
"Mungkin saat ini bukanlah waktu yang tepat. Bukannya tidak tau hatimu masih milik siapa. Aku tidak memintamu menjawab sekarang. Pikirkan dulu baik-baik. Bicara rasa cinta, mungkin terlalu jauh dari anganmu. Dev...." Dewa mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Sorot matanya begitu dalam dan hangat.
Deva mulai memahami arah pembicaraan Dewa. Perempuan tersebut seketika memegangi dadanya sendiri. Sesungguhnya Deva tidak siapĀ mendengar ungkapan perasaan dari siapa pun saat ini. Jangankan untuk membalas, menjawab saja Deva mungkin tidak akan mampu.
"Aku berharap, kamulah perempuan yang diciptakan Tuhan untuk menemani hari-hariku sampai nanti aku mati. Tentunya bukan hanya sekedar sebagai atasan dan asisten. Aku ingin kita lebih dari itu. Mungkin aku tidak pandai merangkai kata, tapi aku yakinkan, keinginanku ini sungguh-sungguh. Aku ingin kamu menjadi istriku, Dev."
Deva menarik napas dalam. Kata-kata Dewa yang lugas tanpa basa basi sungguh sanggup membuat pikirannya seketika gaduh. Suara Dewa yang terngiang, namun wajah sendu Dave yang terlintas. Bibir perempuan tersebut tertutup rapat. Selama ini, entah memang dia yang tidak peka ataukah hati sudah mati rasa. Sampai-sampai Deva tidak menyadari, di balik segala kebaikan dan juga perhatian Dewa ternyata menyimpan rasa yang lebih kepadanya.
"Tolong jangan buru-buru menolak. Masih banyak waktu untuk memberiku kesempatan agar aku bisa meyakinkanmu bahwa aku tidak sedang becanda. Cukup kamu tau bagaimana perasaanku, jangan ubah sikapmu." Dewa mengulurkan kotak blue safir kepada Deva. "Simpan ini. Jika suatu saat nanti kamu siap menerimaku, cukup pakai saja sesuatu yang ada di dalam sana. Jika kamu memang menolakku, berikan itu pada mamaku. Katakan pada mama, aku menitipkan hadiah itu padanya. Aku akan mengambilnya lagi saat nanti aku jatuh cinta lagi," tambahnya.
Deva semakin bergeming. Bahkan perempuan tersebut belum menerima kotak yang diberikan Dewa. Deva merasakan sekujur tubuhnya kaku seperti manekin. Tidak ada alasan baginya untuk menolak semua kebaikan Dewa. Nyatanya, beberapa bulan terakhir ini, pria itu memang selalu ada untuknya. Di luar sikap angkuh dan sombong yang kadang berlebihan, Deva harus mengakui Dewa sosok yang sempurna sebagai anak dan juga sebagai sahabat. Namun, untuk menjalani sebuah hubungan serius, jelas kata baik saja tidaklah cukup.
Menyadari reaksi Deva, Dewa pun berdiri memutari meja dan menghampiri perempuan yang sudah mengusik ketenangan pikirannya tersebut. Dia pun duduk di samping Deva. Meraih satu tangan Deva dan menggenggamkan kotak itu di sana.
"Aku tidak memaksamu untuk mengiyakan mauku. Jangan merasa terbebani untuk membalasnya. Kita berjalan seperti biasa." Dewa mengerlingkan salah satu bola matanya. Berharap situasi sedikit mencair.
Deva memaksakan sedikit senyuman. Apa yang dikatakan Dewa cukup bisa diterimanya. Tidak perlu menjawab pernyataan pria tersebut secepatnya, membuat Deva merasa sedikit lega dan nyaman.
__ADS_1
"Saya simpan dulu ya, Pak." Deva mengatakannya dengan suara lirih sambil menerima kotak pemberian Dewa dan langsung memasukkannya ke dalam tas.
Dewa menganggukkan kepala sembari memberikan tatapan penuh cinta. Siapa pun yang melihat cara Dewa menatap Deva saat ini, sudah pasti akan mengerti bahwa pria tersebut sedang jatuh hati pada sosok yang ada di sampingnya itu.
Setelah menunggu Deva menghabiskan minuman dan membayar billing pesanan, Dewa pun langsung mengajak Deva meninggalkan resto. Tidak ada kekecewaan pada raut wajah putra kesayangan Deswita tersebut, jauh sebelum malam ini, Dewa memang sudah mempersiapkan dirinya untuk ditolak atau pun tidak menerima jawaban. Apalagi ketika Deva dan Dave tadi sempat bertemu, keyakinannya untuk tidak diterima sudah semakin besar.
"Bee...." Lagi-lagi suara panggilan tersebut menghentikan langkah Deva. Bahkan kali ini juga menghentikan langkah Dewa yang sudah hendak membukakan pintu mobil untuk Deva.
"Iya, Bang." Deva menjawab lirih sambil menundukkan wajahnya. Jelas sekali dia sedang menghindari tatapan mata Dave.
"Maaf, Wa... boleh aku bicara dengan Deva sebentar. Hanya sebentar," pinta Dave.
"Tunggu di sini sebentar, Bee." Setelah mengatakan hal tersebut Dave berlari kecil menuju tempat parkir mobilnya yang ternyata hanya berjarak beberapa meter saja dari tempat mereka sekarang berada.
Deva pun hanya mengangguk kecil. Dia menyandarkan punggungnya pada pintu mobil Dewa yang masih tertutup rapat. Sungguh malam yang mengaduk-aduk isi hati dan pikiran.
Tidak lama, Dave pun kembali berada di hadapan Deva dengan membawa sesuatu yang masih disembunyikan di balik punggungnya. Belum-belum, mata pria tersebut sudah terlihat begitu sendu.
__ADS_1
"Sebenarnya aku memang sudah berencana untuk menemuimu malam ini atau setidaknya besok pagi sebelum aku berangkat. Kebetulan kita bertemu di sini." Dave kembali memulai pembicaraan.
Deva bergeming. Lagi-lagi dia tidak tau harus bagaimana dan berucap apa. Satu hal yang pasti, dia harus berusaha untuk tidak menangis dihadapan Dave.
"Aku pamit, Bee. Semoga suatu saat nanti kita bertemu lagi dalam keadaan yang berbeda. Aku bahagia, dan kamu pun juga sama. Maaf sudah meninggalkan luka yang luar biasa dalam hidupmu. Maaf kalau aku sepengecut ini. Meninggalkanmu tanpa memastikan lukamu sudah pulih atau belum." Dave menjeda kalimatnya sejenak. Menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.
"Aku dan hatiku, sudah sepakat untuk pergi. Tidak lagi menjadi bagian dari dirimu, tidak membuatku berhenti untuk memikirkanmu. Terimakasih sudah pernah menjadikanku sebagai pria beruntung karena pernah menemani perempuan hebat sepertimu."
Deva menengadahkan wajahnya. Kekuatannya hampir saja runtuh. Andai saja dia tidak buru-buru menatap bintang-bintang di langit dengan angkuh, bulir bening tentu sudah jatuh membasahi pipi mulusnya.
Dewa menggigit bibir bawahnya sendiri. Sayup-sayup dia mendengar apa yang diucapkan oleh Dave. Meski tidak bisa melihat ekspresi Deva, Dewa sudah bisa membayangkan bagaimana kegalauan hati perempuan yang dicintainya saat ini.
"Pada perjalanan waktuku, kamu adalah nama yang selalu aku lafazkan. Perpisahan, tidak sedikit pun menghalangiku untuk mengharapkan hal terbaik terjadi dalam hidupmu." Dave mengeluarkan sesuatu yang sedari tadi disembunyikan di balik punggungnya. Sebuah kotak terbuat dari kertas daur ulang yang sangat cantik. Besarnya tidak lebih dari dua puluh senti meter persegi dan tutupnya hampir penuh dihiasi oleh bunga edelweis kering.
"Beberapa orang, ditakdirkan untuk saling cinta tanpa harus saling memiliki. Kita mungkin salah satu dari mereka. Di akhir perjalanan, setidaknya kita tidak saling membenci. Kamu tidak akan pernah terganti, meski nanti mungkin aku bersama yang lain, dan kamu pun sama, biarlah sisa rasa ini tetap ada." Dave meraih tangan Deva dan menuntun tangan perempuan tersebut untuk menerima gift box darinya.
"Terimakasih untuk kamu yang hadir sesingkat ini dalam hidupku. Dulunya aku berharap kisah kita selamanya, namun apa daya takdir sudah menetapkan kita tidak sampai pada tujuan."
__ADS_1
Deva tidak lagi mampu menahan derai air mata. Tangannya jelas bergetar saat Dave mulai menyentuh tangannya tadi. Kekuatannya tidak hanya goyah, namun sudah runtuh. Perpisahan sebelumnya terasa tidak sesakit sekarang. Bahkan saat mengetahui Dave menikah, rasa hatinya tidak segamang ini. Dulu Deva masih mampu mengingatkan hatinya untuk ikhlas.
"Akhir-akhir ini aku selalu berdoa, agar Allah tidak memberikanku rasa takut akan kehilangan. Aku terus berharap, Allah menuntunku agar bisa melepas tanpa penyesalan. Bee... bolehkah aku memelukmu sebentar?"