Sisa Rasa

Sisa Rasa
Langkah awal Dave


__ADS_3

Tubuh Deva jatuh ke dalam kolam tanpa aba-aba. Saking tidak siapnya, tentu saja hal itu membuat Deva tergagap. Perempuan itu berusaha untuk mengendalikan situasi secepat mungkin. Deva menggerakkan kakinya agar bisa menyentuh dasar kolam. Tangannya pun terus bergerak seperti sedang ingin mencari pegangan. Deva memang tidak bisa berenang.


Menyadari kesulitan yang dialami Deva, Dewa yang tidak kalah terkejut segera ikut menceburkan diri ke dalam sana dan menggendong tubuh Deva hingga mencapai tepian. Setelah berhasil membawa Deva kembali ke atas, Dewa segera membantu Deva untuk mengeluarkan air kolam yang masuk ke dalam mulut perempuan tersebut.


Dira hanya tersenyum sinis melihat Deva yang terus terbatuk sambil sesekali memuntahkan air. Dewa memberikan sedikit tepukan kuat di bagian bawah leher belakang Deva. Sekadar ingin memudahkan agar asisten pribadinya itu bisa memuntahkan air yang tertelan tanpa sengaja saat hampir tenggelam tadi. Dewa tampak begitu panik.


"Kamu tidak kenapa-kenapa, kan, Dev? Apa kamu butuh napas buatan?" tanya Dewa dengan konyolnya begitu melihat napas Deva sedikit tersengal.


Deva menjawab dengan melambaikan satu tangannya. Perempuan itu lalu berusaha mengatur napasnya sendiri. Sesekali terdengar lagi suara batuk dari bibirnya. Setelah merasa kondisinya lebih baik, Deva pun berusaha berdiri dengan dibantu Dewa.


"Di mana Dave? Jangan berlagak polos di depanku, Dev. Cukup kamu memasang topeng untuk menarik perhatian dari tante dan sepupuku. Kamu tidak sebaik itu, di mana Dave?" Dira langsung menghampiri Deva dan Dewa yang basah kusup sekujur tubuh. Dia langsung bertanya tanpa merasa bersalah sedikit pun.


"Sungguh sikapmu sangat memalukan, Dir. Kamu datang dengan sangat tidak sopan." Dewa maju selangkah di depan Deva untuk melindungi asisten pribadinya itu dari serangan tidak terduga yang sangat mungkin dilakukan kembali oleh seorang Dira.


"Kenapa kakak malah membela dia? Deva tidak lebih hanya seorang perebut suami orang. Dia pasti terus menghubungi dan menggoda Dave. Deva hanya tamu di sini. Dira yang harusnya kakak bela." Lagi dan lagi, Dira mengucapkan hal tidak berdasar yang membuatnya justru semakin terlihat menyedihkan di mata Dewa.


"Deva bukan sekedar tamu di rumah ini. Dia sudah menjadi bagian dari keluarga kita. Kakak tidak sedang membela siapa pun. Tapi apa yang kamu lakukan sangat tidak pantas, Dir," tegas Dewa.

__ADS_1


"Wow ... hebat kamu, Dev. Rupanya kamu pun sudah membuat pikiran kakakku teracuni. Kenapa kamu licik sekali Deva? Dave, Kak Dewa, lalu siapa lagi orang terdekatku yang akan kamu ambil dariku?" Dira bertepuk tangan dengan tatapan sinis pada Deva.


"Masuklah ke dalam, ganti bajumu. Nanti kamu sakit." Dewa menoleh ke arah Deva. Perempuan itu tampak menganggukkan kepalanya. Baru dua langkah hendak meninggalkan tempat, kaki Dira dengan sengaja menghalangi jalan yang akan di lalui oleh Deva. Secepat kilat, Dewa menarik tangan Deva hingga membuat posisi keduanya seakan sedang saling berpelukan. Deva pun tidak jadi terjungkal mencium lantai.


"Cukup, Dira! Apa pun keperluanmu datang ke rumah ini, tolong bersikaplah dengan baik. Tuduhanmu sama sekali tidak berdasar. Dan apa yang sudah kamu lakukan pada Deva, benar-benar keterlaluan. Jangan tunjukkan kelemahanmu dengan cara seperti ini. Sungguh, kamu sangat menyedihkan." Dewa mengatakannya dengan nada suara yang cukup tinggi dan disertai tatapan tajam sarat akan kekecewaan.


"Ada apa ini ribut-ribut? Dev ... Nyil ... Kenapa kalian basah seperti ini? Kalian berenang menggunakan baju yang tidak seharusnya." Deswita tiba-tiba muncul bersama Jason, terlihat kebingungan saat melihat keadaan kedua orang yang disebut namanya tadi. Ditambah lagi, suasana menegangkan kental dia rasakan saat memperhatikan sorot mata Dewa dan juga Dira.


"Apa yang terjadi?" Deswita kembali bertanya sekali lagi.


Dewa pun langsung menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Mendengar penuturan putra tunggalnya, tentu saja membuat Deswita dapat memahami kekesalan yang tampak jelas diperlihatkan oleh Dewa dan juga Deva.


"Karena memang kenyataannya Deva dan Dave masih berhubungan. Kalian jangan tertipu dengan wajah polosnya. Deva pasti sudah menjual kesedihannya untuk mendapatkan rasa iba dan juga tumpangan di rumah ini. Tinggal dan makan gratis, lalu berharap menjadi menantu suatu saat nanti. Sungguh mimpi upik abu yang berharap nasibnya sebaik cinderella."


Deva yang tadinya masih berusaha bersabar dan mengendalikan diri, kini tidak lagi. Perempuan itu melangkahkan kaki mendekati posisi Dira. "Belum puas kamu menghinaku? Kalau belum, keluarkan saja hinaan itu di depan kaca dengan melihat wajahmu sendiri. Sedikit pun aku tidak merasa apa yang kamu ucapkan tadi memang benar tertuju padaku. Aku malah kasihan padamu, Dir. Merendahkan aku, tidak akan membuatmu terlihat lebih baik."


Dewa menarik napas dalam. Sekali lagi dia harus mengakui kedewasaan Deva dalam bersikap. Sangat wajar baginya jika Dira kesulitan menggeser posisi Deva di hati Dave. Selain cantik dan menarik, sikap dan perilaku Deva, jauh lebih baik ketimbang sepupunya itu.

__ADS_1


"Mades ... Pak Dewa, saya permisi ganti baju dulu,"pamit Deva. Langsung melangkahkan kaki meninggalkan tempat tersebut.


"Biar Jason yang menemani." Bocah kecil itu dengan semangat menyusul langkah Deva.


Dewa mencebikkan bibirnya. Setiap kali ada Jason, dia selalu saja kalah langkah. "Dewa juga mau ganti baju dulu, Ma. Takut masuk angin. Ntar jadi enak kalau dikerokin lagi sama Deva."


Ucapan Dewa barusan tentu saja membuat Deswita harus menahan senyumnya. Virus cinta rupanya sedang melanda sang putra satu-satunya.


"Bagaimana keadaan mamamu, Dir? Kenapa tidak ada satu pun dari kalian memberi kabar ke sini?" Deswita mengalihkan pembicaraan untuk sedikit meredam dan mengalihkan emosi Dira.


"Buat apa? Toh Tante juga tidak peduli pada kami. Sekarang saja, Tante lebih memilih membela Deva ketimbang keponakan Tante sendiri," ketus Dira dengan seenaknya.


Deswita mengullum senyuman dibibirnya. Lalu perempuan tersebut mengajak Dira untuk masuk ke dalam ruang keluarga dan duduk di sofa yang ada di sana.


"Tante tidak membela Deva. Tante bersikap seperti tadi, justru karena Tante sayang sama kamu. Kalau pun misalnya Deva melakukan apa yang kamu tuduhkan, bukan begitu cara menyikapinya. Intinya ada pada Dave. Ikat dan kuasai hatinya, maka siapa pun perempuan yang datang menggoda, tidak akan bisa mengancam kehidupan rumah tangga kalian. Semakin kamu menekan Deva, semakin hilang respect Dave kepadamu."


Dira memalingkan wajahnya ke sisi tembok. Kalau sudah diceramahi seperti ini, dia sungguh sangat malas. Hanya orangtua dan mertuanyalah yang paham isi hatinya. Yang lain, selalu saja memandang sebelah mata pernikahannya dengan Dave.

__ADS_1


Di waktu yang sama, Dave akhirnya kembali juga ke apartemen. Dia memutuskan untuk membiarkan mamanya tinggal sendiri hanya bersama asisten rumah tangga di rumah lama Deva. Dave sudah memikirkan dengan matang---langkah apa yang akan diambil selanjutnya.


__ADS_2