
Mendengar suara Deva dari speaker telepon genggamnya, hati Dewa pun merasa lega. Paling tidak, asisten pribadinya itu dalam keadaan baik-baik saja.
"Dev, mamaku ingin memberikan pekerjaan tambahan buat kamu. Makan siang ini, kamu bisa nggak ketemu mama?" Untuk yang kesekian kali, Dewa kembali mengarang bebas. ide selalu bermunculan ketika keadaan sudah mendesak.
"Saya sudah terlanjur ada janji lain siang ini, Pak. Bagaimana kalau malamnya saja," tawar Deva dengan jujur. Karena siang ini, dia sudah janji akan menjenguk Dave di rumah sakit.
Bukan berarti Deva mengutamakan mantan kekasihnya itu lebih dari apapun. Bukan seperti itu, namun dia ingin Dave cepat sembuh. Dia juga penasaran dengan apa yang ingin diceritakan atau ditunjukkan Dira padanya dan juga pada Dave. Dia ingin membuang satu per satu tanya yang ada di pikirannya. Setelah itu, dia akan mencurahkan waktu dan pikirannya untuk fokus pada Debora.
"Urusan mantanmu, bukan? Ayolah, Dev! Mau sampai kapan kamu menjadi bayang-bayang Dave. Sudahlah, terserah padamu saja! Aku tunggu kamu sekarang juga. Datang secepat yang kamu bisa. Kita ada meeting di hotel Madika pagi ini." Tanpa menunggu jawaban Deva, Dewa langsung memutus sambungan teleponnya secara sepihak.
Dewa meraup wajahnya dengan kasar. Kekesalan jelas tidak bisa ditutupi dari wajahnya. Bagaimana bisa, dua orang yang sudah tidak ada ikatan apapun, bersikap seolah-olah mereka bisa berteman dengan tulus. Tidak ada kata yang lebih tepat untuk Dave dan Deva selain kata munafik. Itulah yang menjadi umpatan Dewa di dalam hati.
****
Tidak sampai jam kerja dimulai, Deva sudah datang ke kantornya. Seperti biasa, dia membersihkan dan merapikan diri terlebih dahulu ke toilet.
"Shi, memang pagi ini ada jadwal meeting, ya?" tanya Deva setelah keluar dari toilet. Perempuan itu langsung menghampiri meja Sashi.
"Seingatku tidak ada, Dev. Sebentar, aku cek lagi." Sashi langsung membuka file jadwal harian Dewa. Padahal tanpa bertanya, Deva sebenarnya juga memegang dan tahu persis jadwal meeting Dewa. Hanya saja, Deva takut ada yang terlewatkan olehnya.
"Ayo kita berangkat. Jangan sampai kita telat." Dewa keluar dari ruangannya dengan wajah sedingin es batu. Dia langsung mengajak Deva berangkat. Padahal, asisten pribadinya itu masih mengenakan sandal jepit dengan merk legendaris sepanjang masa.
__ADS_1
"Sebentar, Pak. Saya ganti sepatu dulu." Deva bergegas kembali ke ruangannya untuk berganti sepatu dan mengambil tas terlebih dahulu. Setelah itu, Deva bergegas menyusul Dewa yang sudah lebih dulu turun ke lobby.
"Lelet banget sih," omel Dewa begitu Deva berjalan menghampirinya.
Seperti biasa, Deva tidak berniat untuk membalas atau pun mendebat ucapan Dewa. Dia sudah mulai hapal perangai sang atasan. Jika dijawab tentunya akan semakin panjang urusan.
Menaiki mobil dinas yang dikendarai oleh driver, keduanya langsung menuju tempat meeting yang dimaksud oleh Dewa tadi. Sungguh Deva tidak tahu materi meeting kali ini.
"Pak kita meeting dengan siapa? Materi apa yang harus saya siapkan?" tanya Deva, sedikit merendahkan nada bicaranya.
"Kamu cukup diam dan mendengarkan. Aku yang akan presentasi kali ini. Kalau perlu, kamu nunggu di luar. Ada pameran penjualan apartemen dan rumah di lantai. Kamu bisa menungguku di sana. Barangkali kamu berminat membeli satu unit," tutur Dewa sembari merapikan rambutnya dengan tangan.
Deva hanya menjawab dengan senyuman. Rumah adalah kebutuhannya yang paling mendesak saat ini. Namun apa daya, uang yang dimilikinya masih jauh untuk menjangkau hal itu.
"Benarkah Deva sekuat ini? Atau dia hanya sedang memaksa dirinya untuk kuat? Meski Allah sebaik-baiknya tempat mengadu, bohong jika manusia tidak membutuhkan sesama manusia untuk bersandar." Dewa tanpa sadar menatap Deva yang sedang fokus mencari kontrakan melalui pencarian pintar di telepon genggamnya.
Di waktu yang sama, namun di tempat yang berbeda, tepatnya di rumah sakit tempat Dave dirawat. Pria tersebut baru saja menyelesaikan makan paginya. Kondisinya juga sudah jauh lebih baik. Bahkan bisa dinyatakan pulih.
Memang benar kata orang. Pikiran positif adalah obat. Kedatangan Deva, dan pesan singkat yang dikirim sebagai penyemangat, nyatanya benar-benar sanggup membuat keinginan Dave untuk sembuh menjadi naik berlipat-lipat.
Pagi ini, Dave masih sendirian di ruang rawatnya. Sesuai permintaannya, Fira dan Agas tidak menunggu lagi di rumah sakit. Dave berkilah, jika ada orang lain, dia malah sulit untuk beristirahat.
__ADS_1
Dave turun dari brankarnya, dia berniat untuk duduk di dekat jendela kaca yang bisa membuatnya terkena pantulan sinar matahari secara langsung. Jarum infus yang masih terpasang di punggung tangannya, seolah tidak menghalangi gerakannya yang terkesan cekatan.
Baru saja Dave melepas genggaman tangannya dari tiang infus yang yang harus turut kemana pun dia pergi, pintu ruangannya terdengar ada yang membuka. Diikuti suara langkah kaki khas pengguna high heels.
Dave membalik posisi badannya hingga dia bisa melihat siapa yang datang. Seorang perempuan berparas cantik, tinggi, dan berkulit putih, melangkahkan kaki semakin mendekati dirinya.
Mantan kekasih Deva itu bergeming dan tertegun bukan karena sedang mengagumi kesempurnaan perempuan tersebut. Sama sekali bukan, dia sudah terbiasa melihat perempuan cantik dan mulus saat memeriksa pasiennya yang sedang hamil. Bahkan Dave sudah biasa melihat organ intim wanita. Itulah mengapa, tidak mudah membuat Dave tergoda. Hingga detik ini, wajah, sikap dan laku Deva masih menduduki tahta tertinggi di hatinya. Demi apa pun, bagi Dave---Deva tetap yang terbaik.
"Hai, Dave ...," sapa perempuan tersebut.
Dave mengernyitkan keningnya. Dua alis tebal yang menegaskan ketampanan Dave yang tidak sederhana, semakin menyatu. Ada tanya tentang siapa dan apa tujuan perempuan yang tidak dikenalinya itu datang. Dave mencoba mengingat-ingat siapa sosok perempuan itu sebenarnya.
"Maaf, Dave. Kita sebenarnya memang belum pernah bertemu. Aku datang kemari, karena ada sesuatu yang penting dan mendesak yang harus kita bicarakan. Kenalkan, A---,"
Perempuan tersebut tidak meneruskan ucapannya. Karena tiba-tiba muncullah sesosok perempuan lain yang menatapnya dengan sinis dan menyelidik. Siapa lagi kalau bukan Dira.
"Siapa kamu? Kenapa kamu bisa masuk ke sini dan berbicara dengan tunanganku? Sepenting apa hingga kamu berani mengganggu orang yang sedang sakit?" Nada sisnis seketika keluar dengan mulusnya dari mulut Dira.
"Maaf jika saya datang di saat yang tidak tepat. Tapi ada hal mendesak yang ingin saya bicarakan dengan Dave." Perempuan itu berbicara seolah sudah mengenal Dave dengan sangat baik.
Dave masih bertahan dalam diam. Sedikit pun tidak ada niat darinya untuk menengahi pembicaraan kedua perempuan itu.
__ADS_1
"Ini tentang Deva," ucap sosok perempuan tadi.