Sisa Rasa

Sisa Rasa
Tamparan jiwa


__ADS_3

Dave masuk ke dalam kamar hotel yang bukan merupakan tempatnya menginap semalam. Bukan juga kamar yang disediakan oleh wedding orginezer sebagai kamar pengantin. Tentu saja hal itu membuat Dira bertanya-tanya. Tidak menaruh curiga buruk, kini pikiran kotor Dira mulai bekerja. Perempuan itu berpikir Dave masih laki-laki normal, yang kemarin dulu sempat menolaknya karena gengsi dan memang belum halal. Dan sekarang, jelas semua sudah berbeda.


"Duduk," Dave menyuruh Dira duduk di tepian ranjang. Sedangkan dia, memilih untuk tetap berdiri sambil menggulung kemeja putih yang dikenakannya hingga ke siku.


"Iya ... Dave, di sini tidak ada baju gantiku, masak aku harus memakai baju seperti ini?" Dira mengeluarkan suara seksii yang dibuat-buat. Bukannya menggoda, suara itu malah membuat siapa pun yang mendengarnya segera ingin mengulurkan air putih.


"Kamu yang bilang ingin ikut denganku, bukan? Pakai saja apa yang menempel pada tubuhmu. Kalau kamu merasa tidak nyaman, kamu tinggal membukanya. Kenapa repot."


Ucapan Dave yang datar, tetap dimaknai Dira dengan salah. Perempuan yang memang haus akan kasih sayang, pujian, dan perhatian dari Dave itu mengira, bahwa Dave sedang memberikan kode-kode kecil untuknya.


Dira pun melepas kain panjang menjuntai menutupi rambut, dan melepas sebagian aksesoris berat yang menempel di badannya. Dave melemaskan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan melakukan gerakan memeberikan dirongan pada dagunya.


Setelah selesai meletakkan semua aksesorisnya di atas nakas, Dira berdiri dan berniat mendekati Dave. Buru-buru pria tersebut memundurkan langkahnya.


"Siapa yang menyuruhmu mendekat." Dave berbicara dengan suara yang sangat tegas.


"Bukankah tadi aku sudah bilang kalau aku akan memijatmu?" Dira mengingatkan Dave akan tujuannya.

__ADS_1


"Aku tahu itu. Tapi bukankah aku tidak mengatakan kalau aku setuju? Aku mengijinkanmu kemari, hanya untuk mendengarkan ceritaku. Aku sedang berbaik hati, kamu pasti ingin membuatku jatuh cinta bukan? Aku akan berbagi sedikit apa yang bisa membuatku jatuh cinta. Meski aku benar-benar tidak yakin, kamu sanggup atau tidak." Dave menunjuk kembali tepian ranjang, pertanda dia menyuruh Dira untuk kembali duduk temang di sana.


"Cerita apa?" Perasaan Dira mulai tidak enak. Menyadari tarikan tipis di ujung bibir Dave begitu menampakkan kesinisan.


"Cerita yang mungkin bisa membuka pikiranmu, atau paling tidak bisa menunjukkan jelas di mana posisimu seharusnya berada. Sudah seharusnya kamu tahu, mana yang dinamakan masa lalu yang terlupakan, dan mana yang akan tertinggal di hati. Yang terlupakan tanpa meninggalkan rindu atau pun ingatan, jelas itu tidak bermakna apa-apa."


Dira masih menunggu apa inti dari pembicaraan yang ingin dilakukan Dave. Namun, pria tersebut sepertinya memang tidak sedang buru-buru. Dave mengambil benda pipih bertekhnologi tinggi di salah satu kantong celananya. Lalu dia membuka ikon galeri yang sudah ditata rapi.


"Kamu boleh pegang ini, kamu juga boleh buka isinya. Paswordnya pun cukup mudah, enam angka yang kemarin sudah sempat ingin aku lupakan, ternyata tidak bisa. Tak kenal maka tak sayang, bukan? Mari kita buat kamu mengenalku lebih jauh." Dave memberikan ponselnya pada Dira dengan tangan yang masih berbalut sarung tangan. Pria tersebut beljm berniat melepas sebelum dia memastikan semua aman.


Dira mulai merasakan cemburu. Dadanya pun bergemuruh hebat menahan umpatan yang tidak mungkin dia keluarkan. "Aku harus menjaga emosiku. Dira ... kamu perempuan berpendidikan dan elegan. Tetap tenang ... kamu bisa." Dira mengajak diri ya sendiri untuk berbicara. Agar emosinya tidak meluap disaat seperti ini.


"Seorang Deva Magnolia, tidak hanya berparas cantik. Tapi dia mempunyai kebaikan hati yang sulit untuk ditemukan. Ketegaran yang membalut kelembutan, membuatnya tidak tampak sebagai perempuan lemah yang hanya menggantungkan apa yang dimaui dengan mengandalkan kekuasaan orang tua." Dave semakin menggebu-gebu. Bahkan senyuman tipis nan renyah, berkali-kali tersungging dari bibirnya.


Dira yang tadinya mengulir layar ponsel ke kanan dan ke kiri, kini enggan untuk melakukannya lagi. "Dave, aku ini istrimu, rasanya tidak pantas kamu membicarakan hal ini padaku. Masa lalumu, cukup kamu yang tahu. Aku tidak berminat untuk tahu." Tanpa sadar, nada bicara Dira sudah mulai tinggi. Ponsel Dave pun tidak diberikan dengan pantas pada sang empunya. Dira malah melempar ponsel itu tepat masuk ke tempat sampah yang tidak terlalu jauh dari ranjang.


Dave kembali menyunggingkan senyuman sinis. "Ini hanya ponsel. Aku bahkan bisa membelinya lagi, tapi kenangan di dalamnya tidak akan terbeli. Sekali pun sudah di tempat sampah, aku tidak segan untuk mengambilnya. Berlian tidak akan pernah berubah menjadi batu koral hanya karena kamu melemparkannya ke sungai yang kotor. Di mata orang-orang yang normal, batu koral dan berlian, amatlah jelas perbedaannya."

__ADS_1


"Cukup, dave! Cukup! Berhenti membandingkan aku dengan Deva. Istrimu sekarang adalah aku. Itu takdir yang harus kamu jalani. Tidak ada waktu lagi untuk menyangkalnya." Dira seketika berdiri dan berteriak.


"Kamu benar, ini takdir yang harus aku jalani. Dan kamu pun harus menjalani takdirmu, bukan? Takdirmu adalah mempunyai suami seperti aku. Seorang pria yang di hatinya sudah dipenuhi oleh perempuan lain. Yang kecantikannya mungkin sudah alami dari lahir."


Ucapan Dave diartikan menjadi sebuah ejekan keras untuk Dira. Perempuan itu seketika menjadi histeris. Kilasan buruk masa lalu terlintas di ingatan perempuan tersebut. Dira menutup wajahnya rapat-rapat.


"Aku juga cantik dari lahir, Dave. Aku cantik, kamu pernah mengatakan kalau aku sangat cantik. Kamu dulu mengatakan seperti itu." Dira membuka wajahnya, perlahan dia mendekati kaca dengan tinggi melebihi tinggi badannya.


"Aku cantik... tanpa apa pun aku cantik." Dira mengacak-acak make upnya. Dia menghapus riasannya secara kasar dengan tangannya sendiri.


Dave tidak ingin bereaksi apa pun, karena dia memang sedang mempelajari psikologis Dira. Dari peristiwa di rumah Dewa, dia sudah menduga-duga, kalau ada sesuatu yang tidak beres pada perempuan. yang terpaksa harus di sebutnya istri itu.


"Aku cantik, kan, Dave? Kamu pasti mengagumi semua yang ada di badanku ini." Dira perlahan membuka kancing kebaya depannya satu per satu sembari mendekati Dave.


Di sisi lain, Deva nampak mengukir pasir dengan namanya sendiri menggunakan rantin kecil di genggaman tangannya. Dewa hanya mengawasi asisten pribadinya itu dari kejauhan. Seperti janjinya, dia menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan Deva hari ini.


Hingga suara gemuruh terdengar semakin keras diikuti gulungan ombak yang begitu tinggi mendekat. Deva seolah melihat Amar dan Shinta di sana. Bukannya menjauh dari bibir pantai, Deva malah berdiri menyambut sang ombak dengan merentangkan kedua tangannya begitu lepas.

__ADS_1


__ADS_2