
Setelah Dave mendatangi rumah Deva selama dua hari berturut-turut, hubungan keduanya perlahan kembali mencair. Meski tidak seperti sebelumnya, setidaknya Deva sudah tidak ketus dan menghindar lagi dari Dave.
Seperti pagi ini, Dave nampak sudah duduk tenang di ruang tamu rumah Deva. Dia sudah bersiap untuk mengantar mantan kekasihnya tersebut ke bengkel. Mengetahui bumper belakang mobil Deva mengalami kerusakan karena accident, Dave memaksa perempuan yang masih dipanggil dengan sebutan 'Bee' itu, membawa dan menyerahkan mobil ke bengkel untuk diproses klaim asuransi.
"Sudah siap?" Tanya Dave, suara dan tatapan pria itu sama sama lembutnya.
"Sudah." Deva menjawab singkat.
Keduanya langsung menaiki mobil masing-masing dan berkendara secara beriringan menyusuri jalanan menuju bengkel yang dimaksud.
Sesampainya di sana, Deva langsung menandatangani dan memberikan data mobil serta beberapa data pribadinya. Tidak lama, dia pun meneruskan perjalanan menuju kantor dengan menumpang di mobil Dave.
"Kita sama-sama belum sarapan, Bee. Mau beli bubur yang di sebelah kantormu nggak?" Dave menoleh sekilas pada Deva.
"Nggak, Bang. Hari ini, hari pertama CEO baru masuk kerja. Aku takut terlambat. Mending aku siapin segala sesuatunya biar perfect." Deva menatap jalanan yang tidak terlalu padat, pandangan menerawang seperti orang yang sedang melamun.
"Oh ... Ya sudah. Kamu makan roti saja, jangan sampai telat makan. Tadi mama sempet bawain aku." Dave memelankan laju mobilnya, tangan kirinya meraba-raba ke belakang.
"Nggak usah, Bang. Aku bisa beli di kantin. Makasih," tolak Deva.
Dave hanya tersenyum tipis dan mengangguk pasrah. Dia tidak berniat untuk memaksa Deva agar mau menerima tawarannya. Bisa kembali sedekat ini saja sudah bersyukur, rasanya tidak pantas jika Dave meminta Deva memperlakukannya sama seperti dulu.
"Bee, Mama memintaku untuk lebih sering bertemu dengan Dira." Dave mengucapkannya dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
Deva mencoba tersenyum, meski begitu dipaksakan. "Sudah seharusnya. Dia tunanganmu, Bang. Selangkah lagi, sudah bisa dikatakan suami istri."
Dave menelan ludahnya dengan kasar. Fokus matanya masih pada jalanan di depan. Tidak lebih dari dua kilo meter lagi, keduanya akan sampai di kantor Deva. Sedikit licik, Dave mengurangi kecepatan mobilnya.
"Aku berharap aku mengalami accident besar dan hilang ingatan, Bee. Biar semua tentangmu bisa aku lupakan. Bagaimana bisa aku memulai hubunganku dan Dira dengan benar? Kalau hatiku masih utuh buat kamu," keluh Dave.
Deva tersenyum sinis. "Terlalu cepat kamu mengatakan itu, Bang. Masih hitungan hari. Jalan masih sangat panjang. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depan. Seiring berjalannya waktu, kamu akan mengenal Dira lebih dalam. Banyak hal yang awalnya terpaksa dan membuat kita tersiksa, nyatanya bisa berakhir dengan suka. Cinta karena biasa itu nyata, bukan sekedar kata."
Dave terdiam. Mobil sudah memasuki gerbang utama kantor di mana Deva mencari nafkah. Tidak ada lagi kata yang terucap dari bibir keduanya. Maksud hati ingin berbagi keresahan, nyatanya, pembicaraan yang dibuka oleh Dave sangat menyakitkan bagi Deva.
Begitu mobil yang ditumpangi Dave dan Deva berhenti tepat di depan pelataran pintu lobby, Deva bergegas membuka pintu mobil tersebut.
"Terimakasih, Bang," ucap Deva, tanpa melihat lagi wajah sang mantan kekasih.
***
Jam dinding digital di dinding resepsionis masih menunjukkan pukul 07.25. Namun lantai 36 sudah terlihat ramai. Hampir seluruh sekretaris direktur sudah datang, begitu juga dengan direkturnya sendiri. Mulai dari Direktur Keuangan, Direktur Pemasaran, dan Direktur Teknik. Semua sudah ada di ruangan masing-masing. Entah apa yang dikerjakan.
"Hah! Nggak salah, Pak Tino juga sudah datang?" Deva bertanya-tanya dalam hati. Dia hapal betul, atasannya itu biasa datang seputaran pukul delapan. Namun tidak pernah seawal ini. Akhirnya, Deva pun memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan CEO-nya tersebut.
"Selamat pagi, Pak. Pagi bener. Saya jadi kalah pagi nih," sapa Deva.
"Pagi, Dev. Kamu nggak kalah pagi. Akunya aja yang kepagian datengnya. Aku mau ambil barang-barang pribadiku. Biar nanti, CEO baru langsung bisa menempati ruangan ini." Tangan Tino sibuk memasukkan beberapa benda ke dalam box.
__ADS_1
Deva memanggut-manggutkan kepalanya tanda mengerti. Matanya tidak lagi melihat berbagai pernik tim sepakbola Arsenal yang menjadi favorit Tino. Dari tempat bolpoin, gelas minum, mouse, jam meja, dan patung miniatur mantan pemain Arsenal yang sangat legendaris---Thierry Henry, sudah tidak ada lagi di atas meja.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Tanya Deva. Bukan sekedar basa-basi.
"Tidak ada, Dev. Oh, ya. Aku kan sudah janji bakalan kasih reward khusus buat kamu. Aku akan meggunakan sedikit wewenangku untuk membuat hari-harimu lebih mudah. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Bagiku, kamu bukan sekedar asistenku. Kamu sudah seperti adik bagiku. Jangan hapus nomer henponku, apalagi sampai memblokirku. Kita akan bertukar kabar untuk menjaga silaturahmi."
"Tentu saja tidak mungkin, Pak. Bapak yang membuat saya lebih pintar dari sebelumnya. Bagaimana saya bisa sejahat itu. Tapi---" Deva tidak melanjutkan kalimatnya. Gadis itu mendadak seperti orang yang sedang tidak enak hati.
"Tapi apa, Dev?"
"Ehm ... saya belum meyiapkan cinderamata apa pun untuk Bapak,"
"Masih bisa kebeli kok, kamu bisa pergi ke mall sebelah saat makan siang. Nanti malam, kita ada farewell party (pesta perpisahan). Tapi sepertinya tidak hanya farewell, tapi sekaligus menyambut CEO baru. Bisa dibilang, acara pisah sambut---ada yang meninggalkan, pastilah ada yang datang. Begitulah kehidupan."
Deva tersenyum simpul. Kata-kata Tino di ujung kalimat, seolah ingin memberikan pesan tersirat padanya. Tidak ada yang salah. Seperti halnya dengan kelahiran dan kematian, keduanya akan dirasakan oleh setiap raga yang bernyawa. Manusia terlahir---melewati waktunya, lalu berakhir pada kematian. Begitu pun dengan perpisahan. Tidak akan pernah ada kata berpisah, kalau sebelumnya tidak ada pertemuan.
"Kalau begitu, saya kembali ke ruangan saya dulu, Pak. Saya akan pikirkan, kenang-kenangan apa yang cocok untuk Pak Tino," pamit Deva. Gadis itu berbalik badan dengan santai, lalu melenggangkan kaki menghampiri pintu ruangan.
Saat Deva hendak menarik gagang pintu, bersamaan ada seseorang yang mendorong pintu tersebut dari luar. Untung saja Deva menyadari hal itu. Dengan sigap, dia melangkah mundur dua langkah. Kalau tidak, tentu keningnyalah yang akan menjadi korban.
Pintu terbuka lebar. Deva tidak bisa menutupi keterkejutannya begitu melihat sosok yang berjalan di belakang Sashi---sekretaris Tino.
"Tidak mungkin! Semoga bukan dia. Kenapa sempit sekali dunia ini? Benar-benar tidak selebar celana kolor," lirih Deva.
__ADS_1