Sisa Rasa

Sisa Rasa
Antara Dewa dan Deva


__ADS_3

Dave buru-buru menghampiri Deva. Melihat sosok atasan dari sang mantan terindah, membuatnya sedikit was-was. saat ini, Dave belum rela, jika sampai ada pria lain yang mendekati Deva. Sebagai sesama lelaki, dia paham betul, untuk jatuh cinta pada seorang Deva Magnolia, bukanlah hal yang sulit. Cantik, berpendidikan, baik, mandiri, tegar, dan juga ramah.


"Jadi ini yang kamu maksud urusan pribadi?" tanya Dewa, tatapan mata dan garis bibirnya menunjukkan kesinisan yang hakiki.


"Ini bukan jam kerja, Bung. Apa pun yang dilakukan Deva, bukan urusanmu lagi," bela Dave, tidak kalah sinis.


Tanpa memedulikan ucapan Dave, Dewa berkata, "Aku tunggu penjelasanmu besok di kantor. Aku mengijinkanmu, karena aku masih manusia, Dev. Walaupun alasanmu sama sekali tidak jelas, aku menaruh prasangka baik. Berharap kamu benar-benar mempunyai urusan serius. Kalau hanya sekedar bercinta, seharusnya tidak sampai membuatmu meninggalkan jam kantor." Lalu pria tersebut meninggalkan Deva dengan wajah memerah menahan amarah dan kecewa.


Dave ingin melawan kata-kata Dewa, tetapi Deva menahan pria tersebut untuk melakukannya.


"Sudah, Bang. Biarkan saja. Orangnya memang seperti itu, tapi sebenarnya dia baik." Deva berjalan terlebih dahulu memasuki kafe. Dave pun menyusul menyamai langkah perempuan tersebut.


Dewa yang duduk di sofa sudut ruangan, tidak melepaskan pandangan sedikit pun pada sosok Deva yang berjalan dengan raut wajah datar---berdampingan dengan Dave mendekati meja kosong di belakang Dewa berada.


Entah mengapa, mengetahui Deva bersama laki-laki yang sama, membuat Dewa sangat tidak senang. Apalagi, Deva sudah izin cuti mendadak sejak hari masih pagi. Pikirannya digelayuti praduga negatif. Dia kerap sekali mendengar cerita teman-teman perempuannya yang menjadi selingkuhan. Tidak jarang mereka mencuri-curi waktu dengan membuat izin mendadak, untuk sekedar mempunyai waktu berdua dengan pasangan halal dari perempuan lain.


"Mau pesen apa, Dev? Masih sama kan?" Dave bertanya sesaat setelah mereka sudah menempati sofa masing-masing.


"Masih sama, Bang." Deva menjawab sembari menundukkan wajahnya. Dia tahu persis, Dewa sedang mengawasinya tanpa sembunyi-sembunyi.


Tidak berapa lama, saat Deva dan Dave memesan makanan, dua orang perempuan menghampiri meja Dewa. Pria itu langsung menyambut keduanya dengan ciuman pipi kiri dan kanannya dengan begitu hangat. Satu perempuan duduk di samping Dewa, dan satunya lagi, duduk di seberangnya. Seperti biasa, tangan Dewa reflek mengamit pinggul perempuan di sebelahnya. Meskipun begitu, matanya sesekali masih saja memperhatikan Deva.

__ADS_1


Dave menoleh ke belakang dengan santai, lalu tersenyum sinis. "Sepertinya, atasanmu kali ini seorang player, Dev. Kamu harus hati-hati." bisiknya, lirih hampir tidak terdengar jelas oleh Deva.


"Bukan urusan kita, Bang. Biarkan saja." Deva mengalihkan fokus pada home band yang baru saja memasuki area panggung musik. Seperti biasa, pukul delapan sampai pukul sebelas malam nanti, kafe tersebut akan memberikan hiburan live music pada pengunjung.


Sesaat kemudian, pesanan masing-masing meja datang. Membuat semua terdiam, fokus sementara teralihkan pada pelayan yang meletakkan makanan di atas meja sembari menyebut satu per satu nama hidangannya.


Dewa yang dari awal berniat bercengkrama dengan dua teman perempuannya, menjadi sedikit terganggu dengan pemandangan yang tertangkap jelas oleh panca inderanya. Dia cukup bisa memahami, antara Deva dengan pria yang amat tidak dia sukai, jelas sedang tidak baik-baik saja. Sejauh yang Dewa lihat, keduanya jelas tidak berbincang akrab. Bahkan Deva cenderung lebih sering menundukkan wajahnya.


"Wa, habis gini, clubing yuk! Bosen kali live music terus," ajak salah satu teman perempuan Dewa bernama Diana.


"Iya... gue lagi males banget pulang sore. Daddy gula gue lagi ke luar negeri sama bininya. Mumpung gue free, gas, yuk!" timpal perempuan di sebelah Dewa---bernama Dara, perempuan itu mengusap-usap punggung tangan Dewa yang sudah berada di atas meja.


"Ckck... kalian nggak ada benernya. Ogah, gue! kita di sini saja. Gue cuman mau ngedem otak, pusing banget. Gue seharian kerja sendiri. Punya asisten pribadi, kerjaannya ngurusin pribadinya sendiri. Empet gue lama-lama."


Lagu Merasa Indah yang dipopulerkan oleh Tiara Andini dan dibawakan dengan epic oleh vokalis home band, nyatanya membuat Deva terbawa perasaan. Perempuan itu benar-benar mulai merasa tidak nyaman. Sebagian besar lirik lagu tersebut, sangat mendekati dengan suasana hatinya saat ini.


...Pedih ku saat merasa indah...


...Semua hilang dan usai...


...Bila cinta ini tak nyata...

__ADS_1


...Jangan engkau beri harapan...


...Sudah cukup kini kusadari...


...Terlalu cepat jatuhkan hatiĀ ...


"Dev... are you oke?" Dave sendiri juga mulai merasakan hal yang sama dengan yang Deva rasakan.


"Aku baik-baik saja, kita pulang saja, Bang. Aku capek. Abang tunggu di mobil, aku ke toilet sebentar." Deva berdiri, mengabaikan makanan yang masih menyisakan dua suapan lagi. Buru-buru menyembunyikan bulir bening yang hampir saja jatuh, tapi Dewa yang masih sering memperhatikan gerak-gerik Deva, menangkap kesedihan itu.


Dave membayar tagihan pesanan mereka terlebih dahulu, lalu dia menunggu Deva di mobilnya. Sama persis seperti permintaan Deva.


Menyadari gelagat yang aneh, rasa ingin tahu Dewa yang sangat men'dewa' semakin tidak terbendung.


"Gue mau ke toilet sebentar," pamit Dewa. Langsung bergegas melangkahkan kaki lebar ke arah toilet.


Bukannya masuk ke dalam toilet, Dewa ternyata hanya berdiri bersandar di tembok yang letaknya tidak jauh dari toilet wanita. Mengabaikan tatapan heran beberapa orang yang melewatinya.


"Lagi nungguin pacar, Budhe. Takut ada yang nyulik." Dewa menjelaskan tanpa diminta dengan cengirannya yang khas---pada seorang ibu paruh baya yang menatapnya penuh curiga.


Setelah agak lama menunggu untuk hitungan orang yang hanya sekedar membuang urrine, Deva akhirnya muncul juga. Langkah perempuan itu seketika terhenti saat melihat sosok Dewa menatapnya tajam dengan posisi yang masih sama seperti tadi.

__ADS_1


"Mau kamu basuh mukamu seratus kali sekali pun, kesedihanmu nggak akan hilang, Dev. Kamu sedang bersama si urusan pribadimu, tapi lihatlah wajahmu, begitu tertekan dan menyedihkan. Ini terakhir kalinya aku menawarkan bantuan kepadamu. Bukan karena aku peduli atau ingin ikut campur urusanmu. Ini hanya semata karena aku tidak mau dibodohi lagi. Aku tidak mau pekerjaamu terganggu dengan masalah pribadimu ini. Jangan sampai aku meragukan keprofesionalanmu dalam bekerja. Jika kamu merasa tertekan atau dia mengancammu, aku bisa membantumu lepas darinya. Aku bisa mengantarmu malam ini," ucap Dewa, dengan suara yang pelan namun dengan intonasi yang lugas dan jelas, penuh penekanan.


Deva menarik napas dalam dan mengembuskannya dengan kasar. Lalu membalas tatapan Dewa dengan berani.


__ADS_2