Sisa Rasa

Sisa Rasa
Menikah?


__ADS_3

Deva tidak langsung menerima botol tersebut. Dia menoleh terlebih dahulu untuk memastikan siapa sosok yang berbaik hati memberikan minuman kepadanya. Dari suara yang terdengar tadi, jelas suara tersebut sangat familiar di telinga Deva.


"Pak Dewa? Kok bisa ada di sini? Katanya lama? Kan extend Bapak masih besok?" Deva mencecar Dewa dengan pertanyaan begitu keduanya sudah berada dalam posisi saling berhadapan.


"Ada yang ketinggalan, aku ambil dulu. Enam bulan yang lalu, aku juga general check up, jadi aku harus bawa hasil yang lama untuk digunakan sebagai bahan perbandingan dengan hasil yang baru," kilah Dewa.


Tentu itu bukan tujuan Dewa sebenarnya. Kata yang terucap hanyalah pintar-pintarnya Dewa mencari alasan. Entah apa tujuan pastinya? Yang jelas, keinginan pria tersebut untuk pulang walau hanya sebentar---sudah tidak bisa dibendung lagi.


"Kenapa Bapak tidak bilang-bilang kalau mau pulang?" Deva menerima botol minuman yang masih dalam genggaman tangan Dewa.


"Ngapain harus ngomong sama kamu? Emang apa hubungan kita? Mama saja nggak tau. Nanti malam, aku sudah balik lagi. Cari sarapan bubur, yuk!" Ajak Dewa


"Nyong masih mainan. Lagian kita tidak mungkin jalan kaki kalau cari bubur. Bapak belum sarapan? Kan di pesawat dapet makanan." Deva lalu meneguk isi botol berukuran tanggung itu hingga tandas.


"Aku nggak suka makanannya. Sekarang kalian pulang dan ganti baju. Kita ajak Nyong sekalian. Biar dia main di play ground. Sudah lama dia nggak keluar rumah." Setelah mengatakan hal tersebut pada Deva, pria tersebut menghampiri Jason dan mengajak bocah itu untuk pulang.


Ketiganya berjalan beriringan dengan posisi Jason berada di antara Deva dan Dewa. Tanpa ada satu pun yang menyadari, sepasang mata menangkap kebersamaan mereka dengan sendu. Siapa lagi kalau bukan Dave. Pria tersebut sedang berada di dalam mobil yang melaju pelan dengan arah berlawanan yang dituju Deva, Dewa dan Jason. Dave terus meredam hatinya yang sedang bergejolak. Dia yang melepaskan, namun hatinya masih merasa utuh memiliki. Kecemburuan itu nyata terasa.


Begitu mobil yang dikendarainya sudah menyisakan jarak yang tidak terlalu jauh, Dave memutuskan untuk menepikan dan menghentikan mobilnya. Dia lalu bergegas keluar dari sana.


Menyadari sosok yang keluar dari dalam mobil adalah Dave. Deva segera berpindah posisi. Dia memundurkan kakinya selangkah dan bergeser ke kanan agar bisa bersembunyi di belakang punggung Dewa.


"Wa ... bisa kita bicara sebentar?" Dave menghentikan langkah Dewa.

__ADS_1


Deva yang menundukkan wajah begitu dalam, sekaligus melamun, tentu saja tidak menyadari apa yang dilakukan Dewa. Dia pun tetap melangkah pasti. Kalau saja kepala Deva tidak membentur punggung atasannya tersebut, tentu dia tidak akan mendongakkan kepala dan terus berjalan.


"Kalau berhenti kasih aba-aba dulu dong, pak. Sakit tau. Punggung apa batu, keras banget," umpat Deva lolos begitu saja sambil mengusap-usap dahinya.


"Siapa yang suruh kamu jalan di belakangku? Dia yang salah, dia yang nyolot---Dasar perempuan!" sungut Dewa, masih mengabaikan Dave sejenak.


Jason dengan gayanya yang sok dewasa, menggamit pinggul Deva sembari berkata, "Punggung nyil belum seberapa kerasnya, Kak. Coba adu keras kepala dengan Nyil, pasti dialah pemenangnya."


"Bocil nyamber mulu. Kalian pulang dulu sana. Aku sampai rumah, kalian sudah harus siap," ucap Dewa sembari melirik ke arah Dave yang rupanya sedang mengalihkan pandangan matanya ke sisi lain.


Deva dan Jason mengangguk kompak. Lalu keduanya melanjutkan langkah kaki mereka yang masih separuh jalan lagi menuju rumah Deswita.


"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan, Dave? Nekat tinggal di rumah Deva juga kamu ternyata?" Dewa bertanya santai sembari menyandarkan tubuhnya di kap mobil milik Dave.


"Kita masuk ke dalam mobil saja, Wa." Dave membuka pintu mobil dengan menggunakan sensor lock yang ada di gengamannya.


"Aku tahu kamu peduli sama Deva. Bahkan menurutku bukan sekedar peduli. Kamu sudah menaruh hati padanya. Karena itu, aku tidak ragu untuk meminta bantuan padamu." Dave langsung membuka galeri ponselnya, lalu dia membuka salah satu video yang diambilnya dari rekaman CCTV di rumahnya, dan menyodorkan ponsel tersebut pada Dewa.


"Aku peduli, karena dia asisten pribadiku, Dave. Aku tidak melibatkan hati dalam bekerja. Kami dekat, karena mamaku kebetulan juga cocok. Tapi bukan berarti aku menaruh hati pada Deva."


"Teruslah menyangkal, Wa. Sejauh apa pun kamu lari, hatimu tetap akan kamu bawa. Dia tidak akan kemana-mana. Sungguh aku tidak keberatan sama sekali jika memang kamu bisa membahagiakan Deva lebih dari aku."


Dewa tidak lagi menanggapi ucapan Dave. Dia memilih fokus pada pergerakan yang diperlihatkan layar ponsel. Di awal tahun kemarin, rupanya terjadi pertemuaan di rumah Agas. Di mana Dermawan dan juga Rudi hadir di sana bersama tiga orang lain yang tidak dia kenali.

__ADS_1


"Masih ada dua video lagi, geser saja ke kanan," ucap Dave.


Benar saja, di video selanjutnya, tidak ada Dermawan atau dua orang lainnya tadi. Hanya ada Agas dan juga Rudi. Setelah memutar dan mengulang sebanyak dua kali, Dewa memberikan kembali ponsel tersebut kepada Dave.


"Aku tahu, terlepas dari keikhlasan yang diucapkan. Deva pasti tetap menginginkan sebuah keadilan. Jika papaku tidak segan mengorbankan kebahagiaanku, jelas mudah bagi papa untuk menekan Deva jika dia sudah merasa terancam," tutur Dave.


"Jaga musuhmu lebih dekat. Kembalilah tinggal di rumahmu atau tinggallah di rumah Dira sesekali. Lihat pergerakan mereka, amati kebiasaan dan cari sesuatu yang mencurigakan. Salah satu dari mereka sepertinya sudah sadar akan kesalahannya."


"Siapa?"


"Pak Dermawan. Dia papa dari Debora."


"Oh ... pantas, semua lebih masuk akal sekarang. Itulah kenapa dia menjual rumah Deva padaku dengan harga di bawah pasaran." Dave memanggut-manggutkan kepalanya.


"Dave, lakukan saja dengan hati-hati. Jika ada bukti, kita baru bisa mengajukan proses hukum. Sekali lagi, ini tidak akan mudah."


"Jaga keselamatan, Deva. Itu yang utama. Nikahi dia, Wa. Jangan biarkan dia tinggal sendiri." Dave sendiri terkejut dengan kata-katanya sendiri. Benarkah dia akan seikhlas itu? Dave menarik napas begitu berat. Terlanjur terucap, biarlah hatinya hancur sekalian.


"Menikah?" Dewa bertanya dengan suara yang sangat lirih. Pertanyaan itu memang ditujukannya pada diri sendiri.


Dave menjalankan mobilnya perlahan. "Aku antar kamu pulang," ucapnya.


Hening ... tidak ada lagi pembicaraan yang terjadi di antara mereka. Keduanya sama-sama sibuk dengan fokus yang berbeda. Kata-kata "menikah" yang terucap tidak sengaja dari mulut Dave, nyatanya sanggup mengusik ketenangan hati kedua pria tersebut.

__ADS_1


Di tempat yang berbeda, di waktu yang sama. Agas dengan emosi yang luar biasa, berjalan mendekati sebuah kamar hotel di pinggiran kota Jakarta. Sorot mata tajam kemerahan menahan amarah, tak bisa disembunyikan lagi.


"Habis kamu sekarang. Berani-beraninya kamu melawan seorang Agas," ucapnya sambil memasukkan anak kunci duplikat yang diberikan oleh pihak hotel.


__ADS_2