Sisa Rasa

Sisa Rasa
Bertemu dengan Dermawan


__ADS_3

Setelah pintu berhasil di buka, Agas segera masuk ke dalam sana dengan tidak sabar. "Fira! Keluar kamu! Jangan Sembunyi. Aku tahu kamu di sini."


Teriakan Agas memenuhi seluruh penjuru ruangan. Pria tersebut melangkah ke sana ke mari mencari sosok yang diduganya ada di dalam kamar. Aroma parfum Fira memang masih begitu menyengat di indera penciuman. Kondisi seprei yang tidak lagi rapi, semakin menegaskan ada seseorang yang menghuni kamar tersebut.


Agas membuka pintu kamar mandi dengan kasar, tidak ada siapa pun di sana. Hal itu tentu saja membuat Agas semakin geram. Pria tersebut mengeluarkan kata-kata kotor yang sebenarnya sama sekali tidak pantas diucapkan oleh seseorang yang sudah sangat dewasa dan juga berlatar pendidikan yang sangat bagus seperti dia.


"Perempuan lakknat! Istri durhaka ... keluar kamu! Aku tahu kamu ada di sini!" Agas menyibak tirai kamar dengan gerakan brutal. "Breengsek! Berani-beraninya kamu mempermainkan aku, Fir!"


Umpatan demi umpatan terus saja lolos dengan mudahnya dari bibir Agas. Di tambah lagi ketika langkah kakinya tersandung alas kaki berwarna coklat tua dengan hak setinggi dua senti itu, tergeletak tidak rapi antara bagian yang satu dengan yang lain. Jelas alas kaki tersebut adalah milik Fira.


"Siial! Benar-benar perempuan Suundal. Kalau tidak menikah denganku, pasti kamu akan menjadi pellacur seumur hidupmu." Amukan Agas semakin menjadi-jadi. Tangannya dengan gerakan cepat membuka pintu almari kayu berwarna hitam yang ada di sudut ruangan kamar hotel. Ada koper Fira di dalam sana. Pria tersebut menarik keluar koper tersebut, membuka, lalu mengeluarkan seluruh isinya dengan sembarangan.


"Dasar pencuri. Kamu pikir bisa kabur membawa semua ini dengan mudah, hah? Kita lihat saja, tanpa ini semua, bisa berapa lama kamu bertahan hidup. Kamu tidak akan mungkin sanggup menjadi gelandangan, Fir." Agas tersenyum licik begitu menemukan sejumlah uang dan kotak perhiasan di dalam sana.


Sementara itu, di dalam sebuah taksi, Fira tampak gemetaran dan sedikit berantakan. Perempuan tersebut masih mengenakan setelan baju tidur lengan dan kaki panjang, tanpa mengenakan alas kaki. Rambutnya tergulung ke atas dijapit menggunakan jedai hitam dengan asal. Untung saja, dia sempat menyambar tas slempang berisi dompet dan ponselnya sebelum lari dari kamarnya tadi.


Tuhan masih menjaga Fira dengan luar biasa. Kabar kedatangan Agas bisa diketahuinya melalui pembicaraan tidak sengaja yang dia dengar dari dua petugas kebersihan. Kedua orang itu berbincang tepat di depan pintu ruangan Fira mengenai sesosok laki-laki yang memaksa manager hotel memberikan kunci kamar istrinya yang di duga selingkuh. Entah firasat, atau memang semua sudah jalan Tuhan. Dari sana, Fira langsung panik dan bergegas meninggalkan kamarnya lewat pintu lain yang ditunjukkan oleh petugas kebersihan tadi.


Dan sekarang, di dalam taksi inilah Fira berada. Untuk sementara, Fira masih aman. "Aku harus bagaimana ya Allah? Ternyata bukan manusia yang hidup denganku selama ini. Harta, tahta, dan wanita sudah merubah Mas Agas menjadi ibliss berwujud manusia," gumamnya sambil merogoh ponsel yang ada di dalam tas selempangnya. Perempuan itu ingin menghubungi seseorang yang sebenarnya tidak ingin dia libatkan sama sekali.


***


Di sisi lain, Deva yang baru saja mandi dan berganti pakaian, memeriksa ponselnya terlebih dahulu. Beberapa panggilan dan pesan masuk menumpuk pada notifikasi. Dia pun membuka salah satu pesan teratas yang dikirim oleh nomor kontak yang menghubungi Deva paling intens hari ini. Siapa lagi kalau bukan Debora.

__ADS_1


Deva sejenak berpikir, Debora menyuruhnya untuk datang sendiri seperti biasa. Namun, keberadaan Dewa yang sedang menunggunya di luar, jelas akan menyulitkan Deva untuk pergi sendiri kali ini. Perempuan itu pun menarik napas dalam. Lalu melangkah pasti keluar kamar.


"Lama banget, sih. Kirain keluar sudah jadi princes, ternyata tetep biasa saja," sungut Dewa tidak dari dalam lubuk hatinya yang terdalam.


"Saya akan selalu menjadi princes untuk papa saya. Tidak mengapa terlihat biasa saja di depan Bapak. Sungguh saya tidak merasa terhina sedikit pun," timpal Deva.


Dewa mendengus kesal. Lalu pria tersebut sedikit mengeraskan suaranya untuk memanggil Jason yang tengah mengambil jaket di kamarnya.


"Kak Deva cantik sekali. Warna baju kita sama," ucap Jason sambil menggandeng tangan Deva.


Dewa mencebikkan bibirnya dengan kesal. Beberapa kali, Jason selalu berada selangkah lebih depan dibanding dirinya dalam mengambil hati Deva. Bibit-bibit perayu ulung yang ada pada Jason, sungguh mengganggu Dewa akhir-akhir ini. Dalam hati, Dewa merutuki dirinya kenapa tidak memilih atasan warna biru agar senada dengan Deva dan juga Jason.


Ketiganya berjalan menuruni anak tangga dengan kompak. Jason memperlakukan Deva bak puteri raja. Bocah itu sungguh tahu persis bagaimana memperlakukan perempuan dengan manis. Di setiap tangga demi tangga yang akan dilalui, Jason selalu mengatakan "hati-hati".


"Kalau sebagai teman, tidak mengapa, Kak. Nyil bilang begitu. Nyil baik sama Tante Diana dan Tante Dara. Mereka sering ber---,"


Belum sampai Jason menyelesaikan ucapannya, Dewa sudah membungkam mulut anak itu dengan tangannya.


"Pak ...." Deva mengucapkan dengan nada melerai yang manja sambil menyingkirkan tangan Dewa dari mulut Jason.


"Jangan begitu, Dev. Ngomongnya biasa saja, atau aku bakal beneran manggil kamu ibu." Dewa berujar lancang dalam hati.


"Nyong tunggu di mobil sebentar, ya. Kak Deva mau bicara sebentar sama Kak Dewa," ucap Deva sembari melirik Dewa dengan sekilas. Dia menghentikan langkah di antara ruang tamu menuju ruang makan.

__ADS_1


Dewa mengernyitkan keningnya. Merasa heran, kenapa tiba-tiba Deva ingin berbicara dengannya. Timbul kekhawatiran yang terlintas di pikirannya. "Dev, kamu nggak tau apa yang sedang aku pikirkan, kan?" tanya Dewa dengan sedikit ragu-ragu setelah memastikan Jason sudah menghilang dari pandangannya.


Deva membalas tatapan heran Dewa dengan tatapan yang sama. "Jelas saya bukan cenayang, Pak."


"Alhamdulillah." Dewa menarik napas lega.


"Pak, boleh tidak saya mampir ke rumah sakit sebentar? Pak Dermawan kondisinya sudah membaik. Bisa, kan, kita ke sana dulu? Bapak cukup turunkan saya di lobby, tidak perlu ikut ke dalam karena Kak Debora tidak ingin ada orang lain yang tau di mana papanya berada. Saya tidak ingin sembunyi-sembunyi dari Bapak. Saya yakin, Bapak tidak akan memberitahu siapa pun, bukan?"


Dewa mengangguk diikuti tarikan napas yang berat. Mencoba memutar otak agar bisa tetap berada di samping Deva. Apa pun yang akan dikatakan Papa Debora nanti, jelas bukan hal yang mudah bagi Deva.


Di saat otak Dewa sedang berpikir keras, muncullah Deswita yang baru saja pulang dari acara amal mingguan bersama beberapa teman pengajiannya. Seketika muncullah ide cemerlang di kepala Dewa. Pria itu mendekati sang mama dan membisikkan sederetan kalimat rayuan kepada Deswita.


"Ya sudah, ayo." Deswita mengiyakan permintaan Dewa meski dengan setengah hati. Pergi ke pusat perbelanjaan, sama sekali bukan kesenangan Deswita.


Akhirnya bersama driver, Deva, Dewa, Deswita dan Jason pun berangkat dengan tujuan masing-masing. Setelah mengantar Deswita dan Jason ke pusat perbelanjaan, Deva dan Dewa melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit di mana Dermawan berada.


Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun tiba di sana. Dengan langkah kaki yang lebar, keduanya berjalan beriringan menuju kamar rawat Dermawan.


Debora tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika melihat Deva ternyata datang bersama Dewa. Namun, dia sama sekali tidak berniat untuk memperdebatkan masalah tersebut.


"Silahkan masuk, Dev, Wa," ucap Debora.


Dermawan melemparkan senyumnya begitu Deva memasuki ruangannya. Pria itu tampak sangat bersemangat untuk mengungkapkan semua yang selama ini tersimpan rapat dan menjadi beban dalam pikirannya.

__ADS_1


"Dev, Bapak mau minta maaf. Mungkin memang maaf saja tidak cukup. Setelah apa yang Bapak ceritakan nanti, Bapak pasrah dengan langkah apa pun yang ingin kamu lakukan." Dermawan langsung memulai pembicaraannya tanpa ingin membuang-buang waktu lagi.


__ADS_2