
"Duduk, Dave," ucap Dewa, begitu pria tersebut sudah duduk di samping Dira dengan paksaan.
"Kak, undangan, tiket pesawat, penjemputan dan hotel tempat kakak menginap sudah aku kirim di whatsapp Kak Dewa. Semua sudah clear. Untuk fitting baju, kakak bisa datang ke butik langganan mama. Ajak Deva sekalian, ya, Kak. Untung saja aku ini peka. Jadi sebelum tahu kedekatan kalian, aku sudah mengatur semua agar kalian tidak jauh-jauh. Tapi ingat, Kak! Halalin dulu, meski terbangun suasana romantis dari pernikahan kami nanti, jangan sampai mengajak Deva yang aneh-aneh." Dira terus berbicara tanpa memedulikan dua lawan bicaranya yang tidak tertarik sama sekali dengan apa yang dia ucapkan.
"Kenapa bisa Deva ada di sini?" Tanpa sungkan, Dave langsung bertanya pada Dewa.
"Apa kamu baik-baik saja? Kamu menanyakan masalah perempuan lain di depan calon istrimu. Sungguh tidak waras." Dewa melemparkan tatapan sinis pada Dave.
"Kewarasanku sudah hilang sejak tiba-tiba datang seorang perempuan memaksa dan menyodorkan dirinya untuk menjadi istriku." Dave menjawab dengan santai.
Dira seketika beranjak berdiri. "Lihat aku baik-baik, Dave. Lihat! Aku juga punya batas kesabaran. Aku pastikan, kamu bisa mencintaiku. Tunggulah saat itu tiba. Jangan terlalu membenciku. Karena jarak membenci dan peduli itu sangat tipis," ucap Dira dengan penuh percaya diri.
"Kalau kalian belum selesai berdebat, silahkan kalian lanjutkan dulu sampai puas . Anggap urusan kalian selesai. Aku terima undangan kalian dengan baik. Sekarang aku mau istirahat dulu." Dewa yang jengah, tetapi sedang malas berdebat, segera meninggalkan Dave dan Dira.
"Aku nggak habis pikir, bagaimana dulu kamu bisa lulus menjadi dokter. Dengan sikap dan tingkahmu seperti ini, aku meragukan kompetensimu. Sepertinya, kamu benar-benar butuh seorang psikiater." Dave berniat meninggalkan tempat di mana Dira berada.
Di luar dugaan, baru saja Dave menjauh beberapa langkah, terdengar suara pecahan benda yang sengaja di banting ke lantai disertai jeritan histeris Dira. Dave pun langsung berbalik badan. Dengan langkah lebar, pria tersebut mendekati sang calon istri. Dave berusaha meredam amukan Dira.
"Hentikan, Dira. Kamu apa-apaan, sih? Kamu tidak pantas bersikap seperti ini. Kendalikan emosimu," tutur Dave sembari menahan tubuh Dira dengan memeluknya dari belakang. Perempuan itu terus meronta, ingin membanting semua benda yang tampak di depan matanya.
"Aku tidak butuh psikiater. Aku tidak gila. Kalian yang gila! Aku tidak gila." Dira terus mengatakan hal itu berulang-ulang.
__ADS_1
Deva dan Dewa yang letak kamarnya tidak jauh dari ruang keluarga lantai dua itu pun reflek keluar. Keduanya jelas bisa mendengar teriakan Dira yang memekakkan telinga.
"Dira ... kendalikan dirimu. Lihat, Kakak. Istighfar ... tidak ada yang bilang kamu gila. Semua baik-baik saja." Dewa menyentuh kedua lengan Dira dengan lembut.
Deva bergeming. Hatinya semakin merasakan sesak. Tidak terasa, air mata Deva pun luruh. Dia bisa melihat dengan jelas wajah Dave yang begitu sedih dan tertekan. Melihat Dira saat ini, Deva benar-benar merasa iba.
Nina, Rudi, dan Deswita pun berdatangan naik. Nina dan Rudi tampak lebih tenang dibanding yang lain. Apa yang dilihat sekarang, bukanlah hal yang aneh dan yang pertama bagi mereka. Meski sesungguhnya, sudah lama Dira tidak seemosional ini.
"Ada apa, Nyil?" Deswita tergopoh-gopoh menghampiri Dira yang masih dalam kondisi di tahan tubuhnya oleh Dave. Dewa sendiri hanya memegangi lengan Dira sembari terus mengajak sepupunya itu berbicara pelan.
"Mungkin Dira terlalu emosional dan semangat. Maklumlah, belakangan ini, dia capek mengurus persiapan pernikahan. Biar kita bawa Dira pulang saja." Rudi mendekati Dira dengan santai, lalu pria tersebut meminta Dave dan Dewa untuk menjauhkan tubuh mereka dari sang anak.
"Dira tidak gila, Pa. Dira tidak butuh psikiater. dira mau, Dave. Papa ngerti, kan?" Tatapan Dira begitu memelas saat melihat papanya.
Semua terdiam. Deva memalingkan wajah ke sisi lain untuk menghapus air matanya yang terus jatuh tanpa aba-aba. Bersamaan, Dave dan Dewa melihat apa yang dilakukan Deva. Kedua pria tersebut kompak berpikir ingin memeluk sosok rapuh itu. Sadar akan adanya ketidak mungkinan, Dewa mendekati dan membisikkan sesuatu pada mamanya.
"Kita pulang ya? Calon pengantin harus cantik. Dave hanya untuk kamu, sayang. Papa kan sudah janji, pasti papa selalu tepati. Kita pulang ya. Ini ada Dave juga. Mau turun sama mama papa? Atau sama Dave?" Rudi begitu sabar dan telaten saat menghadapi Dira.
"Dave." Dira menjawab singkat.
Rudi menatap Dave penuh harap. Meski tidak ada kata yang terucap dari bibir pria tersebut. Sorot mata dan bahasa tubuhnya jelas menyatakan demikian.
__ADS_1
Dengan sedikit canggung, Dave mengamit pinggul Dira. Lalu dia berjalan dengan wajah menunduk mengikuti langkah pelan kaki Dira. Dave tidak punya ketegaran hati untuk menatap Deva yang kini berdiri di samping Deswita.
Keinginan Dave yang ingin menjaga perasaan Deva, ternyata tidak dimengerti oleh Dira. Dalam keadaannya yang kacau, perempuan itu seolah tersadar akan kemenangannya. Dira menghentikan langkah sembari menggengam erat tangan kanan Dave yang melingkari pinggulnya.
"Tidak mengapa cintamu bukan untuk aku. Yang terpenting, setelah akad nanti, akulah perempuan yang menjadi tanggung jawabmu seumur hidup. Hanya aku, Dave. Bukan masa lalumu. Sesuci-sucinya cinta masa lalumu, masih suci ikatan pernikahan kita." Setelah mengucapkan hal tersebut, Dira kembali berjalan.
Dave ingin sekali melepaskan tangannya dari pinggul Dira, namun perempuan tersebut semakin bertindak jauh. Dengan sengaja, Dira berjalan sambil menyandarkan kepala di lengan Dave. Senyuman licik tersungging tipis dari bibir Dira.
Karena tidak enak, Deswita dan Dewa mengantar tamu-tamunya sampai di depan pintu utama. Sementara Deva, tentu saja langsung berlari ke kamar mandi. Hanya tempat itulah yang nyaman untuk menumpahkan kesedihannya saat ini. Andai dia berada di rumah sendiri, yang akan dia lakukan saat ini adalah berteriak sekencang mungkin.
Tidak sampai menunggu mobil yang ditumpangi Dave, Dira, Nina dan Rudi bergerak meninggalkan halaman rumah. Deswita dan Dewa segera kembali ke dalam rumah menuju lantai dua di mana kamar mereka masing-masing berada.
"Ma ...." Dewa memanggil mamanya dengan ragu.
"Mama tahu, Nyil. Kamu tenang saja. Mama akan menemani Deva melewati sedihnya." Deswita mempercepat langkahnya.
Sampai di depan kamar Deswita, perempuan tersebut berdiam diri sejenak. Dewa pun melakukan hal yang sama. Keduanya mematung di depan daun pintu masing-masing.
Deswita pelan-pelan membuka pintu kamarnya. Kepalanya melongok terlebih dahulu untuk melihat keadaan di dalam sana. Tidak menemukan keberadaan Deva, membuat perempuan tersebut seketika panik. Dia membuka lebar pintunya dan berjalan cepat menelusuri setiap sudut di dalam kamarnya.
"Nyil! Deva tidak ada, Nyil ... Dev ...." Deswita berteriak sambil terus berjalan mondar mandir karena kebingungan.
__ADS_1