Sisa Rasa

Sisa Rasa
Rasa ingin tahu Dewa


__ADS_3

Dito---tamu yang sebelumnya sudah menghubungi Deva, mulai menjelaskan maksud dan tujuannya datang bersama anak, menantu dan juga cucunya. Kehidupan yang rumit, ternyata bukan milik Deva semata. Keluarga Dito pun kini mengalami cobaan yang begitu dasyat.


Anak Dito yang baru datang dari luar negeri, ternyata terlibat hutang dalam jumlah yang lumayan besar. Itulah mengapa mereka kembali pulang ke Indonesia. Semua aset milik Dito akhirnya diambil oleh orang yang memberikan pinjaman pada menantunya itu.


Sebuah pengorbanan yang besar dari orangtua. Ketimbang melihat anak dan cucunya harus hidup tanpa sosok suami sekaligus ayah, Dito merelakan seluruh hartanya tanpa berpikir panjang. Lebih baik hidup sederhana, namun tenang. Dito tidak tega membayangkan sang menantu mendekam di balik jeruji besi.


"Saya tahu ini memalukan, dan tidak seharusnya saya datang sekarang. Tapi keadaan sangat mendesak. Hanya rumah ini yang terpikirkan untuk tempat kami berlindung sementara. Maaf ya, Dev. Jadi seperti ini. Saya sendiri tidak menyangka, kalau masalahnya akan menjadi sebesar sekarang. Mungkin memang inilah jalan hidup yang harus saya jalani. Sungguh saya minta maaf." Raut wajah Dito terlihat sangat sedih. Kearifan dan sikap optimis yang ditemui Deva beberapa minggu yang lalu, kini pudar tak bersisa.


Beginilah hidup, manusia hanya bisa berencana. Hasil akhir, tetaplah Sang Pencipta yang menentukan. Jika Allah sudah berkehendak, tidak ada yang mustahil. Kekayaan melimpah pun, bisa habis tidak bersisa dalam sekejap.


Deva menjatuhkan pandang pada dua balita berwajah dan berjenis kelamin sama. Usianya kira-kira tidak lebih dari tiga tahun. Ada rasa iba yang menghinggapi hatinya.


"Saya siapkan kamar saya dulu, Pak. Di sana bed paling besar. Biar anak-anak bisa tidur nyenyak. Saya akan tidur di mushola. Apa Pak Dito tidak mengapa jika harus tidur di sini?" Deva menunjuk karpet hijau tempat mereka semua duduk.


"Nggak masalah, Dev. Yang penting ada tempat berteduh. Maaf, ya. Kami sungguh terpaksa." Dito terus menundukkan wajahnya. Merasa tidak enak, sekaligus malu.


Deva bergegas masuk ke dalam kamarnya sembari membawa paper bag pemberian Ali tadi. Untung saja Deva sudah terbiasa rapi. Tidak banyak yang perlu dia lakukan. Hanya sekedar memasukkan beberapa barang ke dalam almari dan menguncinya rapat-rapat. Setelah merasa semua sudah beres, Deva mengusap dahinya yang sedikit mengeluarkan peluh. Entah dia akan mengeluh seperti apa lagi. Waktu seolah memburu dirinya untuk menjalani dan menerima semua hal lebih cepat.


Sementara itu, di luar rumah Deva, Dewa masih belum beranjak dari tempat persembunyiannya. Dia menunggu tamu-tamu di dalam rumah tersebut beranjak pergi. Namun, sampai kakinya dikerubuti nyamuk, tidak ada tanda-tanda ada orang yang keluar dari balik pintu. Bahkan sampai penerangan di ruang tamu dimatikan, tidak ada satu pun manusia yang keluar dari sana.


"Siapa mereka? Bukankah Deva tidak memiliki saudara," gumam Dewa sembari masuk ke dalam mobil. Dia memutuskan untuk menghentikan pengintaian sementara.

__ADS_1


***


Subuh kali ini, berbeda dengan waktu subuh sebelum-sebelumnya. Deva tidak melakukan ibadah dua rakaat itu sendirian, melainkan bersama Dito, menantu dan anak perempuan Dito.


"Kak, kalau mau masak. Di kulkas, ada banyak makanan kok. Saya berangkat ke kantor lebih pagi. Karena hari ini, saya ada meeting." Deva sedikit berbohong pada anak perempuan Dito yang bernama Dini.


Deva sengaja berangkat lebih pagi, tentu saja karena dia segera ingin mencari tempat tinggal baru. Bahkan dari semalaman, dia tidak bisa tidur. Niatnya untuk mengeluarkan isi paper bag yang di dalamnya terdapat barang-barang Amar, diurungkan begitu saja. Deva tidak ingin membuat suasana hatinya menjadi semakin melankolis.


Seperti yang diucapkan sebelumnya, tepat pukul lima pagi, Deva keluar dari rumah dengan berjalan kaki. Langkahnya pelan, karena belum memastikan arah tujuan. Dia tidak tahu harus kemana. Yang pasti, mendapatkan kost atau kontrakan yang bisa ditempati hari ini juga, adalah prioritas Deva sekarang.


Tidak hanya Deva yang memulai aktivitasnya lebih pagi. Dewa pun melakukan hal yang sama. Bahkan pria itu kini sudah bersiap meninggalkan rumah bersama si perjaka kesayangannya. Dua hari memakai mobil dinas, membuatnya rindu untuk menunggangi kendaraan roda empat berwarna hitam metalik tersebut.


Deswita tersenyum menatap mobil Dewa yang perlahan merangkak pergi meninggalkan area halaman parkir. Serentetan doa kembali dia ucapkan dalam hati. Jatuh cinta adalah cara terbaik menyembuhkan segala luka. Apalagi jika cinta itu berbalas, tentu dunia Dewa yang penuh ketakutan dan trauma akan berganti warna.


Setelah memantapkan hati, Dewa segera keluar dari si perjaka. Lalu melangkahkan kaki lebar menuju daun pintu rumah kontrakan Deva yang masih tertutup rapat. Sampai di depan pintu tersebut, pria berbadan tegap dan berkulit putih itu mengetuknya tiga kali.


Tidak sampai menunggu lama, daun pintu pun terbuka. Raut keheranan, seketika tampak di wajah Dewa. Melihat bukan Deva yang membukakan pintu, membuatnya semakin bertanya-tanya.


"Maaf, Devanya ada?" Dewa bertanya dengan sopan.


"Deva sudah berangkat tadi pagi sekali. Katanya ada meeting pagi di kantor." Dito menjawab dengan tak kalah sopan.

__ADS_1


"Oh ...." Dewa memanggut-manggutkan kepalanya. Dua tanya belum terjawab, kini bertambah satu lagi pertanyaan.


"Kenapa kamu begitu banyak menyimpan misteri, Dev? Aku jadi makin penasaran sama kamu," gumam Dewa dalam hati.


Dewa lalu melemparkan pandangan pada Dito. Dengan keberanian yang dimiliki, dia pun bertanya, "Bapak saudaranya Deva? Maaf, setahu saya, Deva tidak mempunyai saudara di sini."


Sebelum menjawab pertanyaan Dewa, Dito menyunggingkan senyuman tipis pada pria di depannya tersebut. "Memang bukan. Saya pemilik rumah kontrakan ini."


Dewa mengernyitkan keningnya. Semakin dia bertanya, semakin bertambah pula rasa penasarannya. Dia ingin mencoba peruntungan dengan menjadi cenayang. Jika tebakannya salah, setidaknya pasti ada sedikit rasa lega yang menghinggapi.


"Masa kontrakan Deva sudah habis? Dan Bapak berniat menempati rumah ini sendiri?" Dewa menatap Dito dengan tatapan sedikit mengintimidasi. Dalam hati, dia berharap penerawangannya tidak salah.


"Benar." Dito hanya menjawab singkat.


Dewa menarik napas sedikit berat. Lagi-lagi, dia harus mengakui, ujian hidup Deva begitu luar biasa. Bertubi-tubi, dan hampir semuanya tidak mudah.


Sudah mendapatkan sedikit pencerahan, Dewa akhirnya memutuskan untuk berpamitan dan meninggalkan rumah tersebut. Pria itu mengarahkan si jaka menuju gedung perkantoran Diamond Corp.


Jam digital di dashboard si jaka masih menunjukkan pukul 07.00 WIB ketika Dewa tiba di lobby. Pria tersebut meninggalkan mobilnya begitu saja di sana. Lalu dengan langkah tergesa, dia menuju lantai tiga puluh enam.


Sepi---belum ada satu pun penghuni yang datang. Hanya Sapto---OB yang menyiapkan minuman di meja masing-masing pegawai yang tampak terlihat.

__ADS_1


"Kamu kemana, Dev?" Dewa menyambar ponselnya. Kali ini, dia tidak boleh kehilangan akal. Sedikit menggunakan kekuasaannya. Dewa pun mencoba menghubungi ponsel Deva. Nada hubung terdengar, sedikit lebih lama, akhirnya ....


"Iya, Pak Dewa. Ada yang harus saya kerjakan?"


__ADS_2