
Dewa tidak menjawab pertanyaan sepupunya yang tidak lain tidak bukan adalah Dira. Pria itu masih menatap gemas ke arah dua sejoli yang kini terlihat saling berpelukan. Seperti sedang menukar rasa yang tersisa, pelukan itu begitu erat.
"Kak... apa kakak kenal sama mereka?" Dira mengulang pertanyaannya sekali lagi. Kali ini dengan tidak sabar.
"Yang perempuan adalah asisten pribadi kakak." Dewa menjawab dengan nada kesal. "Oh... ya, mana tunanganmu? Katanya mau kenalin?" Dewa mencoba mengalihkan fokusnya. Apa yang dilakukan Deva malam ini, jelas tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan. Apalagi acara malam ini bukan termasuk rangkaian wajib. Tidak ada alasan untuknya menegur Deva.
"Tunanganku sedang bersama asisten pribadi kakak." Dira menunjuk pada dua orang yang kini duduk berjarak memunggungi dirinya.
"Maksudmu tunanganmu dia? Dan kamu diam saja melihat tunanganmu selingkuh seperti itu?" Dewa mulai terpancing emosi.
Layaknya seorang kakak yang tidak terima ketika adik perempuannya diperlakukan semena-mena. Dewa bergegas melebarkan langkah menghampiri dua sosok yang sedari kemarin-kemarin cukup mempermainkan emosinya. Kali ini, dia tidak akan tinggal diam. Dia tidak mau sepupu kesayangannya terluka karena hal yang menurutnya sangat rendahan.
"Kak Dewa, jangan. Kak... Jangan." Dira mencoba mengejar langkah Dewa. Namun pasir yang dipijak, sungguh membuatnya kesulitan untuk berjalan lebih cepat.
"Berani kamu mempermainkan adikku, hah? Dasar pengecut!" Tanpa menunggu penjelasan, Dewa langsung menarik bagian belakang kaos yang dikenakan Dave hingga membuat tubuh pria tersebut terjengkang ke belakang.
"Kak Dewa, stop! Sudah!" mohon Dira.
"Berhenti menjadi bodoh karena cinta, Dira. Buka lebar mata kamu. Laki-laki seperti ini, tidak pantas untuk kamu. Mereka yang menjadi pengkhianat cinta, tidak layak mendapatkan sebuah kehormatan." Dewa menatap sinis ke arah Dave dan Deva bergantian.
__ADS_1
Deva seketika beranjak berdiri, dia membalas tatapan Dewa dengan berani. Sama sekali tidak ada rasa takut, malu, atau sungkan seperti harapan Dewa ketika seseorang terpegok sedang melakukan perselingkuhan.
"Jelaskan pada dia, Dir. Siapa yang membuatku jadi seorang pengkhianat. Dan katakan siapa sebenarnya yang sedang dikhianati? Jangan bersikap seolah kamulah yang paling nelangsa." Tatapan dan ucapan Dave sama sinisnya tertuju pada Dira.
"Brenggsek.... " Dewa langsung melayangkan sebuah pukulan tepat di rahang kanan Dave.
Pria yang sama sekali tidak siap menerima serangan itu pun sedikit terhuyung. Deva dan Dira reflek ingin membantu Dave. Menyadari status dirinya bukan siapa-siapa lagi, Deva mengurungkan niatnya. Dia memundurkan langkah. Sedangkan Dira yang sudah mengulurkan tangan pada Dave, ditepis dengan kasar oleh pria tersebut.
Dewa berniat kembali mendekati Dave, tangannya sudah mengepal dan bersiap-siap melayang di udara. Tatapan matanya benar-benar menyiratkan kemarahan. Kebencian yang selama ini di pendamnya akan sosok Dave yang berani menantangnya, seolah mendapatkan jalan untuk dilampiaskan.
"Kak, please, cukup!" teriak Dira. Tangannya menahan tangan Dewa dengan kuat.
Tanpa sepatah kata pun, Deva berniat meninggalkan keributan yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dave sengaja membiarkan Deva pergi, dia tidak mau Deva terlibat terlalu jauh.
Deva menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan. Menatap satu per satu---Dave, Dira, dan Dewa secara bergantian. Hatinya sudah lebih dulu hancur dan menangis, kini dia hanya sedang menegarkan diri menerima hinaan, yang dia sendiri merasa itu terlalu berlebihan ditujukan pada dirinya.
"Anda hanya mengenal nama saya dan tahu kinerja saya Pak Dewa. Apa yang Anda ucapkan barusan, saya tidak menyangkal---tidak pula ingin membenarkan. Anda yang memang tidak menyukai saya, akan terus memandang saya buruk apa pun yang saya lakukan. Jika suatu saat Anda sudah tahu cerita yang sebenarnya, tidak perlu minta maaf. Saya anggap, kata-kata tadi, memang tidak ditujukan untuk saya," Deva mengucapkannya dengan sangat jelas dan tegas. Lalu dia kembali berjalan tanpa menoleh lagi.
Dira mengejar Deva, sembari menyebut nama perempuan yang selalu dianggapnya rival itu. Deva kembali menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Dev, aku butuh bicara berdua saja sama kamu. Tapi tidak sekarang. Aku harap kamu tidak keberatan. Besok kamu ada waktu kan? Aku ada pemotretan di sekitar sini, kapan pun kamu bisa, tolong kabari aku," Dira melunakkan suaranya, sedikit menaruh harapan agar Deva mau mengiyakan permintaannya.
"Besok jam tiga sore aku free, silahkan datang kalau memang menurutmu itu penting." Deva langsung meneruskan langkahnya.
Dira bergeming menatap punggung Deva yang semakin menjauhinya. Dave sengaja menabrak bahu Dewa yang juga sedang menatap kepergian Deva.
"Kamu boleh membenciku dan menyerangku semaumu. Tapi jangan sampai sekali lagi kamu menyebut Deva perempuan murahan. Tidak peduli siapa pun kamu, mematahkan lehermu pun aku tidak akan ragu," ucap Dave tepat ditujukan untuk Dewa. Lalu dia berjalan mendekati Dira.
"Jelaskan pada kakakmu sekarang juga. Aku akan menunggumu di resto. Merendahkan Deva di depan semua orang, tidak akan membuatmu nampak berharga di mataku. Kamu tahu persis, apa yang terjadi malam ini, adalah salah satu resiko yang harus kamu terima. Kita memulai hubungan dengan tidak benar, jangan bermimpi terlalu tinggi untuk mendapatkan semua keinginanmu dengan ending yang menyenangkan. Orang tuaku bisa memaksaku menikah denganmu, tapi mereka tidak bisa menentukan hatiku akan aku berikan untuk siapa."
Luruh sudah ketegaran Dira. Dia menjatuhkan diri hingga lututnya merasakan kasarnya buliran pasir. Tangisan Dira pun pecah. Dewa mengumpat dalam hati. Berada di posisi seperti sekarang, sama sekali tidak diharapkan. Dewa tidak pernah bisa melihat perempuan menangis, apalagi orang terdekatnya.
Pria itu melangkahkan kaki mendekati Dira. Dia menyamai posisi sepupunya itu dengan ikut duduk di pasir. Dewa mengatur napasnya yang sedang menahan luapan emosi. Mendadak ada kekecewaan yang begitu besar pada sosok Deva.
"Tinggalkan tunanganmu, Dir. Aku bisa mengenalkanmu sama teman-temanku yang pastinya lebih baik dari dia," ucap Dewa.
Dira menggeleng lemah. "Tidak, Kak. Dave yang terbaik. Mungkin kami hanya perlu waktu. Dave sangat penyayang. Dan dia sangat setia."
"Setia? Dia berciuman dengan perempuan lain kamu bilang setia? Dira! Buka matamu lebar-lebar. Aku melihat tunanganmu dan Deva tidak hanya sekali ini. Bahkan mereka pernah membuat jalanan macet karena pertengkaran mereka. Jangan seperti perempuan yang tidak mempunyai harga diri, Dira. Mereka bisa menginjakmu lebih parah jika kamu lemah." Dewa beringsut berdiri. Kesalnya sudah membuncah, mengira logika Dira sudah tidak jalan.
__ADS_1
"Kenyataannya tidak seperti itu, Kak. Bukan salah Deva dan Dave jika mereka sulit saling melupakan. Semua salahku. Aku yang memaksa mama dan papa menikahkan aku dengan Dave."
Penjelasan Dira membuat Dewa semakin tidak mengerti. "Maksudmu apa, Dir?"