Sisa Rasa

Sisa Rasa
Memilih berteman dengan Dira


__ADS_3

"Dira, stop! Kendalikan dirimu." Dewa mencekal pergelangan tangan Dira. Menggenggamnya erat agar tangan itu tidak lagi menyentuh dan menyakiti Deva.


Ingatan Dewa kembali pada peristiwa sepuluh tahun yang lalu. Saat dia masih berada di luar negeri untuk menyelesaikan program pasca sarjana sembari bekerja di sebuah perusahaan asing. Dira diketahui mengalami depresi berat. Akan tetapi, hingga saat ini, Dewa tidak tahu apa yang menyebabkan hal tersebut bisa terjadi. Saat dia kembali ke Indonesia, Dira sudah membaik, bahkan dengan perubahan yang membuatnya tercengang.


"Kak Dewa kenapa membela dia? Kenapa tidak ada yang peduli perasaanku sekarang? Kalian menyebalkan." Dira berlari meninggalkan Deva dan Dewa.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Dewa bergegas mengejar Dira. Bagaimana pun, dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan sepupunya tersebut. Dalam kondisi labil dan emosi, jelas tidak tepat jika Dewa membiarkan Dira sendirian.


Deva menarik napas dalam. Dia tidak tahu harus melangkahkan kaki ke mana. Ponsel di tasnya bergetar. Nama calon imam yang gagal tertera di sana. Deva menerima panggilan tersebut. Setelah melakukan pembicaraan singkat, akhirnya Deva memutuskan untuk tetap datang memenuhi permintaan Fira. Ya ... mantan calon mertuanya itu menghubunginya melalui ponsel Dave.


Deva langsung masuk ke dalam lift, lalu dia menekan tombul kotak bertuliskan angka enam. Hanya sekejap, lift yang hanya ditumpanginya sendiri itu telah sampai di lantai yang dia tuju. Dia pun segera keluar dari sana.


Deva berjalan terus mencari nomor ruangan di mana Dave di rawat. Setelah menemukan ruangan yang dimaksud, Deva tidak langsung masuk ke dalam sana. Sesaat dia berdiam diri di depan pintu untuk menata hati.


"Bismillah ...." Deva menekan gagang pintu ke bawah.


Tiga langkah memasuki ruangan, Deva disambut dengan pemandangan yang sungguh menyayat hati. Hampir delapan tahun mengenal Dave, dengan tujuh tahunnya menjalin hubungan spesial, tidak pernah Dave terlihat selemah ini. Terkulai tak berdaya di atas brankar, dengan tatapan kosong pada langit-langit ruangan. Sedangkan Fira, perempuan itu menangis tanpa suara di pelukan Agas. Kedua orangtua tersebut berdiri di sudut ruangan agak jauh dari brankar Dave.


Mengetahui kedatangan Deva, Fira menganggukkan kepalanya dengan lemah sembari menunjuk ke arah Dave. Sedari mereka datang ke rumah sakit, Dave tidak mau berbicara dengan siapa pun. Bahkan saat Dira datang, Dave mengancam akan mencabut infusnya kalau sampai ada yang mengijinkan perempuan tersebut masuk. Itulah mengapa Dira menjadi sangat emosional.


Deva menarik bangku bundar tidak jauh dari brankar Dave. Lalu dia mendudukkan bokongnya di sana. Dave masih tidak menyadari kehadiran perempuan terkasihnya.

__ADS_1


"Bang ...." Deva memanggil Dave dengan lirih.


Dave tetap bergeming. Pandangan pria itu benar-benar kosong. Deva menelan ludahnya dengan susah payah. Selama ini, dia berpikir dia sendirilah yang paling terluka. Ternyata tidak, Dave pun merasakan hal yang sama dengannya.


Deva mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi dari pria yang begitu berjasa dalam hidupnya itu. Matanya terlihat berembun. Sepertinya, bulir bening juga sudah menggenang di sana.


"Bang Dave, ini aku." Suara Deva terdengar bergetar.


Dave tidak langsung menoleh. Saat pria itu berkedip, air matanya menetes tanpa permisi. Deva menggigit bibir bawahnya sendiri. Takdir telah mengijinkan luka bersemayam nyata di hati mereka.


"Siapa yang kemarin bilang ingin dijadikan sandaran? Bagaimana bisa menjadi sandaran kalau Abang seperti ini?" Nada suara Deva sedikit meninggi.


Dave menoleh kearah Deva. Seketika senyuman menyungging dari bibirnya. "Kamu datang?"


"Untuk apa? Jika aku sakit, tentu aku akan mendapatkan perhatian dari kamu, bukan? Kalau aku sehat, aku harus menjadi boneka untuk menuruti kemauan Dira. Andai aku bisa menolak," lirih Dave. Seperti masih menahan diri untuk mengatakan hal lain.


"Aku tidak pantas disebut laki-laki, Bee. Aku gagal memenuhi janjiku. Dan kini aku mulai berani menyakiti hati perempuan. Bukan mauku menyakiti Dira. Tapi aku tidak bisa, Bee. Aku tidak bisa berpura-pura baik. Yang aku tahu, dia harus menerimaku apa adanya," tambahnya.


Dave memalingkan wajahnya ke sisi lain. Air mata kembali jatuh dari sudut matanya. Marah dan kecewa yang hadir di tengah ketidakberdayaan, sungguh membuat jiwa raganya sakit.


Deva tidak tahu harus menjawab apa. Dia tidak mungkin menghibur Dave dengan kata-kata manis. Batasan itu tetap harus ada. Menawarkan diri sebagai teman? Pantaskah? Apakah akan ada pertemanan yang tulus di antara mereka? Sementara cinta dengan nama yang lain masih utuh tersimpan di dalam hati.

__ADS_1


"Aku bisa apa, Bee? Katakan aku harus bagaimana? Apakah aku harus menjadi anak durhaka? Aku tidak mungkin sanggup, Bee. Aku harus tahu diri. Baktiku harus lebih dari sekedar anak kandung." Dave masih memalingkan wajahnya. Dia tidak ada nyali untuk menatap mata Deva.


Fira meremass lengan kaos yang dikenakan Agas. Mendengar penuturan Dave barusan, sungguh semakin meremukkan hatinya. "Ini semua gara-gara kamu, Pa. Kamu yang salah."


"Yang Abang lakukan sudah benar. Jika aku di posisi Abang, aku pasti akan lakukan hal yang sama. Mungkin kita hanya belum terbiasa. Kita pasti bisa melaluinya dengan baik, Bang, pelan-pelan. Jangan paksa hati kita untuk melupakan dan menyangkal perasaan yang masih ada. Biarkan cinta menghilang perlahan. Jangan siksa diri Abang dengan angan yang sudah tidak mungkin lagi akan tersampaikan," cetus Deva.


"Aku tahu, Bee. Angan ini harusnya sudah aku tepis. Tapi aku belum sanggup. Semakin keras mencoba, malah membuat hatiku semakin sakit." Dave membalas tatapan sendu Deva.


"Yang penting Abang sembuh dulu. Aku janji, setelah ini, aku tidak akan menghindari Abang. Jika melawan perasaan malah menyakiti kita. Mungkin kita perlu mencoba cara lain. Biarlah aku berteman dengan Dira." Deva tiba-tiba memberikan keputusan yang tidak terduga.


"Bee, tidak harus seperti itu juga. Kamu tidak perlu melakukannya. Aku tidak mau kamu terluka. Cukup jangan jauhi aku." Dave jelas sangat keberatan dengan keputusan Deva.


"Tidak, Bang, aku tahu kamu tersiksa karena sikap Dira. Dan aku bahagia kalau kamu bahagia. Aku akan membuat Dira tidak bisa menjadikanmu boneka. Aku janji bisa menjaga perasaanku sendiri."


Dave enggan menanggapi kata-kata Deva. Membayangkan saja dia sudah tidak sanggup. Tidak! Dia tidak akan membiarkan Deva berkorban untuk dirinya sejauh itu.


Di sisi lain, Dewa yang berhasil mengejar Dira, menahan lengan sepupunya itu dengan mengeluarkan sedikit tenaga.


"Berhenti merendahkan dirimu, Dir. Buat apa kamu berharap pada laki-laki yang jelas tidak menganggap kamu? Dave mungkin baik. Tapi kebaikannya, jelas bukan untuk kamu," tegas Dewa. Dengan suara tertahan karena mereka masih berada di area parkir rumah sakit.


"Sudah aku bilang, Kakak jangan ikut campur. Kami hanya butuh waktu." Dira masih saja bertahan dengan keyakinannya.

__ADS_1


"Dan waktu tidak akan pernah berpihak padamu, Dir. Dengan sikapmu seperti ini, jangankan Dave, aku saja muak melihatmya."


Ucapan Dewa membuat emosi Dira kembali meletup. "Silahkan kakak muak. Sebentar lagi, kalian semua akan mengerti kenapa aku bersikap seperti ini. Dave adalah laki---,"


__ADS_2