
"Ya, Bang Dave sekarang memang sudah menjadi suami orang. Saya belum lupa. Tapi terimakasih karena Bapak sudah kembali mengingatkan saya akan hal itu." Deva membalas tatapan Dewa dengan berani.
"Kembali kasih, Deva. Tapi aku serius, jika kamu memang masih ingin memuji Dave, lakukan saja. Mumpung hanya ada aku di sini. Kalau ada orang lain, please jangan lakukan itu. Jangan sampai mereka menilaimu sebagai bibit-bibit perebut suami orang. Cukup Diana dan Dara yang menjadi istri kedua. Kamu tidak perlu mengikuti jejak mereka."
"Saya tidak senekat itu, Pak. Masih mencintai, bukan berarti kami harus kembali bersama. Saya tidak sampai hati merebut kebahagiaan dari perempuan lain. Saya masih belum kehilangan akal hingga sampai tega melakukan hal itu. Saya bukan Dira. Andai saya memiliki kekuasaan dan kekayaan yang berlimpah tanpa batas, sedikit pun saya tidak akan memanfaatkannya untuk urusan cinta. Status mungkin bisa di paksakan. Namun, tidak dengan cinta. Saya berharap, Bang Dave bahagia."
Dewa menatap Deva lebih dalam lagi. "Beneran pengen Dave bahagia? Tulus nggak tuh?"
Deva yang tadinya sendu, seketika mencebikkan bibirnya dengan kesal. Dalam hati, perempuan tersebut ingin mengumpat pada atasannya yang selalu berhasil mengeluarkan kata-kata ampuh dan berhasil membuat darahnya mendadak mendidih. Mewakili perasaan dan ribuan kata yang ingin dilontarkan, Deva tanpa sadar mencubit lengan Dewa dengan gemas.
"Auww ... sakit, Dev. Kamu kelihatannya saja beda sama perempuan lain, ternyata masih sama saja. Suka banget nyubit sembarangan." Dewa mengusap lengannya yang terasa panas seperti digigit semut akibat cubitan Deva.
"Siapa suruh tanya seperti tadi? Mana ada orang berharap dengan tidak tulus. Kalau pun ada, orang itu mungkin Anda sendiri," sungut Deva.
"Kok jadi aku? Aku hanya melihat dari sisi manusia biasa. Mana ada kita mendoakan yang baik-baik untuk orang yang menorehkan luka pada diri kita."
"Ada ... masih banyak orang baik di dunia ini. Yang jahat, hanya sebagian kecil saja. Dan semoga Bapak tidak termasuk dari sebagian kecil itu." Deva mengakhiri ucapannya dengan sebuah senyuman sinis.
"Aku baik, Dev. Kamu saja yang kurang telaten."
Sebuah cubitan kembali mendarat di lengan Dewa. Tentu saja, membuat pria tersebut kembali meringis. "Dua cubitan, membuatku lapar. Kamu harus menggantinya dengan menemaniku makan. Lagipula, kamu belum makan apa pun. Kita dinner, yuk! Malam ini aku lagi baik. Jangan mengajakku berdebat."
__ADS_1
Deva tidak langsung mengiyakan. Perempuan tersebut tampak berpikir. Selama ini, dia banyak menghabiskan waktu sendiri untuk melarikan diri dari kesedihan. Mungkin, Deva memang butuh teman-teman yang bisa memberikan suasana lain. Namun, Deva kembali ragu. "Mana bisa menganggap Pak Dewa teman? Dia kalau lagi baik sih baik banget. Tapi kalau songongnya dateng? Yang ada malah makin kesal aku nanti."
Di saat Deva sedang ragu-ragu akan menerima ajakan Dewa atau tidak di waktu yang sama, Dave meminta diri, pamit dari rangkaian acara resepsinya sendiri. Dia beralasan sedang tidak enak badan, dan butuh waktu istirahat. Karena memang beberapa hari yang lalu Dave sempat di rawat di rumah sakit, akhirnya, Nina, Rudi, Fira, dan Agas pun memaklumi. Dira sendiri, tentu saja langsung menduga jika Dave hanya mencari-cari alasan agar bisa menyusul Deva.
Meski memiliki prasangka buruk, tentu saja Dira tidak bisa semena-mena, dia harus tetap ada di sana sampai acara resepsi benar-benar usai.Jika dia dan Dave menghilang, tentu pandangan buruk tamu undangan akan semakin menjadi-jadi.
Dira dengan segala kekesalannya yang tertahan, terpaksa harus terus menebar senyuman kepalsuan di depan para tamu. Andai Nina tidak memberikannya sebutir obat, mungkin, yang terjadi saat ini adalah amukan tak terbendung dari seorang Dira.
"Sebentar lagi usai, Dir. Tinggal foto-foto saja. Terimakasih sudah bisa mengendalikan dirimu sebaik ini. Lagipula, kamu yang mengharapkan semua ini terjadi, apa pun akibatnya, jangan mengeluh," Nina berbisik lirih pada Dira yang berada di sampingnya persis untuk bersiap-siap berfoto dan menyalami para undangan secara bergiliran.
Di sisi lain, sang mempelai pria, malah sudah merebahkan diri di atas kasur empuknya. Tentu saja bukan untuk tidur, melainkan untuk melamunkan seseorang yang wajahnya begitu lekat berada diingatannya. Siapa lagi kalau bukan sosok Deva Magnolia.
Waktu pun berlalu, acara resepsi yang aneh dan menyisakan berbagai kesan penuh tanya di benak para undangan pun akhirnya usai. Dira bergegas menuju kamar pengantinnya. Tidak mendapati Dave di sana, perempuan itu langsung bergegas mencari suaminya tersebut di kamar lain yang di pesan oleh Dave.
Dira mengetuk pintu sebuah kamar dengan tidak sabar. Bahkan beberapa kali, kakinya yang masih mengenakan high heels, sempat menendang-nendang daun pintu tersebut.
"Buka pintunya, Dave," teriaknya.
Deva dan Dewa yang baru saja usai melakukan makan malam yang terjadi akibat kesepakatan tadi, seketika menghentikan langkahnya. Dewa menghampiri dan langsung mencekal lengan Dira.
"Apa-apa'an kamu, Dir? Ini sudah malam. Kenapa sih kamu jadi kayak kehilangan akal begini?"
__ADS_1
Mengabaikan pertanyaan Dewa. Dira malah menyingkirkan tangan sepupunya tersebut dengan kasar begitu melihat sosok Deva. Dia pun segera menghampiri rivalnya itu dengan langkah lebar.
"Di mana Dave? Katakan di mana Dave?" Dira mencengkram tangan Deva begitu erat.
Dewa tidak tinggal diam, dia dengan cekatan ingin membantu Deva terlepas dari Dira. Namun, satu tangan Deva mengirimkan isyarat agar Dewa tidak melangkah maju mendekati mereka.
"Di mana Dave?" Dira mengulang pertanyaannya sekali lagi.
"Kamu istrinya, bukan? Kenapa harus tanya aku?" Deva membalas tatapan tajam Dira dengan tatapan yang tidak kalah tajam.
"Berhenti pura-pura menjadi perempuan sok polos, Dev. Kamu tidak selugu ini. Aku tidak buta untuk melihat caramu menatap suamiku. Tatapanmu itu, seolah ingin menjerat suamiku ke dalam pelukanmu."
Deva tersenyum sinis, lalu dia melepaskan genggaman tangan Dira dengan berani. Jejak jemari Dira, terlihat jelas membekas di pergelangan tangan Deva yang putih mulus.
"Dan seharusnya, kamu juga tidak buta untuk melihat tatapan yang sama dari suamimu itu untukku. Andai aku ini bisa bersikap bodoh dan jahat, bisa saja, aku bersama lagi dengan Bang Dave dengan mudah. Entah menjadi istri kedua, atau sekedar menjadi selingkuhan. Tapi aku tidak serendah itu. Apa yang sudah kamu ambil secara paksa, tidak akan aku ambil kembali. Aku ingin tahu, sejauh mana kamu bisa bahagia dengan hasil rampasan."
"Aku akan bahagia, Dev. Dalam waktu yang sangat cepat, Dave akan melupakanmu. Jangan lupa, besok pagi, kita akan ke Jogja. Di sana, kamu akan tahu, siapa aku di mata Dave sebenarnya. Kamu, bukanlah perempuan pertama dan satu-satunya yang Dave cintai," tegas Dira.
"Dira! Berhenti menggila, Deva tidak akan ikut ke Jogya tanpa aku." Dewa ikut berbicara dengan nada yang sangat tegas.
"Oh, Kak Dewa mau ikut juga? Baguslah kalau begitu." Dira melenggangkan kaki dengan santai menjauhi Deva dan Dewa.
__ADS_1