Sisa Rasa

Sisa Rasa
H-1 pernikahan


__ADS_3

Ketika melihat Dave menuruni anak tangga, Nina dan Rudi seketika beranjak dari duduknya. Kedua orang tua Dira tersebut memang sengaja memberikan ruang dan waktu agar Dira dan Dave berduaan lebih lama. Waktu pernikahan yang hanya menyisakan hitungan tidak sampai sepuluh jari, membuat keduanya sedikit cemas. Sekali pun semua yang diinginkan Dira sudah diberikan, namun jelas kenyataan tidak sesempurna yang diharapkan. Baik Nina maupun Rudi, tidak buta untuk sekedar melihat betapa dinginnya Dave pada sang puteri semata wayang.


"Apa Dira sudah tenang?" Nina bertanya begitu Dave berada tiga langkah dari tempatnya berdiri.


"Maaf, Tante. Saya tidak tahu bagaimana standart ketenangan pada Dira. Tapi mohon maaf, saya harus pulang. Tidak pantas bagi kami berdua di kamar." Meski kata-katanya terkesan sinis, Dave mengucapkannya dengan sangat hati-hati.


Nina dan Rudi saling bertukar pandang. Andai bukan Dira yang meminta dengan paksa, mereka tentu tidak perlu merendahkan diri seperti ini. Nina dan Rudi jelas tidak akan pernah mau sampai membeli seorang laki-laki untuk menjadi menantu.


"Mama lihat Dira dulu, biar Papa bicara dengan Dave sebentar," ujar pria yang gagal menjadi kepala daerah sebanyak dua kali tersebut.


Tanpa menjawab, Nina langsung meninggalkan suami dan calon menantu di ruang tengah. Dave melihat jam di pergelangan tangannya, seolah ingin memberikan isyarat bahwa hari sudah larut malam. Cukup sudah waktunya untuk berbasa basi.


"Hanya sebentar saja, Dave." Rudi mengatakan karena bisa menebak apa yang ada di pikiran Dave saat ini. "Duduklah," tambahnya sembari menunjuk sofa single yang terletak di seberang sofa yang akan didudukinya.


"Baik, silahkan, Pak." Kata-kata Dave begitu formal. Hubungan keduanya seperti sengaja dibentangkan jarak yang cukup lebar oleh pria tersebut.


"Saya tahu, kamu tidak mengharapkan pernikahan ini. Tapi saya mohon, setelah pernikahan nanti, lakukan kewajiban dan tanggung jawabmu dengan benar. Saat ikrar akad sudah kamu ucapkan, di pundakmulah semua hal tentang Dira diletakkan. Baik-buruk dan susah-senangnya Dira, tergantung bagaimana kamu memimpinnya. Jangan sakiti hati Dira. Sampai detik ini, kami membesarkan dia dengan limpahan kasih sayang yang tidak terhingga. Kami bahkan rela melakukan dan memberikan apa pun demi kebahagiaannya," tutur Rudi.


"Menikahkan Dira dengan Saya yang tidak mencintainya sama sekali---bukankah itu sebuah kesengsaraan? Tanggung jawab kebahagiaan Dira, seharusnya tidak dilimpahkan pada saya. Dalam akad, ada kata "terpaksa" yang akan saya sematkan lirih dalam hati. Tuhan tahu, cerita apa dibalik pernikahan kami," sahut Dave dengan cepat.


"Tapi, Dave, per---,"

__ADS_1


"Pernikahan atas dasar keterpaksaan tidak akan sama dengan pernikahan yang berdasarkan cinta. Selalu ada banyak kemungkinan di dalamnya. Untuk tumbuh menjadi pernikahan normal, tidak cukup hanya dengan sebuah ancaman dan tekanan. Maaf, Pak. Saya harus pulang. Pagi sekali, saya ada jadwal operasi." Dave memotong dan menyudahi pembicaraan sesegera mungkin.


Rudi tidak bisa menahan Dave lebih lama lagi. Rupanya, Dave bukanlah pribadi yang mudah untuk didekati. Jauh sebelum Rudi melangkah, Dave sudah memasang alarm untuk tidak terlalu berbasa basi pada sang calon mertua.


Menolak untuk di antar sampai ke halaman di mana mobilnya berada. Dave bergegas meninggallan rumah Dira. Langkahnya begitu lebar. Kilasan wajah sendu Deva kembali melintasi pikirannya. Dave berusaha menepis bayangan itu.


Pria tersebut mengendarai kendaraan roda empatnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Berharap Tuhan mengijinkannya mati di jalanan, atau sekedar kecelakaan lalu hilang ingatan.


Tidak selamanya doa buruk itu mudah untuk dikabulkan. Allah memang mempunyai rencana lain untuk Dave. Pria tersebut sampai rumahnya dengan selamat, utuh sempurna tanpa kekurangan satu apa pun. Padahal berapa kali dia mendapatkan umpatan dari pengguna jalan lain yang merasa terganggu dengan cara mengemudi Dave yang ugal-ugalan.


"Bagaimana, Dave? Apa semua lancar?" Fira yang sengaja menunggu kedatangan Dave di ruang keluarga, langsung menyambut putranya itu dengan sumringah.


"Masak, sih? Pasti ada yang memicu kenapa Dira sampai marah. Kalian hanya butuh saling mengenal dan waktu berdua lebih banyak. Dira berpendidikan dan dari keluarga terpandang yang tidak main-main bibit, bebet, dan bobotnya," Fira masih teguh pada penilaiannya yang sebatas pada permukaan saja.


"Terserah mama saja." Dave langsung meninggalkan Fira begitu saja.


Sejak malam itu, Dave semakin menutup diri. Dia tidak banyak melakukan interaksi dengan orang lain selain saat melakukan urusan dinas. Hari demi hari menuju hari pernikahannya, dilalui dengan hampa. Pria tersebut lebih banyak menyendiri. Dia juga tidak lagi menghubungi Deva, manakala perempuan yang sangat dicintainya itu, meminta ruang untuk tidak diganggu terlebih dahulu. Untuk semua urusan persiapan pernikahan, Dave tidak mau terlibat sedikit pun. Dari baju atau pun yang lain, jika ditanya hanya kata "atur saja" yang keluar dari bibirnya.


Hingga waktu yang tidak dinantikan pun tiba. Semua keluarga inti, kini sudah berada di Pulau Dewata untuk menghadiri acara pernikahan Dira dan Dave yang akan dilangsungkan esok hari.


Wajah-wajah sumringah, gelak canda tawa, dan obrolan ringan memenuhi salah satu ruangan. Di mana, di sana sedang diadakan acara makan siang bersama oleh keluarga dari Dira dan Dave. Namun sayang, kehangatan dan keceriaan yang ada, tidak sedikit pun mengubah suasana hati sang calon mempelai pria.

__ADS_1


"Deswita sama Dewa belum datang, Rud?" tanya Ibu dari Nina.


"Belum, Mi. Mungkin nanti pukul lima baru datang. Mbak Deswita sekarang anteng, kata Dira, calon menantunya sudah tinggal di rumah sana," jawab Nina.


Jawaban Nina mengundang perhatian dari Dave yang hanya duduk berjarak tiga kursi dari omanya Dira.


"Lah, kok bisa begitu? Kok kalian nggak ingetin? Mana boleh perempuan tinggal di rumah lelaki yang belum jadi suaminya. Sudah pasti dia ngincer uangnya Dewa sama Deswita saja. Orang tuanya nggak bener itu, punya anak kok diumbar," seloroh perempuan berumur delapan puluh tahunan itu dengan seenaknya.


"Perempuan ini kan yatim piatu, Oma. Jelas bebas sekali hidupnya. Semoga saja dia tulus sama Kak Dewa. Jangan sampai Kak Dewa cuman dijadikan pelampiasan." Dira melirik Dave dengan santai.


"Mana Mbak Deswita mudah banget iba sama orang. Pasti perempuan itu jual kisah sedih ke Mbak Des," timpal Nina, semakin menambah-nambahi cerita yang jelas tidak benar dan masih berupa dugaan dari pikiran mereka sendiri.


Napsu makan Dave yang memang sudah hilang, semakin tenggelam. Pria itu meletakkan sendok dan garpunya dengan gerakan yang menandakan kekesalan. Lalu dia beranjak berdiri meninggalkan acara makan siang bersama itu tanpa permisi.


"Dave," teriak Dira sembari mengejar calon suaminya tersebut.


Bukannya tidak mendengar, Dave memang enggan untuk menghentikan langkahnya. Berbicara dengan Dira, hanya akan membuat tensinya semakin naik. Dave mengayunkan kaki menuju lobby, Dira semakin melebarkan langkahnya.


"Dave, tidak bisakah kamu pura-pura baik di hadapan keluargaku?" Dira mencekal dan menarik tangan Dave hingga membuat tubuh pria tersebut memutar ke belakang dengan paksa.


"Apakah kalian memang sudah terbiasa dengan kata pura-pura, sehingga berbuat baik pun tidak perlu sebuah ketulusan. Tidak heran sih, dari yang paling tua, hingga yang masih muda sepertimu, sama-sama terlihat santai saat menilai dan mencela orang lain. Dir, tidak kah kamu mempunyai rasa malu? Jika tidak ada yang bisa dibanggakan, setidaknya jangan mempermalukan dirimu sendiri."

__ADS_1


__ADS_2