Sisa Rasa

Sisa Rasa
Jawaban Deva


__ADS_3

Deva dan Dave memutuskan untuk membawa Dewa yang tidak sadarkan diri ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, beberapa kali Deva menepuk-nepuk pipi Dewa agar pria tersebut tersadar.


Dave yang berada diposisi mengemudi, sesekali melirik ke belakang melalui spion tengah mobil. Meski beberapa kali mengatakan ikhlas dan mendukung Dewa agar bisa bersama Deva, ternyata melihat perempuan yang dicintainya sekhawatir itu, membuat rasa tidak nyaman dan cemburu dihatinya muncul tanpa bisa ditahan lagi.


"Bang, bisa cepetan sedikit tidak?" Deva mengeluarkan suaranya dengan raut wajah dan intonasi yang menyiratkan kecemasan.


Dave tidak menanggapi permintaan Deva. Bukan tidak peduli. Tetapi dia tahu apa pun jawaban yang diberikan, tidak akan memuaskan hati Deva sebelum mereka sampai di rumah sakit. Sementara jalanan sedang lumayan macet.


Di tengah roda kendaraan yang tiba-tiba berhenti karena lampu merah, Deva merasakan kepala Dewa yang berada di pangkuannya bergerak pelan. Mata pria tersebut juga sedang berusaha terbuka secara perlahan.


"Dev ...," panggil Dewa.


"Jangan banyak bicara dan gerak dulu. Apa Bapak lupa minum obat lagi? Kita tetap ke rumah sakit." Tangan Deva terulur reflek membelai rambut Dewa.


"Aku sudah minum obatnya. Nggak tau kenapa tiba-tiba blur banget. Dibuat gerak, malah rasanya bumi berputar cepat sekali," keluh Dewa tanpa berniat beranjak dari pangkuan Deva. Kedua kakinya yang menekuk sedikit diluruskan pelan-pelan.


Tidak lama dari itu, sampailah mereka di rumah sakit yang dituju. Karena Dewa sudah sadar, maka pria itu pun berjalan sendiri dengan dibantu Dave dan Deva yang memapahnya masing-masing di sisi kiri dan kanan.


"Aku masuk sendiri saja," pinta Dewa setelah tiba salah satu ruang periksa di UGD.


"Tap---," Dewa meletakkan satu jari telunjuknya ke bibir Deva. Membuat perempuan tersebut tidak bisa melanjutkan bicaranya.


"Baiklah. Semoga tidak ada yang serius lagi," harap Deva sambil melepaskan genggaman tangannya di salah satu lengan Dewa. Membiarkan suster yang membantu pria itu masuk ke dalam untuk diperiksa kondisinya.

__ADS_1


Dave yang sedari tadi sudah selangkah di belakang hanya mengamati interaksi antara Deva dan Dewa saat ini. Entah mengapa Dave merasa semakin tidak nyaman berada di antara kedua orang tersebut. Tiba-tiba terbesit rasa ingin memperjuangkan sesuatu yang sebenarnya memang pantas diperjuangkan. Namun, Dave buru-buru menepis perasaan itu dengan mencoba mengalihkan perhatian.


"Apa Dewa sering tiba-tiba begini?" tanya Dave.


"Sebenarnya akhir-akhir ini sudah membaik. Tidak sesering dulu. Mungkin Pak Dewa kecapekan karena terlalu sibuk membantu urusanku." Deva menjawab lirih. Jelas dia merasa bersalah. Bagaimana pun, Dewa memang selalu ada untuknya. Bukan sekedar memberi semangat dan dukungan yang biasa. Tapi perhatian dan semua biaya pengacara serta segala sesuatu yang dibutuhkan dalam penanganan kasus Amar, Dewalah yang menanggung semua.


Mendengar jawaban Deva, Dave menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Sangat mengenal dan memahami Deva, membuat Dave tahu betul rasa yang dimiliki sang mantan yang masih terkasih nya itu pada Dewa, bukanlah rasa yang biasa.


Deva menengadahkan kepalanya sembari menyandarkan punggungnya di samping pintu masuk di mana ruangan Dewa berada. kedua tangannya saling merapat seperti layaknya seseorang yang sedang mengambil sikap berdoa. Meski beberapa kali mendampingi Dewa melakukan terapi dan pengobatan, tetapi tidak sekali pun Deva mendengar penjelasan tentang penyakit apa yang sebenarnya diidap Dewa selain dari bibir pria itu sendiri. Setiap kali bertemu dengan dokter mengenai perkembangan kondisi Dewa, pria tersebut selalu meminta Deva menunggu di luar.


Beberapa saat menunggu dalam kebungkaman antara Deva dan Dave. Akhirnya Dewa keluar juga. Pria tersebut tampak lebih segar dibandingkan tadi.


"Khawatir banget, ya? Aku nggak kenapa-napa, kok." Dewa langsung menggoda Deva yang memang menyambutnya dengan ekspresi cemas yang kentara.


"Makasih, Dave. Maaf jadi merepotkan. Hanya kecapekan biasa." Dewa menepuk pundak Dave dengan sesantai mungkin.


"Tidak masalah, mau pulang? Biar aku antar." Dave menjawab dengan melemparkan sebuah pertanyaan sekaligus penawaran.


Dewa dan Deva kompak mengangguk. Kali ini, Dave berjalan terlebih dahulu. Sedangkan Deva dan Dewa mengikuti di belakang pria tersebut. Setelah Dewa membereskan pembayaran. Mereka pun kembali ke rumah lama Deva. Di mana mobil Dewa masih tertinggal di sana.


Kecanggungan semakin terasa saat perjalanan pulang. Dewa yang duduk di deret terdepan samping pengemudi, mulai menyadari perubahan sikap Dave. Sekuat apa pun pria itu berusaha agar terkesan baik-baik dan biasa saja, sebagai sesama pria dewasa, Dewa paham benar Dave sedang berada dalam suasana hati yang carut marut.


Sebenarnya, rasa itu tidak hanya milik Dave. Dewa dan Dave pun merasakan hal yang sama. Namun, kali ini Dave yang lebih dominan tidak sanggup menutupi apa yang dirasakan dan dipikirkan.

__ADS_1


Setelah sekian lama bertahan dalam diam dan hanya sayup alunan musik dari tape mobil Dave dan suara knalpot serta klakson kendaraan dari luar yang mengiringi, akhirnya sampai juga mereka di rumah lama Deva. Seketika kelegaan menghinggapi hati ketiganya.


"Sekali lagi, terimakasih, Dave." Dewa mengucapkannya sesaat sebelum dia turun dari mobil.


"Sama-sama." Dave menjawab singkat.


Ketiga orang di dalam mobil Dave pun kompak keluar dari sana secara bersamaan. Meski di benaknya tersimpan tanya akan sakit yang diderita Dewa, Dave tidak ingin bertanya. Dia memilih untuk menyimpan tanyanya dalam hati.


"Kami pamit ya, Dave," ucap Dewa.


"Terimakasih atas semuanya, Bang. Apapun tujuan dan alasan Bang Dave membeli rumah ini, aku ucapkan terimakasih. Aku lega, rumah ini berada di pemilik yang baik. Semoga suatu saat nanti, Bang Dave kembali mengisi rumah ini dengan kehangatan sebuah keluarga." Deva menggigit bibir bawahnya sendiri di ujung kalimat.


Dave menahan nyeri di dadanya. Ya, ucapan Deva barusan seakan menegaskan, memang di antara mereka sudah tidak ada dan tidak mungkin lagi terjalin sebuah hubungan.


"Bee, setelah vonis papaku dijatuhkan, aku mungkin tidak akan pernah kembali lagi ke kota ini. Hanya satu hal yang bisa mengembalikan aku menginjakkan kaki di sini. Aku akan kembali, ketika aku menerima surat undangan pernikahanmu."


Deva seketika membalik badannya, bergegas masuk ke dalam mobil. Dewa buru-buru menyusul perempuan yang dicintainya itu. Deva pun meminta pria tersebut untuk segera melajukan kendaraannya.


"Pak, boleh saya menjawab pertanyaan Bapak beberapa waktu yang lalu?" Deva bertanya secara tiba-tiba.


"Kapan?" Dewa bertanya dengan kebingungan.


"Sekarang."

__ADS_1


Seketika Dewa menginjak pedal remnya secara mendadak. Jantungnya berdetak lebih kencang dua kali lipat dari biasanya.


__ADS_2