Sisa Rasa

Sisa Rasa
Presentasi


__ADS_3

Makan siang Dave, selesai terlebih dulu dari Deva. Sebelum meninggalkan tempat, Dave menghampiri perempuan yang seharusnya hanya bisa dianggapnya sebagai mantan itu.


"Aku duluan ya, Bee. Sampai jumpa nanti malam. Jangan menolak." Dave mengucapkannya begitu sudah berada di depan Deva. Mengabaikan ada sosok Dewa yang juga masih berada di sana.


Deva ingin sekali menolak. Tetapi, tentu saja dia tidak ingin berdebat dengan Dave di depan Dewa. Dengan sedikit berat, Deva menganggukkan kepalanya.


Pria berusia dua tahun di bawah Dewa itu tersenyum senang. "Terimakasih, Bee ..." Lalu dia menoleh ke arah Dewa yang seketika memalingkan wajah. "Mari, Pak. Saya permisi. Maaf mengganggu," ucap Dave.


Dewa hanya menjawab dengan menggerakkan kedua alisnya. Dia sedang malas berbasa basi. Apalagi dengan sosok yang ketampanannya tidak jauh berbeda dengannya. Kulit Dave tidak seputih Dewa, namun tergolong bersih dan cerah untuk ukuran seorang pria. Wajah Dave begitu lembut, tidak ada kesan garang seperti wajahnya.


"Lah...ngapain aku jadi ngeliatin dia. Ah...bodoh." Dewa menyadarkan dirinya sendiri. Lalu kembali menyuapkan sesendok terakhir makanan ke dalam mulutnya.


Selepas Dave meninggalkan meja mereka, tidak ada lagi obrolan yang terjadi di antara Dewa dan Deva. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Deva sibuk dengan sesalnya yang menerima tawaran Dave. Sedangkan Dewa sibuk mengusir rasa ingin tahunya yang tidak biasa. Pria itu mulai mengalihkan pikiran dengan membalas beberapa pesan dari teman-teman wanita yang tadi sengaja diabaikan.


Menunggu jadwal meeting selanjutnya yang hanya menyisakan waktu kurang dari 70 menit, Deva dan Dewa memutuskan untuk menghabiskan waktu di kafe shop yang juga berada di area hotel. Sebelumnya, dua orang tersebut sudah menyempatkan diri untuk menjalankan kewajiban menunaikan sholat dhuhur terlebih dahulu.


"Dewa ...." Suara perempuan menyebut namanya dengan semangat, membuat Dewa menoleh ke meja di mana sumber suara itu berasal.


Deva tetap berjalan ketika Dewa menghentikan langkahnya. Mendekati tempat yang tadi sudah ditunjuk oleh atasannya. Deva memesan satu chocolate Macchiato yang baru diketahui Deva sebagai minuman kegemaran Dewa jika datang ke kafe serupa. Untuk dirinya sendiri, Deva memesan sebotol air mineral kecil.

__ADS_1


Dari kejauhan, nampak Dewa sudah asik berbincang dengan perempuan yang menyapanya. Tangan pria itu dengan santai juga sudah melingkar di pundak si perempuan. Sungguh membuat Deva seketika memalingkan muka. Si sombong, Si penakut, dan kini bertambah lagi satu gelar yang akan disematkan Deva untuk Dewa---si tangan liar.


Minuman yang dipesan sudah dingin, Dewa tidak juga menuju meja seharusnya mereka berada. Pria tersebut malah duduk sati sofa merangkul sosok perempuan tadi dengan senyuman yang terus ditebarkan pada dua perempuan lainnya yang ada di sana.


Deva melirik jam di pergelangan tangannya. Kurang lima belas menit lagi, meeting dimulai. Perempuan tersebut melambaikan tangannya pada salah seorang pelayan, meminta tolong agar minuman diantar ke meja di mana Dewa berada. Deva sendiri langsung kembali fokus memeriksa bahan presentasi, dia ingin semua berjalan sempurna sesuai rencana.


Setelah pelayan memberikan kopi pada Dewa, pria itu hanya melongokkan kepala untuk melihat ke sisi Deva yang terlihat tengah sibuk menatap data-data di layar ponselnya.


Sampai waktu meeting tiba, Deva menghampiri Dewa untuk mengingatkan dan mengajak atasan sombongnya menuju ruangan meeting yang berbeda dengan ruangan yang mereka gunakan sebelumnya.


Semua yang berkepentingan sudah memenuhi ruang meeting, mengitari meja lonjong memanjang berkapasitas dua puluhan orang. Di sana, terdapat tiga perwakilan dari perusahaan lain yang juga sudah bersaing dengan Diamond Corp untuk mendapat tender pengadaan alat berat di salah satu perusahaan tambang ternama di Kalimantan.


Presentasi dilakukan dengan menggunakan sistem undi. Empat perusahaan kandidat masing-masing mengambil nomor urut. Deva mewakili Diamond Corp mendapatkan nomor urut terakhir. Sungguh sesuai dengan keinginan Deva.


Dewa melirik Deva yang terlihat tenang-tenang saja. Tanpa bermaksud meremehkan, dia mulai khawatir sudah menyerahkan presentasi kali ini pada perempuan judes itu. Namun memaksakan diri dia yang maju pun tidak mungkin, Dewa sama sekali tidak menguasai materi.


Sampai pada presentator ketiga, Yang mana, pesaing inilah yang menjadi incaran Deva karena mendapatkan data dari Edward. Benar saja, semua yang disajikan, memanglah hasil buatan Dewa. Pria itu ingat betul semua data yang dia berikan pada Deva untuk diolah. Dewa kembali melirik asisten pribadinya, jemari perempuan tersebut nampak sibuk bergerak lincah di atas keyboard laptopnya. Memberikan sorotan di beberapa tempat, lalu melakukan metode tangkap layar. Merasa semua sudah lengkap, dia mengirimkan semua melaui pesan singkat ke seseorang dari perusahaan tambang yang lumayan dia kenal dekat.


Tidak lama dari itu, perempuan separuh baya yang baru selesai membuka pesan dari Deva, menghentikan presentator ketiga yang belum sampai selesai sepenuhnya. Tanda tanya bermunculan, tapi tidak ada satu pun yang memberi jawaban. Perempuan yang merupakan pemegang saham tertinggi itu, hanya mengatakan "Next."

__ADS_1


Dengan penuh percaya diri, Deva menulai presentasinya. Gaya bahasanya yang lugas dan tegas tanpa basa basi, memberi kesan tersendiri pada audience. Tatapan intens yang diberikan pada mereka yang bertanya, menandakan betapa Deva memang memiliki wawasan dan penguasaan yang luar biasa pada materi yang disajikan. Hingga selesai, semua berjalan lebih baik dari yang diharapkan.


Dewa lagi-lagi harus mengakui. Secara profesional, dia memiliki asisten pribadi yang cukup mumpuni. Meski tidak bergaya menggoda dan berpakaian terbuka, Deva bahkan jauh lebih menarik dilihat daripada dua orang sebelumnya.


"Thanks, Dev. Sepertinya, urusan Edward bisa langsung aku ajukan juga ke dewan direksi," ucap Dewa, sesaat setelah mereka memasuki mobil menuju perjalanan kembali ke kantor.


"Semoga, Pak." Jawaban singkat Deva menutup pembicaraan mereka. Berikutnya, hanya suara deru motor dan klakson kendaraan dari luar.


Sesampainya di kantor, keduanya pun langsung meneruskan pekerjaan di ruangan masing-masing. Mereka baru bertemu kembali tepat pukul tujuh malam saat sama-sama masuj ke dalam lift.


"Nih uang ganti rugi mobilmu." Dewa menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah.


Deva menerimanya tanpa sungkan, setelah menghitung, Deva hanya empat lembar saja dari sana. "Hanya ini yang harus Bapak bayar, tidak lebih dan tidak kurang. Terimakasih. Lain kali, kalau mengemudi hati-hati."


"Kenapa kamu menyebalkan sekali? Bukankah kamu butuh kesejahteraan? Anggap saja lebihannya untuk ganti uang bensin pulang pergi ke bengkel," dengus Dewa.


"Tidak perlu. Bapak tidak perlu repot-repot. Saya tidak suka menerima pemberian yang bukan hak saya." Deva menggenggamkan uang ke tangan Dewa dengan paksa.


Begitu pintu lift terbuka, Deva bergegas keluar dari sana. Menghindari obrolan berdua yang pastinya akan berakhir dengan perdebatan penuh cela.

__ADS_1


"Dev...." Suara panggilan itu menghentikan langkah cepat Deva.


"Ya Tuhan ... kenapa susah sekali untuk sekedar menjauh," batinnya.


__ADS_2