Sisa Rasa

Sisa Rasa
Ada apa?


__ADS_3

Deva menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Mencoba tetap tenang meski dia merasakan ada sesuatu yang tidak wajar. Perempuan tersebut memelankan langkah kakinya, tangan Deva perlahan merogoh benda pipih bertekhnologi tinggi dari dalam tas selempang yang dikenakannya. Hanya bermodalkan lirikan mata, Deva mencoba menekan angka satu untuk menghubungi emergency number yang sudah tersedia di pengaturan ponselnya.


Sepanjang langkah, Deva tidak berhenti berharap agar ada orang lain yang pergi ke toilet yang sama dengan tujuannya. Dia bukan seorang penakut, tapi entah mengapa perasaannya sangat tidak enak. Ponsel Deva mengeluarkan nada sambung dan getaran yang tertahan karena Deva menggenggam erat benda tersebut, dan menutup bagian speaker dengan tangannya yang lain.


Tidak lama suara sapaan "halo" beberapa kali terdengar. Namun, Deva belum juga menjawab. Begitu merasa aman karena sudah berada di dalam toilet perempuan, dia pun sedikit menarik napas lega, dan bergegas menempelkan ponsel pada daun telinganya.


"Pak Dewa, saya sedang ada di Milly Plaza, sepertinya ada orang yang mengikuti saya." Deva mengatakannya dengan suara berbisik dan mulut yang sedikit ditutup.


Akan tetapi, beberapa detik dari ucapannya, Deva buru-buru melihat layar ponsel. Tentu saja setelah mendengar suara dari sosok yang langsung mengeluarkan suara bernada khawatir begitu mendengar ucapannya.


"Maaf, Bang, sepertinya saya salah pencet." Mengabaikan reaksi Dave yang kebingungan, Deva segera memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.


Sementara Deva betah berlama-lama di dalam salah satu bilik toilet, Dave tampak sedang mengajak otaknya untuk berpikir keras. Dewa baru sepuluh menit yang lalu meninggalkan ruangannya, sedangkan dia sendiri juga ada satu pasien lagi yang harus di operasi.

__ADS_1


"Sudah kuduga, mereka pasti bergerak cepat untuk membungkam siapa pun yang dianggap mengancam posisi mereka. Tidak bisa dibiarkan." Dave pun segera menghubungi Dewa melalui sambungan telepon.


Beberapa menit kedua pria tersebut berbicara dengan serius. Hingga Dave mengakhiri komunikasi jarak jauh mereka dengan satu embusan napas yang berat. "Jaga Deva lebih dekat, Wa. Karena aku hanya mampu melindunginya lewat doa," lirihnya.


Setelah mendapatkan kabar dari Dave, Dewa memutuskan untuk menyusul Deva ke tempat perempuan itu berada. Hatinya menjadi tidak tenang. Padahal, dia dan Deva belum melakukan tindakan apa-apa. Namun, lawan mereka bergerak lebih cepat karena benar-benar merasa terancam.


***


Apa yang menjadi dugaan Deva, bukan sekedar pemikiran dan perasaannya saja. Dua orang perempuan, memang sedang mengawasi setiap gerak gerik Deva. Tentu saja, mereka adalah orang suruhan dari Agas.


"Lama banget, Dev. Kamu buang air seni, apa buang masa lalu? Nih, kami sampai sudah pesen minuman lagi," dengus Hilda sambil menunjukkan minuman boba di tangan kirinya.


"Niatnya mau buang masa lalu, tapi di sana malah keinget dan nyasar ke masa lalu." Deva menjawab seenaknya.

__ADS_1


"Selalu membingungkan. Sudah, yuk! Kita balik kantor, kalau telat, bisa kena omelan kita. Mentang-mentang nggak ada bos, ya kali kita seenaknya sendiri," ajak Sashi.


"Tumben bener?" Hilda menatap Sashi dengan takjub sembari menyentuhkan punggung tangannya ke kening perempuan di depannya itu.


"Dalam rangka meraih perhatian Pak Ewa kembali. Aku harus belajar serius sekarang. Pak Ewa sepertinya sedang mode tidak ingin becanda." Sashi menjawab santai.


Mereka pun akhirnya kembali ke kantor. Keyakinan Deva jika dia sedang diawasi semakin kuat. Bahkan dia kini bisa menggambarkan dua perempuan yang terus mengawasinya dengan gerakan yang mencurigakan itu dengan jelas. Rupanya, kali ini Agas memilih mata-mata yang kurang profesional. Kondisi keuangan perusahaan yang bermasalah, dan beberapa masalah lain yang datang bertubi-tubi--- perlahan, mengantar pria tersebut pada jurang kehancurannya sendiri.


Terlalu fokus pada dua orang penguntit tadi, membuat Deva tertinggal cukup jauh di belakang Sashi dan Hilda. Saat kedua temannya tersebut sudah menyeberang jalan tanpa ragu. Deva malah mengambil langkah gamang. Perempuan tersebut terlihat seperti orang yang sedang melamun sambil berjalan. Hingga ....


Bruakkkk ...


Suara hantaman benda keras, memecah keramaian jalan.

__ADS_1


__ADS_2