Sisa Rasa

Sisa Rasa
Menjelang resepsi


__ADS_3

Dave keluar meninggalkan kamar di mana Dira masih tertegun atas ucapan Dave. Perempuan tersebut membelai pipinya sendiri dengan lembut. Perlahan, Dira melangkahkan kaki mendekati cermin.


"Aku sudah cantik, Dave. Dan aku sangat baik. Kenapa kamu melupakan aku? Apa sekarang aku terlalu cantik? Aku tidak akan menyerah, Dave. Tidak akan, kalau perlu, aku akan mendekati Deva untuk menirukan semua kebiasaannya. Aku tidak peduli harus menjadi siapa lagi untuk mendapatkan cinta dan perhatianmu. Aku tidak peduli," lirih Dira pada pantulan dirinya di depan cermin.


Meninggalkan perempuan yang baru beberapa jam menjadi istrinya, Dave memutuskan untuk kembali ke kamarnya sendiri. Menyegarkan badan dan pikiran dengan berendam di bath up sebentar. Setelah merasa sudah lebih fresh, Dave langsung menyelesaikan mandinya dan mengenakan kaos dan celana santai. Dave tidak melepaskan pandangannya dari layar ponsel yang ada di genggamannya. Pesan singkat yang dia kirim pada Deva, masih centang abu-abu satu. Pertanda, ponsel perempuan yang dicintainya itu memang sedang tidak aktif.


Acara di tempat akad pun telah usai. Beberapa orang kembali ke kamar masing-masing, dan beberapa yang lain, memilih untuk berjalan-jalan menikmati keindahan Pulau Dewata yang sangat eksotis.


Saat melewati kamar pengantin Dave dan Dira, Fira,Agas, Nina, juga Rudi, mengira kedua anak mereka sedang berada di dalam sana. Tanpa perasaan, para orang tua tersebut, kecuali Fira, malah asik berceloteh tentang keinginan mereka mendapatkan cucu.


Fira hanya menarik senyuman miris. Awal dari semua rencana ini, dia berdiri di dua sisi yang sama beratnya. Namun sayang, semakin lama, Fira malah semakin memprioritaskan apa yang menjadi pemikiran Agas. Mengabaikan peeasaan Dave, yang memang dikorbankan secara sadar.


"Sebelum kamu berangkat berobat ke Singapura, sebaiknya kita segera menjenguk Dermawan dulu. Kita harus memastikan kalau dia bisa mengatasi anak dan istrinya yang mulai berani ikut campur itu." Rudi terlihat serius saat mengatakannya.


"Akan aku atur." Agas menjawab singkat. Raut wajahnya seketika berubah saat Rudi membicarakan sosok pria yang disebut namanya tadi. Bertahun-tahun lari dari kesalahan, dan menutupinya dengan berbagai cara. Nyatanya tetap ada saatnya di mana dia harus dirumitkan dengan sang penulis skenario utama. Mengira semua sudah aman, pertemuan kembali dengan Rudi ternyata malah mempersulit hidupnya.

__ADS_1


Sementara kedua pasang orang tua mempelai akhirnya memutus pembicaraan dan masuk ke kamar mereka, di sisi lain, kamar Dave yang berada di lantai yang sama dengan kamar Deva, memutuskan untuk mencari udara segar di luar. Dave berani melakukannya begitu melihat dan memastikan dari balkon kamarnya, bahwa acara jamuan pagi setelah akad nikah telah usai dilangsungkan.


Saat Dave membuka pintu kamarnya, bersamaan dengan itu, dia melihat Deva dan Dewa berjalan berdua dengan kondisi pakaian yang sama-sama basah, tangan mereka kompak memegangi alas kaki masing-masing. Meski tidak sedang dalam posisi bercanda, bahkan Dewa dan Deva seperti sedang menjaga jarak, Dave tetap saja dilanda rasa cemburu. Meski rasa itu masih bisa dia kendalikan. Jelas hal itu membuatnya terusik.


Melihat keberadaan Dave tepat di depan pintu, Deva memperlambat langkah kakinya, begitu pun dengan Dewa. Pria tersebut tentunya menunggu apa reaksi Dave melihat perempuan terkasihnya basah-basah bersama pria lain.


"Bee ...." Dave menekan suaranya agar tidak kentara cemburu yang dulu jarang dia rasakan karena sikap dan perilaku Deva yang memang sangat wajar saat menghadapi laki-laki lain.


Deva menghentikan langkahnya tepat pada jarak satu meteran dengan Dave. "Tolong jangan panggil aku begitu, Bang. Sekarang, Abang sudah menjadi suami Dira. Tidak pantas jika Abang masih menyematkan panggilan itu padaku."


Dewa berjalan mendekati kedua orang yang pastinya masih panas-panasnya di landa patah hati. "Aku mau masuk, kalau kalian berbicara di depan pintu seperti ini, jika ada yang melihat, penilaian buruk jelas akan jatuh pada Deva. Aku sama sekali tidak ingin mencampuri urusan kalian. Bagaimana pun, Dira sepupuku. Salah atau benar, jelas aku masih menaruh harapan kalian tidak merusak hari ini dengan hal-hal yang bisa menimbulkan fitnah baru. Cukup kamu salah menyebut nama saat akad tadi, Dav. jangan sampai kamu salah menggandeng perempuan ke kamar pengantinmu."


Kali ini, Deva membenarkan apa yang diucapkan oleh Dewa. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun,Deva bergegas mengayunkan kaki menuju kamarnya. Sedangkan Dewa, dengan tangan kanannya menahan dada Dave yang ingin melangkah menyusul Deva.


"Jaga perasaan dan sikapmu, Dave. Kendalikan dirimu. Pikirkan baik-baik. Semakin kamu mengejar Deva, kamu akan semakin dalam melukai hatinya. Beri dia ruang untuk sendiri dulu. Aku mengatakan ini bukan berarti aku menyimpan rasa pada Deva, tidak sama sekali. Hubungan kami, hanya sedekat atasan dan bawahan," tegas Dewa.

__ADS_1


Dave mencerna kata-jata pria yang kini sudah menjauh darinya itu dengan kepala dingin. Dia pun kembali ke kamarnya. Apa yang diucapkan Dewa benar. Hari ini tentunya sudah cukup berat bagi Deva, tidak seharusnya Dave semakin menambah beban itu dengan menunjukkan kegalauannya.


Di kamar yang hanya berjarak dua pintu dari kamar Dave, Deva yang baru menyudahi mandinya, memilih unttuk berusaha memejamkan matanya. Tidak lupa dia memasang alarm agar bisa terbangun saat dhuhur nanti.


Tidur memang jeda terbaik dari segala lelah dan lara. Saat mata terpejam pulas, pikiran yang tadinya terus berkelana---diistirahatkan sejenak dari semua urusan dunia. Tidak ada seorang pun yang bisa mengatur mimpi. Kendali sepenuhnya berada di tangan Sang Pencipta Semesta.


Waktu pun berlalu begitu cepat. Seolah mata baru saja dipejamkan, alarm kedua sudah kembali berbunyi nyaring. Ya, setelah terbangun sebentar untuk menjalankan ibadah empat rakaat di waktu dhuhur, Deva kembali memutuskan untuk tidur dan menyetel alarm kedua tepat saat Ashar.


Belum sampai Deva ke kamar mandi untuk mandi dan sholat, pintu kamarnya sudah terdengar diketuk dari luar. Sayup suara perempuan yang tidak dikenalinya terdengar memanggil. Dengan santai, Deva pun membuka pintu kamarnya tersebut.


Sudah diduga oleh Deva sebelumnya. Kalau yang datang pastilah make up artis (MUA) yang disiapkan oleh wedding orginizer. Sebagai pendamping tunggal mempelai wanita, tentu Deva pun harus dirias dengan cantik. Dapat dipastikan, tamu yang akan datang pada resepsi malam ini akan lebih banyak sepuluh kali lipat dari pada tamu akad tadi. Dan tentunya berasal dari beragam profesi dan kalangan.


"Silahkan masuk, Kak. saya mandi dan sholat sebentar." Deva mengatakannya dengan sangat lembut dan sopan. Perempuan itu pun hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan dan senyuman.


Di saat yang sama, Dira juga sudah bersiap kembali untuk di make up. "Beb, tolong buat riasanku benar-benar sempurna. Aku ingin menjadi wanita tercantik malam ini. Jangan sampai ada yang lebih menarik dariku. Perhatian semua orang, harus tertuju padaku. Kamu sudah bilang sama temanmu, kan? Aku tidak mau dia terlihat cantik. Buat dia seperti seorang waria. Biar orang-orang tahu, terutama Dave, siapa berlian sesungguhnya." Dira menarik garis senyuman sinis.

__ADS_1


__ADS_2