
Deva pun juga bangkit dari duduknya. Seharusnya, apa yang terlihat tidaklah mengejutkan. Sebagai sepupu dari Dewa, datang ke rumah tersebut mungkin memanglah hal yang biasa dan lumrah bagi Dira. Dan sebagai calon suami dari perempuan tersebut, jelas keberadaan Dave bersama Dira, juga bukan hal yang luar biasa.
Dave menelan ludahnya kasar. Meski di dadanya gemuruh cemburu mulai bersahutan, dia mencoba bersikap tenang. Mendapati Deva bersama Dewa, mungkin bukan sesuatu yang aneh jika terjadi saat jam kerja. Tetapi sekarang? Jelas timbul tanya di benak Dave. Tidak sebentar dia mengenal Deva, perempuan yang sangat dikasihinya itu, tidak mudah melibatkan dirinya dengan orang lain dalam hal urusan pribadi.
"Wow ... surprise, sepertinya, ada yang mulai deket nih," seloroh Dira sambil melirik Dave. Dia ingin memastikan ada gejolak kesal dan kecewa di wajah calon suaminya itu.
Dewa reflek bergeser melangkahkan kaki ke samping mendekati posisi Deva. Dia memang belum pernah berada di posisi seperti yang dialami oleh sang asisten pribadi, namun, hatinya tidak mati. Dewa masih punya empati, untuk sekedar bisa memahami apa yang dirasakan Deva sekarang. Andai tangannya sanggup dan pantas untuk menggenggam tangan Deva, pasti saat ini akan dia lakukan.
Dave menatap Deva dengan intens. Pria itu seolah sedang menuntut sebuah jawaban. Sekedar ingin memastikan, kalau dia tidak pernah salah menilai seorang Deva. Apa pun alasan mantan terkasihnya itu berada di rumah Dewa, sudah pasti itu bukan karena adanya hubungan spesial antara Deva dengan Dewa. Pasti ada alasan lain yang lebih kuat. Dengan sikap dan keteguhan hati yang dimiliki, Deva tentu tidak akan semudah itu memindahkan hati pada Dewa.
"Kamu pinter juga, Dev. Aku tidak keberatan sama sekali jika kita harus menjadi sepupu ipar. Kamu beruntung mendapatkan Kak Dewa. Jadi tidak salah bukan aku menjadikan kalian groomsman dan bridesmaid di pernikahanku nanti?" cerocos Dira sembari menghampiri Dewa dan Deva.
Mendengar ucapan Dira, Dave seketika mengalihkan pandangannya ke arah Dira. Pria tersebut bergegas melangkahkan kaki menyamai posisi Dira. Lalu dengan erat, Dave mencengkeram lengan tunangannya itu.
"Apa maksudmu, Dir? Tidak cukupkah kamu memaksakan semua kehendakmu padaku saja? Kenapa kamu melibatkan Deva di pernikahan kita? Ingat, Dir! Kalau sampai itu terjadi, aku pastikan pernikahan kita tidak akan pernah terjadi," ancam Dave.
Dewa menurunkan tangan Dave dari lengan Dira dengan gerakan kasar. "Jangan sakiti Dira di depanku, Dave. Bicaralah, tanpa menyakiti fisiknya."
__ADS_1
Deva hanya berdiri bergeming. Kakinya terasa begitu berat untuk diajak melangkah. Seperti ada yang menahan dirinya untuk bertahan dengan posisinya sekarang. Sudah terlambat untuk menghindar. Tidak ada pilihan, selain menghadapi apa yang kini sudah ada di depan mata.
"Jangan berlebihan, Dave. Deva yang menawarkan diri untuk menjadi temanku. Soo, menjadi bridesmaid di hari bahagia temannya, bukan sesuatu yang aneh, kan?" sanggah Dira.
Dave menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Coba pikirkan lagi ide gilamu, Dir. Menjadikan Deva bridesmaid-mu, jelas akan semakin menenggelamkan dirimu sendiri. Apa yang ada pada diri Deva, jauh lebih menarik untuk dikagumi. Dan jangan salahkan aku, kalau bukan tanganmu yang aku gandeng sampai pelaminan kalau hal itu benar-benar terjadi."
Dira membalas tatapan tajam Dave padanya. "Lakukan jika kamu menginginkan sesuatu terjadi pada papamu, Dave. Ingat, semua belum berakhir. Kamu punya kendali, aku pun sama. Lagipula, kenapa kamu yang repot. Deva tidak keberatan sama sekali. Satu hal lagi, Dave. Jangan pernah meremehkanku. Lihat aku dengan cara yang benar. Duniamu tentang Deva sudah berakhir. Bangun dari mimpimu, Dave. Terimalah kenyataan, hanya aku yang pantas kamu kagumi."
"Pantas dikagumi? Caramu menunjukkan cinta bahkan membuatku semakin mual, Dir. Cinta tidak memaksa seperti ini. Kamu boleh tertawa penuh kemenangan karena berhasil menikahiku. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, jangan pernah mengeluh apalagi mengadu pada orang lain jika pernikahan kita tidak akan pernah sama dengan pernikahan yang lain." Dave tampak begitu jengah.
"Kembalilah ke kamar mama." Dewa mengatakannya dengan lirih pada Deva.
Sekali pun lirih, kalimat tersebut tetap terdengar jelas di telinga yang lain. Tentu saja, karena jarak antar posisi mereka saat ini, tidak ada yang lebih dari tiga langkah.
"Hah? Aku nggak salah denger, kan, Kak? Ke kamar mama? Sepertinya aku banyak ketinggalan informasi. Hubungan kalian bahkan sudah sejauh ini. Sama sekali aku tidak menyangka. Ini adalah berita yang sangat bagus." Dira terlihat begitu sumringah.
Jika Dira begitu senang dengan kedekatan Deva dan Dewa, berbeda halnya dengan Dave, rasa percaya diri pada penilaiannya kini mulai goyah. Bukan karena meragukan cinta Deva kepadanya. Tetapi lebih karena terlintas kekhawatiran akan adanya sebuah hubungan berdasarkan kompromi atau kesepakatan. Dave sangat tidak rela jika itu terjadi. Lebih baik, melihat Deva benar-benar mencintai orang lain, kertimbang dia harus menyaksikan perempuan tercintanya itu menjalin sebuah ikatan palsu. Mengalami sendiri, membuatnya belajar dengan cepat.
__ADS_1
"Dev ...." Dewa memanggil sekali lagi.
Dengan langkah berat, Deva mengayunkan kaki perlahan. Dalam hati, dia merutuki kelemahan yang begitu terpampang nyata. Seharusnya, Deva bisa lebih tegar dari ini. Tetapi kenyataan berbicara lain. Dia selalu saja kesulitan mengontrol diri jika ada Dave di depannya.
Tepat ketika melewati Dave, tangan pria tersebut menahan pergelangan tangan Deva. "Kenapa, Bee?"
Hanya tanya itu yang sanggup Dave ucapkan. Kini, kedua insan yang dipaksa merelakan cinta demi sebuah nama baik itu saling menatap penuh luka. Kepala Deva tampak menggeleng lirih.
"Aku tidak mengapa, Bang. Sampai ketemu di hari pernikahan Abang." Deva melepaskan tangan Dave dari pergelangan tangannya. Lalu bergegas berjalan meninggalkan ketiga orang yang lain dengan langkah seribu. Menyembunyikan bulir bening yang berdesakan ingin segera membasahi pipi.
Dewa memalingkan wajahnya ke sisi lain. Melihat tatapan Deva yang begitu dalam, hatinya terasa ngilu. Entah mengapa? Mungkin sekedar empati yang berlebihan ataukah ada rasa lain yang terpendam secara diam-diam.
Dira tersenyum sinis. "Cinta sebesar apa pun, akan kandas jika memang bukan jodohnya. Sadari itu, Dave."
Pria yang disebut namanya oleh Dira itu menarik napas begitu dalam. Dia mencoba bersabar dan mengendalikan diri di depan Dewa. Sebagai sesama laki-laki, Dave mulai melihat sosok calon sepupu iparnya itu mulai memiliki rasa pada Deva.
"Cukup bersitegangnya. Mari kita berbicara layaknya sebuah keluarga. Kami ingin menyampaikan undangan secara resmi dan langsung." Dira tanpa merasa berdosa sedikit pun, menarik tangan Dewa menuju arah sofa.
__ADS_1