
Tidak satu pun yang menjawab pertanyaan Deva. Semuanya hanya diam. Pertanyaan yang sebenarnya memiliki jawaban yang sangat panjang. Namun, jelas tidak ingin dijawab karena begitu banyak dampak yang bisa mengubah kehidupan mereka yang sudah dirasa dalam posisi aman dan nyaman.
Menyadari hal tersebut, Deva hanya bisa menarik napas dalam untuk meredam perasaannya yang kini tengah disesaki kalimat tanya.
"A-a-mar ti---," ucap Dermawan yang terbata kembali terjeda karena napasnya begitu tersengal-sengal.
"Kak Deb, Bu Wid, tunggu apa lagi? Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit saja." Deva kembali mengatakan pendapat yang menurutnya memang terbaik.
"Tidak, Dev. Papa yang tidak mau. Papa pantes merasakan sakit. Penderitaaan papa ini, semoga sedikit menjadi pelebur dosa akan kesalahan yang sudah diperbuat," timpal Debora.
"Bagaimana bisa sebuah kesalahan ditebus dengan rasa sakit? Bagaimana bisa, kak? Apakah kesalahan itu bisa diperbaiki dengan menyiksa diri? Tidak akan! Yang ada hanya menambah dosa. Tidak begini caranya." Mendadak Deva merasa sangat emosional. Datang tidak sebagai apa-apa, dalam hitungan waktu sebentar, seolah dia memang terlibat dalam situasi yang teramat membingungkan.
Debora tidak bisa memutuskan sendiri. Dia pun menatap sang mama penuh harap. Pergi ke rumah sakit, memang sudah menjadi keinginannya. Namun, selama ini Dermawan selalu menolak dengan berbagai alasan.
"Pak ... Bapak harus ke rumah sakit. Kalau Bapak menyadari sebuah kesalahan, bukan begini caranya. Kita ke rumah sakit, ya?" bujuk Deva dengan sangat lembut.
Dermawan tidak menjawab. pandangan mata pria tersebut lurus kosong ke depan. Mulutnya menganga karena napasnya yang masih sulit.
"Pa ... Papa denger kan? Itu Deva yang minta Papa ke rumah sakit. Mau ya, Pa?" Debora ikut membujuk sang papa.
Agas dan Rudi saling bertukar pandang, kedua ujung bibir pria tersebut menyunggingkan senyuman sinis. Mereka benar-benar berharap, Dermawan menutup usia sesegera mungkin.
__ADS_1
"Kita bawa papamu ke rumah sakit saja, Deb. Minta bantuan Pak Dasuki sama Pak Dirman. Suruh mereka membawa brankar dorong kemari," putus Widya, akhirnya.
Melihat sikap Agas dan Rudi yang sama sekali tidak merasa bersalah dan bersikap menekan keluarga mereka. Membuat tekad Widya yang tadinya sudah ingin menyerah,menjadi tumbuh semangat lagi. Ditambah lagi dengan ketulusan Deva, sungguh akan semakin dihantui rasa bersalah jika belum apa-apa, Dermawan malah tiada.
Tanpa menunggu lama, Debora pun bergegas keluar kamar. Agas dan Rudi semakin tidak senang. Tapi mereka bisa apa? Dermawan, dengan kondisinya sekarang, jelas tidak berdaya dan sudah tidak takut apa pun lagi. Sedangkan Widya---dari awal perempuan tersebut sudah sangat menentang apa yang dilakukan oleh Dermawan. Widya---meskipun istri yang penurut, tetapi ketika ada celah dan kesempatan, dia sanggup melakukan apa saja.
Sesaat kemudian, dua orang pria bertubuh tegap layaknya perawakan seorang bodyguard masuk ke dalam ruangan dengan mendorong brankar. Deva dan yang lain pun bergeser tempat untuk memberikan ruang pada dua orang tadi untuk memindahkan tubuh Dermawan ke atas brankar.
"Dev ... Dev ...." Dermawan terus memanggil nama Deva. Meskipun dengan suara lirih dan kesadaran yang semakin menurun, sepertinya pria tersebut tidak mau Deva jauh-jauh darinya.
"Dev, ikut kami ke rumah sakit, ya," pinta Widya, penuh harap.
****
Satu per satu orang keluar meninggalkan kamar mengikuti langkah dua orang yang mendorong brankar yang di atasnya tampak Dermawan sudah dalam kondisi yang begitu kritis. Alat bantu pernapasan sudah terpasang di hidungnya. Tidak ada lagi suara napas berat yang tidak terdengar. Namun, mata pria tersebut terpejam sempurna.
Dewa yang sedari tadi hanya bisa diam menunggu, seketika bangkit dari duduknya. Melihat apa yang melintas di depannya, membuat atasan Deva itu pun tergelitik untuk bergabung bersama yang lain---meski tanpa diminta. Tidak ada tanya yang terucap dari bibir pria tersebut. Dewa cukup pintar menempatkan diri dan memahami keadaan yang serius. Tanpa penjelasan dari orang lain, dia tahu benar, pasti semua akan ke rumah sakit.
"Dev, kamu naik mobilku saja, nanti biar pulangnya lebih gampang," bisik Dewa.
Deva hanya menjawab dengan sebuah anggukan. Rudi dengan ekor matanya melirik ke arah Dewa. Tidak habis pikir kenapa kini keponakannya pun berada di antara keluarga Debora. Bukan sesuatu yang baik. Kalau sampai Deswita mendengar semuanya, jelas posisinya di perusahaan akan terancam.
__ADS_1
"Tidak, jangan sampai Dermawan dan keluarganya membuka suara mereka. Amar sudah meninggal. Masalah selesai. Anaknya juga tampak sehat dan tidak kekurangan. Tidak perlu merasa bersalah terlalu berlebihan seperti ini," batin Rudi dengan culasnya.
"Jangan melangkah terlalu jauh, Dev. Papa tidak ingin menyakitimu lagi. Tapi semua sudah terlanjur. Papa hanya ingin melindungi diri. Ada banyak yang Papa pertaruhkan di sini. Satu kehancuran, akan membawa kehancuran yang lain," lirih Agas, juga dalam hatinya saja.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, semua orang dalam mobil masing-masing larut dengan dugaan, harapan dan pikiran yang berbeda-beda.
Di dalam mobil Alphard yang sudah didesign sedemikian rupa menyerupai fungsi ambulance, Debora dan Widya terus memanjat doa agar Tuhan masih memberikan kesempatan hidup dan kesembuhan pada Dermawan. Tangan mereka tidak jauh-jauh dari tubuh Dermawan yang entah sedang tertidur ataukah tidak sadarkan diri di atas brankar. Napas pria tersebut terdengar terlalu pelan. Jeda satu tarikan napas ke tarikan napas berikutnya pun begitu lama.
"Ya Allah, tidak ada satu hal pun yang terjadi di luar izin dan kehendakMu. Sebaik-baiknya seorang hamba adalah yang menyadari kesalahan dan dengan rendah hati mengakui dan mau memperbaiki kesalahannya. Kami mohon, berikanlah kesempatan pada papa untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya di dunia." Debora berdoa dengan khusyuk.
Di mobil yang lain, tepatnya mobil sedan BMW E-Class yang ditumpangi Agas dan Rudi, Kedua orang yang duduk di bangku tengah itu tampak sedang tidak akur dan saling menyalahkan.
"Sudah aku bilang dari awal, hati-hati dengan Dermawan dan istrinya. Sekarang kita sendiri yang pusing, kan?" ketus Rudi.
"Kamu yang membuat semuanya lebih rumit, Rud. Dari dulu, kamu selalu ingin cuci tangan dan menang sendiri. Andai kamu tidak memaksa anakku menikahi putrimu, aku bisa menjaga Deva lebih dekat. Dan anakku juga akan bahagia. Kerumitan ini, selalu berasal dari kamu. Betapa tersiksanya aku ketika harus berpura-pura baik pada Amar, kamu tidak akan memahami. Aku di sini yang paling tersiksa. Terus berhadapan dengan Amar, semakin membuatku diingatkan akan ketamakanmu."
"Ketamakan kita, Gas. Jangan berucap seolah akulah satu-satunya orang yang paling bertanggung jawab. Aku tidak mau tahu, kamu harus membereskan keluarga Dermawan. Buat mereka tutup mulut selamanya," tegas Rudi.
Agas menggelengkan kepalanya begitu kuat. "Kamu gila, Rud. Tidak! Aku tidak mau lagi berbuat macam-macam. Dosaku sudah cukup banyak. Apa pun rencanamu sekarang, jangan libatkan aku."
"Benarkah begitu? Bagaimana kalau aku menyebarkan foto scandalmu selama ini, Gas?" ancam Rudi dengan sinis.
__ADS_1