
Suara dua orang perempuan yang saling bersabutan tadi sampai ke telinga Deva. Namun, nyalinya belum terkumpul sempurna untuk melihat kenyataan dengan mata kepala sendiri. Deswita masih setia mengusap punggung Deva. Tidak ikut mengalami, tetapi hatinya bisa merasakan apa yang dirasakan Deva dengan fasih. Tiga kali ditinggalkan pria yang dicintainya karena perempuan lain, membuatnya khatam akan pengkhianatan dan sakit hati. Meski, kisahnya dan kisah Deva sangat berbeda. Apa pun itu, yang namanya ditinggalkan dan kehilangan kekasih hati, jelas meninggalkan luka yang dalam.
Dewa menoleh malas ke belakang, bibirnya menyunggingkan senyuman miris. "Beginikah pernikahan yang kamu impikan, Dir? Kalian terlihat menyedihkan. Senyumanmu itu, tidak seimbang dengan wajah Dave yang begitu kaku dan dingin. Semoga ini hanya perasaanku saja," harap dewa dalam hati.
Kemeja putih tanpa jas yang dikenakan Dave, dipadankan dengan celana hitam, memang tidak terlalu buruk jika itu adalah pernikahan di kalangan tertentu. Namun, ini adalah akad seorang Dira Gracella dan Dave Sebastian. Dua-duanya seorang dokter spesialis, Dira adalah putri tunggal direktur utama perusahaan yang bergerak dalam bidang pertambangan batu bara. Sebuah perusahaan keluarga dengan pemilik saham adalah Rudi dan Deswita, serta dua orang lainnya yang juga masih kerabat.
Dave sendiri adalah putra tunggal mantan direktur utama salah satu perusahaan besar milik negara. Yang sekarang mulai merambah ke dunia politik dengan menjadi Dewan Pembina dari salah satu partai baru yang sedang mencuat namanya.
Ya, dengan latar belakang yang dimiliki keluarga masing-masing. Penampilan Dave bisa dikatakan terlalu apa adanya.
Melewati deretan bangku yang diduduki Deva, Dave menghentikan langkahnya. Meski dia tidak menoleh,ekor mata pria tersebut jelas mengarah pada siapa. Andai semua mata sedang tidak tertuju padanya, andai tidak ada nama baik orang tua yang harus dia jaga, ingin rasanya Dave memeluk perempuan yang masih betah menenundukkan kepalanya itu.
Paham gelagat Dave yang mulai meresahkan, Dira seketika mengamit lengan pria tersebut dengan posesif, dan mengajak Dave kembali melanjutkan ayunan kaki yang hanya menyisakan beberapa langkah saja menuju meja tempat akad.
"Kenapa kalian tega menghancurkan masa depan anak kalian sendiri? Ini bukan bentuk sayang, kalian membunuh Dira pelan-pelan," lirih Deswita, juga hanya dalam hati saja.
Alunan musik romantis tanpa vokal yang dipilih Dira, seolah tidak membangun suasana romantis apa pun. Tidak sedikit dari undangan yang hadir, dapat menangkap ketidak wajaran dalam acara pernikahan yang mereka hadiri kali ini.
Akhirnya, sampailah Dave di kursi di depan penghulu. Tidak lama, petugas tersebut langsung menanyai Dave dengan beberapa pertanyaan yang hanya dijawab dengan kata "Ya" dan "Tidak" oleh Dave.
__ADS_1
Suara musik dimatikan, berganti dengan suara dari pembawa acara yang memberitahu bahwa proses akad segera dimulai. Seketika mata Deva memejam, dia mengatur napasnya lebih teratur untuk menenangkan diri.
"Kamu kuat, Dev. Tegarkan hati, dan tegakkan kepalamu. Lihatlah kenyataan dengan berani. Sudah tidak mungkin lagi untuk berlari. Lihatlah dengan matamu, singkirkan sejenak semua pikiran dan perasaanmu. Cukup lihat dan dengarkan." Deva berbicara sendiri dalam hatinya.
Perlahan, Deva pun menegakkan lehernya. Lalu dia menoleh pada Deswita yang menatapnya lembut. Dewa yang duduk di samping mamanya, hanya melirik Deva dengan ekor mata kirinya. Ingin sekali dia memberikan dukungan dengan menggenggam tangan perempuan tersebut. Namun, sadar diri, dia siapa?
"Saya nikahkah dan kawinkan, anak saya, Dira Gracella binti Rudi Soedjipto dengan engkau Dave sebastian, dengan mas kawin sebuah rumah dibayar tunai." Suara lantang Rudi dengan pengeras suara, mengalihkan fokus Deva, Deswita, dan Dewa yang tadinya tidak tertuju pada meja akad.
"Saya terima nikah dan kawinnya Deva Magnolia binti Amar Poernama dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Dave mengucapkannya dengan begitu lancar dengan satu helaan napas.
Rudi menghentak tangan Dave agar tersadar dari kesalahannya. Namun, pria yang selangkah lagi akan menjadi menantunya itu semakin menantangnya dengan tatapan tajam tanpa rasa bersalah. Dira yang duduk di samping Dave persis, menyiku lengan sang calon suami agak keras. meski kesal dan malu, dia harus tetap menutupi dengan senyuman elegan.
"Dave bukan jodohmu, Dev. Tuhan pasti sudah menyiapkan sosok lain yang akan mencintaimu lebih besar dari Dave. Kuat, Deva pasti kuat," bisik Deswita, tepat di belakang daun telinga Deva.
Dewa meraup wajahnya sembari menarik napas begitu berat. Selama ini, dia menyayangi Dira layaknya adik kandung sendiri. Melihat dan menyaksikan prosesi pernikahan Dira sekarang, seolah mengoyak ketegaran hatinya. Pernikahan. Benarkah memang tidak ada ikatan pernikahan yang tulus di muka bumi ini? Jika ada, mengapa harus selalu pernikahan yang bermasalah yang dilihatnya?
"Kita ulang sekali lagi. Coba dilihat dulu calonnya Mas Dave. Barangkali, kalau melihat kecantikan Mbak Dira, Mas Dave tidak akan keliru lagi," canda penghulu, bermaksud untuk mencairkan suasana. Karena bisik-bisik dari undangan mulai mengusik telinga.
Agas, Fira, dan nina tampak begitu tegang. Ketiganya kompak memajukan duduk mereka hingga di ujung kursi. Meski senyuman masih menghiasi wajah mereka, jelas mata tidak sanggup menyembunyikan kecemasan.
__ADS_1
Dave merogoh sesuatu di kantong celananya. Lalu mengenakannya dengan santai. Telapak tangannya, kini tertutup sarung tangan tebal berwarna hitam. "Mari kita lakukan lagi, Pak." ucapnya dengan mantap.
Meski aneh, namun penghulu tidak ingin mempertanyakan apa yang dilakukan Dave. Prosesi ijab kabul kembali di ulang.
"Saya terima nikah dan kawinnya," Dave sengaja memberikan jeda sesaat. Menyelipkan sumpah di tengah akadnya, jika apa yang dia lakukan saat ini adalah terpaksa. "Dira Gracella binti Rudi Soedjipto dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai," tambahnya.
"SAH," sahut para saksi dengan kompak.
Deva menggigit bibir bawahnya sedikit lebih kuat. "Jika ini memang yang terbaik. Berilah jalan kemudahan dan kebahagiaan untuk mereka. Engkau sebaik-baiknya penulis dan pengatur skenario," doanya dalam hati.
Penghulu memberikan arahan agar Dira mencium tangan Dave dan mengijinkan keduanya untuk saling memberikan ciuman tanda sayang karena mulai detik itu status suami istri, sudah disandang secara resmi.
Saat Dira mencium punggung tangan Dave dengan sedikit pandangan aneh. Sarung tangan yang membalut tangan tersebut, jelas menegaskan betapa Dave sedang membangun jarak di antara mereka.
"Memiliki tanpa dicintai. Bagaimana rasanya nanti? Tidak akan sesederhana saat kamu tega memisahkan aku dan Deva, Dir. Setiap air mata yang keluar dari mata Deva, harus kamu bayar mahal," Dave berbisik sembari berseringai licik. Di mata orang yang tidak jeli, tentu tindakan Dave itu terlihat seperti ancaman menggoda seorang suami untuk malam pertama.
Tidak demikian dengan Dewa dan Deva, keduanya tahu persis, Dave sedang memberikan tekanan kecil pada perempuan yang seharusnya sudah bisa diperlakukan sebagai istri itu.
Dave menoleh ke arah Deva. Tatapan matanya dalam penuh penyesalan. Maaf yang tidak sempat terucap dalam kalimat, tersirat nyata dari bahasa tubuhnya.
__ADS_1