
Dewa yang menyadari tindakan Deva begitu menantang maut, seketika berlari ke arah perempuan tersebut. Dalam hitungan detik, dia menarik tangan Deva ke belakang. Saking bertenaganya, hingga membuat tubuhnya sendiri terhuyung jatuh terhempas menyentuh pasir. Begitu pun dengan Deva. Bedanya, tubuh ramping perempuan itu menimpa tubuh Dewa untuk kedua kalinya tanpa sengaja. Dan sesaat kemudian, guyuran hempasan ombak pun membasahi tubuh keduanya.
Bukannya marah, Dewa malah tidak bisa menahan gelak tawanya. Bagaimana tidak? Wajah Deva yang tadinya begitu cantik, kini tampak tidak karuan karena buliran pasir yang menempel di pipinya.
"Kenapa ketawa?" ketus Deva tidak beranjak sedikit pun pada posisinya.
"Kamu seperti monster pasir." Dewa benar-benar tertawa lepas. Dia terlihat tidak ada beban. Seolah tidak merasakan beban berat karena dia sedang ditimpa manusia seberat lima puluh dua kilogram.
"Ah...ya, saya memang monster pasir. Dan saya tidak akan menjadi monster sendiri." Deva meraba-raba pasir basah yang masih dalam jangkauannya. Lalu dengan santai, dia menempelkannya pada pipi Dewa.
"Awas kamu, Dev." Dewa berniat membalas. Namun, Deva segera beringsut berdiri dan berlari. Dewa mengejar sembari menggenggam pasir basah.
Setelan Tuxedo yang dikenakan Dewa dan dres panjang berwarna putih yang melekat pada Deva sudah basah dan ternoda. Keduanya tidak peduli. Seperti anak kecil yang lama dipingit, lalu dilepas ke area permainan. Deva dan Dewa begitu menikmati apa yang mereka lakukan. Sama-sama memendam tumpukan luka dengan versi berbeda. Dewa dan Deva menemukan pelampiasannya sesaat.
Tawa mereka terlalu berlebihan kali ini. Meluap-luap, hingga sedih itu kembali menyapa begitu kaki mereka lelah berkejaran. Keduanya pun duduk di atas pasir---agak menjauh dari bibir pantai yang sedang pasang-pasangnya ombak.
"Kamu ingin berteriak? Teriaklah. Aku akan melakukan hal yang sama." Sesaat setelah mengucapkan kalimat tersebut pada Deva, Dewa pun berteriak dengan sangat kencang.
"Kalian, manusia-manusia brenggsek! Kalian mempermainkan pernikahan begitu mudahnya.Damar... Dirga... Sapto... kalian sama brengsekknya. Kalian setann!" Dewa menyebut nama ketiga pria yang pernah menjadi suami dari mamanya.
Pernikahan Dira dan Dave, semakin mengingatkan dewa jika ikatan pernikahan hanyalah sebuah legalitas untuk menyakiti pasangan secara halus atau pun kasar. Dibuai di awal, lalu dihempas seenaknya setelah ikatan itu tidak lagi menguntungkan. Sebuah kompromi bukan atas dasar mempertahankan kebersamaan. Melainkan dijalani hanya karena sebuah kepentingan.
__ADS_1
"Tidak hanya patah hati yang membuat luka, Dev. Banyak hal yang bisa dijadikan alasan untuk kita memendam sakit begitu lama." Dewa melepaskan pandang pada lautan lepas dengan tatapan menerawang dan mata berembun.
Deva menatap lekat sosok atasannya tersebut. Dari awal mengenal Dewa, yang dominan terlintas dibenaknya akan pria tersebut adalah keangkuhan, si penggoda dan sang pecinta wanita. Walau akhir-akhir ini dia merasakan betapa besar kasih sayang Dewa pada Deswita. Namun, ketiga hal negatif tadi tentu lebih diingat ketimbang yang baik-baiknya.
Melihat kerapuhan Dewa, niat Deva yang tadinya dia lah yang ingin berteriak, menjadi urung. Dia memilih untuk menjadi pendengar yang baik. Cara terbaik mengobati luka hatinya, mungkin memanglah dengan mengetahui luka orang lain. Setidaknya, Deva disadarkan---bukan hanya dirinyalah yang memiliki nelangsa.
"Aku tidak tahu, dan aku tidak sedang ingin membandingkan keberuntungan kita, Dev. Tuhan sudah menakar cobaan untuk kita masing-masing sesuai keluasan hati kita. Jauh sebelum semua masalah menimpa keluargamu, setidaknya kamu pernah merasakan keluarga yang utuh. Pernah merasakan kasih sayang papa dan mamamu. Saat rindu, kamu tahu persis harus kemana. Dan ak---,"
Dewa tidak melanjutkan kata-katanya. Dia takut ucapannya seolah membanding-bandingkan luka. Ada satu sisi yang membuatnya merasa jauh lebih beruntung. Banyak hal yang bisa dia syukuri ketimbang Deva.
"Jika saya menilai kehidupan kita dari posisi saya, jelas saya akan mengatakan Pak Dewa jauh lebih beruntung. Dari berbagai cobaan yang dihadapi, Tuhan masih menempatkan seorang Ibu di samping Bapak. Bagaimana dengan saya? Benar-benar sendiri," sahut Deva dengan lirih.
Deva menelan ludahnya dengan susah payah. Tidak bisa membayangkan bagaimana berada di posisi Deswita saat itu, pasti rasanya tidak sekedar remuk.
"Setiap jalan takdir yang kita hindari, mengantar kita pada jalan takdir itu sendiri."
Deva terdiam, merenungi kata-kata Dewa yang bermakna begitu dalam. Ya, seperti sebuah kematian dan perpisahan. Kita tahu cara menghindari dari sisi yang kita lihat. Namun, semua yang sudah menjadi takdir kita, mempunyai jalan sendiri untuk membuatnya tetap terjadi.
Sementara Dewa dan Deva masih bergelut dengan trauma dan kesedihan masing-masing. Berbeda halnya dengan Dave dan Dira. Bagaikan cacing kepanasan di atas trotoar, Dira semakin membulatkan tekadnya untuk meluluh lantahkan iman Dave.
"Jika tidak cinta, setidaknya aku bisa mengikatmu dengan cara yang lain. Untuk melakukan hubungan intim, seseorang sama sekali tidak membutuhkan perasaan cinta. Cukup napsu yang mengebu, persetan dengan perasaan. Kamu masih manusia Dave, bukan malaikat yang bisa tahan melihat bidadari telanjang," batin Dira.
__ADS_1
Perempuan tersebut sempat menjeda lama aksi membuka kemejanya. Dikarenakan Dave malah meninggalkannya ke balkon dan berbicara serius dengan seseorang melalui sambungan telepon. Melihat Dave sudah selesai menghubungi seseorang. Dira pun melanjutkan membuka kebayanya dengan susah payah. Karena tadi saat memakainya dibantu oleh wardrobe, kini dia menjadi kesulitan membuka kancingnya sendiri.
Setelah berhasil, kini dibadannya hanya melekat kemben tanpa tali yang menutupi buah dadanya hingga ke pinggul. Dave yang masuk kembali ke kamar mengernyitkan keningnya.
"Kamu kepanasan? Perasaan di sini ac-nya dingin sekali. Buka saja sekalian, jangan malu-malu." Dave mendudukkan diri di sofa sembari terus melihat layar ponselnya.
Seperti mendapatkan angin segar, Dira tanpa basa basi melepas jarik yang melilit bagian pinggulnya ke bawah. Saat kain bercorak liris itu luruh, masih ada leging hitam yang melekat di sana.
"Dave, sebelum acara resepsi nanti malam. Apa kamu nggak pengen menyentuhku terlebih dahulu?" Dira mengatakannya sembari melakukan gerakan meraba bokongnya sendiri dengan gerakan pelan. Bahkan dia sengaja mereemas bokong sintalnya di akhir kalimat.
Dave menatap Dira dengan santai. Pria itu menelisik pandang pada perempuan tersebut dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. "Seperti perempuan pada umumnya," cebiknya.
"Dave, ayolah! Masih menyisakan enam jam lagi sebelum persiapan resepsi nanti malam," rengek Dira. Benar-benar apa yang ditampilkan perempuan tersebut, diluar ekspektasi semua orang. Hampir tidak ada harga diri lagi yang ingin dipertahankan Dira. Semua seperti diobral murah di depan Dave. Kesan seorang dokter yang berwibawa, sama sekali tidak ditemukan Dave pada sosok Dira.
"Sentuh aku, Dave. Aku sudah sangat siap." Dira menarik resleting kembennya ke bawah. Membiarkan kain itu melewati bagian tubuh bawahnya hingga menyentuh ke lantai. Dua bagian menonjol yang masih padat dan menempel sempurna di dadanya, seketika menyembul dan terlihat nyata tanpa ada sehelai benang pun yang menghalangi.
Dave hanya melihat sekilas, lalu tersenyum dan kembali menundukkan pandangannya pada ponsel. Dira melepas leging beserta dalaman yang dikenakannya. Kini tubuhnya benar-benar telanjang bulat.
"Dave," heels yang digunakan Dira dilepas dan dilempar sembarangan arah oleh perempuan tersebut.
Dave beranjak berdiri. Tanpa menatap Dira dan semakin menundukkan pandangnya, pria tersebut berucap dengan tegas. "Seharusnya kamu mencintai dirimu lebih dari ini, Dir. Cinta itu anugerah, tidak bisa dihadirkan hanya dengan menjanjikan keindahan, kenikmatan, dan kepuasan napsu semata. Jika tidak ingin direndahkan atau dihina, jangan tunjukkan kebodohanmu. Apa yang kamu lakukan adalah cerminan hatimu. Jika lakumu buruk, jangan berharap yang terpantul dari sana adalah kebaikan."
__ADS_1