Sisa Rasa

Sisa Rasa
Deswita , Nyil dan Nyong


__ADS_3

Dewa, Hilda, dan Sashi kompak terdiam. Ketiganya sedang dilanda kekhawatiran yang sama. Kalau sampai Deva mendengar secara utuh apa yang diucapkan Dewa, jelas perempuan tersebut pasti akan kesal dan mengira semua saling bekerja sama menjadi mata-mata.


"Kenapa namaku disebut? Memang apa yang harus kalian pahami?" selidik Deva, mendekati ketiganya dengan tatapan penuh curiga. Dia tidak mendengar secara utuh, hanya samar namanya sekilas terdengar. Namun kata paham yang dipertegas, begitu jelas masuk ke gendang telinganya.


"Mereka berdua cuman heran, kenapa kamu bisa setegar ini? Aku jawab saja sesuai hasil penerawanganku. Semua karena Iman-mu yang luar biasa. Memasrahkan semua kepada Sang Pencipta adalah kunci. Berprasangka baik pada ketentuanNya dan tidak sungkan menangis. Karena cengengmu menguatkanmu." Dewa benar-benar sedang mengarang bebas. Di balik bijaknya, masih saja mengatai Deva di ujung kalimat.


"Nggak jelas," dengus Deva sembari berjalan ke dalam untuk kembali memasak menu makan siang mereka berempat. Hingga saat ini, Dewa sepertinya belum berniat untuk pulang.


Selesai menyiapkan makanan, Deva memutuskan untuk mandi. Sementara tiga penghuni dadakan yang lain, masih begitu asyik mengobrol di tempat yang sama sejak tadi. Baik Dewa, Sashi, maupun Hilda benar-benar cocok. Sepertinya dua kendi akan segera resmi bergabung menjadi anggota club Dewa yang belum memiliki nama resmi.


Waktu berlalu lumayan cepat hari ini, Deva sudah tidak terlalu banyak merenung. Bukan karena dia lupa dengan kepergian sang ayah, tetapi beberadaan orang lain, memang cukup mempengaruhi suasana hatinya. Ditambah lagi, kini dia memiliki motivasi yang lumayan besar untuk terus menjalani hidupnya.


Kedatangan Debora dan Sarah ke makam Amar, berhasil membangkitkan rasa ingin tahu Deva. Mengetahui alasan dibalik semua yang dilakukan Debora padanya adalah tujuan perempuan tersebut. Meski belum tahu harus memulai dari mana, namun Deva akan bergerak perlahan.


"Dev ... aku pulang dulu, ya? Pikirkan penawaranku kemarin. Kalau kamu setuju, kamu bisa langsung memulainya besok," ucap Dewa, tatapannya begitu dalam meski sedikit nakal. Andai Deva adalah Sashi atau Hilda, jelas keduanya bisa langsung melayang jika mendapat tatapan seperti itu.


"Akan saya pertimbangkan, Pak." Deva menjawab dengan datar-datar saja.


"Aku pulang, ya," pamit Dewa, sekali lagi. Seperti berharap agar ada yang menahan dirinya agar tidak beranjak pergi. Akan tetapi, Hilda dan Sashi yang sudah berada di kamar atas perintahnya, jelas sudah tidak bisa memberinya dukungan.


"Terimakasih atas semua kebaikan, Bapak. Saya akan menghitung dan mengingatnya baik-baik. Semoga suatu saat ada kesempatan untuk membalas semuanya." Deva mengucapkannya dengan serius.


Dewa mengumpat dalam hati. Namun salah satu ujung bibirnya yang tertarik ke atas, menampakkan dengan jelas betapa dia kesal dengan ucapan Deva barusan.


"Dasar kanebo kering. Semua hal pake dihitung. Aku heran dengan Dave. Bagaimana bisa dia susah berpaling dari perempuan seperti ini? Benar-benar aneh." Dewa hanya berani mengatakannya dalam hati.

__ADS_1


Selepas mengantar Dewa ke depan, Deva menutup pintu rumahnya. Lalu dia ikut bergabung dengan Sashi dan Hilda di kamarnya. Menghabiskan waktu menunggu datangnya maghrib dengan obrolan yang tentu saja tidak terlalu berisi.


***


Hari senin tidak pernah terlalu santai. Seperti biasa, Dewa bersiap-siap untuk berangkat ke kantor dan mengantar Jason ke sekolah. Sedikit berbeda dari biasanya, dia sengaja turun ke lantai satu lebih awal. Kalau sudah begini, Deswita---mama dari Dewa layak menaruh curiga pada anak semata wayangnya itu.


"Selamat pagi, Ma." Dewa memberikan kecupan mesra pada kening sang mama.


"Pagi, Nyil. Ada apa ini garangan?" Deswita bertanya penuh selidik.


"Gerangan, Ma," ralat Dewa.


"Garangan kan suka memangsa seenaknya. Mirip sama kamu." Deswita mengambil piring untuk disiapkan di atas meja.


Dewa duduk di kursi utama meja makan. Kursi yang beberapa tahun terakhir sudah menjadi singgasananya---sejak sang papa menghilang entah kemana.


"Sampai kapan sih Mama manggil Dewa kayak gini? Nggak cocok banget sama Dewa yang gagah dan ganteng," protes Dewa.


"Nanti, Nyil. Kalau kamu sudah nikah, Mama janji nggak akan manggil gitu." Deswita mendudukkan bokongnya di kursi tidak jauh dari Dewa berada.


"Dih... belum minat, Ma. Belum ada perempuan yang bikin Dewa terbayang-bayang," sahut Dewa dengan santai. Namun sesaat kemudian, dia menepuk-nepuk kepalanya sendiri. Seolah ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Tanpa diminta, wajah ketus Deva tiba-tiba melintas nyata.


"Mau makan sekarang, Nyil?" Deswita membalik piring kosong di depannya, berniat mengambilkan makanan untuk Dewa seperti biasa.


"Sebentar, Ma. Dewa mau ngomong dulu."

__ADS_1


Deswita mengembalikan posisi piringnya. Lalu kembali duduk tenang sedikit memiringkan badan agar bisa berhadapan dengan putra kesayangannya itu.


"Kalau jadi, nanti malam, Dewa akan membawa teman ke sini. Dia asisten pribadi Dewa di kantor. Kasihan, Ma. Papanya baru saja meninggal. Dan dia juga baru putus cinta." Dewa membuka penjelasannya dengan sangat baik. Dia yakin, kalau seperti ini, mamanya pun tidak akan menolak.


"Cowok apa cewek?" tanya Deswita.


"Cewek."


Deswita melebarkan senyumnya. Seperti menemukan oase di tengah gurun pasir yang teramat tandus dan kering. Sejak putus dengan Debora, tidak ada teman perempuan Dewa yang diperkenalkan pada dirinya.


"Jangan senang dulu, Ma. Hubungan kami ini profesional. Dewa hanya kasihan. Kisah hidupnya begitu rumit. Tapi kinerja dia sangat bagus. Sendiri membuat dia banyak melamun dan menangis. Bertemu dengan Mama yang mengalami hal yang kurang lebih sama, mingkin kalian bisa saling menguatkan. Intinya seperti itu. Mama jangan berpikir yang tidak-tidak. Sama sekali bukan tipe Dewa. Selain kaku kayak kanebo dijemur, dia juga tidak cantik. Wajahnya membosankan." Dewa kembali menepuk keningnya sendiri. Kali ini lebih keras.


Bukan pujian yang dia ucapkan. Namun wajah ketus sekaligus cantik dan menggemaskan milik Deva, terus saja membayangi pikirannya.


"Syndrom apa ini. Sepertinya aku sedang tidak sehat. Ah... mungkin aku cuman lapar." Dewa berdebat sendiri dalam hatinya.


"Kenapa, Nyil?" Deswita benar-benar curiga dengan sikap Dewa. Dia jadi penasaran dengan sosok yang dimaksud sang anak. Apa pun alasan yang diberikan, membawa perempuan dan mengenalkan padanya adalah sebuah pertanda bahwa hati anaknya sedang tidak biasa-biasa saja.


"Pagi Nyil... Oma...." Jason dengan suara melengking menyapa Dewa dan juga Deswita. Menyelamatkan sang don juan tanggung dari pertanyaan sang mama.


"Pagi, sayang." Deswita memberikan kecupan pada Jason.


"Pagi, Nyong." Dewa mengacak rambut Jason yang sudah rapi, membuat bocah itu memanyunkan bibir dan mendumal kesal.


Mereka langsung memulai makan paginya. Setelah selesai, Dewa dan Jason langsung berangkat bersama menuju tujuan masing-masing.

__ADS_1


"Nyong, aku punya tugas yang menyenangkan buat kamu," ucap Dewa sedikit berbisik pada Jason yang duduk di sebelah jok tempatnya mengemudikan mobil kesayangan.


"Apa, Nyil?" tanya Jason dengan semangat.


__ADS_2