Sisa Rasa

Sisa Rasa
Rumah untuk Deva


__ADS_3

"Om hanya membantu Agas. Sebagai besan, bukan sesuatu yang aneh jika kami saling membantu. Agas sangat berhubungan dengan masalah ini," kilah Rudi.


Dewa tersenyum sinis. "Dan Dewa tidak ada kepentingan apa pun, Om. Sebaiknya Om tidak perlu menjelaskan semua pada Dewa. Tidak semua hal harus kita mengerti dan ketahui," tegas Dewa seraya menghampiri Deva yang masih berdiri terpaku di koridor tadi.


Merasa usahanya sia-sia, Rudi pun meninggalkan rumah sakit dengan kekecewaan. Kini pria tersebut harus berpikir lebih keras agar apa yang sudah berjalan baik selama bertahun-tahun tidak menjadi berantakan karena ulah Dermawan.


"Jadi cari tempat kos, tidak? Kalau jadi, lebih baik sekarang saja. Kita tidak tahu kapan papa Debora bisa ditemui. Selesaikan saja urusan yang menurutmu lebih penting."


Deva mendongakkan wajahnya sedikit agar bisa membalas tatapan Dewa. Beberapa hari ini, ada sesuatu yang janggal dalam komunikasi mereka. Keangkuhan Dewa, jarang sekali terdengar. Bagi Deva, sikap Dewa sedikit terlalu manis dan baik belakangan ini.


"Saya pamit sama Bu Widya dan Debora dulu, Pak."


Dewa menelan ludahnya dengan pelan, jakunnya tampak naik turun. Sudah seringkali diingatkan, tetapi hatinya tetap saja berkhianat. Ketika pikiran dan otaknya kompak menjaga rasa, hati sudah mendahului untuk mengagumi. Setiap kali berniat ingin menghindari kebersamaan, alam justru semakin mendekatkan mereka. Selalu saja ada alasan dan cara untuk membuat mereka dalam kondisi berdua.


"Hati, jangan terlalu jauh berkhianat. Kalau sampai kamu terluka. Aku tidak akan mampu mengobatinya. Deva bukan orang yang tepat buatmu berlabuh. Dia baik, tapi cintanya, mungkin sulit untuk kamu gapai." batin Dewa. Matanya tidak lepas memandang sosok yang sedang memenuhi pikirannya tersebut.


Meski berat, Debora dan Widya akhirnya membiarkan Deva untuk meninggalkan rumah sakit. Keduanya sadar betul tidak mungkin menahan Deva berlama-lama di sana dalam ketikdak pastian. Andai mereka boleh berbicara jujur, sekarang juga pasti akan dilakukan. Namun, janji pada Dermawan membungkam rapat mulut mereka untuk tidak menyampaikan kebenaran sesungguhnya. Hanya Dermawan yang akan menjelaskan semua secara langsung pada Deva.


"Semoga kondisi Pak Dermawan segera membaik," doa Deva sebelum benar-benar meninggalkan Widya dan Debora.


"Terimakasih, Dev. Kedatanganmu sangat berarti bagi kami, terutama bagi papa. Kami janji, setelah kondisi papa lebih baik, kami akan menjelaskan semuanya. Papa pasti akan sembuh. Masih banyak yang harus diselesaikan." Debora melepaskan genggaman tangan Deva. Wajahnya begitu sendu.

__ADS_1


"Amiin ...," sahut Deva. Kata-kata Agas mendadak terngiang di telinganya. Deva menggeleng pelan, mencoba menetralkan pikirannya agar tidak cepat menilai. Dia harus mendengar dari dua arah, mencerna, mencari pendapat dari orang yang netral, baru dia bisa memutuskan.


Deva dan Dewa akhirnya benar-benar meninggalkan rumah sakit. Dewa mengarahkan mobilnya ke sebuah perumahan yang letaknya masih searah dengan rumahnya. Hanya saja, letaknya lebih dalam dan harus melewati tiga perumahan besar lainnya. Deva yang sedari tadi melamun, tentu saja belum mempertanyakan kemana Dewa membawanya.


"Ini di mana?" Deva baru tersadar setelah mobil berhenti di deretan rumah-rumah berukuran kecil dengan gaya minimalis yang elegan.


"Kamu cari rumah, kan? Ini cocok buat kamu. Nggak besar, dari kantor cuman empat puluh lima menitan. Akses gampang. Tapi sebaiknya kamu ada kendaraan sendiri sih, biar mudah. Dan pastinya harga masih terjangkau," jelas Dewa panjang lebar.


Deva menatap Dewa dengan heran. "Bapak bagian dari marketing mereka, ya? Sepertinya lancar banget promonya."


"Astaga, Dev, gajiku di perusahaan saja bisa buat gaji 25 gaji marketing di sini. Aku tahu karena ini kan perumahan yang aku tanya-tanya pas kita meeting di hotel kapan lalu. Sudah kamu ambil perumahan ini aja, daripada kontrakan bakal kebuang sia-sia uangmu." Dewa memberi saran dengan nada setengah memaksa.


"Pak, andai ada uang, saya juga mau beli. Masalahnya, uang saya nggak ada. Jangankan buat beli, buat DP KPR pun, nggak akan cukup." Deva sampai meninggikan nada bicaranya karena terlampau kesal dengan Dewa.


Dewa reflek meraih pergelangan tangan Deva. "Banyak. Deva. Kamu punya otak yang cerdas, punya fisik yang sempurna. Kamu bisa berpikir dan bekerja. Banyak orang yang sayang dan peduli sama kamu, mamaku, Jason, dan termasuk juga si suami orang itu. Kamu tinggal bilang sama aku, berapa uang yang kamu punya, aku bantu urus semuanya. Kamu cicil perbulan dari gajian kamu. Beres, kan? Kamu punya aset dan uang kamu gak hilang begitu saja. Berpikir cerdas, Dev. Gak ada salahnya berhutang, asal ada manfaatnya."


Deva tidak langsung menjawab. Dia sungguh harus berhitung panjang. Harga rumah di depannya, meski kecil---termasuk tidak murah juga. Bahkan sudah menyentuh angka "M". Tabungannya, hanya 10% saja dari keseluruhan harga.


"Ini terlalu berat, Pak. Tidak, saya tidak sanggup." Deva menggelengkan kepala kuat-kuat.


"Kamu bisa, Dev. Sudah ini saja. Aku tahu persis berapa gajimu, sebentar lagi bonus tahunan juga keluar, kan? Lumayanlah bisa nutup-nutup dikit. Kamu cicil bulanan dengan separuh gaji kamu. Kurang lebih akan selesai 7 tahun, setara dengan hubunganmu dengan Dave. Deal!" Dewa langsung menjabat tangan Deva tanpa peduli asisten pribadinya itu bahkan masih belum memutuskan apa-apa.

__ADS_1


Dewa lalu mengajak Deva berjalan ke arah kantor Developer perumahan yang tidak jauh dari tempat mobilnya terparkir. Deva yang benar-benar bingung sekaligus masih berhitung, tidak bisa mengeluarkan protes apa pun.


Sesampainya di sana, mereka langsung disambut oleh marketing yang selama ini diam-diam selalu berbalas pesan dengan Dewa. Itulah kenapa pria tersebut sudah memiliki hitungan pasti dari harga perumahan tersebut jika dibeli cash atau pun kredit.


"Selamat datang, Pak Dewa. Jadi mau ambil unit yang mana? Kami masih memiliki beberapa pilihan pada blok dengan view istimewa. Atau mungkin Ibu saja yang memilih? Perumahan kami ini, memang cocok untuk pasangan pengantin baru. Tidak terlalu luas, sehingga meminimalisir rasa kangen pasangan yang biasanya cenderung ingin nempel terus. Kalau Ibu sedang masak, Bapak bisa lihat sambil duduk manis di ruang tengah. Bagaimana?" Marketing bernama Denis itu langsung menyambut dengan serentetan kata yang membuat Deva semakin pusing.


"Pilih, Dev." Tidak membantah ucapan si marketing, Dewa langsung menyodorkan selembar denah perumahan.


"Tapi, Pak ...." Deva ragu-ragu menerima brosur tersebut.


"Tidak menerima penolakan. Ini yang terbaik. Atau memang kamu ingin tinggal di rumahku terus?"


Mau tidak mau, Deva akhirnya memperhatikan denah yang ada di kertas tadi. Dia tidak benar-benar fokus ke sana. Tentu saja karena dia masih membayangkan bagaimana dia akan membayar dan juga proses panjangnya pengajuan kredit.


Deva menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Dengan memejamkan mata, dia berkata, "Bismillah." Jari telunjuk perempuan tersebut menunjuk sebuah rumah berukuran medium, yang memang menjadi incaran Dewa. Tentu harganya berbeda dengan harga yang mereka bicarakan tadi.


Dewa buru-buru menarik kertas tersebut dari tangan Deva. "Oke mbak, sesuai yang ditunjuk oleh Bu Deva tadi, ya. Besok silahkan datang ke kantor saya untuk mengurus semuanya."


Sementara Deva masih dibuat bingung dengan semua yang dilakukan Dewa. Di sisi lain, Dave dan Dira yang baru saja mendarat kembali ke Jakarta, kembali memperdebatkan sesuatu hal yang membuat Dave benar-benar jengah.


"Dave, pokoknya aku mau tinggal di rumah mama papaku. Rumah kami begitu besar. Aku ini anak tunggal, mereka tidak akan mengijinkan aku meninggalkan rumah," Dira berusaha merayu Dave.

__ADS_1


"Terserah kamu, Dir. Kalau kamu merasa aku suamimu, kamu mestinya ngikut sama aku. Karena kita sama-sama anak tunggal, lebih baik kita tinggal sendiri. Itu lebih adil. Aku punya apartemen sederhana. Aku hanya punya itu, kalau kamu mau, silahkan ikut. Kalau tidak, aku tidak akan memaksa," Dave melanjutkan langkah kakinya dengan santai.


__ADS_2