
"Deva, tunggu!" Debora berusaha mengejar langkah kaki Deva.
Teriakan Debora yang kencang, mau tidak mau membuat Deva berhenti. Tanpa memutar badannya ke belakang, dia hanya berdiri terdiam menunggu sosok yang memanggil namanya sampai berada di depan mata.
"Aku mau megucapkan terimakasih sekaligus maaf," lirih Debora begitu dia sudah berhadapan langsung dengan Deva. Desta seketika mengambil beberapa langkah mundur untuk memberikan ruang yang lebih lebar pada Debora dan juga Deva.
"Untuk apa?" Deva bertanya dengan acuh tak acuh.
"Terimakasih membawa papaku sampai pada pertanggungjawaban yang sudah seharusnya. Terimakasih, karena ternyata perasaan kami menjadi lebih lega sekarang. Beban yang menghimpit kami terasa sudah terangkat. Meski papa harus di penjara, tapi banyak hal yang justru bisa kami ambil hikmahnya. Dan maaf, jika kejujuran ini sangat terlambat kami lakukan." Debora sedikit ragu-ragu, meraih tangan Deva.
"Semua sudah diatur oleh Allah, Kak. Jika bertanya dengan hitungan saya, jelas saya merasa semua memang terlambat. Tapi bagi Allah, sekarang inilah waktu yang tepat." Deva mengatakannya dengan tatapan dan intonasi suara yang sama datarnya. Sekilas perempuan tersebut melirik ke sisi kanannya. Di mana Dewa dan Widya berdiri berdampingan hanya beberapa langkah saja dari tempatnya berada saat ini.
"Maaf, Dev. Aku tau, kamu sudah tidak mau lagi berandai-andai ke belakang. Aku dan mama benar-benar minta maaf. Begitu pun dengan papaku."
"Saya sudah memaafkan kalian semua. Tapi tidak dengan melupakan apa yang sudah kalian lakukan pada keluarga saya. Cukup memaafkan saja. Kita dulunya tidak pernah saling mengenal, sekarang pun demikian." Deva melangkahkan kakinya kembali. Kali ini langkahnya sedikit gontai.
Dewa semakin menundukkan wajahnya semakin dalam. "Maafkan aku, Dev. Setelah semua kesedihan yang kamu lalui. Kamu layak mendapatkan yang terbaik. Sepertinya, aku bukan pria yang pantas untukmu."
Sebelum menyusul langkah Dewa, Desta menghampiri dan berbisik kepada Dewa. "Jangan jadi pengecut, Wa. Setelah apa yang kamu usahakan selama ini, lalu kamu menjauh secepat ini, sama saja kamu memberi Deva luka. Pikirkan baik-baik. Jangan sampai kamu menyesal nantinya."
__ADS_1
Dewa memalingkan wajahnya ke sisi lain. Namun, dia berpaling ke sisi yang salah. Matanya yang berkaca-kaca, terlihat jelas oleh Widya. Membuat perempuan yang tadinya sudah menaruh curiga dengan kedekatan kembali Debora dan Dewa yang tiba-tiba, semakin besar menaruh kecurigaannya.
Deva berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang. Tidak terasa air matanya menetes deras tanpa suara. Ada sesak yang semakin menghimpit di dada. Seharusnya, hari ini dia bahagia. Karena telah berhasil mempersembahkan keadilan untuk sang papa. Nyatanya, kebahagiaan yang dia rasakan hanya berlangsung sesaat.
"Dev ...," panggil Desta sambil menepuk bahu perempuan yang berhasil dia samakan langkahnya. "Aku antar kamu pulang, ya," tambahnya.
"Tidak usah, Bang. Saya naik taksi saja. Karena mau langsung kembali ke kantor." Deva memaksakan senyumnya, lalu dia terus berjalan ke arah luar area gedung pengadilan untuk menghampiri deretan taksi offline yang mangkal di sana.
Desta sengaja tidak mengejar atau pun memaksa Deva lagi. Pria itu lebih memilih untuk berbalik badan dan melangkahkan kakinya menghampiri Dewa yang kini berjalan ke arah parkiran mobil yang sama dengannya. Pria tersebut berjalan sendirian. Tanpa Widya atau pun Debora sekali pun.
"Kenapa, Wa? Kenapa bisa kamu malah menemani Debora? Apa pun nama hubunganmu dan Deva, tidak seharusnya kamu melakukan ini." Ucapan Desta menghentikan langkah Dewa.
"Terserah kamu, Wa. Menurutku, jika kamu sudah tidak menginginkan Deva sebesar dulu. Setidaknya jangan menjauh dengan cara yang menyakitkan. Dari musuhan, kalian berteman, sampai bersahabat seperti sekarang. Jangan hancurkan perasaannya. Bukan hanya putus cinta yang membuat hati perempuan patah. Ditinggalkan orang yang dekat tanpa alasan, juga meninggalkan luka." Desta masuk ke dalam mobilnya setelah dia mengatakan kalimat tersebut.
Dewa pun melakukan hal yang sama. Setelah mesin mobil dia nyalakan, pria tersebut tidak langsung menjalankan rodanya. Dewa bergeming dengan kedua tangan yang mencengkeram stang kemudi dengan erat. "Maafkan aku, Dev. Aku pengecut. Kamu layak bahagia. Setelah badai besar dalam hidupmu, tidak pantas rasanya jika aku mengajakmu berlayar di tengah gelombang dasyat hidupku. Aku juga takut. Bukannya cinta yang kudapat, melainkan hanya belas kasihan darimu." Dewa berbicara dalam hati dengan perasaan sedih yang luar biasa.
Sesampainya di kantor, Deva dikejutkan dengan kedatangan Tino. Pria yang dulu menjadi atasannya sebelum digantikan oleh Dewa. Sosok tersebut tampak santai dan berbincang akrab dengan Sashi.
"Dev," sapa Tino sebelum Deva menyapanya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Pak Tino apa kabar? Tumben?" Deva mengulurkan tangan dan langsung bertanya tanpa basa basi.
"Dewa nggak cerita ke kamu?" Tino balik bertanya.
Deva semakin terlihat kebingungan. Mulutnya sudah hampir terbuka untuk mengutarakan pertanyaan kembali pada Tino, tetapi dia mengurungkan niatnya begitu menyadari kedatangan Dewa.
"Kenapa menunggu di sini? Langsung ke ruangan saja seharusnya." Dewa langsung menyapa Tino dengan memberikan pukulan kecil pada lengan pria tersebut.
"Nunggu sambil ngobrol sama Sashi lebih seru, Wa," jawab Tino.
"Dev, ke ruangan ku sekarang. Bawa semua berkas pending matters-ku," perintah Dewa tanpa menoleh pada Deva.
"Baik, Pak." Deva bergegas ke ruangannya untuk mengambilkan file yang dimaksud. Sedangkan Dewa dan Tino langsung masuk ke ruangan pimpinan tertinggi Diamond Corp berada.
Tidak sampai lima menit kemudian, Deva sudah berada kembali di antara Tino dan Dewa. Berkas yang di minta pun langsung diberikan pada sang atasan. Kecanggungan tampak terasa di antara keduanya. Jarak yang dibentangkan dengan sengaja oleh Dewa tersebut, sebenarnya sama-sama membuat hubungan kerjasama mereka sebagai atasan dan bawahan menjadi tidak nyaman.
"Mulai awal bulan depan. Tino akan kembali menjadi atasanmu. Dua minggu terakhir di bulan ini, dia yang akan mendampingi aku. Kamu fokuslah dengan pekerjaanmu yang lain."
Bagaikan dihempaskan ke dalam jurang terdalam. Deva merasakan hatinya kembali remuk. Banyak tanya yang ingin dia lontarkan. Sedih, kecewa, kesal, dan rasa ingin marah, berkecamuk dalam dada. Semua perubahan sikap Dewa begitu mendadak untuknya. Setelah melalui dan berbagi begitu banyak hal bersama, lalu tiba-tiba diacuhkan. Rasanya sungguh lebih dari sekedar sakit. Dulu, sekecil apa pun yang terjadi, Dewa selalu berbagi cerita dengannya. Sekarang? Bahkan resign pun ternyata dia tahu yang terakhir.
__ADS_1
"Saya salah apa, Pak?" lirih Deva.