Sisa Rasa

Sisa Rasa
Menghangatkan hati dengan kenangan


__ADS_3

Dewa menatap Deva yang mendadak tampak begitu gelisah. Perempuan itu kini tidak hanya memelankan mobilnya, melainkan benar-benar menghentikan lajunya. Padahal, rumah Dewa sudah terlihat jelas. Tidak sampai lima menit---dengan kecepatan normal, mereka akan sampai di tujuan.


"Dev, kenapa sih? Keinget rumahmu? Sekarang sholawatin saja dulu. Suatu saat, kalau jodoh, rumah itu pasti bakal jadi milik kamu," tutur Dewa.


Mengabaikan ucapan Dewa, Deva perlahan melepas seat belt dan turun dari mobilnya. Perempuan tersebut melangkah mendekati mobil yang terparkir di depan rumahnya tadi dengan langkah lebar. Mobil tersebut masih dalam kondisi menyala. Namun, saat Deva melihat sekilas dari arah depan, tidak ada sosok yang ada di pikirannya di dalam sana. Deva pun memberanikan diri untuk memasuki pagar rumahnya yang terbuka separuh.


Dewa mau tidak mau ikut turun menyusul Deva. "Perempuan nggak ada takut-takutnya, berani banget nyamperin rumah kosong." umpatnya dengan lirih.


Langkah kaki Dewa terhenti mendapati Deva juga berdiri bergeming begitu melihat sosok laki-laki dan perempuan keluar dari pintu utama. Salah satu dari mereka sedang mengunci daun pintu tersebut.


Deva memicingkan matanya hingga kedua ujung alisnya menyatu sempurna. Lama tidak ke rumah Dave, tapi dia ingat betul, kedua orang itu adalah asisten rumah tangga di rumah mantan kekasihnya itu.


Begitu kedua orang tersebut berbalik badan dan melihat keberadaan Deva di sana, raut wajah keduanya kompak tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Sepasang suami istri yang bekerja sangat lama dengan Mama Fira tersebut saling beradu pandang.


"Mbak Surti sama Mas Mansyur, kan? Kok bisa di sini? Itu di luar mobil Bang Dave, kan?" cecar Deva.


"Iya, Mbak, ini kami. Rupanya Mbak Deva masih ingat. Saya di suruh sama majikan untuk membersihkan rumah ini. Beliau masih berada di luar negeri, rencana awal bulan depan mau ditempati." Laki-laki yang dikenali Deva bernama Mansyur itu berinisiatif segera menjawab untuk menghindari kecurigaan.


Dari jarak enam langkah, Dewa hanya bisa mengamati. Tentu saja dia tidak ingin ikut campur. Ekor matanya sesekali melirik ke dalam mobil.


"Mama Fira atau Bang Dave" tanya Deva untuk memastikan dugaannya.

__ADS_1


Mansyur dan Surti bersamaan menggelengkan kepalanya. "Bukan, Mbak. Sudah lama kami nggak kerja di sana," ucap Surti, buru-buru menyanggah.


Deva menatap keduanya penuh selidik secara bergantian. Tentu dia tidak bisa percaya begitu saja. Andai mobil yang terparkir di luar bukanlah salah satu mobil Dave, tentu dia akan menerima penjelasan kedua orang di depannya tanpa curiga.


"Itu mobil Dave, kan?" selidik Deva tanpa basa basi.


"Nggak tahu ya, Mbak. Kami ke sini tadi di antar sama majikan. Sekarang kami keluar mau jalan-jalan keluar komplek untuk mencari makanan. Karena kami di suruh menginap di sini." Si Mansyur rupanya memang pandai berkelit.


"Oh, begitu. Ya sudah. Maaf sudah mengganggu kalian." Deva berbalik badan. Melihat Dewa berada di depannya, perempuan itu pun baru sadar kalau dirinya sudah meninggalkan atasannya itu begitu saja. "Maaf, Pak. Saya malah nyelonong kesini. Saya suka lupa kalau nggak pergi sendirian," ucapnya sambil menepuk keningnya sendiri.


"Kebiasaan. Sudah, ayo pulang," dengus Dewa. Ekor matanya tetap berfokus pada mobil tadi. Sekilas, memang kelihatan tidak ada siapa-siapa. Namun, Dewa berani bertaruh kalau di dalamnya terdapat seseorang. Sedikit pergerakan dari sana, tentu memberikan tekanan samar di area ban.


"Kenapa kamu harus bersembunyi seperti itu, Dave? Sepertinya, kita memang harus bicara lebih lama," ucap Dewa dalam hati.


Keduanya pun kembali melanjutkan perjalanan yang sudah di depan mata. Sependek jarak rumah lamanya dengan rumah Dewa, Deva terus berusaha keras menepis dugaan yang terus saja melintasi kepalanya.


Ketika mobil Dewa berlalu menjauh dan tidak tampak lagi di penglihatannya, Dave yang bersembunyi mendekam di sela-sala jok belakang mobilnya, menarik napas lega. Pria tersebut merutuki kebodohannya yang tidak mengganti mobilnya dengan mobil yang lain saja.


"Maafkan aku, Bee ... Aku ingin tinggal di rumah ini sebentar. Aku lelah dengan semua yang terjadi. Di sini, aku merasa begitu dekat denganmu. Di dalam sana, semua masih sama ketika aku masih sering mengunjungimu. Aku di sini sebentar, ada saatnya nanti, aku akan memberikannya padamu," lirih Dave.


Perlahan pria tersebut mendekati rumah yang juga memiliki banyak kenangan dengannya. "Kalian pulang saja. Bawa mobilku, Syur," perintahnya pada Mansyur sambil menerima kunci yang diulurkan oleh Surti.

__ADS_1


Dave lalu masuk ke dalam sana. Menenggelamkan diri ke dalam kenangan yang membawa jiwanya sedikit menghangat. Hampir setiap sudut ruangan, menjadi saksi bagaimana kebersamaannya dulu dengan Deva. Dave tersenyum tipis sembari menggigit bibir bawahnya, teringat ketika Shinta memergoki dia dan Deva berciuman di ruang tengah. Mengira tidak ada orang di rumah, saat itu Shinta tiba-tiba muncul begitu saja.


Kenangan membuat Dave sejenak lupa akan beratnya beban pikiran yang dirasakan. Bahkan getaran bertubi-tubi dari ponsel di celananya pun diabaikan begitu saja. Sudah bisa menebak siapa yang menghubunginya dengan tidak sabar seperti itu, tentu malah membuat Dave malas walau untuk sekedar melihat deretan pesan yang juga dikirim Dira di sana.


****


Rasanya baru sebentar Dira dan Rudi memejamkan matanya di kamar hotel masing-masing. Mereka kini harus terpaksa bangun dan kembali ke rumah sakit karena pihak kepolisian menghubungi jika kondisi Nina sudah siuman.


Dira melihat jam analog yang ditampilkan layar ponselnya, waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Itu artinya, baru dua jam dia tertidur. Semalaman, dia dan sang papa bersama tim pengacara mengadakan meeting singkat sebagai langkah awal untuk membuat Nina terlepas dari jeratan kasus penyalahgunaan dan penggunaan zat psikotropika.


"Kalian boleh menemui Bu Nina, tapi hanya sepuluh menit." Seorang anggota kepolisian yang berjaga di depan ruangan intensif di mana Nina berada.


"Apa? Hanya sepuluh menit? Bapak sedang becanda. Mama bukan terroris yang mengancam keselamatan orang banyak. Dan kami juga mempunyai bukti-bukti kenapa urine mama mengandung zat tersebut. Lagipula, mama sedang sakit dan tidak berdaya. Kenapa perlakuan kepolisian berlebihan seperti ini? Setelah kasus ini selesai, saya pastikan akan menuntut perlakuan kalian ini pada HAM." Dira mengucapkannya dengan emosi yang berapi-api.


Petugas kepolisian hanya membalasnya dengan sebuah senyuman. Sudah biasa bagi mereka menghadapi keluarga terdakwa yang emosi. Namun, hukum dan aturan memang harus tetap berjalan. Apa pun yang sedang terjadi.


"Urus secepat mungkin. Bagaimana pun caranya," bisik Rudi pada pengacara yang juga ikut bersamanya.


Sesaat dari itu, Rudi dan Dira masuk ke dalam ruangan di dalamnya terdapat Nina yang berbaring lemah di atas brankar dengan berbagai peralatan medis terpasang di tubuhnya. Kedua mata perempuan tersebut juga tertutup oleh perban dengan sempurna.


"Ma ...," lirih Dira sambil menyentuh lengan Nina dengan hati-hati.

__ADS_1


__ADS_2