
Hampir pukul delapan malam, motor yang ditumpangi Dewa dan Deva baru tiba di lobby hotel. Di saat bersamaan, Dira dan Dave yang hendak jalan-jalan keluar hotel melihat kedua orang itu kompak melepas helm masing-masing.
"Asik, nih, keliling motor berdua. Rupanya, ada yang diam-diam gencar pendekatan. Sakit hati ditinggal nikah, sakitnya nggak sampai sehari ya, Dev. Move on nggak perlu berlama-lama, sudah ada ganti yang nggak kalah keren di depan mata." Dira tanpa basa-basi menyambut Deva dan Dewa dengan gaya bicaranya yang sinis.
Dave memalingkan wajahnya ke sisi lain sembari menyembunyikan matanya yang memendam marah dan cemburu. "Sadar diri, Dave. Deva bukan siapa-siapamu lagi. Jangan bebani dia dengan perasaanmu. Kamu mencintainya. Bukan sekedar ingin memilikinya," ingatnya pada diri sendiri, meski hanya di dalam hati.
Dewa dan Deva sendiri tidak berniat menanggapi ucapan Dira. Keduanya malah kompak melemparkan pandang pada Dave. Seberapa kuat Dave ingin menyembunyikan apa yang dirasakan. Tentu Deva masih tetap bisa mengetahuinya dengan mudah.
Menyadari Deva sedang memperhatikannya, Dave pun mencoba bersikap biasa dengan menegakkan kepalanya. Setelah menarik napas dalam, pria tersebut memasukkan kedua tangannya ke kantong sweater yang dikenakannya.
"Aku duluan, ya." Dave melangkah melewati Deva, Dewa dan juga Dira.
"Dave tunggu!" istri terpaksa Dave itu mengejar sang suami tanpa berpamitan pada Dewa dan Deva.
Dewa dan Deva meneruskan langkah mereka ke dalam dengan membawa helm masing-masing. Setelah menyerahkannya pada pegawai yang bertugas, keduanya kembali ke kamar masing-masing. Karena sudah melakukan sholat saat di Candi Ratu Boko tadi, Deva dan Dewa pun seusai mandi dan berganti pakaian langsung kembali keluar kamar. Kedua orang tersebut, sudah sepakat untuk makan malam lesehan di Malioboro.
Jarak hotel yang tidak terlalu jauh dari tujuan mereka tersebut, membuat Dewa dan Deva lebih nyaman untuk berjalan kaki. Jogja sudah banyak berubah dari saat terakhir Deva berkunjung ke sana bersama Amar dan Shinta. Saat itu Deva masih kelas satu SMA. Bukan waktu yang sebentar---sangat cukup untuk sebuah wilayah mengubah wajahnya menjadi lebih baik. Tanpa meninggalkan ciri khas ketradisionalannya, deretan toko oleh-oleh di Malioboro kini lebih tertata rapi.
Entah kebetulan, atau memang dunia tidak selebar celana kolor. Deva dan Dewa, lagi-lagi dipertemukan dengan Dave dan Dira yang juga sedang menikmati makanan lesehan di salah satu stan di sana. Terlanjur terlihat, tentu Deva dan Dewa tidak mungkin mundur untuk berpindah ke tempat lain.
"Gabung, yuk! Biar seru. Dari tadi, kami hanya berbincang dalam hati," sindir Dira sembari melirik Dave yang memilih fokus pada ayam penyet di depannya ketimbang pada Dira.
Dewa dan Deva pun duduk di posisi masing-masing setelah sebelumnya melepas alas kaki mereka. Dewa duduk di samping Dave, dan Deva duduk di sebelah Dira persis. Dave. memaksakan senyumannya. Namun, mata pria tersebut tetap menghindari beradu pandang dengan Deva.
Apa yang dirasakan Dave, jelas lebih dari kata tersiksa. Dia yang meninggalkan dan memutuskan hubungan untuk menikahi perempuan yang tidak dicintainya, lalu kini dia harus meredam hati agar tidak lebih menyakiti Deva karena cintanya yang masih utuh.
__ADS_1
Dewa dan Deva menyebut nama makanan yang sama ketika pelayan menanyai menu pesanan mereka. Hal itu tentu saja membuat Dira semakin menggebu-gebu untuk memanasi hati Dave yang sudah teramat mendidih.
"Jadi kapan nih diresmikan? Jangan lama-lama, Kak. Pacaran lama-lama nggak ada gunanya. Ntar jagain jodoh orang lagi." Nada bicara Dira jelas tertuju pada Deva.
"Lebih baik menjaga jodoh orang ketimbang merebut jodoh orang," timpal Deva dengan santai.
"Kalau belum jadi suami istri, namanya belum jodoh, Dev. Jodoh itu ketemu di penghulu,bukan sekedar ketemu di depan pintu."
Deva hanya tersenyum. Cukup sudah dia meladeni omongan Dira. Apalagi sesaat kemudian makanan yang dipesannya datang, lebih baik segera menyantap makanan tersebut ketimbang berdebat dengan Dira.
"Sampai kapan di sini, Dave?" Dewa sekedar membuka topik pembicaraan dengan Dave. Sembari menunggu jawaban pria di sampingnya, Dewa menyuapkan sesendok nasi dan lauk gudeg ke dalam mulutnya.
"Mungkin besok aku juga sudah pulang. Aku tidak mengambil cuti panjang. Lagi pula, selasa aku ada jadwal operasi. Mau bulan madu di mana saja, juga nggak ngaruh, kan?" Dave memberikan lirikan sinis pada Dira.
"Aku menerima ajakanmu untuk keluar, bukan untuk berdebat, Dir," tukas Dave dengan cepat.
Dari bawah kolong meja, Dewa menendangkan kakinya dengan pelan ke arah Dira. Begitu sepupunya tersebut melihatnya, pria itu pun mengirimkan signal melalui mata dan gerakan kecil pada mulutnya agar Dira diam.
Dave menyudahi makannya yang memang sudah habis. Lalu dia berdiri dan berjalan menuju tempat mencuci tangan yang terbuat dari gentong berbahan tanah liat.
"Kak, setelah ini, jalan-jalan, yuk! Antar aku mencari oleh-oleh untuk mama. Di sekitar sini saja." Dira merengek manja pada Dewa.
"Hmmmm ...." Pria yang diajak Dira bicara itu menjawab dengan malas.
Dave kembali duduk di tempatnya. Pria tersebut memainkan ponselnya untuk mencari kesibukan sekaligus menutupi kecanggungan yang kini dirasakannya dengan kadar di atas kewajaran.
__ADS_1
Beberapa saat berlalu, sesaat setelah makanan Deva dan Dewa habis. Mereka berempat pun beranjak meninggalkan warung lesehan. Mereka berjalan bersama dengan posisi yang tidak beraturan. Entah lupa atau memang sengaja, Dira malah terus menggandeng tangan Dewa. Dia membiarkan Deva dan Dave berjalan di belakangnya.
Perlahan, langkah kaki Deva dan Dave semakin memelan. Merentangkan jarak yang lebih lebar dari Dewa dan Dira. Meski tidak sejajar, tetapi jarak Dave dan Deva tidak sampai satu langkah penuh.
"Kamu terlihat lebih baik, Bee," lirih Dave tanpa menatap Deva.
"Terlihat baik, sebenarnya belum tentu baik. Setidaknya aku sedang ingin mencoba baik. Dunia belum berakhir, padahal aku sudah porak poranda. Tuhan sedang mengajakku untuk lebih kuat, Bang. Mungkin bukan hanya aku, tapi Abang juga." Deva mengigit bibir bawahnya sendiri di ujung kalimat.
Dewa merasa orang yang berjalan di belakangnya adalah orang yang berbeda. Dia pun menoleh ke belakang, benar saja, bukan Dave dan Deva yang berjalan di belakangnya. Pria tersebut malah melihat dua orang yang dimaksud sedang berhenti berjalan, berdiri memaku dengan posisi yang tidak berdekatan.
Dira yang sedang menceritakan sesuatu pada Dewa, sama sekali tidak menyadari kejadian yang dilihat Dewa. Perempuan tersebut terus berjalan mengamit lengan Dewa.
"Kita lihat di sini dulu." Dewa sengaja membelokkan Dira ke salah satu toko. Dia ingin mengikis jarak. Agar Deva dan Dave tidak terlalu sulit mengejar keberadaannya dan juga Dira. Sepupu satu-satunya Dewa itu pun menurut begitu saja.
"Semoga kamu menemukan kebahagiaanmu, Bee. Aku sangat berharap bisa melihatmu selalu tersenyum dan ceria seperti dulu. Meski tanpa aku, dan bukan aku yang menyebabkan senyuman itu," ucap Dave dengan suara yang sangat pelan.
"Doa yang sama untukmu, Bang. Tersenyumlah meski bukan aku yang membuat senyuman itu."
Keduanya kembali melanjutkan langkahnya. Posisi Dave dan deva kini sejajar dengan pandangan yang sama-sama menunduk.
"Hal tersulit dalam hidupku adalah karena aku merasa menjalani semuanya ini sendirian. Aku tidak hanya kehilangan belahan jiwa, tapi aku juga kehilangan teman yang baik. Siapa yang mengerti perasaanku lebih baik selain kamu?" Dave menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Tidak ada yang mengerti dan berusaha memahami aku. Kebahagiaanku, tidak ada yang peduli," tambah Dave.
"Kita masih bisa berteman, Bang. Aku tidak keberatan sama sekali untuk menjadi temanmu." Deva memberanikan menegakkan kepalanya dan menoleh pada Dave.
"Benarkah? Tidak ada pertemanan yang terjalin murni antara perempuan dan laki-laki, Bee. Apalagi kita bukan mantan yang sekedar mantan. Hubungan pertemanan seperti apa yang bisa kita jalani?" Dave pun melakukan hal yang sama seperti yang Deva lakukan. Yakni, menatap lawan bicaranya meski sekilas.
__ADS_1