
Deva memaksakan senyumannya pada Dave. Itu adalah senyuman tertulus yang bisa diberikannya saat ini. Tidak peduli bagaimana mata menafsirkan segala rasa yang berkecamuk di dalam dada. Setidaknya, bulir bening masih bisa ditahan untuk tidak berjatuhan.
Dira mengikuti arah pandangan Dave. Mengetahui pandangan itu jatuh pada sosok Deva, Dira pun terpaksa melemparkan senyuman dengan terpaksa. Tangannya bergerak perlahan, meraba-raba ingin meraih tangan Dave. Namun, dengan sigap, pria tersebut segera menjauhkan tangannya di belakang punggung.
"Tidak, aku tidak boleh kalah. Di depan Deva, semua harus sempurna sesuai mauku," batinnya.
Kedua pasangan yang baru saja resmi menyandang status suami dan istri itu, kembali menghadap ke depan penghulu yang akan memberikan nasihat pernikahan, dan memberikan sedikit wawasan tentang bagaimana kedudukan, tanggung jawab, serta hak dan kewajiban suami istri dalam menjalani biduk rumah tangga.
Dave jelas tidak mendengarkan dengan sungguh-sungguh, meski dia menundukkan kepala dan duduk dengan tenang di tempatnya, tetapi pikiran Dave sudah berkeliaran memikirkan Deva.
Acara pun lalu berlanjut pada prosesi selanjutnya. Di mana Dira dan dave harus melakukan sungkeman atau meminta doa restu pada kedua orang tua masing-masing. Sampai pada acara ini, para tamu undangan termasuk di dalamnya ada Dewa, Deswita, dan juga Deva, menyadari betapa pernikahan ini memang tidak senormal pernikahan lain pada umumnya.
Dave bersimpuh di depan lutut Fira. Sedangkan Dira ada di samping Dave persis bergantian meminta restu pada Agas. "Semoga kamu bahagia, sayang. Sekarang, kamu sudah menjadi seorang suami. Di pundakmu ada tanggung jawab yang besar. Jalani semua dengan ikhlas, agar langkahmu tidak berat," lirih Fira, terdengar ragu saat mengatakannya. Tangan kanan Fira mengusap pundak Dave dengan lembut.
Dave dengan sengaja menegakkan tubuhnya lebih tegak, sebelum mencium pipi kiri dan kanan Fira, dia pun berbisik pada perempuan tersebut, "Beban di pundak Dave, mama dan papa yang meletakkan. Dave tentu tidak bisa menanggung sendiri. Karena keputusan ini mama dan papa yang buat, tolong bantu Dave meringankan beban ini."
Fira memaksakan senyumannya. Dalam hati, perempuan tersebut hanya mampu menyelipkan doa. Semoga Dira bisa membuat putra satu-satunya itu jatuh cinta. Sebelum semua rahasia terungkap, dan kebencian Dave akan menjadi semakin memuncak. Tidak, Fira tidak siap untuk itu. Meski begitu banyak pepatah yang membuatnya merasa was-was, dia masih berharap Tuhan memberikannya kemurahan hati untuk tidak membiarkannya menuai apa pun dari apa yang sudah terlanjur ditabur. Biarlah benih-benih itu tumbuh liar dan habis digilas oleh orang lain.
Deswita kembali menoleh pada Deva, memastikan perempuan di sampingnya itu tidak terlalu keras memaksakan diri untuk bertahan di sana. Deswita meraih tangan Deva yang terasa dingin sekali.
Tampaknya, acara sungkeman sudah selesai. Acara selanjutnya adalah ramah tamah yang diselingi dengan acara makan pagi dan foto bersama kedua mempelai secara bergiliran.
__ADS_1
"Dev, Mades tinggal foto sebentar, ya. Kalau mau ambil makanan, tunggu Mades." Deswita berpamitan pada Deva sembari menitipkan tas tangannya pada perempuan tersebut. Lalu dia mengajak Dewa untuk maju ke depan, meminta pembawa acara untuk mendahulukan keduanya.
"Deva. mana, Kak. Kenapa nggak sekalian saja." Dira dengan sengaja bertanya dengan suara seramah mungkin pada Dewa. Seakan ingin menegaskan bahwa antara Dewa dan Deva ada kedekatan khusus.
Belum sampai Dewa menjawab, Dave sudah menyahut dengan cepat---tanpa basa-basi. "Kalau sampai Deva berdiri di sini, aku pastikan kamu yang akan mendapat malu, Dir. Aku akan membuat semua orang sedikit paham, siapa seharusnya yang berdiri di sini."
"Dave, jaga sikapmu." Rudi sedikit menarik tangan Dave. Menantunya itu, tidak seharusnya bersikap seenaknya seperti itu.
Kemewahan dekorasi dan juga makanan yang disediakan, tidak meninggalkan kesan apa pun bagi tamu yang datang. Padahal, pada akad kali ini, undangan tidak lebih dari 80an orang saja. Itu pun hampir dipastikan semua masih memiliki hubungan kekerabatan. Namun, tidak ada kesan mendalam yang singgah di hati mereka kecuali ikrar akad yang salah sebut nama mempelai perempuan tadi. Hingga saat ini, bisik-bisik kencang mengenai hal tersebut masih terdengar samar-samar.
Selesai berfoto, Deswita dan Dewa kembali pada tempat di mana Deva berada. Perempuan tersebut tampak bergeming pada tempatnya. Bahkan posisi duduknya pun tetap sama.
"Ehm... saya boleh ikut sama Pak Dewa tidak?" tanya Deva tanpa disangka sebelumnya.
"Tentu boleh dong. Sudah sana. Kalau perlu keliling Bali." Deswita malah menarik tangan Deva agar cepat berdiri.
"Pak Dewa," Deva masih menunggu atasannya tersebut mengiyakan permintaannya. Karena dia tahu persis, Dewa adalah orang terangkuh yang dikenalnya.
"Iya... tapi jangan bawel, ya. Kemana-kemananya terserah aku." Dewa menarik tangan Deva untuk mengikuti langkahnya. Tanpa berpamitan kepada Deswita, pria tersebut hanya mengerlingkan satu matanya pada sang mama. Sedangkan Deswita akhirnya hanya sempat melambai dengan tangan kiri yang memegang hand bag pada mama dari Dewa itu.
Dave yang sedari tadi sebentar-sebentar mencuri pandang pada Deva, seketika menjadi gusar begitu tahu Deva meninggalkan acara bersama Dewa. Ditambah lagi, kedua orang tersebut tampak bergandengan tangan. Meski tidak mesra, dia tahu pasti, biasanya Deva tidak segampang itu membiarkan orang lain menyentuhnya.
__ADS_1
Sampai agak jauh dari tempat akad, Deva langsung melepaskan tangannya dari tangan Dewa secara paksa. "Kita berpisah di sini saja. Terimakasih tadi sudah mengijinkan saya ikut dengan Bapak."
Ucapan Deva tentu saja membuat mulut Dewa menganga. Jelas dia tidak habis pikir dengan apa sebenarnya yang sedang ada di benak perempuan tersebut. Deva yang menawarkan diri untuk ikut, dia sendiri yang membatalkan. Sungguh membingungkan.
"Saya tadi hanya takut kalau Mades khawatir kalau saya pergi sendirian. Kebetulan Bapak mau keluar, saya ngikut saja." Deva mengatakannya sembari menundukkan kepala.
"Dev, nggak bisa gitu dong. Kalau kita pulangnya nggak barengan. Ntar mama bakalan tanya. Belum lagi kalau ada apa-apa sama kamu. Aku juga yang di salahin. Lagian kamu mau kemana? Aku nggak bakalan ganggu kamu. Janji, aku bakalan jaga jarak." Dewa mengangkat dua jarinya sebagai penegas ucapan sumpahnya.
"Terserah Bapak saja," Deva yang sedang malas berdebat langsung berjalan menjauhi Dewa yang sengaja memberi jeda waktu untuk berjalan mengikuti asisten pribadinya itu.
Di sisi lain, Dave sudah meminta ijin untuk meninggalkan tempat akad terlebih dahulu. Pria tersebut mengatakan kalau sedikit pusing karena kurang tidur. Menyangka Dave memberikan kode malam pertama di pagi hari, Nina dan Rudi kompak menyuruh Dira untuk menemani Dave.
"Kenapa kamu mengikutiku?" Dave bertanya dengan datar.
"Tentu saja, kamu sakit kepala, kan? Aku bisa memijatmu, Dave." Suara Dira dibuat sangat menggoda.
"Benarkah?" Dave mulai berpikiran licik.
"Tentu saja," sahut Dave dengan cepat dan begitu sumringah.
"Semoga kamu tidak menyesal karena sudah mengikutiku, Dir," tegas Dave dengan seringai yang menyiratkan sebuah rencana.
__ADS_1