dan tidak salah sasaran atau pun strategi"


Dewa membiarkan Desta menantikan jawabannya. Dia tentu tidak ingin don juan licin itu bertemu Deva tanpa dirinya. "Nanti, tunggu aku. Ini orang agak galak, Des. Tidak terlalu suka berinteraksi dengan orang baru. Besok malam saja aku pertemukan kamu dengan dia."


"Siap." Desta dan Dewa pun kembali membahas tentang langkah pembebasannya besok.


Setelah sekian lama berbicara dan waktu kunjungan habis. Keduanya pun terpisah. Dewa kembali memasuki ruangan kecil yang mampu membuat pikirannya mendadak melankolis semalaman. Sedangkan Desta, langsung kembali ke kantor advokatnya.


****


Sementara itu, di sisi lain, Deva yang sedang menemui dokter yang menjadi penanggung jawab dalam general check up Dewa, harus menunggu beberapa saat lagi untuk menunggu hasil tes atasannya tersebut diserahkan padanya.


"Pak Dewa sedang ada urusan lain yang tidak bisa ditinggalkan. Apa semua baik-baik saja, Dok?" Deva menerima begitu saja tanpa berniat membuka isi di dalamnya.


Dokter bernama Delisha itu tersenyum lembut pada Deva. "Bukan kami sendiri meragukan hasil tes kami. Namun, sebaiknya melakukan tes MRI di tempat lain agar diagnosis semakin bulat. Dua atau tiga tempat lagi jika perlu. Karena apa yang dialami Pak Dewa, termasuk kasus yang sangat langka. Untuk lebih jelasnya, ajak kapan pun Pak Dewa ada waktu untuk menemui saya. Kalau bisa sesegera mungkin."


"Baik, Dokter. Akan saya usahakan." Deva menyanggupi tanpa bertanya lebih lanjut lagi.


Perasaan perempuan tersebut mendadak tidak enak. Setelah berpamitan pada dokter, langkah kaki Deva sedikit gontai menuju area parkir depan rumah sakit. Kata-kata doker terngiang jelas di telinganya. Sungguh dia menjadi terus kepikiran. Dewa yang tampak segar bugar dan enerjik, benarkah menyembunyikan sakit? Deva terus bertanya-tanya dalam hati. Pikirannya mendadak gaduh akan kekhawatiran yang tertuju untuk Dewa.


"Ya Allah, semoga Pak Dewa baik-baik saja," harap Deva, lirih pada dirinya sendiri sambil membuka pintu mobil.

__ADS_1


****


Di waktu yang sama, Dira mulai merasakan ketakutan yang luar biasa. Pasalnya, orang yang dia suruh untuk mengawasi Deva, memutuskan untuk mengundurkan diri tanpa memberikan informasi yang berarti padanya. Perempuan tersebut jelas tidak bisa membendung lagi emosi kekesalannya.


Beberapa barang yang ada di kamarnya sudah berserakan di lantai. Rudi yang baru saja pulang dari menunggui Nina di rumah sakit, tentu langsung dikagetkan oleh amukan dan teriakan Dira yang terdengar sampai di luar. Pria tersebut pun langsung membuka pintu kamar sang anak tanpa berpikir panjang.


"Dira!" bentak Rudi. Tidak seperti biasa, pria yang biasanya sangat sabar pada Dira itu mendadak juga tersulut emosinya.


"Kenapa Papa bentak Dira?" Istri terpaksa Dave itu menatap papanya dengan tajam.


"Berhenti bersikap kekanak-kanakan, Dira. Mulailah berpikir dewasa. Papa capek." Rudi mengatakannya dengan nada yang masih cukup tinggi.


"Kenapa? Papa capek pura-pura menjadi orang baik, bukan? Apa bedanya Papa dengan Dira? Jangan menyuruh Dira bersikap Dewasa. Papa sendiri apa kabar? Papa bahkan seperti anak kecil yang setelah melempar batu ke rumah tetangga hanya berani berlari dan bersembunyi," sinis Dira.


"Jaga ucapanmu, Dira. Jangan berani sama Papa. Apa yang kamu nikmati saat ini, semua adalah hasil kerja jerih payah Papa. Kamu tidak akan menjadi Dokter tanpa bantuan Papa. Apalagi jika hanya mengandalkan otakmu yang sedangkal mamamu."


Lelah fisik dan pikiran Rudi, mungkin memang sudah mencapai titik maksimal. Kondisi Nina yang tidak banyak kemajuan, kasus Amar yang semakin menunjukkan gejala akan dibuka kembali, dan juga beberapa masalah di perusahaan yang tidak kalah memeras pikiran. Semua berdesakan menjejali pikiran Rudi.


"Dira seperti ini karena Papa ... Papa yang membuat Dira tumbuh seperti ini. Dan saat ini, tujuan kita sama, Pa. Sekali ini, Dira akan membantu Papa untuk menyingkirkan Deva."


Kata-kata yang diucapkan Dira dengan tajam dan lantang barusan, sampai terdengar di telinga Dave yang juga baru datang. Pria tersebut seketika menghentikan langkahnya. Berhenti sejenak sekadar menahan amarah dan menanti hal selanjutnya yang akan dikatakan oleh Dira.

__ADS_1


__ADS_2