Sisa Rasa

Sisa Rasa
Bonus Chapter 1


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, kemampuan penglihatan Dewa semakin menurun. Terutama saat intensitas cahaya terlalu tinggi. Hanya setitik merah yang bisa tertangkap oleh matanya. Sebagian besar aktivitasnya kini selalu melibatkan dan didampingi Deva.


Bukan rasa belas kasihan yang mendasari Deva selalu setia mendampingi Dewa, melainkan rasa lain yang entah apa namanya. Dia pun tidak memperlakukan Dewa layaknya pesakitan yang semua hal harus dibantu. Tidak demikian. Deva hanya mengarahkan dan membuat Dewa terbiasa melakukan rutinitas sehari-hari tanpa mengandalkan orang lain. Kebutaan diharapkan sama sekali tidak memupuskan semangat Dewa untuk menjalani hidupnya.


"Bagaimana, Dev? Apa sudah ada kemajuan?" tanya Dewa sembari melepas kain hitam yang menutup matanya.


"Well done, Pak. Hanya ada tiga typo. Bapak semakin pro saja. Ini keren, sih." Deva memberikan pujian pada hasil ketikan Dewa melalui laptop khusus untuk penyandang tuna netra.


"Alhamdulillah. Saat nanti mataku sudah tidak bisa melihat lagi. Setidaknya Aku masih ada gunanya diberi napas," gumam Dewa. Meski lirih, Deva masih bisa mendengarnya sayup-sayup.


"Tidak ada satu orang pun yang terlahir di dunia ini tanpa memberikan arti pada yang lainnya. Yang belum terjadi, tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Apalagi dijadikan beban. Kuasa Allah itu nyata, di belakang ujian selalu ada jalan keluar yang menyertai." Deva menatap mata Dewa yang tengah tertunduk sembari memainkan kain penutup mata yang masih dalam genggamannya.


"Selama ada kamu, Aku tidak mengkhawatirkan apa pun, Dev. Tapi Aku bukan lagi orang yang egois. Ada saatnya kamu akan menikah dan tidak bekerja lagi. Tentu kamu harus fokus dengan keluargamu. Terimakasih sejauh ini sudah menguatkanku luar biasa."

__ADS_1


Deva memberanikan diri meraih tangan Dewa. Apa yang baru saja diucapkan pria tersebut memang masuk akal. Namun, pernikahan jelas bukanlah prioritas bagi Deva untuk saat ini. Sepenuhnya dia menyerahkan saja pada takdir Ilahi. Kapan dan dengan siapa dia akan melangsungkan hal itu, sama sekali tidak ada beban di pikirannya.


"Dan Bapak pun pasti juga akan menikah. Meskipun di depan cermin mungkin kegantengan bapak sudah terlihat samar di depan mata bapak sendiri, bapak harus ingat baik-baik seganteng apa bapak ini. Seperti yang pernah bapak ucapkan dulu, siapa sih yang bisa menolak ketampanan dan kemapanan seorang Dewa."


"Aku sama sekali tidak meragukan itu, Dev. Tapi akan sulit mendapatkan perempuan yang benar-benar tulus dengan kondisiku saat ini. Mereka menerima kemapananku, bukan keadaanku seutuhnya. Sudahlah, jangan bahas pernikahan. Oh, ya ... bagaimana kabar Dave? Dia masih sering menghubungi kamu, kan?" Dewa menepuk-nepuk punggung tangan Deva.


Raut wajah Deva seketika berubah. Perempuan tersebut menundukkan pandangannya sembari menarik napas sedikit berat. Sudah hampir Dua bulan, Dave tidak mengirimkan kabar padanya.


Dewa tampak berpikir. Meski dia tidak bisa melihat dengan jelas kesedihan di wajah Deva. Dari nada suara saat menjawab pertanyaannya tadi, jelas dia merasakan ada kekhawatiran di sana. Lalu dia mengingat-ingat komunikasi terakhirnya dengan Dave tiga bulanan yang lalu.


"Sepertinya Dave sudah tidak menghubungi Deva lagi? Apa dia sudah menemukan keluarganya? Terus apa yang sebenarnya terjadi?" Dewa bertanya-tanya dalam hati.


Sementara itu, di belahan bumi yang lain, sesosok pria tampak sedang membersihkan meja salah satu restoran cepat saji dengan gerakan tangan yang begitu gesit. Sosok itu tidak lain tidak bukan adalah Dave. Ya, keputusannya untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri dengan biaya pribadi, mengharuskan dirinya untuk bekerja lebih giat Dave bukan lagi anak Fira dan Agas yang kaya raya. Jangankan untuk membiayai dirinya di luar negeri seperti sekarang, harta mereka sudah benar-benar habis disita oleh negara.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan shiftnya, Dave memutuskan untuk kembali ke apartemen yang dihuninya bersama empat orang yang lain. Tentu saja hal itu dilakukan untuk menghemat biaya sewa. Kebetulan, Dua orang dari mereka berasal dari Indonesia.


"Dave! Jadi ambil kerjaan lagi, tidak? Ini temenku ada lowongan di club. Siapa tau kamu bisa sesuaikan dengan jadwal kuliah kamu," tanya seorang teman Dave yang bernama Dinasti.


"Boleh ... sepertinya, aku juga bakalan cuti satu semester dulu. Aku butuh banyak uang untuk pengobatan mamaku." Dave mengatakannya dengan tatapan menerawang seperti orang yang sedang melamun.


"Kenapa kamu nggak balik ke Indonesia saja, Dave? Di sana setidaknya kamu sudah bisa praktek. Penghasilan pasti lumayanlah," ucap salah satu teman yang lain bernama Dirly.


Dave menggeleng sembari tersenyum kecut. "Tidak, Aku tidak ingin membuat seseorang bingung dan menjadi terbebani dengan keadaan keluargaku. Aku tidak mau membawanya masuk ke dalam keluargaku yang memang pantas mendapatkan karma ini. Dia terlalu baik, aku tidak mau malah dia terdorong untuk membantuku. Entah dengan alasan peduli, cinta atau hanya sekedar kasihan."


Dinasty menepuk pundak Dave. "Lakukan yang menurutmu terbaik. Kami hanya biasa mendukung, Dave. Maaf belum bisa membantu lebih secara materi. Tapi menurutku, tetap hubungi Deva. Bukankah kalian selama ini juga tidak ada komitmen apa pun? Jadi tidak ada alasan bagimu untuk menghindarinya kalau hanya sekedar berteman."


"Aku akan menghubungi Dewa terlebih dulu." Dave memberikan senyuman tipis di ujung kalimatnya.

__ADS_1


__ADS_2