
Semenjak kejadian hantu gadungan di parkiran, hubungan Deva dan Dewa semakin dingin. Masing-masing merasa memiliki kartu kunci dalam menyerang lawan. Keduanya kerap sekali saling sindir setiap kali ada kesempatan. Dewa yang selalu menyebut Deva sebagai perempuan cengeng. Dan Deva yang sering mengejek Dewa dengan kata penakut.
Meskipun demikian, sikap profesional keduanya dalam masalah pekerjaan memang patut diacungi jempol. Baik Deva maupun Dewa, bagaikan dua orang yang sangat akur dan akrab jika sedang menuntaskan pekerjaan bersama.
Seperti kali ini, keduanya baru saja menyelesaikan meeting di sebuah ruang meeting hotel berbintang. Deva dan Dewa masih belum beranjak dari sana, karena keduanya masih harus membahas bahan presentasi selanjutnya yang akan diadakan dua jam lagi.
"Pak, saya mohon maaf kalau ini mendadak. Tapi sebaiknya Bapak tidak presentasi dengan menggunakan data yang saya kirim beberapa hari yang lalu." Deva terlihat sangat hati-hati saat mengucapkannya.
"Memangnya kenapa?"
"Saya yakin data itu sudah dicopy dan diserahkan pada pesaing kita oleh Pak Edward. Kali ini, saya yakin Pak Edward tidak akan bisa lolos. Sudah cukup waktu satu bulan membiarkan orang serakah itu membuat rugi perusahaan. Sudah saatnya kita naik gaji. Kalau untung perusahaan terus berkurang, kapan kita sejahtera," terang Deva.
"Kamu aja kali yang nggak sejahtera. Aku sih sudah sejahtera banget. Ehm ... tapi kamu benar juga, Edward sudah terlalu kenyang, sudah saatnya dia memuntahkan isi perutnya. Tidak ada yang kekal dengan harta yang diperoleh dengan cara yang tidak benar. Akan ada saatnya mereka mendapatkan kesulitan dan jatuh secara tidak hormat dengan caranya sendiri. Tidak ada kejahatan yang sempurna. Selalu ada celah untuk mengalahkannya."
Sederetan kata dari bibir pria tersebut, 180 derajat berbeda dengan apa yang dialami oleh Amar. Papa Deva tidak seberuntung beberapa temannya yang lain. Sampai detik ini, Deva masih yakin, papanya hanyalah sosok yang ditumbalkan.
"Dev ... kenapa malah melamun?" Dewa melambai-lambaikan tangannya tepat di depan mata Deva.
Untuk pertama kali sepanjang pertemuan mereka, Dewa melihat Deva tersenyum ke arahnya. Pria itu mendadak merasa aneh dan salah tingkah. Di matanya, senyum Deva nampak sangat cantik dan menenangkan.
"Mungkin memang tidak ada kejahatan yang sempurna. Begitu pun dengan keadilan. Yang baik, mencari celah untuk membuktikan kebenaran. Mereka yang jahat, sibuk memanfaatkan celah untuk menutup kebenaran. Tidak sedikit orang yang dikorbankan. Tapi siapa peduli? Nurani sudah terlanjur tertutup bisikan jiwa-jiwa serakah. Ketika definisi lapar dan kekurangan bukan lagi hanya sebatas perut dan kebutuhan dasar, kejahatan bisa dilakukan dengan lebih kejam."
__ADS_1
Dewa tidak menanggapi ucapan Deva yang terasa begitu penuh makna dan penekanan. Sedikit menelisik lebih dalam, dia mulai menangkap sosok perempuan itu seperti menahan beban hidup yang berat. Dewa buru-buru memalingkan perhatian. Dia tidak mau ikut campur terlalu jauh.
"Kita makan siang dulu, Dev. Presentasi juga butuh tenaga. Kali ini, kamu yang akan maju. Salah kamu sendiri, mengubah data---ngasih tahunya sudah mepet gini. Mending kamu saja yang presentasi. Biar aku yang bikin notulennya. Adil bukan?"
"Adil dari mana, Pak? Pekerjaan kita hampir sama. Tapi gaji beda jauh," ceplos Deva.
"Pekerjaan sama. Tanggung jawab beda, Dev. Kalau semua salah, yang kena aku. Nggak mungkin Dewan Direksi cari kamu," tukas Dewa seraya berdiri meregangkan badannya yang sudah terlalu lama dibuat duduk.
Deva mematikan laptop di depannya. Lalu dengan cekatan memasukkan berkas-berkas yang sudah ditumpuk rapi oleh Dewa ke dalam tasnya. Di luar sikap arogan, Deva harus mengakui, kalau atasannya kali ini sungguh sangat rapi.
Tidak lama kemudian, keduanya pun langsung menuju resto hotel. Dewa sebenarnya risih dengan cara Deva menjaga jarak dengannya. Perempuan itu, berjalan empat langkah di belakangnya. Sungguh berbeda dengan Sashi yang malah selalu mencari kesempatan untuk menempel dengannya.
Mendekati meja yang di pilih Dewa, langkah Deva seketika terhenti. Tepat di belakang meja tersebut, dia melihat Dave sedang makan siang bersama dua pria lain.
Deva pun melangkah maju perlahan. Dia tidak mau terkesan sedang menunggu Dave menghampirinya. Dengan terpaksa Deva melemparkan sebuah senyuman untuk membalas senyuman hangat Dave padanya.
Dewa membalas senyuman Deva dengan percaya diri. "Dih...tumben hari ini dia murah senyum sekali. Akhirnya sadar juga sama pesonaku," batinnya.
Tapi senyuman Dewa itu tidak berlangsung lama, manakala menyadari ada sosok dari arah belakangnya, menyapa Deva dengan sangat ramah.
"Hai, Bee..."
__ADS_1
"Aku lagi sama atasanku---pengganti Pak Tino." Jelas Deva tanpa diminta.
Dewa pura-pura tidak memedulikan Deva. Padahal ekor matanya sesekali melirik ke arah asisten pribadinya itu berada. Indera pendengarannya pun diajak bekerja maksimal agar bisa mencuri-curi dengar isi pembicaraan.
"Mobilnya belum selesai, kan? Nanti aku jemput ya?" Dave menatap Deva masih dengan tatapan yang sama dalamnya seperti dulu.
"Belum, Bang. Katanya sih besok. Nggak perlu repot-repot. Aku sudah mulai biasa sendiri. Ya sudah, Bang. Nggak enak sama atasanku. Silahkan dilanjut makan siangnya."
Deva berjalan dua langkah saja untuk mencapai kursi di depan Dewa. Dia segera menyambar buku menu di depannya dan langsung pura-pura sibuk memilih-milih menu. Sesaat kemudian, perempuan itu melambaikan tangan pada pelayan untuk memesan. Dewa pun melakukan hal yang sama.
Dave sendiri langsung kembali ke tempat di mana tadi dia berada. Tatapan mata Dave dominan tercurah pada sosok Deva. Kata-kata 'Terbiasa Sendiri' yang diucapkan Deva, terngiang begitu jelas dipikiran Dave.
Sementara itu, Dewa sedang beradu resah dengan pikirannya sendiri. Ingin sekali tidak peduli, namun ternyata tidak bisa. Sejak satu kantor dengan Deva, pikiran Dewa bisa di sejajarkan dengan admin lambe gibah. Rasa ingin tahu Dewa begitu tinggi pada kehidupan asisten pribadinya tersebut. Bukan ketertarikan ingin memiliki, namun lebih karena ada rasa heran yang bergelayutan di sanubari.
Perbedaan Deva dengan perempuan-perempuan yang ditemuinya sangat mencolok. Deva tidak hanya mengabaikannya, tapi juga berani menentang dan mengatainya tanpa beban.
Deva tahu dan sangat sadar, Dave sedang terus mengawasinya. Tidak ada pilihan bagi Deva, selain terus bersikap seolah biasa saja. Sejujurnya, dia berharap tidak sering-sering dipertemukan dengan mantan kekasihnya itu.
"Mau pindah duduk, Dev?" Entah mendapat dorongan dari mana, Dewa spontan memberikan pertanyaan tersebut pada Deva. Dewa hanya menangkap ketidaknyamanan di sorot mata asisten pribadinya.
Deva menggeleng sembari sekilas mencuri pandang membalas tatapan Dave. "Tidak, Pak."
__ADS_1
Dewa menoleh ke belakang dengan santai. Siapa pun pria yang kini sedang menatap asisten pribadinya itu, sudah pasti memiliki perasaan yang istimewa pada Deva. Begitu pun sebaliknya. Dewa semakin pusing, dia menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Apakah Deva diam-diam seorang playgirl? Keren juga sih kalau sampai bener. Tampang kalem, nyatanya bukan jaminan dia perempuan baik-baik dan setia." Dewa terus menduga-duga.