Sisa Rasa

Sisa Rasa
Tidak ada kata maaf


__ADS_3

Deva memberikan senyuman tipis. Dalam diam perempuan tersebut sedang menata hati agar bisa mengendalikan diri pada kenyataan yang akan di dengarnya nanti.


Debora dan Widya sendiri---memilih untuk sedikit mundur selangkah di belakang Deva. Mensejajarkan diri dengan Dewa yang sepertinya memang sedang tidak ingin berjauhan dari sosok asisten pribadinya tersebut.


"Papamu orang yang sangat baik, berdedikasi tinggi dalam pekerjaan, dan sangat berpegang teguh pada nilai kejujuran. Kebijakan yang mengantarkan papamu pada status terdakwa, bukan papamu yang membuat. Kami berlima yang merencanakan semua dengan rapi. Sebagai sahabat baik papamu, Agas membuat jalan kami semakin mudah. Amar tidak tergoyahkan dengan iming-iming yang kami tawarkan dengan cara baik-baik. Saat itu, tidak ada pilihan lain---selain mengantar Amar untuk menjadi satu-satunya penanggung jawab atas kebijakan yang salah dan merugikan negara dalam jumlah yang tidak sedikit." Dermawan menghentikan ceritanya sejenak. Sekedar ingin mengatur napasnya kembali.


Deva mulai berkaca-kaca, baru sepenggal, hatinya sudah terasa dicabik-cabik. Sepenggal kata-kata itu saja, cukup membuatnya terluka. Yang benar---jelas dikorbankan dan dibiarkan nelangsa hingga menjalani kehidupan yang hancur sehancur-hancurnya.


"Hidup di bawah bayang-bayang rasa berdosa sungguh membuat saya tidak tenang. Awalnya terasa biasa dan berjalan seakan semua baik-baik saja. Namun, rupanya Tuhan begitu sayang kepada saya. DIA menegur saya dengan sakit dan juga menghadirkan rasa bersalah yang luar biasa." Lagi-lagi, Dermawan menjeda bicaranya.


Deva terdiam. Air mata semakin deras mengaliri pipi mulusnya tanpa permisi. Meski begitu, sorot mata Deva tetaplah tajam menyiratkan kebencian pada Dermawan. Tangan perempuan tersebut mengepal sempurna. Seakan ada emosi yang sedang mati-matian ingin ditahan. Hal yang sangat wajar, Deva bukan malaikat. Penderitaan panjang dan kehidupan yang mendadak penuh liku, semua berawal dari kasus akal-akalan yang menimpa papanya.


"Rudi, Agas, Saya, Dirga, dan Seno. Kamilah orang-orang yang seharusnya menanggung semuanya. Bukan Amar."


Deva menutup kedua daun telinganya dengan telapak tangannya sendiri. Perempuan itu menggeleng kuat. Jika yang dikatakan Dermawan barusan benar adanya, Agas-lah yang paling kejam. Bagaimana pria yang dianggap sebagai sahabat, bahkan berhubungan baik layaknya saudara---tega berkhianat dengan sangat tidak manusiawi.

__ADS_1


"Saya pasrah, jika kamu ingin mencaci maki saya ... Saya akan terima," lirih Dermawan.


"Caci maki? Apakah menurut Anda hanya dengan caci maki semua akan selesai? Jika sumpah serapah dan kata-kata kotor bisa memberikan keadilan pada papa, jelas saya tidak akan segan melakukannya. Nama baik papa saya hancur. Mama saya meninggal, dan saya hidup sebatang kara karena ulah kalian. Caci maki ... itu terlalu halus untuk Anda." Deva mengucapkannya dengan sinis. Suaranya lumayan lantang terdengar. Sepertinya dia lupa jika sedang berada di rumah sakit.


Dewa bergegas mendekati Deva. Reflek pria tersebut merangkul pundak perempuan yang membuat hati dan logikanya tidak lagi seiring sejalan itu dengan lembut. "Tenang, Dev. kendalikan dirimu, kita harus berpikir jernih."


Deva menoleh dan menatap Dewa dengan tajam. "Jika yang diperlakukan tidak adil oleh mereka adalah papa Pak Dewa, apa Bapak masih sanggup setenang ini?" Deva menghempaskan tangan Dewa dengan kesal.


"Mulai kapan kak Debora tahu jika papa kakak terlibat perbuatan kotor ini? Apa kakak pikir, dengan membeli semua barang-barang saya, sudah cukup mengurangi dosa kalian?" Tatatan Deva beralih pada Debora. Lalu tidak berapa lama, dia menjatuhkan pandangnya pada sosok Widya. "Dan Ibu adalah orang yang membeli kalung saya di rumah sakit. Jelas sudah kalau itu sama sekali bukan kebetulan. Kalian seolah melakukan kebaikan. Tapi tahukah kalian? Semua bagi saya tidak akan pernah cukup menggantikan penderitaan kami." Suara Deva bergetar karena begitu menahan emosi.


"Apa yang kamu inginkan? Bisa bernapas sampai hari ini saja adalah sebuah anugerah. Tuhan sudah menghukum saya dengan dihantui rasa bersalah dan juga sakit yang tak kunjung sembuh." Dermawan mengucapkannya dengan nada memelas.


Dewa kembali merengkuh pundak Deva. Betapa terluka dan marahnya perempuan tersebut, Dewa hanya sebatas tahu dari penekanan dan sorot mata yang tajam saat mengatakan kata demi kata. Dia tidak berani membayangkan, jika dialah yang berada di posisi perempuan tersebut. Wajar sebenarnya jika Deva bersikap demikian.


"Dev, kami minta maaf. Kami akan lakukan apa pun untuk menebus kesalahan kami." Widya hendak berlutut di depan kaki Deva. Tapi dengan cepat, Deva menarik mundur kakinya.

__ADS_1


"Tidak perlu seperti ini, Bu. Berlutut sampai tujuh purnama sekali pun. Tidak akan bisa memulihkan keadaan. Mama dan papa saya tidak akan hidup kembali. Jika memang merasa berdosa, masih ada hal nyata yang bisa dilakukan oleh Pak Dermawan." Deva mengucapkannya sambil melemparkan pandang ke arah lain dengan begitu sinis.


"Kamu tidak berniat mengajukan peninjauan kembali untuk kasus ini, kan, Dev? Kasihani papaku. Beliau sedang sakit. Kamu boleh melakukan apa saja pada kami. Tapi tolong jangan menempuh jalur hukum." Debora mulai ikut mengiba.


"Kasihan? Berikan satu alasan yang masuk akal, kenapa saya harus menaruh belas kasihan pada Pak Dermawan? Pantaskah kalian meminta hal itu setelah apa yang kalian lakukan pada ayah saya? Ayah saya mati masih dengan status narapidana. Mama saya meninggal setelah vonis pengadilan yang jelas sudah kalian beli." Deva membalas tatapan Debora dengan air mata yang berderai.


Dewa mengusap-usap lengan Deva, seolah ingin menyalurkan sedikit ketenangan dari sana. Inilah yang dia khawatirkan, mengetahui kenyataan seberat ini‐‐‐jelas akan membuat Deva semakin terluka.


"Jika memang ada niatan Pak Dermawan untuk memperbaiki kesalahan. Mari kita selesaikan ini melalui proses hukum. Nama baik papa saya, harus kalian pulihkan. Jika sampai itu tidak terjadi, jangan harap saya akan memaafkan kalian semua. Walaupun napas kalian tersengal dan tersendat di kerongkongan, saya tidak peduli." Deva mengusap sisa buliran bening di pipinya, lalu dia berbalik badan dan melangkah meninggalkan ruangan.


Dewa segera mengikuti Deva tanpa berpamitan kepada ketiga orang di dalam ruangan yang tampak sangat sedih dengan reaksi yang diberikan Deva. Perempuan itu terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Sesekali dia tampak menyeka bulir bening yang masih lolos jatuh tanpa permisi.


Sampai di koridor rumah sakit menuju lobby yang agak sepi, Deva menghentikan langkahnya. Dia mengucap istighfar berkali-kali dengan lirih. "Begitu terlambat Engkau menunjukkan sepotong kebenaran ya Allah. Kenapa baru sekarang? Di saat papa sudah berada di sisiMu," lirihnya.


"Waktu Tuhan, tidak sama dengan waktu yang kita mau, Dev. Saat ujian datang, kita selalu berharap mendapatkan penyelesaian dalam waktu yang cepat. Lulus tidaknya kita, bukan ditentukan oleh seberapa durasi waktu yang kita butuhkan. Semakin panjang prosesnya, berarti semakin banyak hal yang ingin Tuhan berikan kepada kamu. Ada sisi baiknya kenapa semua baru terbuka sekarang. Jika papamu masih hidup, dia pasti sangat kecewa. Karena Papa Dave ternyata ikut terlibat secara langsung dalam penjebakan dirinya."

__ADS_1


Mendengar kata-kata Dewa, tangisan Deva semakin tidak terbendung. Masih antara percaya dan tidak. Beberapa waktu yang lalu, calon mertuanya yang gagal itu mengatakan bahwa dia dekat dengan Dermawan hanya untuk mencari kebenaran saja. Nyatanya, apa yang dituturkan Dermawan, sungguh berbanding terbalik dengan cerita yang disampaikan Agas.


"Kamu harus tenang, Dev. Maaf ... tadi aku lancang merekam semua pembicaraan kalian. Setidaknya, kita bisa menggunakan ini sebagai dasar untuk banding dan peninjauan kembali kasus papamu. Kita harus bisa memanfaatkan keadaan. Sedikit tekanan, wajar kita berikan pada Pak Dermawan. Kita harus mendorong dia agar mau menjadi Justice Collaborator," ucap Dewa sembari merengkuh pundak Deva ke dalam pelukannya.


__ADS_2