Sisa Rasa

Sisa Rasa
Divorce


__ADS_3

Dewa tidak sedetik pun melepaskan arah pandangan pada Dave. Kemarahan tergambar jelas pada raut wajah pria yang seharusnya menjadi rival terberatnya tersebut. Dewa seketika menelan ludahnya sendiri dengan kasar. Dia mulai menduga-duga dan menaruh kekhawatiran tersendiri akan langkah yang diambil Dave selanjutnya.


"Boleh aku meminta bukti rekaman ini?" tanya Dave penuh harap.


"Aku sebenarnya sama sekali tidak keberatan, Dave. Tapi, aku takut kamu tidak bisa mengendalikan diri dan gegabah dalam bertindak. Jika papamu tahu kita sudah melangkah sejauh ini, bisa saja dia akan semakin nekat. Begitu pun dengan Dira," tutur Dewa.


"Tenang, Wa. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Untuk urusan Dira, biar aku bertindak lebih tegas." Dave membalas tatapan tegas dari Dewa.


"Baiklah, aku akan berikan. Ingat, Dave. Jaga musuhmu selangkah lebih dekat. Ini demi Deva," tekan Dewa.


"Apa pun akan aku lakukan untuk membantu Deva." Dave mengucapkannya tanpa ragu.


"Sudah aku kirim. Aku mau bertemu dengan Deva dulu." Dewa memberikan isyarat pada Desta untuk membuka pintu mobil sport milik pengacaranya tersebut.


"Thanks, Wa." Dave dengan cepat masuk ke dalam mobilnya .


Kedua mobil yang sama mewah dan limited itu beriringan meninggalkan area parkir kantor kepolisian dengan arah tujuan yang berbeda.


"Kita ke resto deket kantorku saja, Des. Biar aku hubungi Deva untuk ke sana saat istirahat makan siang," pinta Dewa sambil menulis pesan singkat dan segera mengirimkannya pada Deva.


"Ini yang aku tunggu-tunggu. Selain aku tertantang dengan kasusnya, aku juga penasaran sama Deva. Sebahenol apa sih dia, sampai kamu rela, dua hari dua malam tidur di kantor polisi. Kalau cakep, boleh lah ya kita saingan. Sudah dikejar-kejar pertanyaan kapan nikah. Cinta belakangan, yang penting cocok di mata dulu. Dari mata, pelan-pelan turun ke hati," ucap Desta dengan santainya sembari terus fokus pada jalanan ibu kota yang padat merayap siang ini.


"Fokus pada kasusnya, Des. Lagian, dia nggak mungkin ngelirik kamu," dengus Dewa.

__ADS_1


"Masak? Kita lihat saja nanti."


Dewa memalingkan wajahnya ke sisi kaca pintu mobil di sampingnya. Sungguh saat ini pikirannya sedang kacau. Bukan Desta yang membuatnya cemas. Tapi kata-kata Dave yang ingin tegas pada Dira, sungguh membuat batinnya merasakan dilema.


Di sisi lain, Deva yang baru saja membaca pesan dari Dewa, tampak menarik napas lega. Seperti hilang satu beban yang menekan pundaknya dua hari ini. Babak baru kasus Amar pun akan segera dibuka kembali.


"Ya Allah, tunjukkan kuasaMu sekali lagi. Kebenaran dan keadilan itu ada, bukan? Aku ingin nama baik papa kembali pulih. Sungguh aku tidak bisa membohongi hati kecilku, melihat papa meninggal dan dikubur sebagai seorang narapidana, itu adalah luka yang luar biasa," lirih Deva sembari menengadahkan kepala pada langit-langit di ruangannya.


Di waktu yang sama, Dave berjalan dengan langkah lebar dan pasti menuju ruangan di mana mama mertuanya sedang dirawat. Untuk pertama kalinya, Dave menjenguk Nina yang masih dalam kondisi lumpuh dan juga buta.


"Dave," sambut Dira dengan sumringah, begitu melihat suami terpaksanya memasuki ruangan di mana dia berada bersama Nina dan juga Rudi.


Pria tersebut tidak menanggapi sambutan Dira. Dia langsung menghampiri Rudi yang duduk acuh tak acuh di atas sofa sambil membaca surat kabar.


Nina yang hanya bisa mengetahui kedatangan Dave dari pendengarannya hanya bisa memanggil lirih. Dengan susah payah. Perempuan tersebut meraba-raba sisi brankar yang kosong sebagai isyarat dia mencari keberadaan orang yang paling dekat dengannya untuk meminta sebuah pertolongan.


"Mama mau minum?" Dira bertanya sedikit ketus sambil menyodorkan sebotol air mineral yang sudah dilengkapi sedotan tepat dimulut Nina.


Perempuan yang juga menjadi kekasih dari Agas itu mengangguk lirih. Hatinya menangis, Dira dan Rudi memang menungguinya hampir sepanjang waktu. Namun, perlakuan keduanya sering kali seenak hati terhadapnya. Baik Dira mau pun Rudi, tidak jarang bersikap kasar.


"Ada apa, Dave?" Rudi melipat dan meletakkan surat kabar ke atas meja.


Dave tidak langsung menjawab. Dia mengambil duduk tepat di sofa sisi kanan Rudi. Dira pun buru-buru menyuruh Nina menyudahi minumnya. Perempuan itu jelas menjadi penasaran dengan maksud Dave mengajak papanya berbicara dengan seserius itu.

__ADS_1


"Sebelumnya saya minta maaf jika sekarang bukanlah waktu dan tempat yang tepat untuk saya membicarakan hal ini. Namun, saya tidak ingin lebih lama lagi menjalani hubungan penuh kepalsuan. Dengan segala kerendahan hati, dan tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Bapak Rudi dan Ibu Nina, Saya kembalikan Dira pada kalian. Cukup di sini pernikahan kami yang seharusnya memang tidak pernah terjadi."


Mendengar ucapan Dave yang pelan namun tegas dan jelas, Rudi seketika beranjak berdiri dari duduknya. Pria tersebut berkacak pinggang dan menatap Dave dengan sorot mata yang menyiratkan kemarahan.


Hal sama dilakukan oleh Dira, perempuan tersebut langsung berusaha melayangkan pukulan pada pria yang sangat didambakannya itu. Namun, dengan sigap Dave menangkis tangan Dira dan menurunkannya dengan kasar


"Apa maksudmu, Dave? Berani-beraninya kamu menghina keluargaku dengan cara seperti ini. Dira bukan barang, yang dengan seenaknya kamu kembalikan begitu saja jika kamu tidak suka. Pernikahan kalian sah secara hukum. Tidak semudah ini kamu memutuskan hubungan pernikahan kalian." Rudi mengatakannya dengan intonasi yang cukup tinggi.


"Saya tidak pernah merendahkan Dira. Apa lagi berniat menghina keluarga Bapak. Penghinaan itu sudah kalian rangkai sendiri sejak awal kalian memaksakan pernikahan ini. Saya akan mengurus semua ke pengadilan. Kesepakatan antara Bapak dan Papa saya, silahkan menjadi urusan kalian."


Dave lalu menoleh pada Dira. Membalas tatapan kemarahan Dira dengan tatapan yang begitu santai. "Dira Gracella binti Rudi. Mulai detik ini, aku bukan suamimu lagi. Segala hak dan kewajiban antara kita, putus sampai di sini," tegas Dave.


Dira menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Tidak, Dave. Kamu tidak boleh menceraikan aku. Kamu milikku. Bukan milik perempuan sampah itu. Aku akan membuat Deva celaka kalau sampai kamu menceraikan aku."


Perempuan tersebut mulai kehilangan arah, dia kebingungan. Bola matanya bergerak ke sana ke mari mencari objek yang bisa dihancurkan. Tangannya mulai gemetaran. Rudi mendekati Dira, mencoba menenangkan sang putri satu-satunya.


"Hanya itu yang ingin saya sampaikan. Terima kasih, Pak. Saya permisi." Dave sedikit membungkukkan badannya.


Rudi mengepalkan tangannya dengan geram. "Aku tidak akan melupakan penghinaan ini. Agas akan membayar mahal apa yang sudah diperbuat anak pungut tidak tahu diri sepertimu."


Dave hanya tersenyum tipis, lalu berbalik badan dan melangkah keluar meninggalkan ruangan. Namun, baru saja dia menekan gagang pintu ke bawah, Dira mengejar dan menarik tubuh Dave dengan kuat.


"Kalau sampai kamu benar menceraikan aku. Aku tidak akan membiarkan Deva hidup tenang." Dira meremas kerah belakang Dave hingga membuat pria tersebut sedikit tercekik.

__ADS_1


__ADS_2