Sisa Rasa

Sisa Rasa
Dave sakit


__ADS_3

"Dari mana, kenapa ponselmu off, Bee? Siapa yang mengantarmu tadi" Dave langsung mencecar Deva dengan pertanyaan menyelidik.


"Bang, di antara kita sudah tidak ada ikatan apa pun lagi. Mau kemana dan dengan siapa aku pergi. Itu bukan urusan Abang." Deva melangkahkan kaki dengan cepat. Dia buru-buru mengambil kunci di dalam tasnya.


"Urusanku, Bee. Masih urusanku. Aku tidak mau karena sedih dan kesepian, kamu jadi salah bergaul. Sudah aku katakan sebelumnya, aku selalu ada buat kamu. Apa pun status kita." Dave sedikit meninggikan nada bicaranya.


Karena tidak enak jika ada tetangga yang mendengar atau melihat, Deva segera membuka pintu rumahnya. Dan membiarkan Dave masuk dengan leluasa.


"Aku mau mandi dulu." Meskipun ketus, Deva masih saja berpamitan.


Dave duduk di atas karpet. Begitu sulitnya untuk menjauh dan melupakan Deva. Kebersamaan dengan Dira bahkan tidak sedikit pun bisa mengalihkan pikirannya. Dave mematikan ponselnya, lalu meletakkan begitu saja di atas karpet. Remuk badan baru terasa. Dua hari pulang pergi ke puncak demi memenuhi keinginan Dira untuk foto pre wedding, benar-benar membuatnya lelah jiwa raga.


Semakin lama, Dave semakin merasakan kantuk yang tidak tertahankan. Perlahan, tubuhnya luruh menyentuh karpet. Dave tertidur dengan posisi meringkuk berbantalkan tangannya sendiri.


Keluar dari kamar setelah menyelesaikan mandinya, Deva mendapati Dave terpejam begitu pulas. Dengkuran pria tersebut terdengar lebih keras dari biasanya. Pertanda Dave sedang benar-benar lelah.


Tidak tega membangunkan, Deva memilih mengambilkan bantal dan selimut untuk mantan kekasihnya tersebut. Pelan-pelan Deva memindahkan kepala Dave ke atas bantal.


"Kenapa kamu terlihat sangat menderita, Bang? Bagaimana aku harus bersikap kalau kamu terus seperti ini?" Deva memberanikan diri mengusap lembut rambut Dave. Wajah pria yang masih sangat dicintainya itu terlihat penuh beban meski sedang tertidur.


Setelah puas memandangi Dave, Deva memutuskan untuk masuk ke kamarnya. Dia meninggalkan Dave sendirian di ruang tamu sesaat setelah mengunci rapat pintu rumahnya.


****


Rasanya baru sejenak memejamkan mata, alarm di ponsel Deva sudah berdering memanggil ingin segera dimatikan. Sedikit malas, Deva mengeliat dan menguap secara bersamaan.


Setelah merasa nyawanya sudah lumayan terkumpul, Deva pun beranjak turun dari ranjang. Saat membuka pintu kamar hendak mengambil air putih, barulah Deva teringat kalau Dave semalam tidur hanya beralaskan karpet.


Selimut yang dipakaikannya, kini hampir menutup semua bagian tubuh Dave kecuali kepala. Deva mengusap-usap matanya sembari berjalan mendekati Dave. Tubuh pria itu terlihat bergetar seperti sedang menggigil.


"Bang ...." Deva berdiri dengan lututnya di samping Dave. Tangannya terulur memeriksa kening dan leher Dave.

__ADS_1


"Astaga, Bang. Badan Abang panas sekali. Kita pindah ke dalam. Di sini pasti sangat dingin."


Dave hanya mengangguk lemah. Sebenarnya, bukan karena tidur di atas karpet yang membuatnya demam, lebih karena badannya memang sudah tidak terlalu fit dari awal.


"Abang bisa berdiri, kan? pegangan pundakku, Bang." Deva membantu Dave berdiri perlahan dengan merangkulkan satu tangan Dave di pundaknya.


"Ayo, Bang. Jalan sebentar. Nanti rebahan lagi." Deva agak kesulitan memapah Dave.


Dengan susah payah, akhirnya Dave bisa berada di atas ranjang juga. Napas Deva masih terengah-engah. Beban tubuh Dave cukup berat tertumpu dipundaknya.


Setelah memeberikan selimut di atas tubuh Dave. Deva bergegas ke dapur, membuat air hangat untuk kompres, segaligus mengambilkan aur putih untuk Dave.


"Minun dulu ya, Bang. Biar nggak dehidrasi." Deva memasukkan sedotan ke mulut Dave dengan telaten. Setelah itu, perempuan tersebut mengompres kening Dave.


"Aku sholat subuh dulu, ya, Bang!"


Dave lagi-lagi menjawab dengan anggukan kepala yang teramat pelan. Namun, bibirnya malah mengulum senyuman.


"Begini saja aku sudah bahagia, Dev. Tatapanmu yang sangat mengkhawatirkanku, membuat aku tidak ingin sembuh dengan cepat," batin Dave.


"Sebentar, ya, Bang." Deva menyelipkan alat tersebut ke ketiak Dave.


"Terimakasih, Bee," lirih Dave.


"Bang Dave jarang sekali sakit. Pasti akhir-akhir ini makannya nggak teratur." Deva mengambil dan melihat angka di alat pengecek suhu tadi.


"Nggak ada yang ngingetin, Bee. Nggak ada lagi yang cerewetnya bikin aku segan." Dave menjawab dengan jujur.


"Tiga puluh sembilan derajat. Masih tinggi panasnya. Aku hubungi Mama Fira, ya, Bang. Kalau boleh, aku juga mau pinjam mobilnya Bang Dave. Aku carikan bubur sama obat demam." Deva mengabaikan ucapan Dave sebelumnya. Dia memilih mengalihkan pembicaraan ke hal yang lebih aman.


"Biar aku saja yang hubungi mama. Kalau kamu yang telepon, nanti mama malah panik. Pakai saja mobilku, kenapa pake tanya boleh atau tidak." Meski pelan, suara itu terdengar jelas di telinga Deva.

__ADS_1


"Ponsel Bang Dave di mana? Abang jangan lupa hubungi Mama Fira."


"Di depan kayaknya, Bee. Kontak mobil juga di depan."


Deva langsung keluar untuk mencari telepon genggam dan kontak mobil milik Dave. Tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan benda tersebut. Setelah memberikan ponsel pada Dave, Deva langsung keluar untuk mencarikan bubur untuk sang mantan yang masih terkasihnya itu.


****


Beberapa waktu setelah mendapatkan bubur, Deva pun segera kembali ke rumah. Memasuki halaman rumahnya, sebuah mobil sudah terparkir rapi di sana. Mobil yang dia hapal betul siapa pemiliknya.


Dengan langkah lebar, Deva segera masuk ke dalam sana. Dave, Fira, dan Agas tampak sudah berada di ruang tamu. Duduk lesehan di atas karpet dengan posisi Dave yang tertidur di pangkuan Fira.


"Pa ... Ma ...," sapa Deva sembari mencium punggung tangan kedua orangtua tersebut secara bergantian.


"Maaf, ya, Dev, jadi ngerepotin kamu," ucap Fira.


Deva hanya menjawab dengan senyuman.


"Kita pulang sekarang, Dav," ajak Agas.


"Dave mau makan bubur dulu, Ma. Tolong suapin ya, Bee. Setelah itu, aku pulang. Kamu akan ke kantor juga, kan?"


"Dav ...." Fira menepuk pundak Dave, seolah ingin mengingatkan sang putra untuk tidak aneh-aneh.


"Bang Dave, biar disuapin Mama saja, ya? Aku mau siap-siap dulu. Takut kena macet kalau terlambat sebentar saja." Deva bergegas berdiri dan meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.


Dave mencoba untuk duduk, meski kepalanya sungguh terasa sangat berat. Agas tidak bisa berkata-kata lagi. Begitu pun Fira. Mereka menangis dalam hati. Jika Dave sampai sakit, berarti beban pikiran putra mereka itu sedang tidak baik-baik saja.


"Kita pulang, yuk!" Fira mencoba kembali membujuk Dave.


"Dave hanya mau makan sebentar, Ma. Dave tidak butuh obat. Dave tidak butuh dokter. Dave cuman pengen terlepas sebentar dari tekanan kalian, dan juga tekanan Dira. Dave capek, Ma... Pa...." mantan kekasih Deva itu memejamkan matanya dengan kondisi terduduk.

__ADS_1


Hati Fira benar-benar sakit mendengar keluhan Dave. Ketulusan dan kebaikannya selama ini rasanya tidak lagi berarti. Fira merasa benar-benar gagal menjadi seorang ibu. Balas budi yang dilakukan Dave, jelas bukti nyata betapa egoisnya mereka sebagai orangtua.


"Dave, bagaimana keadaanmu sekarang?" Dira tiba-tiba muncul dan langsung berjongkok menyentuh kening Dave dengan khawatir. Memecah keheningan yang sebelumnya terjadi.


__ADS_2