
Langkah kaki Jason terhenti begitu melihat Deva turun dari mobil. Bocah setinggi pinggang Dewa itu ingat betul dengan wajah perempuan tersebut. Ingin dia menyapa, tapi bisikan Dewa tadi pagi masih terngiang jelas di telinganya.
Deva tersenyum ramah pada Jason. Namun, diabaikan begitu saja oleh si bocah. Hal itu tentu saja dianggap sangat wajar oleh Deva. Dia sama sekali tidak mengambil hati. Dewa menarik ujung bibirnya keatas, menampakkan sebuah garis yang menggambarkan sikap meremehkan.
"Siapa itu, Pa?" tanya Jason.
"Oh, itu teman Oma. Beri salam sama Oma Deva."
Di luar dugaan Dewa, Deva malah tersenyum ke arahnya dan juga Jason. Tidak ada kekesalan yang nampak di sana. Apalagi saat bocah berparas tampan itu mengulurkan tangannya. Tentu saja Deva langsung memberikan sapaan.
"Hai ... Jason. Kenalkan, Oma Deva. Pantes nggak dipanggil Oma? Kalau menurut Jason nggak pantes, Jason boleh panggil dengan nama lain. Kita bebas saja." Deva dengan ramah menerima uluran tangan Jason. Bocah tersebut mencium punggung tangan Deva cukup lama. Sampai Dewa terpaksa harus menepuk lengan si bocah agar segera melepaskan tangan tersebut.
"Selamat datang, Oma Deva. Semoga betah ngobrol lama-lama sama Oma Deswita. Kita masuk, yuk." Jason menarik tangan Deva. Meninggalkan Dewa yang kini mulai meragukan kesetiaan Jason padanya. Awal yang berjalan lancar, sepertinya bisa berubah cepat jika dia tidak segera mengunci rapat mulut si bocah cengeng.
Memasuki area dalam rumah, ekor mata Dewa terus mengawasi Deva. Perempuan itu terlihat begitu tenang. Bahkan beberapa kali Dewa mendengar suara renyah Deva saat menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana dari Jason.
"Son, ayo kita panggil oma dulu," Dewa menggandeng tangan Jason dengan sedikit memaksa. Bocah itu sepertinya masih sangat betah berada di dekat Deva.
"Oma Dev. Tunggu di sini, ya. Nanti Jason temani lagi." Mendapatkan tatapan yang tajam dari Dewa, nyali Jason pun ciut. Dia memilih untuk mengikuti ucapan sekaligus langkah kaki Dewa.
Deva lalu duduk di sofa ruang tamu kedua yang letaknya berdekatan dengan ruang keluarga. Sejauh mata memandang, tidak ada satu pun pajangan yang menempel di dinding. Baik itu foto keluarga, atau sekedar lukisan.
Sementara itu, di sela-sela langkah mereka menuju kamar Deswita, Dewa kembali memberikan arahan-arahan pada Jason. Bocah itu terus memanggut-manggutkan kepalanya.
"Ingat, Nyong! Selama ini aku sudah baik. Di depan orang, aku selalu memanggilmu Jason, membelikanmu mainan, dan membantumu mengerjakan PR. Sekarang balaslah lebih banyak dari kebaikan-kebaikanku," tutur Dewa.
__ADS_1
"Nyil, dia nggak pantas dipanggil oma. Tangannya halus, wangi, dan cantik. Kenapa aku harus memanggilnya Oma. Padahal lebih cocok dipanggil "Yang". Dia aja deh yang jadi baby sister aku, Nyil," cerocos Jason.
Dewa mencebikkan bibirnya. "Diam kau, Nyong. Jangan berisik mulu. Sudah sana, tugas kau selesai. Jangan menampakkan diri lagi. Cukup kau bersenang-senang dengan memanggilku papa hari ini. Jangan sampai Oma Deswita tahu. Bisa digorok ini leher." Dewa sedikit mengubah logat bicaranya.
Jason tidak berani membantah lagi. Keinginannya masih banyak. Jangan sampai dia kehilangan kesempatan untuk mendapatkan sesuatu hanya karena kesalahan yang tidak perlu.
Jason menghentikan langkahnya tepat di depan puntu kamarnya. Sedangkan Dewa terus berjalan menuju kamar Deswita yang sudah nampak di depan mata.
Sebelum mengetuk pintu kamar sang mama, Dewa menoleh ke arah Jason. Memastikan bocah itu benar-benar masuk ke dalam kamar.
Tidak sampai Dewa mengetuk pintu di depannya, benda persegi panjang berwarna putih itu sudah terbuka dengan lebar. Deswita yang sudah mengenakan gamis rumahan menyambut dengan wajah yang sudah tidak beralis.
"Ma, orang yang Dewa obrolin tadi pagi sudah datang."
"Oh...ya? Baiklah, ayo kita turun! Mama penasaran se-enggak menarik apa sih, dia." Deswita langsung keluar dan menutup pintunya kembali.
"Ma ...." Dewa mensejajarkan posisinya dengan Deswita.
"Hemmmm ...." Deswita sengaja menjawab dengan malas.
"Ma, please, Dewa mohon, jangan panggil Nyil di depan asisten pribadi Dewa, ya? Dewa kan CEO, Ma. Bisa jatuh harga diri kalau ada bawahan Dewa yang tahu nama panggilan Dewa di rumah. Please," ucap Dewa, penuh harap.
"Lihat nanti! Kalau sesuai dengan ucapanmu, Mama nurut. Tapi kalau sampai beda, terserah Mama, ya, Nyil." Deswita mempercepat langkahnya saat menuruni anak tangga.
Dewa menelan ludahnya dengan kasar. Kini dia hanya menaruh harapan pada kemurahan hati sang mama. Sungguh dia akan menaruh mukanya di laci kalau sampai panggilan "Nyil" terdengar di telinganya.
__ADS_1
Melihat Dewa muncul kembali dengan sosok perempuan diatas separuh abad dengan kecantikan yang masih nyata, Deva bangkit dari duduknya. Melemparkan senyuman manis dan ramah dengan sangat tulus.
Deswita tidak langsung membalas senyuman itu. Dia memilih memasang wajah datar tanpa ekspresi.
"Ma, ini Deva." Dewa mengatakannya dengan bahasa tubuh yang menyiratkan sedikit kegugupan.
"Selamat malam, Bu. Perkenalkan saya Deva." Perempuan itu menyebut namanya sambil mengulurkan tangan.
Deswita menyambut uluran tangan itu, wajahnya masih dengan ekspresi datar yang sulit untuk ditebak.
"Kamu mandi dulu sana, Mama siapkan makan malam sebentar," perintah Deswita pada Dewa.
Dengan berat hati, Dewa menuruti saja kemauan Deswita. Di setiap langkah kakinya, doa terus diucapkan dalam hati. Harapannya masih sama. Agar nama Nyil tidak sampai mencuat ke permukaan. Cukup Diana dan Dira yang mengetahui, jangan ada yang lain. Terutama Deva. Bisa-bisa, semakin buruk saja citranya di mata asisten pribadinya yang sedikit aneh itu.
"Bisa masak, kan, Dev? Yuk temani saya masak. Panggil saja saya, Mades. Ingat ya, Dev, Mades, bukan Bedes." Deswita menggandeng tangan Deva.
Sikapnya berubah dratis begitu Dewa tidak berada di antara mereka. Keduanya berjalan menuju dapur. Di sana sudah ada dua asisten rumah tangga senior yang dengan cekatan sedang mengolah beberapa bahan untuk dijadikan menu makan malam.
"Dewa sangat menyukai sayuran. Dia bisa makan tanpa lauk, asal ada sayuran di piringnya," jelas Deswita, tanpa ditanya.
Deva hanya memberikan tanggapan dengan memberikan senyuman.
"Oh, ya... kamu kan baru kenal Dewa, jangan kesal atau benci kalau sikapnya menjengkelkan. Mades memang tidak mendidik dia menjadi anak yang menyenangkan hati setiap orang. Mades tidak peduli banyak orang yang mengatakan didikan ini tidak benar. Tahu apa mereka tentang apa yang sudah kami lalui. Dewa suka ke club, berteman dengan banyak perempuan. Ngerangkul, cium pipi sana sini. Playboy, Don Juan, atau casanova. Semua hanya untuk menutupi trauma dan kelemahannya," cerocos Deswita.
Baru bertemu dalam hitungan menit, perempuan tersebut sudah begitu gamblang mengeluh. Di depan seluruh penghuni rumah, Deswita selalu berperan menjadi perempuan yang tegar dan ceria. Namun, sesungguhnya begitu banyak luka yang dirasakan dan disimpan rapat oleh perempuan tersebut.
__ADS_1
"Apa kamu mengira Mades ini orang yang aneh?" Deswita memberikan pertanyaan yang sama sekali tidak dia duga.