Sisa Rasa

Sisa Rasa
Menuju akad


__ADS_3

"Kenapa? Kaget? Bukan aku yang kamu harapkan di sini?" Dewa menyandarkan badannya di kusen pintu dengan santai. Tatapannya jelas menyiratkan kesinisan yang amat kentara.


Deva menarik napas sedikit berat. "Saya sedang malas berdebat, Pak. Silahkan keluar dari kamar saya, dan biarkan saya istirahat."


Dewa melipat tangan di depan dadanya sendiri. "Malas berdebat? Atau sudah kehabisan kata-kata untuk membela diri? Deva-Deva... bukankah selama ini kamu merasa pintar? Apa yang kamu cari sebenarnya? Sadar diri, Dev. Dalam hitungan jam, Dave akan menjadi suami orang lain. Pantaskah kalian berduaan di dalam kamar? Untung saja hanya aku yang melihat. Andai orang lain yang tahu, penilaian mereka akan jauh lebih buruk. Sebelum kamu menjaga perasaan Dave, seharusnya kamu juga memikirkan dirimu sendiri."


Deva menyadari kebenaran dari kata-kata yang diucapkan Dewa. Namun, logikanya selalu kalah jika sudah berhadapan dengan Dave. Pikiran dan hatinya seolah sudah dikuasai oleh rasa cinta yang teramat besar. sakit hati, kesedihan, dan rasa kecewanya sendiri, seakan sirna karena yang terlintas hanyalah tentang perasaan sang pujaan hati. Cinta semudah itu membuat orang bodoh, buta, dan tuli pada keadaan sekeliling.


"Terserah, Bapak. Saya benar-benar ingin istirahat." Deva memaksa masuk, dan melewati Dewa begitu saja. "Silahkan." perempuan tersebut merentangkan satu tangannya ke arah luar. Sebagai kode keras agar Dewa segera meninggalkan tempatnya.


"Aku pasti keluar tanpa kamu usir, Dev. Aku tidak mau orang-orang semakin menganggapmu perempuan gampangan. Kita bekerja di satu perusahaan yang sama. Dan kebetulan kamu berada langsung di bawah penilaianku, tolong saling menjaga reputasi kita. Jaga prasangka orang agar tetap baik." Dewa meninggalkan kamar Deva dengan langkah pasti. Cukup sudah ikut campurnya yang terlalu jauh.


Kini, Dewa mulai bertanya pada dirinya sendiri. Sebenarnya, apa yang membuatnya ikut campur sejauh ini. Benarkah demi Dira? Ataukah ada alasan lain? Dewa meraup rambutnya dengan kasar. Dia tidak berharap berada di posisi seperti sekarang. Dewa rindu masa-masa kebebasan tanpa diusik urusan hati yang membebani pikirannya sendiri.


*****


Malam semakin larut. Namun, tiga pasang mata belum juga bisa memejam. Berbagai posisi ternyaman dicoba. Entah mengapa? Kantuk tak kunjung mendera. Kekhawatiran membuat mereka bertiga susah memasuki alam mimpi.

__ADS_1


Dewa dengan keresahannya pada ketidak jelasan perasaan yang kini dia rasakan. Dave, dengan ketidaksiapan diri menghadapi hari esok. Dan Deva yang berharap waktu berjalan lebih cepat, agar dia bisa melalui semuanya sesegera mungkin. Jika membayangkan saja terasa sulit, mungkin dengan menjalaninya langsung, malah akan terasa biasa.


Hingga kumandang adzan subuh terdengar, tidak ada satu pun dari ketiga orang tadi yang memejamkan matanya. Deva memutuskan mengguyur badannya di bawah shower yang mengalirkan air hangat. Berharap, beban di pikirannya, sebagian luruh dan hanyut terbawa aliran air. Hanya menyisakan beberapa jam lagi, harapannya pada Dave---harus benar-benar dikubur dalam-dalam.


Di sisi lain, Dave nampak bersimpuh di atas sajadah dengan tangan menengadah sembari memejamkan mata. Bibir pria tersebut mengatup rapat. Lafalan doa dan sederet permintaan, cukup hanya dia dan Tuhan yang tahu. Setelah selesai, dia pun melipat kembali sajadahnya. Dave lalu menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk dengan gerakan yang sangat kasar.


Pria tersebut mengabaikan suara ketukan dari luar kamarnya. Dave tahu persis siapa yang datang. Akad nikah yang dilakukan di waktu yang tidak lumrah, membuat orang-orang menginginkannya bersiap saat ini juga.


Ya, akad nikah dilakukan pukul enam pagi. Waktu yang benar-benar tidak lazim di pilih untuk sesuatu yang sakral. Tetapi, siapa yang bisa menentang keinginan Dira. Seharusnya, hanya Dave yang bisa. Namun, pria tersebut sudah enggan bersitegang menghadapi calon istrinya tersebut. Kewarasannya, jauh lebih penting---daripada memperdebatkan sesuatu yang berujung pada kata "Yang waraslah yang memang harus mengalah."


Hampir lima menit Dave mengabaikan orang yang mengetuk pintu dan memanggil di depan kamarnya tersebut. Akhirnya, karena risih, Dave terpaksa membukakan pintu. Raut cemas dari Agas seketika menyambutnya.


Dave tidak berniat sama sekali untuk menjawab ucapan papanya. Pria tersebut malah kembali membaringkan badannya di atas kasur.


"Dav, ayolah! Jangan kekanak-kanakan. Kita sudah sampai sejauh ini, jangan sampai kamu malah membuat masalah semakin lebar," tekan Agas.


"Masih satu jam lagi, bukan? Biarkan Dave istirahat sebentar. Hanya tinggal ganti pakaian, apa susahnya." Dave pura-pura memejamkan matanya.

__ADS_1


"Dav, Papa tahu, kamu melakukan semua ini karena terpaksa. Tapi cobalah bersikap lebih baik. Buat papa bangga sama kamu, Dave. Kalau pun mama dan papa menjodohkanmu dengan Dira, itu tidak semata-mata karena Papa. Dia bukan perempuan sembarangan. Berpendidikan, cantii, dan sepadan denganmu." Agas seperti sedang mendesak Dave.


Karena merasa jengah, Dave pun kembali beringsut dari posisiny. Dia lalu berdiri tegak berhadapan dengan sang papa. "Tidak perlu mengingatkan Dave untuk membuat Papa bangga. Dave jadi semakin tidak percaya kalau Papa memang tidak bersalah. Harusnya, jika tidak terbukti korupsi, Papa tidak perlu sampai membuat kesepakatan ini, bukan? Jangan berlindung di bawah kata-kata membanggakan, Pa. Pernikahan itu sendiri, bukanlah sebuah prestasi," Dave dengan malas membuka kopernya. Dia mengeluarkan kemeja putih sederhana dari dalam sana.


Agas memperhatikan setelan Tuxedo yang menggantung pada sisi almari terbuka tidak jauh dari tempatnya berdiri. Pria tersebut mengernyitkan keningnya, begitu melihat Dave malah memakai kemeja yang baru diambilnya dari dalam koper tadi. Namun, Agas tidak berani protes. Dia membiarkan saja apa yang dilakukan Dave sesuka hati.


Hingga waktu yang tidak dinanti pun tiba. Dewa, Deswita, dan juga Deva duduk di deretan bangku pertama yang memang sudah disediakan untuk mereka. Semua undangan yang datang, hanya tinggal menunggu kedatangan mempelai pria dan mempelai wanita memasuki area akad. Deva menundukkan kepalanya begitu dalam. Satu tangannya mereemas tangan yang lain sebagai pengalihan dari rasa cemas yang membuncah.


Rudi sendiri, tampak sudah menempati bangku di samping penghulu. Mengenakan setelan Tuxedo berwarna biru tua, sebenarnya pria tersebut tampak berwibawa. Hanya saja, mengetahui sikapnya yang terlalu lunak pada Dira dan Nina, membuat wibawa itu rasanya luntur di mata beberapa orang yang mengenalnya lebih dekat.


Suara riuh pembawa acara, yang menyerukan nama Dave dan Dira untuk memasuki tempat akad. Membuat Deva semakin enggan menegakkan posisi kepalanya. Deswita yang sangat peka, seketika mengusap punggung Deva penuh kelembutan. Seolah perempuan tersebut ingin menyalurkan sebuah semangat pada Deva.


Dave dan Dira berjalan beriringan tanpa berpegangan tangan. Di belakang mereka ada Nina dan juga Fira yang mengiringi. Entah konsep apa yang digunakan, sikap Dave yang acuh tak acuh membuat Dira pun terpaksa membuat penyesuaian di sana sini.


Bola mata Dave terus bergerak liar, dia mencari keberadaan Deva di tempat tersebut. Terbesit sebuah harapan, semoga Deva tidak menghadiri acara akad nikahnya ini. Dave benar-nenar tidak sanggup jika harus melakukan pengkhianatan sekejam ini di depan mata perempuan yang dicintainya itu secara langsung.


"Kok, pengantin prianya tumben bajunya gak matching sama pengantin perempuan, ya, Jeng. Cakep sih, tapi kok terkesan tanpa persiapan," bisik salah seorang kolega bisnis Rudi yang duduk tepat di belakang Deva.

__ADS_1


"Iya, ganteng sih, tapi kok bajunya kayak mau interview kerja. Tuxedonya gak muat kali. Masak sekelas Pak Rudi, menantunya begitu," timpal salah seorang yang lain.


__ADS_2