
Berangkat menuju balroom tempat diadakannya gala dinner, Dewa mencoba bersikap setenang mungkin. Padahal, dalam hati, pria tersebut sedang benar-benar tidak bisa tenang. Perkataan Debora terus terngiang. Yang ada di bayangan Dewa saat ini adalah sosok Deva yang tengah sendiri meratapi kesepian dan kesedihan.
Dewa sudah mencoba menghubungi Dira. Baik melalui sambungan telepon maupun mengirim pesan singkat. Namun belum ada satu pun balasan yang diterima Dewa. Beberapa kepala cabang datang menyapa dan menghampirinya untuk sekedar mengakrabkan diri. Meski dia tetap menyambut dengan ramah, siapa yang tahu hati Dewa sedang dilanda kegalauan.
Dari hampir seluruh kepala cabang yang hadir ,Ngakan termasuk yang paling agresif mendekati Dewa. Pria tersebut berusaha terus mengimbangi pembicaraan Dewa.
"Pak Dewa, acara malam ini, hanya sampai pukul sepuluh saja. Bagaimana kalau kita sedikit bersenang-senang di club? Ada satu club yang baru saja di buka. Denger-denger sih one stop entertainment, pak. Lokal atau eksport, semua ada," tawar Ngakan dengan santainya.
Ngakan berani mengutarakan hal tersebut karena menurut desas desus yang beredar, Dewa sangat menyukai clubbing dan perempuan. Entah siapa yang menyebarkan isu tersebut. Dewa memang sering mengunjungi club malam, namun tidak lebih sering dari kunjungannya ke kafe live music. Yang bisa dikatakan hampir tiap malam. Masalah suka dengan perempuan? Ya... Dewa memang senang menggoda. Namun dia tidak mau terikat, karena itulah dia hanya memberikan kontak fisik sebatas rangkulan dan juga ciuman pipi. Lebih dari itu, dia takut terikat dan kecanduan.
"Bagaimana. Pak? Mau join bersama kami?" tawar Ngakan. Menegaskan sekali lagi apakah sang CEO mau menerima penawarannya atau tidak.
Dewa berpikir sejenak. Menimbang-nimbang penawaran yang lumayan menggiurkan. Namun bisikan dari sisi baik dalam pikirannya, mengingatkan untuk melakukan sesuatu yang lebih pantas dari pada sekedar huru hara. Lagi pula, dia dan Ngakan, juga kepala cabang yang lain, baru saja saling mengenal. Dewa harus tetap menjaga wibawa di depan semua bawahannya.
"Maaf, saya tidak bisa bergabung bersama kalian. Setelah acara selesai, saya ingin mengejar flight terakhir untuk kembali ke Jakarta." jawaban ajaib keluar dari mulut Dewa begitu saja. Bahkan dia sendiri tidak menyangka, ide brilian itu terlintas tanpa aba-aba.
Ya, kembali ke Jakarta secepat mungkin, adalah pilihan tepat. Tidak ada orang lain yang menjaga Deva selain Dave. Itu artinya, sama saja dengan menumpuk luka. Pahit memang, tapi memang sudah seharusnya---Deva dan Dave tidak boleh lagi saling ketergantungan.
***
__ADS_1
Setelah menyelesaikan sholat maghrib berjamaah, semua penghuni di rumah Dave, membacakan Yasin dan Tahlil bersama-sama. Mereka dengan kompak dan tulus, memfokuskan doa kali ini teruntuk Amar. Deva sendiri memilih berada di tengah-tengah mereka. Memaksakan diri untuk lebih bisa menata hati. Berinteraksi dengan orang lain, membuatnya sedikit terhindar dari lamunan.
Dira menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Deva, lalu dia berbisik tepat di daun telinga perempuan yang menjadi rival terberatnya itu. "Dev, aku ikut berduka cita, ya. Aku berharap, perlahan kamu bisa bangkit. Kembali mengandalkan dirimu sendiri untuk menjalani hidup. Bukannya aku jahat, tapi keluarga ini, bukan milikmu lagi."
Deva menoleh dengan cepat pada sosok Dira. Seperti sengaja disadarkan dengan posisinya sekarang. Ingin sekali dia menimpali ucapan Dira. Tetapi sayang, bibirnya masih enggan untuk berbicara.
"Bukannya aku jahat, Dev. Berada di sini, hanya akan memberikan luka yang lebih dalam padamu. Kenyataannya, kamu sudah menjadi mantan. Dave dan keluarga ini, sudah tidak ada lagi ikatan denganmu. Kata-kataku terdengar jahat, tapi itulah kenyataannya. Jangan sampai, satu luka kering---namun luka baru malah muncul," tambah Dira.
Deva mendengarkan semua ucapan Dira, mencerna perlahan karena pikirannya memang sejatinya masih carut marut.
"Aku siapa di sini? Ya... aku bukan siapa-siapa, aku harus pulang." Pikiran Deva, gaduh sendiri di dalam hati.
Dira mengabaikan reaksi yang diberikan Deva pada kata-kata yang dia ucapkan. Biarlah dia terlihat kejam. Kenyataan memang pahit. Namun apa yang dia lakukan, menurutnya adalah yang terbaik. Selain melindungi haknya, Dira juga tidak ingin Deva merasakan sakit yang lebih dalam dengan buaian semu kasih sayang Dave dan papa mamanya. Pada akhirnya, Deva akan terhempas dari kehidupan mereka. Jika dibiarkan, pada saat nanti waktunya tiba, Dira khawatir Deva akan semakin hancur.
Fira yang duduk di barisan ketiga dari deretan khusus perempuan, melihat gelagat yang tidak beres saat Deva meninggalkan tempat. Perempuan itu segera mengejar Deva. Keadaan mantan kekasih anaknya itu, sungguh membuat Fira cemas.
Sampai di ambang pintu Mushola, Deva berdiri dan melepas mukenanya. Dia melipat kain tersebut dengan asal, lalu berlari menuju kamar yang di tempatinya di lantai dua. Fira terus mengejar Deva juga masih dengan mengenakan mukenanya.
Deva mengambil koper dari Bali yang masih belum dia bongkar sama sekali. Karena baju yang dia kenakan sekarang, adalah gamis milik Fira beberapa tahun yang lalu. Deva menyeret kopernya keluar dari kamar.
__ADS_1
"Dev, kamu mau ke mana, Nak?" Fira mencekal pergelangan tangan Deva. Napasnya terengah-engah karena melangkah cepat demi mengejar Deva.
"Terimakasih atas kebaikan Mama dan papa. Deva mau pulang saja, Ma." Deva mencoba memaksakan diri untuk tetap tersenyum di ujung kalimat.
"Kamu tinggallah di sini dulu untuk beberapa hari, Dev. Minimal tujuh hari, kita akan mengadakan pengajian untuk papamu. Mama mohon! Jangan buat Mama dan papa semakin berdosa. Setidaknya, biarkan kami memenuhi janji kami pada Amar. Tolong, Dev!" Fira semakin kencang menahan tangan Deva, tatapannya benar-benar mengiba.
"Deva harus sadar diri, Ma. Siapa Deva di rumah ini sekarang? Deva bukan siapa-siapa. Walaupun kalian berusaha menemani dan menghibur Deva, toh pada akhirnya, Deva akan tetap sendiri," lirih Deva.
Fira menggelengkan kepalanya dengan lembut, "Jangan Dev, mama selalu menganggapmu anak mama. Mana bisa seorang ibu membiarkan anaknya melalui kesedihan sendiri."
"Bisa, bahkan seorang yang mengaku seorang ibu pun bisa menyakiti hati anaknya demi kepentingan sendiri. Mengorbankan perasaan anak bukan sesuatu yang sulit. Tidak semua ibu benar-benar peduli pada anaknya. Maaf, Ma... Deva pulang. Sekali lagi, terimakasih untuk semuanya. Tolong sampaikan maaf dan juga terimakasih yang sama untuk papa, Bang Dave, dan juga Dira." Deva menurunkan tangan Fira yang memang sudah mengendur karena mendengar ucapan dari Deva yang pelan namun sangat jelas di telinga.
Fira membiarkan Deva berjalan menjauhinya. Dia lalu melangkahkan kaki mendekati telepon rumahnya, menghubungi saluran internal ke area penjagaan gerbang utama rumahnya. Memerintahkan agar salah satu driver mengantar dan memastikan Deva sampai di rumah perempuan malang itu dengan selamat.
Acara pengajian pun akhirnya usai. Dave baru tersadar, kalau dia tidak melihat lagi keberadaan Deva. Dengan langkah seribu dia menuju kamar perempuan yang berhasil menjadi ratu dihatinya itu. Mengira, Deva sudah berada di dalam sana. Dave mengabaikan Dira yang sedari tadi mengawasi gerak geriknya.
"Deva sudah pulang, Dav." Fira memberi tahu anaknya dengan suara pelan.
"Pulang? Sendirian?" Sorot tajam dari mata Dave, seketika menghujam ke arah Fira.
__ADS_1