
Begitu melihat tubuh Deva tergeletak di lantai dengan kondisi ponsel masih menyala, Dira segera mempercepat langkahnya. Mengabaikan suara dari ponsel yang sepertinya sedang berteriak cemas, Dira dengan cekatan memeriksa denyut nadi dan kondisi keseluruhan dari Deva.
Karena Dira tidak mempunyai tenaga yang cukup untuk memindahkan tubuh Deva ke atas ranjang, Dira pun memutuskan untuk menghubungi Dewa. Dalam kondisi seperti sekarang, logika Dira masih berjalan. Dia tidak ingin jika Dave semakin menaruh perhatian pada Deva.
Sembari menunggu Dewa datang, Dira terus berusaha menggosok-gosok tangan dan kaki Deva secara bergantian. Badan perempuan yang menjadi rivalnya itu begitu dingin. Kulit Deva yang putih semakin memucat. Seperti tidak ada darah yang mengalir di sana.
Tidak lama kemudian, Dewa datang dalam kondisi rambut yang benar-benar masih basah. Dia baru saja menyelesaikan mandi panjangnya. Tanpa menunggu lama, Dewa mengangkat tubuh Deva dan membaringkannya di atas ranjang.
"Kamu apakan Deva? Kenapa dia sampai pingsan begini?" Dewa menatap Dira dengan tatapan menyelidik.
"Aku tidak melakukan apa-apa, Kak. Deva pingsan setelah menerima sambungan telepon," sangkal Dira. Tangannya kembali aktif menggosok telapak kaki Deva.
"Dev... bangun, Dev. Kamu kenapa?" Dewa duduk di tepian ranjang, menepuk-nepuk pipi Deva dengan pelan. Raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang nyata. Terlintas dipikiran Dewa, untuk memberikan napas buatan seperti yang dilihatnya dibeberapa film.
"Terus ajak bicara, Kak. Sepertinya hanya shock, tidak perlu diberi napas buatan," ucap Dira , seakan bisa membaca pikiran Dewa.
Hampir lima menit tidak ada kemajuan, Dira mengambil ponsel di tas selempang yang dikenakannya. Melihat Deva tidak kunjung sadarkan diri, dia pun tidak tega juga. Terpaksalah Dira menghubungi Dave.
Jemari Deva terlihat bergerak, bola matanya pun perlahan terbuka. Dia menoleh pada sosok Dewa yang tanpa sadar masih menempelkan jemari di pipinya. Kemudian Deva mengedarkan pandang pada sekeliling. Mendapati Dira yang mondar mandir cemas di depan pintu yang terbuka.
Dewa buru-buru menarik tangannya begitu tahu Deva tersadar. Dia berharap asisten pribadinya itu tidak berpikir yang tidak-tidak. Apa yang dia lakukan barusan, murni untuk membuat Deva tersadar. Bukannya ingin memberikan belaian lembut dalam artian yang lain.
Di luar prediksi Dewa, Deva tidak mengumpat atau mengeluarkan kata-kata pedas seperti biasa. Pandangan mata perempuan tersebut semakin lama malah semakin kosong. Menerawang jauh seperti seseorang yang tenggelam dalam lamunan.
"Bee...." Dave yang baru datang langsung menerobos masuk. Mengabaikan Dira yang berada di samping pintu untuk menunggunya. Panggilan yang terlontar dari mulutnya pun kembali ke awal, seolah mereka masih menjalin kasih.
"Minggir!" Dave menarik tangan Dewa agar menjauh dari tubuh Deva.
"Bee... kamu kenapa? Apa yang dilakukan Dira? Bee.... " Dave melambaikan tangannya, tepat di depan wajah Deva. Tidak ada reaksi yang diberikan oleh perempuan kesayangannya itu. Bahkan sekedar berkedip pun tidak.
__ADS_1
"Apa yang terjadi, Dira?" Dave menoleh tajam pada sosok Dira.
"Sungguh aku tidak berbuat apa-apa Dave. Kami berbicara di balkon, lalu ponsel Deva berdering. Dia masuk untuk menerima, tidak lama, aku mendengar dia berteriak. Saat aku masuk, Deva sudah tidak sadarkan diri," jelas Dira dengan gamblang.
Dave melihat ponsel yang masih tergeletak di lantai. Lalu dia mengambil benda tersebut dan melihat panggilan terakhir yang masuk ke sana. Tahu betul siapa yang menghubungi sang mantan yang masih terkasih, Dave mencoba menghubungi kembali nomor tersebut.
Dewa menghampiri Dira. Merangkul pundak adik sepupunya yang tampak sedang menyembunyikan kesedihan. Dia tahu pasti, Dira sama sekali tidak nyaman dengan kondisi yang terjadi saat ini.
Setelah beberapa saat berbicara melalui sambungan ponsel. Tarikan napas Dave terlihat begitu berat. Matanya berkaca-kaca. Langkahnya gontai mendekati Deva yang masih saja diam seperti manekin.
"Bee... ayo bangun, kita pulang ke Jakarta." Dave mencoba membantu Deva untuk sekedar duduk.
Raga perempuan di depannya seperti tidak bertulang. Terkulai lemah tidak berdaya. Hati Dave benar-benar merasa tersayat-sayat. Sekuat tenaga Dave menahan bulir bening yang sudah berdesakan ingin membasahi pipi.
"Kami masih ada pekerjaan di sini, jangan seenaknya mengajak Deva pulang!" Ingat Dewa. Seperti biasa, apa pun yang berhubungan dengan Deva, selalu sukses membuat emosinya tersulut.
"Papanya Deva meninggal." Jawaban singkat dan dengan suara bergetar diberikan oleh Dave.
"Dev... Kita pulang sama-sama ke Jakarta, yuk! Aku dan Dave akan temani," lirih Dira sembari mengusap lembut punggung tangan Deva.
"Kalau kamu tidak keberatan, tolong bereskan barang-barang Deva," pinta Dave, suaranya benar-benar bergetar.
Deva tetap saja tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Sesungguhnya dia mendengar semua yang diucapkan oleh tiga orang yang ada di sana. Tapi jiwa dan raga Deva, seolah sudah tidak berada dalam kendalinya.
"Bee... menangis jika kamu ingin menangis. Jangan tahan dukamu. Teriaklah! Lepas bebanmu sedikit. Marahlah pada siapa pun yang membuat takdirmu seberat ini. Tapi tolong jangan diam terus seperti ini." Dave memeluk Deva dengan erat. Berkali-kali dia mendaratkan kecupan di kening perempuan tersebut. Deva masih saja bergeming. Tapi di sudut matanya mulai meneteskan bulir bening.
Dewa tidak buta untuk melihat betapa dalam kesedihan yang ditanggung oleh Deva. "Aku akan carikan pesawat dengan keberangkatan paling awal hari ini. Maaf aku tidak bisa bersama kalian, acara perusahaan nanti malam, tidak bisa aku tinggalkan begitu saja."
Dewa menghubungi seseorang entah siapa. Sementara Dira sudah selesai menyiapkan semua barang Deva.
__ADS_1
"Jika kamu ikut pulang, kembalilah ke hotel. Bereskan juga barangmu, kita bertemu di bandara," Dave menujukan ucapannya pada Dira.
"Kamu?" tanya Dira dengan hati-hati.
"Aku tidak akan meninggalkan Deva sendirian. Aku sudah merasakan kehilangan yang lebih berat, kehilangan beberapa baju tidak sedikit pun membuatku menyesal."
Ucapan Dave terdengar seperti sebuah alarm pengingat. Betapa pentingnya Deva dalam hidup pria tersebut. Dira hanya bisa mengangguk pasrah dan bergegas meninggalkan kamar Deva dengan perasaan tak menentu.
"Jadwal penerbangan tercepat, masih tiga jam lagi." Dewa memberikan informasi.
"Thanks." Dave menjawab singkat.
Deva nampak semakin linglung. Sesekali salah satu ujung bibirnya seperti tertarik. Entah senyuman tipis atau kesinisan yang sebenarnya ingin diungkapkan. Buliran-buliran bening dari sudut mata Deva, mengalir tanpa suara.
"Bee... tolong jangan diam seperti ini terus, lepaskan kesedihan, kekecewaan dan kemarahanmu. Lepaskan semua, Bee. Bagi bebanmu padaku. Please.... " Suara Dave terdengar sangat putus asa. Deva masih saja terdiam.
"Biarkan dia berbaring. Mungkin Deva butuh waktu sendiri," ucap Dewa.
Dave menuruti kata-kata Dewa. Pria itu kembali membaringkan tubuh Deva. Permpuan terlihat benar-benar pasrah.
"Aku mau tidur sebentar. Aku mau menukar mimpiku pada Tuhan. Papa sudah sembuh, papa bilang, kalau aku pulang, papa nggak akan merasakan sakit lagi." Deva memejamkan matanya. Seketika membuat bulir bening yang tertahan di sana luruh tak terkendali.
"Ini hanya mimpi... tidur Deva... tidur... jangan buka matamu... tidur, sampai mimpi ini berlalu," lirih Deva sembari terus memejamkan matanya.
Dave benar-benar tidak kuasa untuk berlama-lama menahan sesak di dadanya. Pria itu berjalan cepat ke arah balkon. Lalu berteriak dengan lantang. "Cukup, Tuhan! Ambil kebahagiaanku, jangan siksa Deva dengan takdirmu yang kejam."
Dewa memejamkan matanya sekilas. Merasakan tarikan dan embusan napasnya sendiri. Kesedihan yang ditularkan oleh Deva dan Dave terlalu dalam. Bahkan dia yang sama sekali tidak tahu kisah keseluruhan hidup seorang Deva, kini mulai meyakini, kehidupan Deva tidak mungkin sesederhana yang terlihat.
"Ajak Deva, Pa... Ma..., "
__ADS_1
Suara lirih Deva terdengar jelas di telinga Dewa. Hatinya yang biasanya angkuh, serasa ikut tersentuh mendengar suara lemah itu.
"Kamu pasti bisa melewati semua ini, Dev. Apapun beban hidupmu, aku yakin, kamu kuat. Lawan sedihmu seperti caramu melawanku."